Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : EF. 3 : 14 – 19

Paulus di Ef.1 & 3 dua kali menyinggung soal: aku berdoa bagi kalian dengan berlutut di hadapan Tuhan. Menyatakan bahwa dia adalah seorang gembala yang sangat mengasihi domba-domba Allah, selalu menguatirkan kerohanian mereka. Sampai katanya: “jika diantara kamu yang tersandung, tidakkah aku berduka? jika ada orang yang merasa lemah, tidakkah aku lemah? Menyatakan bebannya mendoakan kerohanian mereka. Dia berdoa dengan berlutut, menyatakan dia meninggikan Tuhan dan merasa diri tak layak. Apa yang dia minta di hadapan Allah? Bukan kekayaan, kesehatan dirinya. Melainkan:

  1. Roh Kudus menguatkan iman yang ada di dalam diri mereka. Mengapa dia berdoa bagi iman mereka? Karena dia tahu, bagi seorang percaya, kaya, sehat bukanlah hal yang utama (meski kita memang membutuhkannya). Karena ada yang sehat tapi menggunakan tubuhnya untuk melampiaskan nafsu, berjudi… melakukan segala kejahatan. Sementara ada orang yang sakit-sakitan, justru mendoakan orang lain; melayani dalam keadaan sakit, membuat iman orang-orang yang sakit, yang dirundung pelbagai malapetaka, kesusuhan…. dibangunkan. Paulus sendiri juga begitu, saat menulis surat Efesus ini, dia berada di penjara. Mungkin sekujur tubuhnya luka-luka, mungkin kedua tangannya diborgol atau kakinya dipasung. Adakah sesuatu yang membuatnya bersukacita atau bersyukur? Sepertinya tak ada. Tapi faktanya, dia tak dibelenggu oleh semua itu. Di surat Filipi dia mengajak orang Kristen senantiasa bersukacita di dalam Tuhan. Sebabnya ada Ef. 3:4. Maka dia mendoakan iman mereka. Terlebih di zaman itu, hidup orang percaya bagai domba yang diseret ke tempat pembantaian, sangat berbeda dengan orang percaya di zaman ini, bisa tetap menikmati hidup yang normal. Kecuali mereka yang hidup di daerah Islam, Hindu…. yang sangat fanatik atau Ateis. Tahun lalu, kita pernah mendengar kesaksian seseorang dari Banglades, tentang penganiayaan bahkan kematian yang dihadapi oleh anak-anak Tuhan. Jadi kalau rohani mereka lemah, tentu akan kompromi atau menyangkal Tuhan. Maka Paulus mendoakan rohani mereka, agar tetap teguh.
  2. Kristus tinggal di hati, karena imanmu. Apa maksudnya? Orang percaya bukan hanya mengaku Yesus di mulut, juga harus percaya di hati — hati dan mulut harus sejalan. Saat mulut kita menyebut Yesus sebagai Kristus, Tuhan, hati kita juga sungguh-sungguh menjadikan Dia sebagai Tuhan yang menguasai, mengarahkan, tutur kata dan tingkah laku kita. Tapi hari ini, ada banyak orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan dengan mulutnya, tapi yang ada di hatinya adalah uang dan uang. Orang yang paling kasihan adalah mereka yang berkhotbah demi nama Tuhan, tapi hatinya mengincar uang jemaat. Ada banyak pendeta Karismatik yang merampas perpuluhan jemaat jadi milik pribadinya, mereka adalah perampok yang mengenakan toga pendeta. Saya percaya, hati Tuhan pasti sangat hancur karenanya. Tapi Paulus, meski dipenjarakan, hatinya tetap memikirkan anak-anak Tuhan yang menderita, dan berlutut berdoa bagi mereka, mohon Tuhan menguatkan iman mereka dan
  3. Kristus diam di hati mereka, membuat kasih mereka berakar dan berdasar. Apa maksudnya? Orang percaya meski hidup dalam penderitaan, bukan bersungut-sungut atau marah-marah, tapi care terhadap orang lain, saling mengasihi.
  4. Memahami kasih Kristus bersama dengan semua orang kudus. Waktu dua orang berpacaran, mereka tahu, sejauh mana pacarnya mengasihi dia, tapi tak memberitahukannya pada orang lain. Begitu juga suami-isteri, kasih di antara mereka amat pribadi, hanya dimiliki dan dinikmati mereka berdua. Tapi apa jadinya kalau seorang anak berkata pada adik-adiknya: “papa hanya mengasihi aku, tak mengasihi kalian”, apa dia seorang kakak yang baik, yang bertanggungjawab dan mengasihi adik-adiknya? Tidak. Sebab sifat dari kasih suami-isteri itu pribadi. Sementara kasih orang tua, harus dibagikan. Begitu juga orang yang mengasihi Allah, dia juga mengasihi orang-orang yang sama-sama dilahirkan oleh Allah. Inilah yang Paulus maksudkan di sini, harus memahami kasih Kristus bersama dengan semua orang percaya.

Suatu kali, waktu saya berada di satu gereja, menemukan syair dari lima ratus sekian lagu dalam buku pujian mereka ditulis oleh pendeta mereka, seorang. Lalu dipadukan dengan melodi lagu Kristen di Prancis, Itali, Rusia, China… seluruh dunia. Menandakan pendeta itu memang sangat berbakat, tapi saya tak tahu apakah dia sudah mendapat persetujuan orang memadukan melodi orang dengan syair yang ditulisnya. Pendeta itu bertanya pada saya: “apa pendapat pak Tong tentang buku nyanyian ini?” “kau ingin jawaban saya yang jujur?” Sebenarnya, dia ingin pujian dari saya, tapi saya tak bisa memuji seseorang dengan sembarangan, harus sesuai dengan fakta yang ada dan harus konstruktif. Maka kata saya: “apa yang kau lakukan ini baik, karena kau mau membagikan kasih Allah yang kau alami pada orang lain. Dan saya percaya, kau pasti adalah orang yang rajin, mau membayar harga untuk mewujudkan buku nyanyian ini. Tapi apa yang kau lakukan ini mengandung satu bahaya” “bahaya apa?” “sepanjang tahun, bahkan seumur hidup, jemaat di gereja ini hanya menyanyikan lagu yang kau buat. Sehingga mereka tak memahami kasih Kristus bersama semua orang Kristen, tapi hanya bersamamu. Padahal kasihmu pada Tuhan sangat terbatas, dan pengalamanmu terhadap kasihNya juga sangat subjektif. Dan setelah buku ini dicetak, kau tak lagi dapat membagikan kasih Allah yang lebih dalam yang kau alami kemudian pada jemaatmu. Selain itu, mereka juga tak berbagian dalam pemahaman orang Kristen di Rusia, di Prancis…..terhadap kasih Allah. Inilah krisis yang gereja ini hadapi. Saya juga menggubah banyak lagu, tapi jarang sekali memakainya di dalam ibadah gereja kami. Karena kami mengerti akan kebenaran di Alkitab, harus memahami kasih Kristus bersama semua orang kudus. Maka kami menyanyikan lagu orang Kristen Prancis, Jerman, Negro, Indonesia, Chinese, tentu termasuk lagu yang saya gubah. Karena pengalaman masing-masing orang terhadap kasih Tuhan berbeda-beda, maka saat kita memahaminya bersama semua orang kudus, hati kita jadi lebih lapang, wawasan kita lebih luas, merasakan diri sebagai salah satu bagian di dalam keluarga Allah – keluarga terbesar di dalam sejarah, yang tak dilimitasi oleh negara, bangsa maupun zaman.

Waktu menyanyikan Negro Spiritual Song, saya menyadari lagu yang menyatakan kesederhanaan, kejujuran, seruan batin mereka, perasaan mereka terhadap kasih Tuhan yang begitu mendalam tak mungkin ada di lagu Eropa atau Timur. Contoh, lagu were you there, when they crucified my Lord? Memang mungkin kita berpikir: mana mungkin aku hadir di peristiwa penyaliban yang berlangsung dua ribu tahun silam? Tapi Tuhan menyadarkan orang Negro akan khasiat kematian Kristus yang kekal, kasihNya tak dilimitasi oleh waktu dan mengajak tiap orang Kristen di tiap zaman, merasakan keberadaannya yang hanya berdua dengan Yesus; hubungan yang begitu intim denganNya. Bahkan sebelum filsafat Eksistensialisme ada. Jadi, waktu kita menyanyikan lagu rohani orang Negro, Rusia, Batak…. kita memahami kasih Allah bersama mereka, membuat kita memiliki World Christian Mentality, tak melimitasi diri di kalangan bangsa, negara, zaman…ku. Karena Kerajaan Tuhan itu universal, kekal. Setelah mengemukakan pendapat saya yang jujur, saya hanya menyerahkannya pada Tuhan. Kalau apa yang saya sampaikan salah, mohon Tuhan mengoreksi dan mengampuni. Dan kalau saya sampaikan itu benar, biar Roh Kudus menggerakkan dia untuk berubah. Tapi kalau dia tak mau bertobat, dia yang harus bertanggungjawab pada Allah. Perhatikan, di ay. 18 ini, Paulus bukan mengatakan agar kamu memahami kasih Allah…, melainkan memahami kasih Kristus. Dan sudah barang tentu, kasih Kristus itu kasih Allah. Allah mengasihi kita, maka Dia menganugerahkan Kristus buat kita. Dan Kristus sendiri juga mengasihi kita, sehingga Dia rela menyerahkan nyawaNya jadi korban penebusan dosa bagi kita. Selain itu, di ayat ini juga, Paulus menggunakan kata sifat yang belum pernah dipakai orang, juga hanya dia satu kali di Alkitab. Mengapa? Meskipun Paulus punya pengetahuan yang sangat tinggi, tak seorangpun dari murid Yesus yang dapat menandinginya. Setinggi apakah pengetahuan Paulus? Dia paham akan kebudayaan Yahudi, sehingga dia dapat berkomunikasi dengan orang Yahudi. Dia juga paham akan bahasa militer dan hukum Romawi, sehingga dia dapat berkomunikasi dengan orang Romawi. Dia juga paham benar akan filsafat Yunani, maka dia dapat berdebat dengan orang Yunani. Bahkan berani mengemukakan kekurangan agama Yunani di depan pimpinan agama di Athena. Maka bisa dikatakan, kemanapun Paulus pergi selalu dapat bergaul dengan orang yang berbeda-beda dengan luwes. Tapi dia memutuskan melimitasi diri, tak mau tahu perkara lain, hanya Kristus dan salibNya”. Inilah sikap yang tak dimiliki oleh scholer zaman ini. Banyak orang semakin tinggi pengetahuannya, semakin tenggelam di dunia akademis, kehilangan arah hidup. Tak seperti Paulus, memegang erat-erat akan substansi, menuntut mengerti firman Tuhan, membangun dasar yang kuat, memelihara prinsip yang ada, targetnya adalah Kristus, arah hidupnya mewujudkan kehendak yang telah Allah tetapkan di sejarah.

Tapi meski Paulus berpengetahuan sangat tinggi, saat dia ingin melukis kasih Kristus, masih merasa kekurangan kata-kata. Itu sebab tak ada seorang sastrawan di dunia yang seperti Paulus, menggunakan kata sifat yang begitu limpah. Dia sering memakai: betapa, berbagai, berlimpah, tak terduga, tak dapat dibayangkan, tak dapat dimengerti, jauh melampaui… dan di sini, dia melukiskan kasih Kristus dengan lukisan yang tak pernah dipakai oleh penulis manapun di dunia, bahkan dia sendiri hanya memakainya satu kali: begitu panjang lebar tinggi dan dalam. Kali pertama saya membaca ungkapan ini, sangat tertarik, ingin tahu: sebenarnya apa sih yang Paulus maksudkan dengan ungkapan ini, adakah ayat Alkitab lain yang membahas tentang kasih Tuhan yang panjang, lebar, tinggi dan dalam? Tak menemukan. Tapi + lima, sepuluh tahun kemudian baru mulai memahami sedikit. Jadi, firman Tuhan memang sangat ajaib, istilah yang sederhana perlu direnungkan lama sekali baru dapat memahaminya. Kapan saya mulai memahaminya? Waktu saya membaca satu buku yang mengisahkan zaman Reformasi, di sana terdapat seorang pemberita injil yang ditangkap oleh Katholik. Karena memang, pada saat itu, Katholik sangat menentang kekristenan. Sehingga barangsiapa yang bergabung dengan gerakan reformasi, dia dipandang sebagai orang yang membangkang pada Paus dan dipenjarakan. Orang itu dipenjarakan di satu sel yang besarnya 1.2 m x 1.5 m, membuat dia tak mungkin dapat membaringkan tubuhnya. Hanya bisa berdiri atau duduk. Selama beberapa bulan di sel, dia tak diizinkan membaca Alkitab atau buku-buku lain, hanya diberi makanan dari satu jendela kecil, buang air kecil dan besar di satu bejana lalu dikeluarkan lewat jendela itu. Tak boleh dikunjungi oleh siapapun — diperlakukan sangat tidak manusiawi. Sampai suatu hari, pejabat penjara memberitahu dia, sudah tiba saatnya dia harus digantung mati. Mendengar itu, dia tak takut, tak berteriak-teriak atau menangis. Wajahnya penuh senyum, memuji Tuhan dengan hati yang penuh syukur, berjalan dengan tenang ke tempat eksekusi. Sebelum digantung, dia mengatakan: “Yesus Kristus, Kau sudah mati bagiku, satu anugerah yang sebenarnya tak patut ku terima. Terlebih hari ini, aku sungguh merasa tak layak untuk mati bagiMu. Tapi aku bersyukur padaMu, karena Kau pernah memberiku hidup untuk bersaksi bagiMu. Terimalah rohku” lalu mereka mengeksekusi dia. Banyak orang ingin tahu, rahasia apa yang membuatnya begitu tegar menghadapi kematian. Dan waktu membersihkan selnya, mereka menemukan lukisan salib di dinding, yang dia lukis dengan kuku: di tengah salib itu dia menggambar hati, yang diisi dengan huruf “kasih”. Dan di empat ujung salib itu dia menuliskan: tinggi, dalam, panjang, lebar. Setelah membaca kisah itu, saya berkata: puji Tuhan! Karena pernah ada seorang penginjil yang mati bagi Tuhan, maka seorang penginjil yang hidup lima ratus tahun setelah dia dapat memahami ungkapan ini”. Dan berdoa: Tuhan, tolong aku memahami apa yang pernah dia pahami. Ya Roh Kudus yang mewahyukan Alkitab, tolong terangi hatiku dengan firmanMu, agar aku dapat memahami kebenaranMu. Dan saya menemukan ayat Alkitab yang menjelaskan mengapa begitu panjangnya kasih Kristus itu panjang:

  1. Rm.2, dengan panjang sabar Dia memberi toleransi, menanti kita bertobat. Bukankah banyak orang diantara kita sebelum percaya Yesus, berulang kali dan dengan pelbagai cara menentang Tuhan? Tapi Dia tak meninggalkan kita, juga tak langsung menvonis dan menghukum kita. Melainkan terus menanti kita dengan sabar. Apa karena Tuhan berhutang pada kita, sehingga harus menanti kita untuk selamanya? Rm.2:4-5. Bukan saja demikian,
  2. Setelah kita diselamatkan, Yesus Kristus jadi Pendoa-syafaat kita di hadapan Allah Bapa untuk selamanya. Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah membuat saya memahami ungkapan yang pertama. Lalu berdoa lagi minta Tuhan menolong saya memahami ungkapan yang kedua: lebar. Lalu saya menemukan akarnya di Alkitab: 1. Dia memilih umatNya dari segala bangsa, segala negara…, membeli mereka dengan darahNya. Dia meregang kedua tanganNya untuk dipaku, sehingga tak ada satu bangsa, satu lapisan masyarakat yang tidak Dia selamatkan. Kasih Tuhan itu lebar, sehingga orang yang seperti saya juga Dia diselamatkan, bahkan Dia layakkan untuk memberitakan injilNya. 2. Alkitab memberitahu kita, Allah melempar dosa kita sejauh timur ke barat. Waktu saya berusia 17,18 tahun selalu bertanya-tanya, apakah semua yang Alkitab selalu benar, mengapa tak dikatakan Dia melempar dosa kita sejauh utara ke selatan melainkan sejauh timur ke barat? Tapi lambat laun memahami, ternyata apa yang Alkitab katakan sangat tepat. Karena kalau kita berjalan dan mengarah ke utara, setelah sampai di kutub utara, kalau diteruskan lagi akan mengarah kemana? Selatan. Tapi kalau kita berjalan mengarah ke timur terus, akhirnya akan mengarah ke barat atau tidak? Tidak. Itu berarti no return. Jadi, lukisan yang Allah pakai untuk menggambarkan Dia membuang dosa kita sudah tepat: sejauh timur ke barat, yang berarti, dosa yang Dia lempar itu tak akan kembali lagi. Apalagi setelah mempelajari geografi, lebih merasa kagum lagi, karena ternyata, diameter bumi dari timur ke barat lebih panjang enam puluh tiga kilometer dibandingkan utara ke selatan.

Lalu apa yang dimaksud dengan kasih Kristus itu tinggi? Setelah Kristus menyelamatkan kita, Dia memberi kita tempat di sorga (Ef.2:6). Jadi, meski kita masih hidup di bumi, status rohani kita di sorga; kita melalui hidup di bumi bagai di sorga. Puji Tuhan! Permisi tanya, mana yang lebih kuat: singa atau macan tutul? Singa. Tapi bagi saya, macan tutul lebih menakutkan. Mengapa? Karena saat singa datang, kita bisa naik ke atas pohon, waktu itu dia hanya bisa mengaum: “turun!” tapi tak berdaya naik ke tempat dimana kita berada. Itulah yang dimaksudkan Ef.2, kasih Kristus begitu tinggi. Karena Dia telah membawa turun anugerah dari tempat yang tertinggi, lalu memberi kita tempat bersamaNya di sorga. Setiap kali saya melihat kucing berjalan, merasa sepertinya dia berkata: aku mirip singa, hanya dalam bentuk kecil. Maka kucing, hanya manja pada majikan. Sementara orang lain, hanya dia lirik sebentar lalu pergi. Tapi anjing? Postur tubuhnya lebih besar dari kucing, tapi tak punya tulang; selalu menggoyang ekor. Itu sebab kita sangat suka anjing, juga sangat menghina anjing. Kalau kau mengatai seorang: kau ini bagai singa, dia tak akan marah. Tapi coba kau katai dia, kau bagai anjing, dia akan langsung marah. Karena merasa terhina. Saat anjing bertengkar dengan kucing, meski anjing lebih besar, lebih galak dan suaranya lebih nyaring, tapi kucing tak takut padanya. Kalau anjing mengejar dia, dia akan lari dan melompat ke atas pohon. Lalu diam di sana, memejamkan matanya; menikmati sabat. Anjing yang ada di bawah hanya bisa terus berseru: “turun” dan dia jawab dengan santai: “ayo naik ke sini” sampai akhirnya si anjing pergi, karena dia tak dapat naik ke atas. Itulah yang Paulus maksudkan. Setelah kita percaya Yesus, status kita di sorga, sementara status setan, di bawah, dan dia hanya bisa mengaum: “turun”, kita tinggal menjawab: “tak mau. Tuhan sedang menikmati sabat bersama Tuhanku”. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Jadi ingat, kita adalah orang Kristen, status kita di sorga. Ingat juga, raja dunia: setan, iblis dan para pesuruhnya hanya bisa menyalak; marah pada kita. Bersandarlah pada Tuhan, diam di ribaanNya, tak perlu takut. Meski jumlah orang Kristen, apalagi di daerah non Kristen selalu minoritas. Tapi kata Yesus: “hai kamu, kelompok yang kecil, jangan takut. Karena Aku besertamu”. Puji Tuhan! Kasih Tuhan tinggi adanya. Terakhir, saya ingin memahami apa itu kasih Tuhan yang dalam? Saya memahami dua perkara:

  1. Yoh.13:1, Tuhan mengasihi orang-orang pilihanNya sampai kesudahan – statemen di Alkitab tentang kasih Yesus, sehari sebelum Dia disalib. Kasih Tuhan itu dalam, Dia menyatakan kasih pada kita dari hatiNya yang paling dalam sampai ke dalam hati kita yang terdalam. Sungguh, di dunia ini, tak ada seorangpun dapat mengerti air mata kita, sengsara kita, itulah yang membuat kita sering merasa hidup ini terlalu susah, tak ada yang memahami kita, memikul beban berat bersama kita, juga tak ada yang mau mendengarkan apa yang kita ceritakan. Tapi ingatlah, tak satupun penderitaan kita yang tak dimengerti oleh Tuhan Yesus. Karena tak ada orang yang pernah menangung beban lebih berat dariNya, tak ada orang yang lebih kesepian dariNya. Jadi, saat kau dihina, disalah-mengerti, dianiaya… ingatlah selalu, penderitaan Yesus jauh melampaui penderitaan kita. Itu sebab, tak pernah ada orang yang seperti Yesus begitu mengerti dan mengasihi kita. Karena kasihNya yang begitu dalam, maka
  2. saat kita terjatuh di dalam lumpur dosa yang sangat dalam, Dia mengangkat kita dan meletakkan kita di atas batu karang. Itu sebab, kita melihat ada pelacur, penjudi, perampok…. pendosa-pendosa besar yang dihina, dijauhi sesamanya menerima kasih Tuhan dan bertobat. Suatu kali, selesai khotbah di satu penjara, saya minta beberapa orang menyatakan syukur mereka pada Tuhan. Ada tiga orang memimpin doa. Saat orang ketiga berdoa, bulu kuduk saya berdiri, karena doanya indah bagai Mazmur, bahkan bagai berbisik di telinga Tuhan Yesus. Sungguh, saya tak pernah mendengar pendeta menaikkan doa yang sebegitu dekat dengan Tuhan. Membuat saya menyadari, ternyata di penjara, juga ada orang yang rohaninya begitu bagus. Waktu dia mengakhiri doanya, saya menyahut “amin” dari kedalaman hati. Waktu kami meninggalkan penjara, orang yang menemani saya berkata: “pak Tong, tahu tidak siapa orang ketiga yang memimpin doa tadi?” “saya juga ingin tahu, siapa dia?” “dia pernah membunuh dua orang, minggu lalu dia sudah divonis hukum mati. Dua hari lagi akan ditembak mati”. Saya tersentak, tak heran doanya bagai orang yang sudah mendaftar, ingin sekali bertemu dengan Tuhan. Doa doa yang begitu mendalam, menyatakan hubungan yang begitu intim dengan Tuhan, begitu menggetarkan hati, yang pernah saya dengar sepanjang hidup. Puji Tuhan!

Terakhir, Paulus mengatakan: “you should understand the love of Christ. But also understand that the love is unfathomable; kita harus memahami kasih Kristus. Tapi juga harus tahu, bahwa kasih Kristus sebenarnya tak dapat kita pahami. Jadi, kalau ditanya: apakah kau mau mengerti kasih Allah? Mau. Tapi You should understand that the love of God, which you want to understand is the love, which is not understandable — super comprehension, more than our understanding. Sama dengan pemikiran John Lock, dua ratus lima puluh tahun silam: there are three ranges of our reason: 1. rational. 2. contra rational. 3. supra rational. Puji Tuhan, banyak intelektual melakukan kesalahan besar, hanya mengerti dua alternatif: either or, rational or contra rational. Bagi John Locke: either or is not enough, we need neither nor. Waktu saya mengajar filsafat John Locke, saya sangat terkejut, karena menemukan, bahwa dia adalah seorang pemikir Empiricism Inggris yang sangat agung, tetapi waktu kembali ke Alkitab, saya justru tersentak, ternyata pemikiran John Locke is too shallow. Karena dua ribu tahun silam, Paulus sudah memberitahu kita: all Christians should comprehend the love of Jesus Christ. But you should know, that what you want to know is unknowable. Because it is trancend our human knowledge, puji Tuhan! Karena kasihNya melampaui rasio kita, maka Dia memang pantas kita sembah dan kita puji!

(ringkasan ini belum dipe riksa oleh pengkhotbah – EL)

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/jakarta/MRI1111.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube