Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : 1 Yohanes 2 : 1 – 2

Pada ayat-ayat sebelumnya Yohanes sudah dibicarakan tentang dosa. Yohanes yang banyak berbicara tentang terang, kasih, cahaya dan hidup persekutuan, pada pasal ini ia berbicara tentang dosa, yaitu dosa yang mencemarkan hidup, dosa yang merusak persekutuan, dan dosa yang menjadikan manusia musuh Tuhan Allah. Bagaimana caranya Yohanes membicarakan tentang dosa? Dalam hal ini Yohanes tidak berbicara dosa dengan detail, tetapi hanya satu macam dosa saja yaitu dosa secara total. Maksudnya adalah bukan dosa yang kecil-kecil namun dosa secara keseluruhan. Dalam kitab Roma pasal 1 – 4, Rasul Paulus menulis tentang berbagai macam dosa yaitu berbagai pelanggaran, tindakan yang salah yang melanggar hukum, yang melanggar hati nurani. Disini Rasul Paulus menyebutkan dosa secara plural karena dirinci satu persatu. Namun selanjutnya pada pasal 5 – 8, Rasul Paulus merubah total pembahasan dosa dengan memakai istilah singular. Disinilah kita perlu mengerti dan dapat membedakan apa sebabnya ada dosa yang bentuk singular dan ada yang bentuk plural. Dosa dalam bentuk plural adalah dosa yang dijabarkan dengan rinci dan banyak jenisnya. Namun dalam bentuk singular, dosa adalah merupakan sebagai status yaitu kuasa yang membelenggu atau sifat dasar. Agama-agama lain melihat dosa sebagai sesuatu pebuatan pelanggaran, kesalahan atau sikap yang tidak benar. Namun ke-Kristenan memandang dosa sebagi satu keseluruhan sifat dasar. Di dalam Alkitab dosa dijabarkan sebagai suatu pokok atau identitas, tidak hanya melalui perbuatan. Bila dosa adalah suatu identitas, maka dengan demikian dosa harus dijelaskan dalam bentuk singular.

Siapakah saya? Saya adalah orang berdosa. Apa dosa saya? Perbuatan-perbuatan saya yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Lebih lanjut, etika Kristen adalah etika motivasi. Maksudnya adalah bila kita mempunyai suatu tujuan atau dorongan yang salah maka dihadapan Tuhan itu sudah merupakan suatu dosa. Sebelum berbuat pun sudah berdosa. Sebelum seseorang membunuh, ia sudah terlebih dahulu membenci. Bila sudah membenci, Tuhan tidak melihat buah perbuatan namun melihat akar dan motivasi dibelakang perbuatan. Disini Tuhan sedang melihat proses membunuh orang yang dibenci. Tuhan tahu sedalam-dalamnya isi hati kita. Bila ada sesuatu motivasi yang tidak benar, sebelum diwujudkan dalam perbuatan Ia telah tahu kemana arah perbuatan kita. Dengan demikian dosa jangan dimengerti sebagai perwujudan dalam suatu kelakuan, namun sebagai sesuatu motivasi yang tersimpan di dalam hati yang melawan kebenaran dari Tuhan Allah. Itulah cara Tuhan melihat yang berbeda dengan cara manusia melihat. Dalam melihat sesuatu kita selalu tertuju pada penampilan diluar dan sangat dibatasi dengan pengertian kita sendiri yang banyak dipengaruhi oleh budaya, pendidikan, dan berbagai latar belakang. Contohnya, Professor Albert Einstein pernah tidak dikenali oleh pegawai istana di Belgia karena penampilannya yang tidak sesuai bayangan para penjemputnya.

Banyak peristiwa yang membuktikan bahwa kita sering salah menilai orang dari attribut lahiriahnya saja, namun harap diingat dalam kisah di Alkitab bahwa Rahab seorang pelacur yang juga adalah nenek moyang Yesus Kristus. Demikian juga Rut orang Moab yang berasal dari keturunan yang dikutuk Tuhan tidak bisa masuk Bait Allah selama sepuluh generasi, Ia pula menjadi nenek moyang Yesus Kristus. Rahab mungkin saja terjerumus ke dalam dunia pelacuran dan status sosialnya rendah, namun didalamnya ia mempunyai suatu jiwa asal yang begitu mulia, anggun dan begitu beriman kepada Tuhan. Rahab mungkin saja mendengar firman Tuhan ketika dia masih kecil, namun di usianya yang tua dan telah melewati waktu berpuluh-puluh tahun di padang gurun, ia tetap mengingat dan menjalankan perintah Tuhan.

Kembali kepada etika Kristen adalah etika motivasi, dengan demikian kita harus selalu membersihkan hati, motivasi dan pikiran kita jika mau hidup suci. Yohanes menulis pada pasal 1, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. pasal 9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Pasal 10 Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. Ayat ini bersifat anjuran yang menunjukkan bahwa Yohanes memiliki karakter senioritas yang kebapakan ditujukan kepada anak-anaknya. Berlainan dengan kata perintah yang menurut para ahli psikologi sering diabaikan, kata anjuran lebih ditujukan agar pendengarnya berpikir tentang konteks yang disampaikan. Bila sebelumnya Tuhan sudah menyampaikan larangan jangan lakukan ini jangan lakukan itu, maka Yohanes mengulangnya kembali namun dalam bentuk anjuran sesuai dengan karakternya.

Ayat ini juga dimaksudkan agar kita sadar untuk tidak tertipu dan menipu diri sendiri. Orang berdosa menipu dirinya sendiri dan tidak sadar bahwa dirinya tertipu. Orang yang menipu dirinya sendiri adalah orang paling bodoh karena ia yang dirinya yang tertipu selalu mengampuni kebodohannya. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang terbuka dihadapan Tuhan. Seperti layaknya orang sakit yang pergi ke dokter, ia harus menceritakan riwayat penyakitnya dengan jujur agar dokter bisa memberikan obat yang tepat dan ia bisa sembuh dari penyakitnya secepatnya. Demikian pula dihadapan Tuhan, kita tidak mungkin menutupi segala dosa. Bila kita mencoba menutupi perbuatan dosa kita dihadapan Tuhan maka kita adalah orang paling bodoh karena selain hal itu tidak mungkin disitu juga tidak ada kebenaran. Orang berdosa tidak ada kebenaran di dalam hatinya.

Inilah inti permasalahan yang yang disampaikan Yohanes. Pada pasal 1 ayat yang ke 10, Yohanes juga menekankan bahwa bila kita berdosa maka kita juga memfitnah Allah, yaitu dengan menjadikanNya pendusta. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Hal itu terjadi karena selain dosa awal, kita kemudian mendapat dosa tambahan yaitu dengan mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang Dia yang benar. Selain menipu diri sendiri, berdosa juga berarti membuang diri dari kebenaran Allah dan melakukan pemfitnahan kepada Allah. Semua ini menunjukkan relasi antara manusia dengan Tuhan Allah bukan suatu sebab akibat dari kelakuan kita. Bagaimana halnya bila kita sudah berbuat dosa? Disinilah pengharapan yang disampaikan Yohanes: “namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.”

Yohannes adalah rasul yang pengasih, ia sadar bahwa orang yang sudah diselamatkan dan mendapat hidup yang kekal pun masih dapat jatuh ke dalam dosa. Penghiburan yang diberikan adalah, seandainya pun diantara kita masih ada yang terjerumus ke dalam dosa, dihadapan Bapa masih ada seorang mediator yaitu Yesus Kristus yang mampu membereskan dosa kita. Kalimat ini dituliskan jelas bukan kepada orang-orang non-Kristen namun kepada anak-anak Tuhan yang percaya dan sudah diselamatkan namun masih jatuh ke dalam lumpur dosa. Harus hati-hati dalam mengerti ayat ini karena bila urutannya terbalik maka itupun akan menjauhkan kita dari kebenaran. Kita yakin dan percaya kepada Yesus dan taat kepadaNya maka Ia akan membawa kita bersamaNya ke hadapan Tuhan Allah di surga. Bila urutannya dibalik, karena kita mau masuk surga maka kita percaya kepada Yesus, ini menjadi satu bentuk kesalahan yang fatal yang jauh dari kebenaran. Bila kita percaya Kristus adalah kebenaran, maka prinsip ini harus kita pegang dan dijalankan seumur hidup yaitu kita harus menjadi orang Kristen yang berjalan di dalam kebenaran.

Bila orang Kristen yang sudah diselamatkan dan sudah mendapatkan hidup kekal dari Allah masih dapat jatuh ke dalam dosa, apa bedanya dengan orang-orang yang bukan Kristen yang juga berbuat dosa? Orang yang bukan Kristen berbuat dosa secara rutinitas, tidak sadar akan adanya hubungan dengan Allah, dan tidak ada teguran hati nurani yang paling tajam karena tidak ada Roh Kudus didalam dirinya. Ia terus menikmati dosanya bahkan juga merebut kemuliaan Allah. Bila ia sadar akan dosanya dan merasa terancam akan akibatnya, maka ia tahu akan konsekuensinya dan langsung bereaksi untuk menghindari hukuman. Jadi ia sadar akan kesalahannya karena ada ketakutan akan konsekuensinya, bukan pada pertobatan. Namun bagi anak-anak Allah, bila ia jatuh ke dalam dosa maka akan ada self control yang selalu mengingatkan untuk kembali kepada kebenaran dan tidak mengulanginya kembali. Disinilah letak keunikan hidup orang Kristen yang selalu berusaha hidup sesuai dengan ajaran Alkitab. Christian perfection bisa saja berbeda antara golongan reform dan golongan John Wesley (Methodist). Walaupun totalitas kesempurnaan dapat dipahami secara berbeda dari pribadi ke pribadi dan dari jaman ke jaman, namun motivasi untuk hidup suci secara total adalah baik dan otoritas tetap ada pada Tuhan Allah yang mampu melihat motivasi dan isi hati yang paling dalam.

Bila kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan, pasti etika kita akan menjadi sangat baik. Di lain hal, bila kita mengerti bagaimana cara Tuhan Allah melihat motivasi dan isi hati kita maka kita pun akan mengerti bagaimana kita harus membentuk etika kita. Bila kita bisa melihat diri kita seperti Allah melihat diri kita, barulah kita mengerti apa yang harus kita koreksi. Dihadapan Tuhan tidak ada yang sempurna. Dalam hubungannya dengan perbuatan dosa orang Kristen, dosa bukanlah suatu rutinitas, namun adalah suatu keadaan yang mendadak terjadi diluar kontrol. Orang Kristen tidak seharusnya berbuat dosa, yaitu tidak intend to karena kita sudah berjanji kepada Tuhan, sudah ditebus dengan darah yang mahal, serta kita mempunyai kehormatan sebagai orang yang sudah ditebus. Roh kudus yang memperanakkan kita bertindak seperti seorang ibu yang mendapatkan anaknya sedang sakit yang berusaha keras agar anaknya bisa sembuh. Roh kudus pula yang mengguncang hati nurani kita pada saat ada serangan dosa, yang mengingatkan kita bahwa kita telah bersalah kepada Tuhan. Bagi orang yang belum ditebus bila bersalah maka akan berusaha sekuat tenaga untuk membela diri menutupi kesalahannya. Namun bagi kita yang percaya, kita yang telah berbuat dosa sadar sendiri, kembali kepada Tuhan minta pengampunan, rendah hati dan tidak menutup-nutupi dosanya.

Pengampunan itu perlu melalui suatu pengantara yaitu melalui Yesus Kristus, Allah yang pernah menjadi manusia. Dialah yang menjadi pendamai antara manusia dengan Tuhan Allah karena hanya melalui Dialah ada keselamatan dan pengampunan. Inilah yang menjadi pengharapan bagi mereka yang percaya kepada janjiNya sesuai dengan kedaulatan Allah. Tuhan tidak memberikan pendamaian kepada seluruh isi dunia namun hanya bagi mereka yang beriman kepada Dia dan yang bertobat yang mendapatkan pengampunan dan pendamaian.

Diringkas oleh Mauritz Nainggolan
Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://griimelbourne.org/node/322

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube