Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah  membawa kembali Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk  melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang  berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!  Amin. (Ibrani 13:20-21)

Pada umumnya, rasul-rasul mengakhiri surat mereka dengan berkat.  Tapi berkat yang terdapat di akhir Surat Ibrani ini sangat berbeda: Berkat  yang Allah curahkan lewat Yesus Kristus, yang sudah mencurahkan darah  perjanjian kekal, mati dan bangkit, yang Allah jadikan Gembala Agung  bagi seluruh umat tebusan-Nya; kaum pilihan-Nya, melengkapi kamu  dengan kebajikan dan memampukan kamu melakukan kehendak-Nya.  Banyak orang berpikir: Aku bisa berbuat baik. Tapi Alkitab belum  pernah memandang kebajikan sebagai sesuatu yang bersifat antroposentris,  karena satu-satunya sumber dan esensi kebajikan adalah Allah – Sang Pencipta. Itu sebabnya ayat ini, meskipun kelihatannya sederhana, namun sangat Kristiani.

Penulis mengingatkan: Bukan kita yang mampu melakukan kebajikan; Kristuslah yang melengkapi kita dengan segala kebajikan, memampukan kita melakukan kehendak Allah. Kita bisa melakukan kehendak Allah, kalau kita tahu isi hati-Nya. Masalahnya, untuk bisa mengerti isi hati anggota keluarga sendiri saja tidak mudah. Ada kalanya suami tidak mengerti apa yang diinginkan istrinya, istri tidak memahami apa yang diinginkan suaminya, anak-anak sulit memahami isi hati ayahnya, … mana mungkin kita, yang sudah tercemar dosa ini, bisa mengerti isi hati Sang Pencipta, Sang Penebus, Sang Pewahyu, kecuali lewat kebenaran yang Yesus nyatakan? Dengan kata lain, kunci untuk mengerti isi hati Allah adalah Kristologi, memahami bagaimana Kristus rela menyangkal diri, memikul salib, mematuhi kehendak Bapa-Nya, barulah kita bisa taat pada Kristus, menjalankan kehendak Allah.

Ketaatan Kristus adalah sumber dan teladan dari ketaatan kita (Ibr. 5), pintu yang memungkinkan ketaatan kita diterima oleh Allah. Semua orang yang berada di dalam ketidaktaatan Adam memberontak pada Allah, tapi semua orang yang berada di dalam ketaatan Kristus diterima oleh Allah. Karena representatif manusia di hadapan Allah hanya dua: di dalam Adam atau di dalam Kristus. Ketaatan kita di dalam ketaatan Kristus diterima oleh Allah. Itulah dasar dari from faith to faith. Jadi, lewat Kristus kita mengerti isi hati Allah. Lewat ketaatan Kristus, kita tahu bagaimana menjalankan kehendak Allah, yaitu melakukan hal yang berkenan pada Allah, bukan berkenan pada diri sendiri. Itulah bedanya orang  Kristen dan orang bergama lain. Orang beragama lain percaya bahwa Allah itu ada, tapi allah yang mereka harapkan adalah allah yang memenuhi keinginan mereka.

Di Malaysia, ada sebuah toko. Di lantai toko itu terdapat tempat sembahyang. Di atasnya disajikan: jeruk, pisang, kemenyan… Melihat itu saya berpikir: Apa tujuannya berbuat semua itu? Mungkin karena hal itu dia yakini sebagai penentu untung rugi usahanya, maka dia menyajikan semua itu, agar dewanya berkenan menjadikan dia kaya. Kalau pemikirannya benar, tentu dewanya sangat bodoh, mau memberi kekayaan ganti beberapa buah jeruk dan pisang. Agama seperti itu adalah agama yang rendah, yang menyimpang, melawan kehendak Allah; karena memang, Allah yang mereka cari bukan Allah yang sejati melainkan allah yang berada di dalam imajinasi mereka. Mereka menyajikan makanan yang Allah cipta, guna menyuap allah pengganti, yang bisa memberi profit besar, memuaskan kehendak, ambisi dan keinginan mereka. Ayat 20-21 ini menyajikan 4 (empat) perkara:

  1. Allah, lewat Kristus, Gembala yang Baik, menggenapkan segala kebajikan di dalam hidup kita.
  2. Allah, lewat Kristus, mengajar kita melakukan kehendak Allah.
  3. Allah, lewat Kristus, bekerja didalam hati kita, memampukan kita melakukan hal-hal yang memperkenan Dia, bukan memperkenan diri sendiri. Pada umumnya, seorang beragama menyembah, memberi sedekah pada dewa, dengan  harapan dewanya memenuhi ambisi egonya. Tapi di dalam Kristus (bukan di dalam semua gereja, karena sudah banyak gereja yang mengajarkan theology of prosperity, teologi sukses, yang tidak berbeda dengan ajaran agama lain. Hanya lewat pemahaman teologi Reformed yang benar, barulah seorang menyadari betapa tingginya tuntutan Alkitab), Allah memampukan kita melakukan hal yang berkenan di hati-Nya. Itu sebabnya, kita perlu mengintrospeksi diri: Selama aku hidup, Do I do everything to please God or to please myself? Do I do everything to please Him, in His will or I pray so certainly in religious emotion to ask God to please me, to satisfy my ambition? Hanya dengan sikap hati mau memperkenan hati Tuhan, iman dan hidup  rohani kita bertumbuh. Ada orang yang saat baru terpilih menjadi majelis begitu rendah hati, tapi dua tahun kemudian, berbalik menjadi tinggi hati. Apa sebabnya? Karena dia tidak mengerti prinsip ini, maka dia memandang kedudukannya di gereja begitu penting, begitu terhormat, mulai merasa bangga, tidak lagi memberi tempat bagi Tuhan di dalam hidupnya. Ia bagai orang Farisi yang secara lahiriah beragama, suci, saleh, tapi di mata Tuhan Yesus, mereka tak beda dengan kubur yang dikapur bagian luarnya saja — kelihatannya bagus, tapi di dalamnya penuh dengan tengkorak.
  4. Memuliakan Tuhan.

Apa itu memuliakan Tuhan? Mengapa Tuhan tidak merasa sungkan  meminta manusia memuliakan Dia? Kalau saya berkata padamu: Muliakanlah Stephen Tong, karena saya adalah pendetamu! Tentu kau  merasa janggal, bukan? Tapi, why God asks me to glorify Him? Karena:

  1. Tuhan, diri-Nya adalah kemuliaan. Kita sering mendengar orang berkata: kita harus mempunyai kebenaran yang obyektif, bisa diterima oleh semua orang. Socrates, Plato, Aristotle adalah tokoh-tokoh yang memperjuangkan hal itu: kebenaran bukan tafsiran individu, bukan pengertian subyektif, melainkan sesuatu yang obyektif, universal, diakui semua orang. Berbeda dengan para sophist; orang-orang sejaman  Socrates, menganggap diri pintar lalu memonopoli kebenaran; hanya mereka yang bersyarat mengajar kebenaran, bahkan tidak segan-segan memasang tarif untuk kebenaran yang mereka ajarkan. Tapi bagi saya, kebenaran bukanlah  subjective interpretation, melainkan subjectivity of the truth Himself- karena Alah bukanah kebenaran yang dicari, melainkan kebenaran yang mewahyukan diri. Dialah subjetivity of truth, of righteousness, of goodness, of glory…in person, maka sabda-Nya, “I am Who I am.” Penelahaan seperti itu tidak akan kau temukan di buku manapun, karena itu adalah kesimpulan yang saya dapatkan dari Kitab Suci; berbeda dari pikiran-pikiran yang ada di dunia filsafat: Allah adalah kebenaran, kebenaran in person, kebenaran yang menyatakan diri sebagai  Allah yang hidup, Pribadi yang memperkenalkan diri sebagai: I am.  Sedangkan kebenaran yang dibahas oleh: Aristotle, Kongfuzu,  Lautze…hanyalah satu topik pembicaraan, satu refleksi yang ada di dalam imajinasi. Contoh: semua kita bisa membahas Megawati secara panjang lebar: dia adalah Presiden RI, istri si anu, ketua partai anu, kapan dia menjabat Presiden…; Tapi kalau Megawati sendiri berada di tengah-tengah kita dan berkata: Akulah Presiden RI…, tentu akan berbeda sekali. Karena dia bukanlah sekedar bahan pembicaraan kita, melainkan pribadi yang berbicara. Itulah wahyu:Allah yang memperkenalkan diri-Nya sendiri tentu berbeda dengan allah yang ada di dalam konsep, yang dibahas oleh para filsuf. Itu sebabnya Cornelius van Till mengatakan: Allah yang dibahas oleh filsuf-filsuf Barat, dari jaman Aristotle sampai sekarang, hanya merupakan bayang-bayang. Mereka belum pernah mengenal Allah secara pribadi. Sampai Allah secara subyektif – pribadi – angkat suara memperkenalkan diri-Nya sendiri, barulah manusia mempunyai landasan untuk membangun pengertiannya tentang Allah. Karena God is the subjectivity of the truth, God is the subjectivity of righteouness, God is the subjectivity of holiness. Prinsip yang sama juga berlaku pada kemuliaan: God is the subjectivity of the glory Himself, maka hanya Dia, satu-satunya Pribadi yang berhak meminta kita memuliakan Dia. Barangsiapa menyamar sebagai Allah akan berperan sebagai diktaktor. Mao Ze Dong pernah menyamar sebagai Allah. Dia mengira pemikirannya yang tak terkalahkan itu akan long life, zhan wu bu sheng de mao ze dong si xiang wan sui, maka rakyat Tiongkok yang jumlahnya lebih dari satu milyar itu dipaksa mendewakan dirinya. Itulah yang dilakukan oleh orang yang menyamar sebagai Allah: merebut kemuliaan Allah. Padahal, satu-satunya Oknum yang benar-benar berhak mengatakan: glorify Me, worship Me hanyalah Allah, karena other than Me, there is no god. Sayang, manusia tidak mengenal Allah, maka waktu manusia mendengar seruan: ‘Muliakan Allah’, manusia mulai mengkritik Allah. Salah satu kritikan yang paling tajam di sejarah filsafat dilontarkan oleh Friedrich Nietzsche (seorang Jerman yang hidup di abad ke-19), di dalam bukunya yang berjudul thus Spoke Zarasustra– Demikianlah Soroaster berbicara: Suatu hari, ketika dewa-dewa sedang mengadakan musyawarah  di sorga, tiba-tiba seorang dewa yang paling sombong mengumumkan: Akulah satu-satunya allah, di luar aku tidak ada allah yang lain. Mendengar itu, semua dewa tertawa tak henti-hentinya, sampai mati. Dari sana muncullah teori God is death. Namun sesungguhnya, orang pertama yang menggunakan sebuatan ‘Allah mati’ bukanlah Nietzsche, melainkan Ny. Martin Luther. Perjuangan Martin Luther untuk mengembalikan gereja pada Alkitab disebut Reformasi. Jadi, Reformasi bukan untuk menciptakan golongan atau memperjuangkan ambisi pribadi, melainkan dorongan Roh Kudus dalam menggugah gereja untuk kembali pada Kitab Suci yang Allah wahyukan. Itulah keunikan GRII yang harus Saudara ketahui. Jika tidak, Saudara akan menyamakan diri dengan mereka yang berani memasang plang gereja lalu mengklaim diri sebagai gereja. Padahal ajarannya bertentangan dengan Alkitab. Motivasinya mencari uang, massa, kedudukan,… bukan memelihara ajaran yang diturunkan oleh para rasul, bukan mengabarkan Injil — membawa orang mengenal Yesus Kristus, bukan berjuang demi kebenaran, berani menyangkal diri bahkan berani mati untuk Tuhan. Tapi Martin Luther, Calvin, Butler, Bullinger, Theodore Beza, maupun tokoh-tokoh reformasi lain, memiliki motivasi yang sama: Back to the Bible, befaithful to the revelation of God and worship Him, give all the glory to Him. Di masa reformasi, kuasa gereja Katolik di: Jerman, Hongaria, Belgia, Eropa, Inggris, Skotlandia, Prancis, Spanyol,… begitu besar, lebih besar dari kuasa Romawi kuno. Mana mungkin anak petani berkebangsaan Jerman yang bernama Martin Luther ini mampu melawan kebobrokan gereja? Dia nyaris diculik, ditangkap, dipenjarakan, dibunuh, tapi mottonya patut kita hormati sampai selama-lamanya: Here, here I stand before God. I stand on the Bible, the Word of God. I Will never withdraw what I have written, except it is proven contradictory to the Word of God, and contradictory to the conscience. Suatu kali, karena tantangan yang Martin Luther alami cukup berat, dia sempat kecewa dan pulang, berniat untuk give up; tidak meneruskan reformasi lagi. Sesampainya di rumah, dia melihat istrinya mengenakan pakaian putih (pakaian berkabung bagi orang Jerman). Wajahnya muram sekali. Tanya  Martin Luther, “Mengapa kau mengenakan pakaian berkabung?” Jawab istrinya, “Ada yang mati.” “Siapa yang mati?” “Allah yang mati.” “Mengapa kau berkata seperti itu? Mana mungkin Allah mati?” “Jika Allah tidak mati, mengapa kau kecewa sampai ingin mengurungkan reformasi yang sudah kau rintis?” Martin Luther tersentak. Ia kembali meneruskan perjuangannya. Empat ratus tahun kemudian, istilah ‘Allah mati’ itu dipakai oleh Nietzsche dengan konotasi dan definisi yang sama sekali berbeda: semua allah mati, mengindikasikan: tak perlu percaya Allah atau dewa. Filsafat Nietzsche yang antroposentris – man is the centre of universe- mencapai taraf radikal: Kita  menantikan kedatangan Superman, tapi sebelum Superman datang, perlu seorang perintis. Siapakah dia? Dirinya. Konsep superman dari Nietzsche, contradict with God: Allah yang supranatural harus mati, manusia harus bangkit. Saat manusia bisa melakukan segalanya, dia tidak membutuhkan Allah lagi. Itulah dasar pemikiran ateisme, manusia melawan Tuhan; anti-Kristus.  Nietzsche memakai sindiran: God is death untuk menghancurkan kekristenan. Seratus tahun kemudian, Jean Paul Sartre dari Perancis bahkan nekad mengadakan upacara pengebumian bagi Allah, karena menurut dia, dunia tak memerlukan Allah lagi. Di satu pihak, orang ateis mengatakan dengan jujur: tidak ada Allah; di pihak lain, orang mengumumkan: Allah mati. Ironisnya: ada sebagian orang Kristen, hidupnya bobrok  ketimbang non-Kristen, seolah mengaminkan teori Allah sudah mati, tidak sanggup mengubah hidupnya. Yang lebih mengerikan lagi, Wahanian, Hamilton dan teolog-teolog lain dari Chicago Scholl mengajarkan teori God is death di sekolah teologi. Teori Allah sudah mati diumumkan oleh Nietzsche, seorang pemikir yang dinamis. Dia pandai menggunakan kekuatan  literatur untuk menggoncang pikiran manusia. Sebagai akibatnya: Manusia bukan saja tidak mau memuliakan Allah, bahkan berani berkata: I am god; Allah, menyingkirlah! Pada waktu manusia menolak Allah dan dirinya naik tahta, Allah membiarkan dia memerankan satu lelucon yang pada akhirnya justru mempermalukan dirinya sendiri. Mao Ze Dong memang hebat. Politikus mana yang kuasa politiknya lebih besar darinya? Coba lihat, semua pemimpin dipilih oleh rakyat, tapi dia tidak dipilih, namun tidak mungkin diturunkan. Dia menjadi penentu nasib bagi negara yang jumlah populasinya paling besar di dunia – Tiongkok. Apapun yang dia inginkan harus terwujud. Dia memerankan diri bagai Allah. Saat itu, Allah tidak banyak bicara. Baru suatu hari Allah berkata, “Are you God? You are a dying god!” Di mana Mao Ze Dong, Hitler, Hirohito,… diktaktor-diktaktor lainnya? Mati. Jasadnya dibaringkan di peti kaca. Setiap minggu ruang pamer itu perlu ditutup satu hari untuk melakukan tambal sulam atas jasadnya yang mulai rusak. Bagaimana dengan Neitzsche? Dia mati pada usia 35 tahun, dalam keadaan tidak waras. Jadi, kepada setiap orang yang melawan Allah, Allah akan berkata kepadanya: “Kau tidak membutuhkan Aku, karena kau kira kau adalah Allah. Ok, jalanlah sendiri.” Selanjutnya, Allah akan mempertontonkan pada dunia: ada allah yang bisa mati. Sebab itu, jangan menganggap diri mulia, karena God has the glory, and only God has the right to ask you to glorify Him. Jangan memuliakan atau mengkultuskan siapapun, karena dia hanyalah manusia yang fana. Alkitab mengajarkan: ‘Hai Raja, apa yang kau banggakan? Yang ada padamu hanyalah satu hembusan napas. Kalau Aku memanggilmu, kau akan kembali pada debu tanah, karenakau dibuat dari debu tanah.’ Who are we? Kita hanyalah debu tanah. Maka jika hidupmu yang sekian puluh tahun ini bisa kau pakai untuk memuliakan Tuhan, itu adalah hak istimewa yang  Tuhan beri.
  2. Manusia adalah satu-satunya makhluk  ciptaan yang bisa mengembalikan kemuliaan pada Tuhan.  Everything is created for glorifying God, tapi selain manusia, tidak ada makhluk lain di bumi yang bisa memuliakan Allah. Makhluk  lain hanya bisa mencerminkan  kemuliaan Allah lewat bijaksana yang tersimpan di dalamnya. Contoh:  kemampuan lalat terbang atau mendarat jauh melampaui Boeing 747,  karena lalat tidak memerlukan landasan pacu; lalat bisa melakukannya  kapan pun dia mau. Namun hanya manusia, satu-satunya makhluk yang  bisa mengucapkan: ‘Puji Tuhan! Haleluya! Kemuliaan hanya bagi-Mu,  Tuhan!’ Hanya manusia yang dicipta untuk bisa mengembalikan kemuliaan  pada Tuhan.  Di dunia, hanya ada dua jenis manusia:  a). Yang selalu, yang suka dan yang betul-betul berminat memuliakan  Tuhan.  b). Yang selalu mempermalukan nama Tuhan.  Di gereja ini juga ada dua jenis anggota: yang memuliakan Tuhan dan  yang mempermalukan Tuhan. Mari kita mengintrospeksi diri: Saya  termasuk kategori yang mana:  to glorify God atau justru memberi  kesempatan orang untuk mencela  Tuhan lewat segala kebobrokan, kejahatan yang kulakukan?
  3. Allah tidak pernah mengizinkan manusia mengalihkan kemuliaan-Nya pada allah palsu. Inilah yang tidak disetujui oleh Nietzsche, tapi Alkitab menulis: I will never give My Glory to the false god. Jangan memancing Allah murka dengan menyembah ilah, karena God is God of jealous. Seorang wanita akan marah besar, saat dia tahu suaminya bersetubuh dengan wanita lain. Kemarahannya adalah kemarahan suci. Begitu juga Allah; Dia tidak mengizinkan kita mengembalikan kemuliaan pada ilah, karena Dia adalah Allah yang cemburu dengan cemburu yang suci. Cemburu istri yang suci bukanlah dosa, melainkan sesuatu yang wajar, yang akan memelihara rumah tangganya untuk selalu berada di jalur yang benar, memberikan jaminan aman pada etika. Kecemburuan Allah yang suci juga memelihara kita hidup didalam kebenaran. Jangan menyembah allah buatan tangan manusia. Jangan menjadikan sesamamu sebagai allah. I am your God. So you only worship God, only serve Him- hanya mengembalikan kemuliaan kepada-Nya. Biarlah semua hamba Tuhan, majelis, ingat: Apapun yang kau lakukan, only serve God, not serving my glory, my fame, my reputation. Dengan cara seperti itu Tuhan dipuaskan. Allah tidak pernah memperbolehkan kemualiaan-Nya diberikan kepada yang lain, karena Dialah satu-satunya Allah yang sejati.
  4. Kristus adalah wujud dari kemuliaan yang terbesar, tersempurna, tersuci dan terakhir (Ibr. 1:1-3). Dia adalah cahaya kemuliaan Allah yang memancar di dalam sejarah. The manifestation of the glory of God in Christ is so full, so glorious and so absolute. Kalimat-kalimat berikut: Kau melihat Aku adalah melihat Dia yang mengutus Aku’; ‘Kau mengenal Aku adalah mengenal Dia yang mengutus Aku’; ‘Barangsiapa percaya Aku, bukan percaya pada-Ku, melainkan percaya pada Dia yang mengutus Aku’, tidak pernah keluar dari mulut:  Kongfuzu, Socrates, Soroaster, Budha, Mohammad atau tokoh-tokoh agama lain; hanya keluar dari mulut Yesus Kristus. Maka look upon Jesus, think about Him and follow Him. Pernahkah orang mengatakan: Come and follow Me, follow My life, follow My model? Hanya Yesus seorang yang mengucapkan kalimat itu. Tokoh agama lain hanya mengajarkan kebenaran yang mereka ketahui, tidak pernah berani mengajak orang lain mengikut dia, meneladani dia.

Waktu Paulus mengatakan: Ikutlah teladanku; disusul dengan kalimat: sebagaimana aku sudah meneladani Kristus. Artinya, dia tidak menjadikan diri sebagai sumber teladan. Tidak ada orang yang seperti Kristus. Di manakah kita bisa menyaksikan: wujud, wahyu manifestasi dari kemuliaan Allah yang konkrit? Bukan di dalam diri pendiri agama, melainkan di dalam diri Kristus. Di Kitab Ayub tertulis: Di antara sekian banyak orang kudus, kepada siapakah kau berpaling? Kalau ditanya seperti itu, saya akan langsung menjawab: Jesus Christ. Yesus Kristus pernah bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apakah kalian juga mau pergi?” Jawab Petrus, “Hanya Kau yang mempunyai firman kekal, kepada siapa kami akan pergi?” Yesus Kristus, satu-satunya Pribadi yang memanifestasikan kemuliaan Allah. Bagaimana kita memuliakan Tuhan?

  • Gloryfied God in serving Him,  di Jawa Tengah, pernah diadakan angket tentang apa itu memuliakan Allah. Ada orang menulis: ‘Memuliakan Tuhan itu menyanyi di paduan suara’; ‘Memuliakan Tuhan itu menjadi pendeta’…Belum tentu! Karena ada orang yang terlihat suci pada saat memuji Tuhan di paduan suara, tapi hidup sehari-harinya tidak karuan. Di abad ke-18, seorang Perancis mengatakan, ada banyak dosa yang tersimpan di balik jubah pendeta, jubah kardinal, jubah bishop, jubah pemimpin-pemimpin gereja. Beberapa tahun ini, kita banyak mendengar berita tentang child abuse, sex abuse dan sebagainya dilakukan oleh pastor-pastor yang tidak bertanggung-jawab di Amerika. Yesaya menuliskan: Sia-sialah kamu menyembah Aku dengan mulut bibirmu, karena hatimu jauh daripada-Ku. Karena yang Tuhan tuntut dari kita adalah: hati yang bersih, motivasi yang suci, dan kesungguhan dalam memuliakan Dia. Itu sebabnya, mari kita — setiap orang yang terlibat di dalam pelayanan — mengintrospeksi diri dengan serius. Apa motivasiku saat melayani? Selain memuliakan Tuhan, adakah motivasi lain dalam pelayananku? Kalau ada, itu tandanya setan sedang bekerja dalam diri kita. Sungguh, mau menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh murni di hadapan Tuhan tidaklah mudah, tapi setidaknya, inilah doa kita: ‘Tuhan, biarlah kerajaan-Nya dan kemuliaan-Mu, kerajaan-Mu dan kebenaran-Mulah yang yang kutuntut. Karena firman-Mu: Carilah dulu kerajaan dan kebenaran Allah, segala sesuatu yang kau perlukan akan ditambahkan padamu.’
  • Glorify God in worshiping Him, mungkin kau bertanya, “Saya selalu ikut kebaktian, apakah itu memuliakan Tuhan?” Belum tentu. Mazmur mengajarkan: Hiaslah diri dengan kesucian dan sembahlah Allah. Banyak orang datang ke gereja dengan pakaian yang terbaik; itu tidak salah, tapi itu bukanlah yang terpenting. Yang penting adalah menghiasi diri dengan holiness. Hidup yang suci adalah dasar kita menyembah Tuhan, Amin? Perempuan yang hidupnya suci, meski parasnya tidak secantik bintang film, sesungguhnya, bintang film jauh kalau cantik dengannya. Coba lihat Elizabeth Taylor, yang berulang kali menikah dan bercerai, meski cantik terlihat jelek sekali, bukan? Orang dunia sangat tertarik dengan kecantikan lahiriah, tapi malaikat justru sangat tertarik dengan orang yang hidupnya suci. Memang, kita tidak secantik bintang film, tidak sekaya konglomerat yang memperoleh uang dengan cara-cara yang tidak beres, tapi setidaknya, kita mempunyai hati yang suci, menyembah Tuhan dengan motivasi yang suci. Itulah glorify God with your holiness in worship.
  • Memuliakan Tuhan di dalam hidupmu lewat meneladani karakter Yesus Kristus dalam: keadilan, kebajikan, kemurahan, kasih, jujur, rendah hati, dekat dengan orang yang butuh pertolongan. Kalau kau berkesempatan menolong orang, tolonglah, asal jangan kau peralat, juga jangan memanjakan orang. Ingat: Segala kebajikan kau lakukan untuk membangun, bukan untuk merusak. Itu sebabnya harus kau lakukan dengan bijaksana. Saya heran, mengapa ada banyak orang agung yang dulunya hidupnya miskin, sementara ada banyak orang miskin yang tidak menjadi orang agung? Mengapa banyak keturunan orang kaya menjadi rusak, sementara ada sebagian orang sukses luar biasa, tapi juga baik sekali? Itu artinya, bukan kondisi yangmenentukan sebab akibat, tapi: sifat, motivasi, niat perjuangan, karakter, hati yang bersandar pada Tuhanlah yang menentukan. Itu sebabnya, orang yang dilahirkan di keluarga kaya jangan membanggakan kekayaan yang diwariskan padamu; belajarlah berjuang, dengan begitu barulah kau dapat memahami orang yang hidupnya susah.
  • To glorify God with your speech, which is teaching and manifesting the truth of God; dengan mengabarkan Injil, memberitakan Firman Tuhan mengucapkan kata-kata yang membangun. Jika kau menegur, tegurlah dengan kasih, bukan dengan rasa kesal. Jika kau mengkritik, kritiklah untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan. Jika kau mengabarkan Injil, kabarkanlah Kristus dan kebenaran-Nya, bukan kebesaran dirimu.
  • To leave something beyond you, to iluminate the history, to teach the generation to come, what you are doing is to glorify God. Saya berharap, hal-hal yang saya kerjakan selama hidup ini bisa tinggal tetap. Untuk apa? Agar orang menyaksikan bahwa Tuhan yang ku sembah adalah Tuhan yang setia: Orang yang beriman kepada-Nya,  pekerjaan-Nya akan Dia pelihara. Seperti doa terakhir di Mazmur 90: Tuhan, teguhkanlah pekerjaan tanganku. Jika kita melakukan segalanya hanya untuk diri sendiri, apa yang kita lakukan akan roboh. Tapi kalau kita melakukannya untuk kemuliaan Tuhan, Tuhan akan memeliharanya tinggal tetap dalam sejarah. Paulus dan Petrus sudah lama meninggal, tapi apa yang mereka kerjakan tetap tinggal. Apa sebabnya? Karena mereka melakukannya untuk kemuliaan Tuhan.

Satu kalimat yang diucapkan oleh Pdt. Andrew Gih, yang mulai melayani Tuhan pada tahun 1925, meninggal  tahun 1986, sangat menyentuh hati saya: Selama aku hidup, aku menyaksikan Tuhanku adalah Tuhan yang setia, Tuhan yang hidup dijaman ini lewat pelayananku. Mari kita bersama-sama membangun pekerjaan Tuhan: menggarap doktrin, iman, pelayanan, penginjilan, menjadi gereja yang menyatakan our God is a faithful God, our God isGod of truth, God of Love, God of righteousness through our ministry. Kiranya Tuhan memberkati kita, agar kita boleh hidup untuk memuliakan Dia.

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Artikel ini diambil dari seri khotbah Ekspositori Surat Ibrani di Kebaktian Minggu GRII Pusat, Kampus Emas, Jakarta, pada tanggal 22 Februari 2004. Sumber: Majalah Momentum 54 – 200

 

Sumber : https://www.reocities.com/thisisreformed/artikel/memuliakanallah.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube