Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : Mazmur 23:1-6 “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

Hari ini kita akan membicarakan 10 krisis. Tidak ada seorang pun yang seumur hidupnya selalu lancar. Tidak ada satu gereja pun yang tidak pernah ada kesulitan.

  1. Kita kekurangan, kita miskin. Ini yang paling ditakuti banyak orang. Ada banyak orang yang berkelimpahan, baru dia bisa hidup tenang. Bila uang kita kurang maka damai kita hilang. Bahkan banyak orang Kristen pun mempunyai kelemahan seperti ini. Paulus mengatakan aku tahu bagaimana hidup berkelimpahan, aku juga tahu bagaimana hidup berkekurangan. Pada waktu kita hidup limpah kita sering lupa akan Allah, waktu kemiskinan tiba kita sering menjadi serakah dan tetap tidak ingat kepada Allah. Sayang sekali banyak orang Kristen yang sadar kekurangan jasmaninya tetapi tidak sadar akan kekurangan rohaninya. Kita sering sudah merasa puas dengan keadaan rohani kita, tetapi untuk hal-hal jasmani kita selalu merasa kurang dan selalu menggerutu. Ini adalah hal yang sangat bahaya.
  2. Letih. Kita mau hidup dengan enak, tetapi ada banyak unsur yang membuat kita merasa keletihan. Pada waktu orang letih secara jasmani, dia dapat menggunakan kekuatan batinnya untuk mendukung jasmaninya. Tetapi waktu batinnya yang letih, itu akan sangat sulit sekali. Saya sering melihat orang yang terlihat perkasa tetapi merasa hidupnya hampa. Ini hal yang tidak mungkin dimengerti oleh materialisme, karena ini masalah batin kita. Banyak orang ke dokter, setelah diperiksa ternyata tidak ada masalah, tetapi hidupnya begitu loyo dan merasa hampa. Mengapa? karena ada keletihan di dalam batinnya.
  3. Terlena atau tertidur. Kita tidak punya lagi hati yang waspada, dan tidak ada kekuatan untuk menjadi seorang pengawal. Kita hidup dalam keadaan yang mengerikan. Ketika kita terlelap kita tidak sadar kita ada dimana, kita juga tidak tahu bahwa musuh sudah begitu dekat. Dan kita tidak lagi menganggap krisis sebagai krisis ini adalah krisis yang paling besar.
  4. Suasana yang suam. Kita tidak punya daya hidup. Sepertinya kematian menyergap kita. Kita hidup tetapi merasa sudah mati. Meskipun orang masih muda tetapi bila dirundung oleh maut maka dia tidak punya daya hidup.
  5. Merasa kesepian. Kita merasa begitu tersendiri walaupun di sekitar kita ada jutaan orang. Maka kita tidak lagi punya sukacita. Kita merasa bosan dan tidak lagi merindukan apa-apa. Maka orang yang paling dekat dengan kita tidak lagi kita hargai. Dia merasa sengsara sekali dan dia menggerutu kepada Allah.
  6. Dikelilingi oleh musuh. Ada orang-orang yang memusuhi, menentang kita. Apapun kita lakukan selalu ada yang menentang. Apabila kita merasa semua orang memusuhi kita, kita merasa hidup kita tidak berarti. Di dalam dunia ini apabila kita ingin mencari orang yang selalu sejalan dengan kita akan sulit sekali.
  7. Kita lapar dan dahaga tetapi tidak bisa memuaskan. Waktu perut kita lapar, mudah sekali diselesaikan dengan makan. Tetapi pada waktu hati kita lapar dan dahaga kita tidak mungkin mengisinya dengan materi. Dan kita terus menanti supaya ada sesuatu yang mengisi dahaga kita. Banyak orang tidak tahu bagaimana memuaskan lapar dan dahaganya karena yang dia inginkan tidak di dalam Tuhan. Karena manusia dicipta untuk Tuhan, ada kekosongan di dalam diri manusia yang hanya Tuhan yang bisa mengisinya. Kalau engkau milik Allah, sampai kapan engkau terus mencari hal-hal yang diluar Tuhan. Yesus mengatakan berbahagialah mereka yang miskin, yang haus dan dahaga. Tuhan Yesus mengatakan berbahagialah jika kita merasakan krisis-krisis demikian. Ini sangat berbeda dengan konsep dunia, karena Alkitab telah mengatakan “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes 55 : 8 – 9). Tidak heran jika ada orang paling kaya bunuh diri, atau bintang film yang begitu cantik mengakhiri hidupnya, karena mereka tidak memahami krisis-krisis yang telah kita bicarakan. Mereka tidak tahu bagaimana mengharmonisasikan jasmani dan batin mereka.
  8. Kekeringan di dalam rohani kita. Tidak ada sesuatu yang bisa menyegarkan dan menghibur roh kita. Mesin yang paling baik pun perlu oli pelumas agar tidak rusak. Kita pun perlu “pelumas”, kita membutuhkan penyegaran baru supaya kita bisa maju lagi. Hari ini banyak orang segalanya baik tetapi tidak punya “pelumas” itu sebabnya hidupnya kering.
  9. Kekurangan anugrah dan kasih Tuhan. Jika masalah tiba kepada kita, kita merasakan sebagai beban berat. Bila kita berjalan bersama Tuhan, tangan Tuhan menuntun kita, berapa sulit dan jauhnya perjalanan tidak menjadi masalah. Saya melayani Tuhan sudah lebih 55 tahun. Dalam waktu yang begitu panjang, saya melihat banyak orang terjatuh, banyak orang terlelap, tidak punya lagi tenaga untuk meneruskan perjalanan. Tapi saya merasakan tangan Tuhan terus menopang, puji Tuhan.
  10. Kehilangan arah. Berkeliaran tanpa fondasi. Jika kita sewa rumah, lalu diusir pemiliknya, lalu kita berpindah-pindah tempat sampai suatu hari kita menemukan tempat yang tetap yang kita bisa hidup dengan tenang, maka seumur hidup kita merasa berarti. Jika orang sudah semakin tua tetapi masih tidak punya arah, ini berbahaya sekali.

Semua krisis ini merupakan krisis yang menentukan apakah suatu gereja bisa terus memuliakan Tuhan atau tidak. Bagaimana kita mengatasi semua krisis ini. Alkitab memberitahu kita bagaimana menyelesaikan semua krisis tadi. Yaitu di dalam Mazmur 23.

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Karena Tuhan adalah gembalaku maka aku tidak akan berkekurangan, menyelesaikan krisis yang pertama. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, dengan demikian menyelesaikan keletihan kita. Ia menyegarkan jiwaku, Ia terus membangunkan aku supaya aku tidak terlelap, maka keterlelapan dalam rohani kita diselesaikan. Meskipun maut mengelilingi kita dan mengancam kita, tetapi Tuhan selalu beserta dengan kita, maka krisis kesepian itu diselesaikan. Dan krisis maut juga teratasi, karena tongkatMu dan gadaMu itu penghiburanku, Dia tidak lupa menjaga kita dan Dia tidak lupa menghajar kita. Dia bukan hanya membangunkan kita tetapi Dia juga menyertai kita, Dia bahkan juga mendidik kita. Engkau menyediakan hidangan bagiku dihadapan lawanku. Meskipun kita dimusuhi, kita bukan hanya melihat musuh di depan kita, tetapi kita melihat Tuhan di depan kita. Tuhan menyelesaikan krisis dimana aku dimusuhi, Tuhan juga menyelesaikan krisis miskin, lapar dan dahagaku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Minyak surgawi, Roh Kudus, menjadi lubrikasi dan kesegaran bagi batin kita. Waktu Roh Allah mengurapi kita maka kita akan mengikut Tuhan sepanjang hidup kita. Aku akan tinggal di dalam Rumah Tuhan sepanjang masa, dan selamanya tidak lagi mengambang.

Kita sudah berulang kali mendengar Mamur 23, tapi hari ini kita memikirkan Mazmur 23 dari sisi yang berbeda. Dari krisis hidup manusia kita melihat bagaimana Tuhan menyelesaikan.

Siapakah yang menuliskan Mazmur ini? Ialah Daud raja yang agung dari orang Yahudi. Tetapi di dalam keluarganya dialah yang paling kecil, tetapi Tuhan memilih dia. Karena sejak muda dia adalah orang yang mengerti isi hati Tuhan. Dia adalah seorang remaja yang tidak rela nama Tuhan dilecehkan orang kafir. Itulah sebabnya waktu dia melihat Goliat menghina Nama Tuhan, dia mempunyai api di dalam dirinya yang mau berperang melawan Goliat. Orang-orang lain tidak ada yang berpikir bahwa Daud sanggup mengalahkan Goliat. Tetapi Daud tidak bersandar kepada manusia, tetapi dia bersandar kepada Allah.

Gereja sekarang ini membutuhkan pemuda-pemudi seperti ini. Kita tidak mengharapkan orang lulus dari sekolah teologi baru bisa melayani Tuhan. Tetapi kita harus menemukan orang-orang yang bersandar kepada Tuhan.

Daud adalah orang yang dengan sungguh hati mengasihi domba-dombanya. Lalu dia merefleksikan hal ini kepada bagaimana Allah mengasihi dia, bagaimana Allah menggembalakan Daud. Sebagaimana Allah mencukupi kebutuhan Daud, maka Daud tidak membiarkan domba-dombanya kelaparan, domba yang salah jalan ditariknya kembali, jika ada serigala datang Daud yang akan berperang melawan serigala tersebut. Maka Allah menyerahkan bangsa Israel kepada dia. Dia mengasihi domba-domba yang Tuhan percayakan kepadanya.

Selama 23 tahun, Tuhan membuat kita dari 0 menjadi gereja besar. Kita bukan menarik orang dengan penipuan jika engkau mengikut Tuhan engkau akan menjadi kaya. Tetapi kita mengikuti prinsip Alkitab, siapa yang ingin mengikut Tuhan dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Gereja ini bukan milik Pak Tong, bukan milik orang-orang kaya, gereja ini milik Tuhan dan ditebus oleh darah Yesus Kristus yang mahal. Gereja ini dibangun diatas Firman Tuhan dan otoritas dari Tuhan. Dari awal kita sudah berdoa agar Tuhan dengan FirmanNya membangun sekelompok orang.

Dalam sejarah manusia, Mazmur 23 ini melampau syair Homer dan John Milton ataupun Upanishad. Dia adalah Allah yang menggembalakan kita, yang menyelamatkan kita, yang memelihara kita, yang membimbing kita, yang memenuhi segala kebutuhan kita, yang membangunkan dan menyegarkan jiwa kita. Dia Allah yang berperang bagi kita, yang mengurapi kita dengan Roh Kudus, dengan kebajikan dan kemurahan mengikuti kita. Dia Allah yang membuat perjanjian yang kekal dengan kita. Agar kita bisa selamanya tinggal di dalam baitNya, Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Apakah aset gereja yang paling penting? Yang pertama adalah iman pada Tuhan yang sejati. Yang kedua adalah kesaksian kita sebagai anggota tubuh mengasihi satu dengan yang lain. Kita beribadah kepada Tuhan Yesus dan kita mengasihi sesama kita. Yang ketiga adalah generasi muda yang kita hasilkan. Kita harus berdoa bagi anak-anak sekolah minggu, remaja dan orang-orang muda yang nantinya akan berperang bagi kerajaan Allah.

Mengapa saya mendirikan Gereja Reformed Injili? Kita membutuhkan suatu kubu, suatu centre, lalu dari basis ini kita memeberitakan injil keluar. Orang melihat gerakan kita ini agak bodoh, bahkan orang mulai memusuhi kita. Tetapi jika kita tidak punya landasan, bagaiman kita bisa berkembang. 400 tahunan yang lalu Allah memakai orang Belanda untuk memberitakan Injil ke Indonesia. 400 tahun kemudian, Tuhan memakai Stephen Tong yang lahir di China untuk membangkitkan gereja-gereja di Indonesia. Saya melihat dengan jelas pimpinan Tuhan selangkah demi selangkah. Di dalam rencana Allah gereja ini menjadi suatu arus kekuatan yang menciptakan sejarah. Kiranya Tuhan membangkitkan hambaNya, kiranya Tuhan membangkitkan gerejaNya, supaya mereka dipakai Allah secara luar biasa. (Ringkasan oleh Yehezkiel Syamsuhadi)

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

 

 

Sumber : https://griimelbourne.org/node/312

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube