Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Yes. 25:8; 1Kor. 15:51-57

“Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya.”

 (Yes. 25:8, TB-LAI)

Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1Kor. 15:51-57, TB-LAI)

Di dalam ayat yang kita baca, kita menemukan suatu janji yang begitu tersembunyi, sehingga seolah-olah tidak ada orang yang bisa mengerti yang bisa mengupas atau menemukannya. Bahkan di dalam seluruh Perjanjian Baru, hampir semua rasul-rasul tidak mengungkapkan janji itu, kecuali Paulus. Janji apakah yang tersembunyi itu? Janji yang dikatakan oleh Yesaya dalam Yes. 25:8, kematian ditelan. Makna dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia jelas, bahwa Dia akan melenyapkan, menghapus kematian. Di dalam terjemahan bahasa lain maupun di dalam bahasa aslinya tertulis bahwa kemenangan akan membungkus / menelan dan menghanyutkan kematian. Ini merupakan satu janji yang besar, yang menjadi pangkalan iman kekristenan melalui kebangkitan Yesus Kristus, yang menjadi fakta di dalam sejarah. Siapakah Kristus? Dia yang lahir di dalam palungan, yang lahir dalam keadaan miskin, yang dibesarkan di dalam keluarga tukang kayu. Seorang Nazaret yang tidak mempunyai nama besar, yang tidak mempunyai kedudukan politik, yang tidak mempunyai backing ekonomi, yang tidak mempunyai kuasa di masyarakat. Tetapi Allah justru mengutus Kristus ke dalam dunia, supaya Dia boleh menggenapi apa yang sudah dijanjikan di dalam kitab Yesaya.

Di sana Yesaya meneriakkan satu kalimat, bahwa akhirnya kematian akan ditelan, dihabiskan untuk selama-lamanya. Dalam surat Paulus dikatakan, musuh yang terakhir bagi umat manusia adalah kematian. Kadang-kadang saya berpikir, apa gunanya kita terus berjuang, berusaha, studi sampai puluhan tahun, bekerja sampai puluhan tahun, setelah kita memperoleh segala sesuatu, pengetahuan yang tinggi kita isi ke dalam otak kita; setelah kita mengerjakan segala sesuatu, pada akhirnya kita harus meninggalkan dunia ini? Jika kematian adalah titik akhir, jika hembusan napas terakhir menandakan berhentinya eksistensi kita, maka celakalah hidup kita di dalam dunia! Kita boleh mengagumi binatang-binatang yang tidak usah sekolah dengan susah payah, harus bermoral, menegakkan karakter, mempelajari apa itu kejujuran, ketekunan, kredibilitas, rasa tanggung jawab sebagai manusia yang beretika? Kita berbuat segala sesuatu, kita berupaya sampai puluhan tahun, apa yang kita peroleh? Yang kita peroleh hanyalah sebidang tanah, itu adalah hal milik yang asli. Semua tanah, gedung, uang akan ditinggalkan, bahkan tidak bisa masuk kubur dengan membawa sepeser atau sesenpun. Jika kematian berarti selesai atau berakhir, permisi tanya, apakah bedanya hidup manusia dengan binatang? Bukankah akhirnya binatang juga menghembuskan napas yang terakhir dan selesai, dikuburkan? Jika kematian adalah akhir dari semua makhluk yang hidup, termasuk manusia, maka hidup manusia akan lebih celaka daripada binatang. Itulah sebabnya Soren A. Kierkegaard yang hidup pada abad XIX di Denmark mengatakan, if the hope of Christian is not toward the eternity, we are the poorest men in the world, we are most pitful people in the world; jika pengharapan orang Kristen tidak ditujukan kepada kekekalan, maka orang Kristen adalah manusia yang paling perlu dikasihani di dalam dunia, apa sebabnya? Sebelum orang mati, orang dunia masih menikmati segala kesukaan, kebebasan, pelampiasan nafsu mereka, tetapi orang Kristen harus menahan nafsu, berbuat baik, menjaga kesucian, menderita di dalam kehendak Tuhan. Jika orang Kristen mati dan selesai, menghembuskan nafas yang terakhir dan selesai, maka kita tidak mempunyai pengharapan selanjutnya, kita lebih celaka daripada semua orang.

Kalimat yang mirip juga dikatakan oleh Paulus di dalam 1Kor. 15:14, jikalau Kristus tidak bangkit, maka apa yang kita percaya dan beritakan itu sia-sia adanya. Tetapi jika Kristus sudah dibangkitkan, maka makna kebangkitan Kristus dan kaitan kemenangan itu dengan seluruh umat manusia merupakan satu rahasia yang harus kita mengerti dan kita miliki. Pada waktu kau pergi ke kuburan dan melihat nisan-nisan, maka terlihat ada orang yang tua sekali baru mati, tetapi ada yang muda sekali sudah mati, bahkan ada yang masih bayi sudah mati. Orang muda yang tampan, yang cantik pun akan ditelan oleh kematian. Kita hanya mengenang mereka melalui fotonya, orang ini pernah hidup di dunia, tapi ketika dicari lagi, entah di mana, dipikir lagi, juga tidak bertemu, hanya bisa kita kenang di dalam otak dan memegang fotonya saja. Pada waktu kau kehilangan orang yang paling kau cintai, permisi tanya, bukankah di dalam hatimu terdapat satu tuntutan, semoga aku bisa berjumpa dengan dia lagi? Yang kau kasihi sudah pergi, dan ketika kau ingin mengembalikan dia, baru kau mengetahui, bahwa ilmu pengetahuan, kedokteran, uang yang jumlahnya milyaran, kuasa politik yang terbesar di dunia tidak berdaya, karena kalau kematian itu tiba, dia tidak memandang siapakah kau, tidak memandang kau kaya atau miskin, pria atau wanita, orang yang berkuasa atau rakyat jelata. Semua orang sama. Raja-raja, presiden-presiden pun tidak bisa mengindar dari kenyataan, pada suatu hari manusia harus mati.

Namun demikian, di dalam pemikiran kita ada satu pertanyaan yang sama: kapankah dan mungkinkah manusia mengalahkan kematian? Yesaya menjanjikan, kematian akan dilenyapkan untuk selama-lamanya. Alangkah indahnya kalau suatu hari nanti, tidak ada kematian dan ditambah dengan tidak lagi ada dosa. Jikalau dosa masih ada, tetapi kematian tidak ada, berarti orang yang berdosa tidak mati dan terus menerus berdosa, itu celaka sekali. Jikalau kematian sudah tidak ada, tapi ketuaan masih ada, tidak bisa mati, tapi semakin lama semakin tua, manusia akan menjadi jelek daripada monyet. Celaka sekali, kalau kematian sudah tidak ada, tetapi dosa masih ada, ketuaan masih ada, penyakit kanker masih ada. Sebab itu, kekristenan dan Kitab Suci yang diwahyukan oleh Tuhan memberikan seluruh jawaban yang tuntas: kematian, dosa, Taurat, kerusakan dan keadaan yang bisa fana, semuanya itu mempunyai ikatan yang tidak boleh dilepaskan. Tubuh bersifat fana, maka tubuh bisa rusak, sakit, bisa dirusak oleh bakteri dan virus, bisa menderita penyakit kanker, karena tubuh ini bukanlah tubuh yang kekal. Itu sebabnya, kita tidak boleh minta kepada Tuhan untuk saya hidup terus. Sekarang di Jepang, sudah ada ratusan, ribuan orang yang terus tidak bisa mati juga tidak bisa hidup, terus berbaring di sana, buang air besar, air kecil, makan harus dibantu, dipanggil tidak menjawab, disuruh mati tidak mau. Masakan hidup yang seperti itu enak? Kalau ada 5 orang yang seperti itu di rumahmu, kau mencari uang mati-matian untuk membiayai biaya hidup dan pengobatan mereka pun, bahkan sampai generasimu yang ke-10, belum bisa lunas. Itu sebabnya, Alkitab berkata, hai kematian di manakah kuasamu? Di balik kematian ada dosa. Apakah yang bisa membuat kau yang berdosa dihukum? Taurat. Jadi ada hal: mati, dosa, Taurat. Berdosa adalah melanggar hukum Taurat, yang melanggar Taurat terpisah dari Tuhan, yang dipisahkan dari Tuhan berada di luar hidup, yang mati di luar hidup menuju pada kematian. Mati, dosa, Taurat. Taurat membuktikan manusia berdosa, dan Taurat menyatakan keadilan, kesucian, kebajikan Allah tidak bisa dicapai oleh manusia, maka Taurat menjatuhkan hukuman dosa terhadap orang yang melanggar Taurat dan upah dosa membawa manusia kepada kematian. Jadi kalau kau betul-betul bebas dari kutukan Taurat, ikatan dosa, barulah kau bisa bebas dari ancaman kematian. Ketiga-tiganya merupakan segi tiga yang mempunyai kekuatan dan saling berkaitan satu dengan yang lain. Tuhan memberikan Taurat untuk menyatakan bahwa dirimu sudah jauh daripada kesucian Tuhan Allah.

Tuhan memberikan Taurat bukan supaya kau berbuat dosa, juga bukan supaya kau menjalankan Taurat dan tidak berdosa, karena itu tidak mungkin. Tuhan memberikan Taurat untuk menyatakan bahwa kau seharusnya mati. Kita bersyukur kepada Tuhan, jika kematian akan dihapus dengan cara Tuhan Allah. Sedangkan dalam tubuh yang sementara ini, orang Kristen pun masih bisa sakit, bisa mati. Kau harus bersyukur kepada Tuhan, kalau manusia masih bisa mati. Ini paradoks sekali. Waktu manusia mati, kematian bukan titik akhir, karena dia tetap berada, men are eternal being, we are immortal. Di dalam diri kita ada kekekalan (Pkh. 3:11), dan kekekalan itu tidak dipengaruhi oleh rusaknya badan di luar, karena jiwa yang kekal akan berjumpa dengan Allah untuk selama-lamanya. Paulus berkata kepada jemaat Filipi bahwa ia berada di tengah-tengah dua kesulitan, yaitu mati adalah keuntungan karena berjumpa dengan Tuhan atau hidup bagi Kristus. Namun untuk faedahmu, lebih baik aku tetap hidup (Flp. 1:21-24). Puji Tuhan! Kadang-kadang saya berpikir, bagi saya, kapan saja saya harus pergi untuk berjumpa dengan Tuhan, sudah lulus dari dulu, sudah selesai dan sudah siap, sudah sedia semuanya. Puji Tuhan. Kita mempunyai satu kemenangan di dalam, yaitu kemenangan terhadap kematian. Tubuh ini masih dapat mati, tetapi kemenangan terhadap kematian sudah berada pada kita. Itulah iman kita. Kita percaya dengan iman itu, kita mempunyai pengharapan, dan karena pengharapan itu kita mempunyai kasih. Pengharapan timbul dari iman, dan kasih timbul dari pengharapan, sehingga pelayanan ini terus berjalan. Kematian Kristus yang menelan kematian. Kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang membawa kematian ke dalam kematian, kematian itu dimatikan melalui kematian Kristus. Mungkin ini dimengerti oleh orang Tionghoa sebagai menawar racun dengan racun. Orang Barat lambat sekali mengerti akan hal ini, sampai pada penemuan suntikan cacar baru mengerti, membasmi cacar dengan cacar, menggunakan kuman untuk menghantam kuman. Tapi pengertian dengan racun membasmi racun telah diketahui oleh orang Timur sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi semua ini adalah pengertian alamiah, yang supra alamiah hanya satu, yaitu Kristus memakai kematian untuk membasmi kematian. Mengapa kematian Kristus begitu berbeda?

  1. Semua kematian manusia adalah kematian di luar kehendak Allah tetapi upah dosa, satu-satunya kematian di dalam kehendak Allah adalah kematian Yesus Kristus. Ini adalah qualitative difference yang penting dalam perbedaan tentang kematian Kristus.
  2. Semua manusia mati, karena salah menggunakan kebebasan, untuk melawan prinsip-prinsip kematian, sehingga kita tertawan oleh kematian. Manusia tidak berdaya. Tetapi Kristus, memakai kebebasan-Nya untuk taat kepada prinsip-prinsip, sehingga di dalam rencana keselamatan, Dia menjadi Juruselamat. Alkitab berkata, “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.'” (Yoh. 10:17-18, TB-LAI). Kalimat ini tidak pernah muncul pada filsafat Gerika atau Tiongkok, di dalam pemikiran Konfusius atau Plato atau siapapun, hanya ada di dalam Kitab Suci, Alkitab. Manusia mati karena tidak berdaya, karena memang harus mati. Tidak ada cara meninggalkan kematian, kita harus mati secara terpaksa. Permisi tanya, siapa yang suka mati? Ada yang mau mati? Tidak ada. Suka mati? Tidak suka. Harus mati? Harus. Yang harus mati, tidak suka mati. Kristus yang tidak harus mati, suka mati. Mengherankan bukan? Setiap orang, pada saat kematiannya tiba, psikologinya akan langsung berubah. Kau sedang enak-enak bekerja, berjalan-jalan, studi, tapi suatu hari, dokter mengadakan pemeriksaan, dan keluarlah hasilnya, dalam dua minggu ini kau akan mati. Apakah waktu dokter berkata seperti itu, kau akan menjawab: oh, mati? Kau tentu akan bertanya, apa dokter? Dalam 2 minggu, kau akan mati. Kau mulai bergemetar. Selama hidup puluhan tahun, baru selama 2 minggu kau berpikir, apa sih artinya hidup? Mengapa saya bisa hidup berapa puluh tahun di dalam dunia ini? Sudah jalan-jalan begitu banyak, namun akhirnya tidak bisa jalan-jalan lagi 2 minggu, kemudian 13 hari, 12, 7, 6, 5, 4 hari, terus minus, minus, akhirnya sisa 1 hari saja. Waktu itu, kau merasa tidak rela sekali, tapi kau tetap harus pergi. Mengapa? Karena kau berada di dalam keadaan pasif.
  3. Kematian manusia berada di bawah kuasa dosa, tapi kematian Kristus di atas kuasa dosa. Maksudnya Kristus tidak pernah perlu ditawan, diikat, dituduh, juga tidak pernah berada di bawah kutukan Taurat. Ini semua karena Kristus tidak berdosa. Dia adalah satu-satunya yang berjalan, yang taat, yang menggenapi seluruh rencana Allah. Meskipun Dia lahir di bawah Taurat, tapi hidup-Nya berada di atas Taurat. Dia mempunyai sesuatu yang diikat di bawah peraturan Taurat dan Dia menjalankannya, tapi karena Dia sungguh-sungguh merupakan satu-satunya orang yang menggenapkan Taurat, sehingga Dia mempunyai hidup dan mempunyai hak di atas Taurat, itulah sebabnya Dia tidak berada di bawah kutukan dosa.
  4. Kita mati karena kita sendiri telah berdosa, tetapi Kristus mati untuk menggantikan orang lain yang berdosa. Jadi Dia tidak seharusnya mati, karena Dia tidak berdosa. Kematian kita adalah karena kita telah berbuat dosa, sedangkan Kristus mati, karena orang lain berdosa. Di atas Golgota, ada tiga orang yang dipakukan di atas kayu salib: yang di tengah adalah Kristus, yang di sebelah kanan dan kiri- Nya adalah perampok. Kedua perampok ini, yang seorang melambangkan orang berdosa yang tidak menerima Tuhan, sedangkan yang lain melambangkan orang berdosa yang menerima Tuhan. Tiga orang ini: mati, mati, mati. Bedanya apa? Yang satu, die in sin. Yang di tengah die for sin. Yang satu lagi, die to sin. Inilah perbedaannya: mati di dalam dosa, mati untuk orang berdosa, dan mati terhadap dosa. Hanya ada 3 macam kematian. Tidak ada pengertian hidup yang lebih tinggi, daripada apa yang dinyatakan di dalam Kitab Suci. Tidak ada filsafat dan pikiran manusia yang lebih dalam daripada apa yang dinyatakan di dalam Kitab Suci. Tetapi Kitab Suci menyatakan hidup dengan begitu sederhana, begitu gampang dimengerti sesuai dengan fakta. Bukankah Kong Hu Cu juga memikirkan apa itu mati? Tetapi akhirnya Kong Hu Cu mengatakan satu kalimat, “Kalau tidak tahu apa itu hidup, bagaimana mungkin bisa tahu apa itu mati?”. Tetapi pada waktu mereka membicarakan tentang kematian, mereka duduk di pinggir meja sambil berpikir dan merengut, mereka berusaha mencatat hasil penyelidikan mengenai apa itu hidup, apa itu mati. Tapi Kristus tidak demikian. Dia bukan sebagai orang berdosa yang mencari dan menyelidiki. Dia adalah sumber hidup, yang datang mati untuk semua orang yang berdosa. Puji Tuhan! Jikalau kau tidak menerima Kristus, kau pasti mati di dalam dosamu sendiri. Jikalau Kristus sudah mati bagimu dan kau mengerti bahwa Dia mati bagimu, lalu kau menerima Dia, kau pasti belajar untuk mati terhadap dosa dan hidup bagi kebenaran, keadilan Tuhan. Puji Tuhan!
  5. Kematian manusia adalah kematian yang menelan hidup manusia, tetapi kematian Kristus adalah kematian yang menelan kuasa dan penguasaan kematian. Ini berdasarkan ayat yang kita baca tadi. Perbedaan antara kematian Kristus dan kematian semua orang adalah semua orang ditelan oleh kematian, tetapi akhirnya kematian ditelan oleh kebangkitan Yesus Kristus. Kematian Kristus adalah kematian yang menelan kematian. Bagaimana kita mengerti istilah menelan ini? Bila kita minum obat, setelah masuk obat tidak ada lagi, dia sudah menjadi sebagian di dalam hidup yang menghanyutkan diri, mencairkan diri dan tidak lagi ada bentuknya. Sekarang sudah menjadi sebagian dalam hidupku. Saya makan obat, menelan pil, pil itu akan masuk melalui ludah dan segala sesuatu dalam tubuhku, menjadi sebagian dari tubuhku. Obat itu ada tetapi tidak lagi mempunyai bentuk aslinya. Apakah arti kematian itu ditelan? Saya sudah berpikir selama bertahun-tahun, mengapa Alkitab memakai istilah kematian ditelan untuk selama-lamanya. Ditelan oleh kemenangan, maka kematian Kristus adalah kematian yang menelan semua kematian. Dia menang dan bangkit pula. Apa artinya telan? Saya tidak mengerti. Akhirnya saya mengerti dengan dua corak, yang satu dari bidang matematika, yang lain dari fisika.

1. Bidang Matematika

Bagaimana kita mengerti akan hal ditelan ini? Tadi Prof. Membicarakan tentang yang tidak terbatas dan yang terbatas. Permisi tanya, mana yang lebih besar: 1000.000 atau tidak terbatas? Seratus milyar atau tidak terbatas? Tidak terbatas. Karena yang tidak terbatas itu pasti adalah yang paling besar, bukan? Permisi tanya, kalau tidak terbatas dikurangi 100.000.000, berapa sisanya? Tetap tidak terbatas. Saya berpikir tentang unlimited infinity; yang tidak terbatas itu setelah dikurangi sebanyak mungkin, meski jumlahnya sampai ratusan trilyunpun, yang tidak terbatas itu tetap tidak terbatas. Di sinilah matematika mengajarkan satu hal, dia menelan. Tidak peduli berapa banyak yang datang kepadanya, dia telan.

2. Bidang Fisika

Cahaya bisa dilihat, tetapi tak bisa ditimbang beratnya. Heran bukan? Bila cahaya itu bukan benda, mengapa bisa dilihat? Kalau disebut benda, mengapa tidak bisa ditimbang? Jadi cahaya itu benda atau bukan? Saya membaca teori Ishak Newton, Einstein tentang terang. Saya katakan, kalau terang itu benda, mengapa tidak bisa ditimbang? Kalau bukan benda, mengapa bisa dilihat? Kalau dia benda, mengapa tidak mempunyai berat, hanya mempunyai kecepatan? Pada abad yang lalu, kecepatan cahaya sudah diperkirakan 300.000 km/detik yaitu memutari bumi tujuh setengah kali dalam satu detik. Cahaya itu begitu cepat. Dari matahari ke bumi, yang jaraknya 156.000.000 km hanya membutuhkan delapan menit tiga belas detik sudah bisa mencapainya. Kalau kita bisa memakai jet yang berkecepatan seperti cahaya, maka 8 menit kemudian, kita sudah berada di matahari, mati terbakar di sana, karena terlalu panas. Di mana ada cahaya, di situ tidak ada gelap, bukan? Berapa besar kecepatan cahaya? 300.000 km per detik. Waktu cahaya datang, kegelapan pun lenyap. Ini berarti gelap lari dengan kecepatan yang sama dengan cahaya, bukan? Sehingga di mana cahaya tiba, gelap pasti pergi. Tidak mungkin terjadi pada waktu cahaya datang, gelap tidak mau pergi, lalu terjadi perbenturan antara cahaya dan gelap. Permisi tanya, bila saya membuat satu rumah yang ber- AC, semuanya tertutup sedemikian rupa, sehingga tidak ada lubang atau angin yang bisa keluar, tidak ada air yang bisa merembes ke sana, seperti kapal selam. Ketika saya berada di dalamnya, lalu menyalakan lampu, kemanakah gelap itu lari? Tidak ada lubang sedikitpun. Tuhan menciptakan terang, apa itu terang? Tidak tahu. Semakin dipikir, semakin tidak dimengerti, sampai kepala menjadi kopyor pun masih belum bisa mengerti. Terang yang diciptakan Tuhan mempunycai kecepatan, tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk menghantam. Sehingga terang yang berkecepatan 300.000 km / detik, meski berada dalam kapal selam yang hanya 200 meter, tidak menghantam apa-apa, tidak bersuara, juga tidak membuat gaduh. Saya senang karena terang bercahaya, tetapi tidak ribut. Tuhan Yesus berkata, kamu adalah terang dunia, tapi tidak berkata, kamu adalah loudspeaker dunia. Karena loudspeaker hanya ribut tapi tidak bercahaya, sedangkan terang bercahaya, tapi tidak ribut. Sekarang ada dua macam orang Kristen: yang bercahaya tetapi tidak ribut dengan yang ribut tapi tidak bercahaya. Pilihlah salah satu. Cahaya itu berada di dalam ruangan yang tertutup. Permisi tanya, kemanakah gelap itu lari? Jawaban satu-satunya adalah ditelan oleh cahaya. Bagaimana menelannya? Tidak tahu. Pokoknya terang itu menelan kegelapan, sehingga kegelapan tidak ada lagi. Itulah eternal light, eternal fire, eternal light of God. Jangan lupa, pada awalnya, waktu Allah menciptakan langit dan bumi, di hari pertama Dia berkata, let there be light, and there was light. Before God created anything, the first thing He demand was light. Pada waktu F.J. Haydn menerima buku untuk menuliskan musik creation, orang berkata, jangan seperti G.F. Handel yang terus mengulang-ngulang, juga menuliskan kalimat let there be light and there was light dalam musiknya, dia hanya menuliskan satu kali saja. Katanya, ini sulit sekali. Maka dia terus memikirkan bagaimana menggubah lagu itu. Akhirnya dalam bukunya yang dia tuliskan, let there be light, lalu ada satu suara dari cello dan dari orchestra, and there was light, waktu cahaya itu keluar, kira-kira 20 kali lebih kuat daripada suara aslinya. Waktu dipentaskan di Wina, malam itu, Haydn yang sudah berusia lebih dari 65 tahun, duduk di bawah, dia ingin mengetahui bagaimana hasil musik yang digubahnya. Dia menunggu sampai kalimat itu muncul. Duduk di tempat yang tidak jauh darinya, L.V. Beethoven, karena dia mengira, tidak lagi ada sesuatu dari guru saya ini, yang bisa saya pelajari, he has nothing, jadi dia hanya coba melihat, karena katanya ada karya barunya yang berjudul creation, yang katanya cukup baik. Waktu dia mendengar kalimat ini, Haydn mencucurkan air mata, dan dia berdiri mengatakan, that is not from me, I could not create those kind of music, that is from God, glory be to Him; bukan aku yang bisa menulis musik seperti itu, tapi Tuhan, hanya Tuhan yang sanggup memberi kekuatan kepadaku. Sesudah dia mengucapkan perkataan itu, dia jatuh terpelanting, dan pingsan di situ. Beethoven yang lebih muda daripadanya (Hydn lahir pada tahun 1732, sedangkan Beethoven lahir pada tahun 1770) bangkit, untuk membangunkan bekas guru, yang dulu dia hormati, tapi sudah tidak dia hormati lagi, membopongnya naik, dan berkata puji Tuhan, dia adalah guru yang agung. Ini adalah satu karya yang saya sendiri pun tidak bisa mengerjakannya. Saya kira, komponis menyatakan kemuliaan Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh dokter tadi, pelukis menyatakan kemuliaan Allah, dan Allah mengatakan pada hari pertama, let there be light. Kalau Yesus Kristus mengatakan, I am the light of the world never walk in the darkness, but you find out the light of life; karena Dia adalah hidup, terang hidup yang menelan kegelapan dan kematian.

Dengan dua perumpamaan tadi, saya kira Anda sudah jelas dengan maksud apa itu ditelan. Puji Tuhan, kematianku berlainan dengan kematian Kristus. Kematian Kristus berlainan kematian Kong Hu Cu, Soekarno dan kematian nabi-nabi manapun, bahkan rasul-rasul yang terbesar sekalipun karena kematian-Nya adalah satu-satunya kematian di dalam rencana Allah, di dalam kerelaan-Nya menyerahkan diri di atas kuasa dosa, dan Dia yang tidak terbatas datang ke dalam dunia yang terbatas, kematian yang menelan kematian. Kematian sudah ditelan, dan Kristuslah yang menelan kuasa maut. Permisi tanya, sudahkah engkau mengenal Dia? Sudahkah engkau memiliki Dia? Maukah engkau menerima Kristus yang telah menelan maut dan memberikan hidup yang baru kepadamu ke dalam hatimu?

Renungan ini ditranskrip dan diedit kembali dari khotbah Paskah Pdt. Dr. Stephen Tong di Mimbar Gereja Reformed Injili Indonesia di Jakarta

Majalah MOMENTUM No. 29 – Maret 1996

Sumber : https://www.reocities.com/thisisreformed/artikel/pi_ktmaut.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube