Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakannya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakannya, jika mereka tidak diutus?

Seperti ada tertulis, “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10:14-15). Terjemahan lain untuk ayat 15, “Bagaimanakah mereka bisa memberitakan Injil itu, jikalau mereka tidak diutus?  Seperti yang ditulis dalam Kitab Suci, alangkah indahnya jejak mereka yang membawa kabar baik ke mana-mana.” Dalam bagian ini, Paulus langsung mengajukan pertanyaan yang mengaitkan lima hal berikut ini. Saya sangat tertarik, karena  teologia Reformed dipaparkan dengan luar biasa jelas di sini. Paulus mengatakan,  orang yang menyeru nama Tuhan, akan diselamatkan, itu benar. Tetapi bagaimana seseorang bisa menyeru nama Tuhan kalau dia tidak beriman? Tidak mungkin! Di sini Paulus mengaitkan hal berseru dengan iman. Pengakuan mulut yang tidak
didasari iman di dalam hati dianggap kosong adanya. Kaitan ini tidak boleh dipisahkan. Orang yang berdoa kepada Tuhan, orang yang berseru dalam nama Tuhan, adalah orang yang beriman dalam hatinya kepada Tuhan. Kalau demikian apakah berarti sudah selesai? Paulus tidak berhenti sampai di sini saja. Dia mengaitkan iman dengan pendengaran, pendengaran dengan pemberitaan, dan pemberitaan dengan pengutusan. Jika di dalam kelima hal ini, yang saling terkait dalam ayat 14 dan 15, kita melihat dua cara untuk mengerti peristiwa pengalaman pribadi (personal religious experience) merupakan hal yang berbeda dengan disiplin akademis yang mungkin diterima di universitas.

Pengalaman agamawi secara pribadi kadang datangnya lambat sekali, pada kairos yang ditetapkan Allah, pada momen di mana Tuhan memberikan pencerahan anugerah surgawi, barulah kita mengalami satu pengalaman agamawi secara pribadi. Ada orang sampai berumur 80 tahun, baru mendadak beriman kepada Yesus Kristus. Ada yang sampai umur 60 tahun, baru ia sadar bahwa dirinya memerlukan Tuhan.

Paulus sendiri mendapat pengalaman agamawinya yang begitu drastis pada saat dia membawa surat mandat untuk memenjarakan orang-orang Kristen, untuk membelenggu hamba-hamba Tuhan, untuk menganiaya gereja Tuhan. Di tengah perjalanan menuju Damaskus, di situlah pengalaman agamawi pribadi itu ia alami (Kis. 9:1-19). Itulah yang membuatnya lebih mengerti akan teori anugerah dibandingkan dengan rasul-rasul lainnya. Dia tahu dirinya adalah seorang penghujat, penganiaya, seorang yang memberikan kesengsaraan kepada orang-orang Kristen.

Orang seperti Paulus masih bisa diampunikah? Kalau bisa, ini berarti bukan berdasarkan jasanya, kebolehan, kualifikasi dan syarat-syarat yang ada pada dirinya, sehingga ia boleh diterima oleh Tuhan untuk dipakai khusus memberitakan doktrin pilihan: bukan aku yang memilih Tuhan, tetapi Tuhanlah yang memilih aku. Saya tidak tahu apakah Anda sudah mempunyai pengalaman seperti ini, sehingga kamu mengalami perubahan yang begitu besar? Pertemuan pribadi dengan Tuhan terjadi pada momen-momen yang krusial seperti ini, sehingga mengubah orang secara total. Sehingga orang itu mempunyai arah yang baru, merendahkan diri, dan berseru, “Oh, Tuhan, aku membutuhkan Engkau! Kaulah pemilik hidupku, aku berjanji pada-Mu.”

Pembentukan karakter sebenarnya sangat tergantung pada momen-momen seperti ini, di mana dalam perjalanan hidup, manusia sebagai musafir akan kembali kepada Tuhan. Mungkin pada waktu kita patah hati, mungkin pada waktu kita rugi dalam dagang, mungkin pada waktu kita dikhianati oleh orang-orang yang paling kau kasihi, mungkin pada waktu kau mendapatkan penyakit kanker, atau pada saat mengalami kecelakaan yang sangat besar, hampir mati. Saat-saat seperti itu menyebabkan kau menengadah ke atas dan mendapatkan satu fase yang baru dalam hidupmu.

Kalau saya boleh membagi, hanya ada dua macam agama: agama yang Theosentris dan agama yang Antroposentris. Hanya ada dua macam Injil: Injil yang Antroposentris dan Injil yang Theosentris. Hanya ada dua macam teologi: teologi yang Theosentris dan teologi yang Antroposentris. Dan hanya dua macam gereja: gereja Theosentris dan gereja Antroposentris. Apakah perbedaan antara istilah Theosentris dan Antroposentris? Antropo dalam bahasa Yunani berarti manusia. Dan Theos dalam bahasa Yunani berarti Tuhan. Jika di dalam satu gereja, manusia yang menjadi utama, manusia yang diutamakan, yang dijunjung tinggi, itulah yang disebut gereja Antroposentris. Tetapi kalau gereja itu adalah gereja di mana Tuhanlah yang memimpin, mengontrol, Tuhan melalui Roh Kudus-Nya yang memberikan cahaya, Tuhanlah dengan kedaulatan-Nya bertahta di atas tahta-Nya, dan yang memberikan kekuatan, supaya semuanya takluk kepada-Nya, gereja itu adalah gereja Theosentris. Demikianlah teologi Reformed terus-menerus menekankan kedaulatan Tuhan (the sovereignty of God). Allah tidak perlu minta-minta kita senang kepada-Nya, Allah memerintah dan bertahta, Dialah Raja di atas segala raja. Sudah seharusnya kita takluk kepada-Nya dengan segala kerendahan hati, dan mengaku kita tidak layak menerima anugerah-Nya.

Sekarang kita kembali kepada masalah, di dalam hal pertobatan, mengenal Tuhan, dan menjadi orang Kristen, kaukah yang mencari Tuhan ataukah Tuhan yang mencari kamu? Theosentris ataukan Antroposentris? Dalam hal manusia mau beriman, apakah karena mau, sehingga Dia diimani oleh kita, ataukah Dia yang mau, maka Dia mengaruniakan iman kepada kita? Di sinilah perbedaan teologi Antroposentris dengan teologi Theosentris. Kita selalu mendengar perkataan, “Orang ini cinta Tuhan, orang ini begitu melayani Tuhan, orang ini mempunyai iman yang besar, puji Tuhan!” Dalam kalimat ini ada mengandung kekacauan: orang itu beriman kepada Tuhan, orang ini mengasihi Tuhan, dialah yang menjadi pusat. Tetapi karena merasa kurang beres, maka ditambah kalimat: puji Tuhan. Maksudnya ada anugerah yang membuat dia bisa mencintai Tuhan, jadi perlulah kita memuji Tuhan. Itulah sebabnya banyak orang Armenian, yang hidup dalam konsep teologi yang kacau. Pada saat mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, maka muncullah kalimat-kalimat yang membuat mereka mau tidak mau membuat mereka mengerti akan anugerah Allah. Demikian juga dengan orang yang salah mengerti teologi Reformed, pada waktu betul-betul didorong untuk mengabarkan Injil, mereka mulai mempunyai api seperti orang Armenian. Teologi Reformed mengatakan, cinta Allah, anugerah Allah, keselamatan Allah dan kedaulatan Allah-lah yang memanggil dan menunggu orang pulang. Teologi Armenian mengatakan, saya mau pulang, saya mau bertobat, saya beriman, sayalah yang berinisiatif, saya yang menyeru nama Tuhan. Di sini, Paulus mau memutar seluruh konsep umum yang salah, supaya manusia kembali ke tahta Tuhan, mengerti akan kedaulatan Tuhan Allah, dengan cara mengaitkan kelima hal ini dengan menyeru nama Tuhan, maka kamu diselamatkan. Bagaimana kamu bisa menyeru nama Tuhan? Karena kamu beriman, maka
menyeru nama Tuhan. Kamu menyeru, karena kamu mempunyai iman, tetap antroposentis, bukan? Saya menyeru nama Tuhan, karena saya beriman kepada Tuhan.

Seorang teolog berdebat dengan saya, dia menyebut 270 kali istilah pistos, yaitu: istilah iman yang dipakai di dalam Alkitab Perjanjian Baru (PB), hampir semuanya adalah inisiatif manusia. Saya langsung memberikan ayat yang berkata iman pun adalah anugerah Tuhan. Di dalam Ef. 2:8-9 (“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”), kita membaca bahwa iman dari manusia adalah anugerah dari Tuhan. Orang menganggap bahwa iman adalah satu kooperasi atau kongsi antara manusia sebagai pemegang saham anugerah, maka kita diselamatkan. Ayat itu langsung disusul dengan kalimat, bahwa iman bukan berasal dari kita, itu adalah anugerah Allah.

Dalam Ibr. 12:1-2 (“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”), yang dalam terjemahan lain banyak mengatakan, “yang mengadakan, yang memulai, yang memimpin atau yang menciptakan iman dan yang menyempurnakan, menyelesaikan perjalanan iman (the Creator and Accomplisher of our faith is Jesus Christ). Jadi iman diberikan diberikan oleh Tuhan, dan iman itu diciptakan oleh Yesus Kristus. Dari titik permulaan sampai titik penyempurnaan iman adalah pekerjaan Kristus Yesus. Bersandar dan menengadahlah kepada-Nya, yang mengadakan dan yang menggenapkan iman. Jadi tidak ada usaha manusia. Yang ada hanyalah sola gratia, total sepenuhnya hanya oleh anugerah. Hanya bersandar akan anugerah Tuhan, sehingga saya bisa datang kepada-Nya. Agustinus berkata, “Tuhan, karena aku berdoa, Kau memberikan anugerah kepadaku. Tetapi Tuhan, bagaimana aku bisa berdoa, kalau bukan anugerah-Mu yang mengarahkan, pasti doaku akan salah. Kalau bukan Kau yang memberikan anugerah kepadaku, menggerakkanku, akupun tidak mungkin bisa berdoa. Hingga aku beroleh anugerah, atau anugerah diberikan terlebih dahulu, dan anugerah itulah yang menggerakkanku berdoa. Aku berdoa untuk meminta anugerahkah, atau anugerah yang membuatku bisa meminta kepada Tuhan? Doakah yang mengakibatkan anugerah atau anugerah yang mengakibatkan doa?” Akhirnya Agustinus mengatakan, “Siapakah aku? Jikalau Tuhan tidak memberikan anugerah, akupun tidak mungkin mengenal-Nya, memilih-Nya.” Demikian juga dengan Charles Spurgeon, berkata, “Jikalah aku bisa memilih Kristus, itu sudah merupakan bukti bahwa Dialah yang terlebih dahulu memilihku, dan memberikan benih yang benar di dalam hatiku, sehingga aku bisa memilih dengan tidak salah: Dia adalah Tuhanku.”

Jangankan memilih Tuhan, untuk memilih semangka pun tidak gampang, memilih durian pun sering salah pilih, memilih jodoh banyak yang salah pilih. Mana mungkin benar dalam memilih Tuhan? Tuhan itu tidak nampak, dan kau bisa memilih Tuhan yang sejati? Jadi jelas ini adalah karena Tuhan memilihmu. Inilah teologi Reformed, teologi kedaulatan Allah, teologi Theosentris. Itulah sebabnya Kristus berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu, dan mengutus kamu untuk menghasilkan buah yang tetap” (Yoh. 15:16). Setelah Paulus berkata, “Yang menyeru nama Tuhan, akan diselamatkan.” Paulus melanjutkan, “Bagaimana kau bisa beriman, kalau kau tidak mendengar?” Orang yang beriman bukan karena dia sendiri yang keluar dan berkata, “Saya mau percaya ini, atau percaya itu.” Tidak, melainkan karena firman Allah yang ada di dalam hatinya, memungkinkan dia mempunyai arah yang benar, benih yang beriman kepada Tuhan. Itulah sebabnya, pada ayat 17, prinsip untuk segala zaman muncul di dalam kalimat “karena iman datang dari pendengaran.” Tanpa mendengar firman, tidak ada bekal bagi seseorang untuk beriman. Kalau firman sudah ditanamkan dalam hatinya, firman itu akan bertumbuh menjadi iman, yaitu iman kepada firman, iman yang berdasarkan firman, iman yang bertanggung jawab berdiri pada pangkalan dan inti firman itu. Siapa bisa menyeru nama Tuhan? Kecuali dia beriman. Siapa bisa beriman? Mereka yang mendengar. Siapa yang bisa mendengar kalau tidak ada yang memberitakannya? Di sinilah posisi manusia bergeser sedikit demi sedikit.

Sekarang saya akan mengajukan pertanyaan penting: sewaktu engkau mendengar khotbah yang amat penting, hari itu, yang memilih mengkhotbahkan khotbah itu adalah kamu atau Tuhan? Kamu tidak bisa memilih. Mengapa hari itu kau “kebetulan” datang dan mendengarkan khotbah itu, lalu dalam khotbah itu terdapat kalimat yang menggerakkan hatimu, sehingga dalam kesempatan itu kau menjadi orang Kristen? Pikirkan lagi, ini bukan kebetulan. Jadi untuk hal-hal tertentu, yang membuat kau diselamatkan, ditantang, digugah, dibangunkan rohanimu, diutus, dan sebagainya, sebenarnya merupakan rencana Allah di dalam hidupmu.

Tahun 1957, saya tidak mau pergi ke satu retreat, tetapi mama saya berkata, “Pergilah, ini kebaktian yang baik. Pengkhotbahnya mama kenal, kamu harus pergi mendengar.” Saya pergi dengan perasaan jengkel, tidak senang sekali. Tiga saudara membawa satu kopor, pergi ke kota Malang, ikut retreat di sana. Sudah terlambat 1 hari. Waktu kami sampai di situ, ditanya, “Mengapa terlambat satu hari?” Hati saya berkata, “Syukur, sudah bagus kalau saya mau datang. Karena saya memang tidak ingin datang.” Justru di dalam kebaktian yang saya tidak inginkan hadir, di situlah Tuhan bekerja. Bukan rencanaku. Mengapa saya bisa diselamatkan? Karena anugerah Allah. Mengapa kau menjadi orang Kristen? Karena anugerah Allah. Mengapa kita bisa bertumbuh rohani? Karena kedaulatan
Allah. Mengapa iman kita bisa dipulihkan? Karena anugerah Allah. Maka selanjutnya, jikalau tidak ada yang mengabarkan, siapa bisa mendengar firman Tuhan? Kalau demikian, Theosentrisnya belum tuntas. Hamba-hamba Tuhan bisa sombong: “kalau bukan saya saya mengabarkan Injil, kamu mana bisa mendengarkan Injil dan bisa diselamatkan?” Berarti posisi pendeta penting sekali, bukan? Sekarang Paulus menggeser posisi pendeta, katanya, “Siapa bisa mengabarkan, jikalau Tuhan tidak mengutusnya?” Maksudnya, gereja yang sejati, yang sungguh-sungguh Theosentris, menyadari akhirnya pendeta pun tidak ada kedudukannya. Siapa yang mempunyai kedudukan? Tuhan yang mengutus. Jikalau Tuhan tidak mengutus, tidak ada seorang pun berhak menjadi hamba Tuhan. Jikalau Tuhan memanggil dan mengutus, tidak ada satu orang pun yang bisa menahan panggilan dan utusan Tuhan. Itulah sebabnya setiap manusia yang studi teologi, dan mereka  yang sudah menyerahkan diri karena panggilan Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan, biarlah kita kembali kepada tahta Tuhan, tidak lagi melihat orang lain, pendeta, dosen, manusia, melainkan melihat kepada Tuhan yang memanggil dan mengutus. Jikalau yang memanggilmu adalah organisasi, kau hanya setia pada organisasi, itu sudah cukup. Jikalau yang memanggilmu adalah uang, kau setia pada uang, itu sudah cukup. Jikalau yang memanggilmu adalah manusia, kau setia kepada manusia, itu sudah cukup. Tetapi jika yang memanggilmu adalah Tuhan, selain kamu bertanggung jawab kepada atasanmu, dosenmu, hamba-hamba Tuhan lainnya, dan bosmu di dunia, jangan lupa kau baru setia kepada Tuhan yang memanggilmu. Jikalau tidak ada yang diutus, siapakah yang bisa mengabarkan Injil? Di sini kita melihat, seluruhnya diputar kembali kepada Tuhan sebagai pusatnya. Dari tahta-Nya, dari kedudukan-Nya, dari tempat maha tinggi, Dia mengutus, memanggil, dan memilih orang menjadi hamba-Nya. Paulus mengerti dengan jelas bahwa dirinya bisa menjadi hamba Tuhan bukan karena tekadnya, rencananya, tetapi karena panggilan Tuhan tiba atasnya, sehingga ia tidak punya jalan untuk menghindarinya. Tuhan memanggil orang seperti Petrus yang fasih lidah, Tuhan juga memanggil seorang seperti Thomas yang penuh dengan keraguan, skeptik, takut ke sana sini. Tuhan juga memanggil orang seperti Yohanes, yang seperti guntur, yang lekas marah. Ia juga memanggil orang seperti Paulus, yang kalau tidak cocok dengan orang, ia langsung hantam. Tuhan juga panggil orang seperti Timotius, Bartolomeus, dan lain-lain. Dalam Alkitab, terdapat begitu banyak orang yang dipanggil oleh Tuhan, dengan karakter yang berbeda-beda, semuanya ini menunjukkan kedaulatan Tuhan Allah yang maha besar.

Di dalam satu kongres misionari, setelah semua orang mendengar khotbah, banyak orang menyerahkan diri. Hari itu panggilan tiba kepada seorang anak kecil yang baru berusia 10 tahun. Pada saat waktu persembahan dijalankan oleh para majelis, dengan air mata berlinang-linang, anak kecil itu meminta kepada majelis yang membawa persembahan, “Tolong letakkan piring persembahan ini di lantai.” Majelis itu tidak mengerti maksud anak kecil ini, tetapi melihat mimik muka anak ini yang serius, dia merasa ada gerakan Tuhan, maka ia meletakkan piring persembahan di lantai. Anak kecil itu kemudian berjalan dan naik ke atas piring itu, dan berkata, “Tuhan Yesus, saya anak kecil, saya tidak punya uang untuk mendukung misi, saya tidak punya harta untuk dikirim ke luar negeri, saya mau menyerahkan diriku. Kirimlah saya, kalau saya besar nanti.” Anak itu menjadi catatan dalam sejarah dunia, dialah Robert Moffat, yang Tuhan kirim ke Afrika untuk mengabarkan Injil kepada ribuan orang di sana. Inilah jiwa seorang yang mau diutus Tuhan. Tuhan memanggil dan Tuhan mengirim. Kadang-kadang kepada seorang dewasa, kadang juga pada saat seorang masih kecil dan remaja. Waktu saya berumur 12 tahun, utusan Tuhan ini datang kepadaku, lima tahun berikutnya, saya semakin melupakan hal itu, saya menjadi seorang ateis, revolusionis, komunis, dan seorang yang menerima pemikiran dialektika Materialisme dari Karl Marx. Sampai waktu saya berumur 17 tahun, panggilan itu datang lagi pada diriku, dan saya menyerahkan diri kepada-Nya. Peristiwa kedua yang ingin saya ceritakan adalah seorang yang bernama David Livingstone sewaktu
ia berkhotbah di London. Orang melihat tangannya sudah rusak, barulah mereka mengetahui, itu karena dia pergi melayani di Afrika. Suatu waktu, ketika di tengah perjalanan pelayanan, ia diterkam oleh singa. Waktu dia akan meninggal dunia, ia berkata, “Aku tidak mau dikuburkan di Inggris, aku mau dikuburkan di Afrika.” Mereka menolaknya, karena dia seorang yang agung, yang begitu dihargai seluruh kerajaan. Meskipun dia seorang misionari, hamba Tuhan, tetapi dia dikagumi oleh orang-orang penting di istana Buckingham, mana mungkin dikuburkan di sana? Maka dia berkata, “Baiklah, kalau aku mati, bawalah tubuhku ke London, tetapi jantungku akan kutinggalkan di Afrika. Karena aku menjalankan kehendak Tuhan, aku mengabarkan Injil di sini, aku ingin jantungku dikuburkan di Afrika.” Maka mereka melangsungkan dua kali penguburan, menguburkan jantungnya di Afrika dan menguburkan tubuhnya di London. Waktu jasadnya ditaruh di satu tempat, begitu banyak orang yang datang melayat untuk mengenang dia. Pada upacara penguburannya, terjadi satu hal yang luar biasa, sewaktu peti jenazah Livingstone diarak di jalan-jalan besar di London, ada seorang melihat seorang
tua yang usianya lebih 90 tahun, berjalan sambil memegang peti jenazah. Kepalanya tertunduk, dan ia terus menangis. Mereka tidak tahu, siapakah orang tua ini. Apa hubungan dia dengan David Livingstone? Mereka lalu menghampiri dia, dan bertanya, “Sebenarnya, siapakah bapak tua? Mengapa engkau begitu sedih sekali? Mengapa kau terus menangis?” Kalimat yang keluar dari mulut orang tua itu sangat mengejutkan semua orang. “Saya bukan familinya, bukan siapa-siapa, tetapi saya adalah seseorang yang bersama dengan Livingstone pada hari yang sama dipanggil oleh Tuhan menjadi hamba-Nya. Hari itu dia menyerahkan diri, tetapi saya melarikan diri. Setelah puluhan tahun, saya lari dari panggilan Tuhan, saya tidak setia kepada-Nya, saya tidak mengerjakan apa yang Tuhan mau saya kerjakan. Sedangkan Livingstone dengan setia mengerjakannya. Dia menjadi hamba Tuhan sampai mati. Waktu saya boleh memegang peti jenazahnya, saya terharu, saya baru sadar, saya telah menjalani hidup saya dengan sia-sia, saya menangisi diri saya. Sekarang saya sudah terlalu tua. Saya menyesal, dan terus akan menyesal selama-lamanya.”

Adakah engkau juga orang yang telah dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya? Saya mengharapkan dari Indonesia, paling sedikit ada 500.000 orang pemuda-pemudi yang terbaik, siap untuk dipakai oleh Tuhan menjadi hamba-Nya. Saya tidak tahu di mana orang-orang itu? Saya hanya minta semua pemuda-pemudi untuk serius berdoa di hadapan Tuhan. Biarlah kita takluk di bawah kedaulatan-Nya. Melalui dua kesaksian hamba Tuhan ini: Moffat dan Livingstone dan kawannya yang tidak setia, bisa menggugah dan membawa engkau kembali taat kepada-Nya. Dan berkata, “Tuhan, apa yang Engkau mau, aku mau taat kepada-Mu.” Kiranya Tuhan memimpin kita dan memberkati kita semua. Amin.

Rngkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 27 – Agustus 1995

Diambil dari : https://dir.groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/4462

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube