Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Yoh. 10 : 19 – 38

Minggu lalu kita telah membahas tentang Yesus memproklamirkan: Aku adalah Gembala yang baik. DombaKu mengenal suaraKu dan mengikutKu. Aku datang bukan untuk mencuri atau merusak atau membunuh, melainkan untuk memberi hidup, bahkan hidup yang berlimpah — inilah janji Tuhan Yesus. Tapi mengapa ada banyak orang Yahudi yang tak mau percaya Yesus? Karena mereka tak percaya, Allah jadi manusia. Sebenarnya, ada tiga perkara yang tak mungkin bahkan mutlak tak mungkin mereka terima:

  1. Allah Tritunggal. Menurut mereka, God is not three. God is one. Mereka menganggap, ajaran Tritunggal terlalu dipaksakan, tak logis. Mana mungkin, tiga pribadi tapi tetap esa? Bukankah tiga itu tiga, satu itu satu; tiga bukan satu dan satu bukan tiga? Maka mereka menganggap orang Kristen sesat, ajar Kristen bertentangan dengan ajaran Monoteisme. Inilah kendala pertama yang membuat mereka tak mau membuka diri, menerima ajaran Kristen.
  2. Allah jadi manusia. Karena Allah itu Allah, Allah bukan manusia. Dan manusia itu manusia, manusia bukan Allah. Jadi, Allah tak mungkin jadi manusia, manusia tak mungkin Allah. Allah adalah Pencipta dan manusia adalah ciptaan. Mana mungkin Pencipta jadi manusia yang dicipta?
  3. Darah Yesus yang adalah manusia dapat menyucikan dosa-dosa sesamanya.

Di bagian ini, kita melihat orang Yahudi tersandung pada point kedua: Allah tak mungkin jadi manusia; manusia tak mungkin Allah. Saat keyakinan itu sudah mereka jadikan dead lock, mereka tak dapat keluar dari sana. Meski mereka sudah menyaksikan Yesus memaparkan sifat IlahiNya, mereka tetap tak bisa percaya. Malah berpikir: mengapa Kau; seorang manusia berani mengaku diri adalah Allah? Apakah pemikiran mereka ini juga mengoyah imanmu? Kalau ya, itu lumrah adanya. Iman yang tak pernah tergoyah tak pernah jadi teguh. Dan sungguh, kita perlu merenungkan iman Kristen dengan serius, bukan jadi orang Kristen yang mengikut dengan membabi-buta; atau menelan begitu saja semua ajaran yang didengarnya. Tapi berjuang, menggumuli iman kita sampai dapat bebas dari keraguan, dari iman yang tidak bertanggungjawab. Waktu muda, iman saya juga pernah digoyah oleh macam-macam ajaran: Saksi Yahovah, Advent, Little Flock, Islam…. sampai akhirnya saya berkata: “Tuhan, jawablah semua kebingungan, keraguan imanku. Setelah itu, aku berjanji, mau pergi ke seluruh dunia, menjawab pertanyaan siapapun — membela kebenaran, hidup memuliakan namaMu.

Ay. 22-24, “…..maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepadaNya, berapa lama lagi Kau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? ….” Apa benar, Yesus membuat mereka bimbang? Tidak! Yesus selalu jujur, memaparkan fakta yang ada dengan berani, tanpa kompromi: Bapa yang mengutus Aku dan memberiKu kuasa mengerjakan pekerjaan yang berkenan padaNya. Arti dari istilah “mujizat” di bahasa asli Alkitab adalah: tanda; sign, wonders. Tanda apa? Tanda ilahi. Memang, sebelum Yesus; di P.L., ada orang-orang yang pernah melakukan mujizat:

  1. Musa, pernah melempar tongkat ditangannya dan tongkat itupun berubah menjadi ular. Dia juga pernah mendatangkan sepuluh tulah; malapetaka pada orang-orang Mesir. Sayang, setelah mengalami mujizat, mereka tetap saja menyembah ilah-ilah palsu. Seperti: A. Ra (bahasa Mesir, artinya: matahari) Karena mereka percaya: matahari adalah bapa dan bumi adalah ibu. Matahari menyinari bumi, dan bumi mengeluarkan hasil bumi yang menghidupi mereka, maka mereka bersyukur pada matahari, bumi. Tapi Allah sejati membuat seluruh tanah Mesir gelap gulita, mengingatkan mereka, bukan matahari melainkan Allah yang Mahakuasa, yang menghidupi dan mengatur segalanya. B. Mereka menyembah sungai Nil yang menyuburkan tanah mereka. Dan Allah mengubah air di sungai Nil jadi darah, semua mereka tak punya air minum. Mengingatkan mereka: sungai Nil bukan Allah. Jadi, Allah menurunkan tulah-tulah di Mesir untuk menghancurkan dewa-dewa mereka dan memproklamirkan: diatas dewa-dewa itu, ada Allah yang bersemayam di tempat Mahatinggi. Musa melakukan mujizat, menyatakan what they worship are not God, but idols. God is supra transcendent, He is in the highest place.
  2. Yosua mengatakan pada mahatari: “stop”, dan mataharipun stop di sana selama satu hari. Sekali lagi membuktikan, Allah lebih besar dari matahari, bahkan dari alam semesta dan seluruh hukum alam. Mengingatkan: God is higher then everything He created.
  3. Elia melakukan tujuh kali mujizat, dan
  4. Elisa melakukan empat belas kali mujizat. Karena dia minta Roh yang menggerakan Elia; gurunya dua kali lipat menggerakkan dirinya. Mujizat-mujizat yang mereka lakukan adalah bukti bahwa mereka diutus dan diurapan oleh Allah.

Tetapi Yesus, sangat berbeda dengan semua mereka. Karena semua nabi melakukan mujizat demi nama Allah, maka sebelum Elia maupun Elisa membangkitkan orang mati, mereka perlu berdoa pada Allah. Bagaimana dengan Yesus? Saat Dia membangkitkan orang mati, tak pernah perlu berdoa, minta pertolongan Allah untuk menghidupkan kembali Lazarus, anak Yairus atau anak dari janda di kota Nain, yang jasadnya sedang diusung ke kubur. Karena Dia adalah Allah, maka mujizat yang Dia lakukan merupakan tanda atau bukti yang nyata, bahwa Dia bukan manusia, melainkan Allah Pencipta langit-bumi dan segala isinya. Dia cukup mengatakan: “Talitakum; hai anak perempuan, bangunlah” “Hai anak remaja, bangunlah”.

“Lazarus, keluar! Maka orang mati itupun keluar dari kuburnya”. Dia juga mampu menghardik ombak dan topan yang amat mengerikan itu untuk tenang. Membuat murid-muridNya tercengang: “siapa Dia, sampai ombak dan anginpun taat padaNya?” dan sembah-sujud Dia. Mujizat yang Yesus lakukan, yang tercatat di Alkitab saja ada tiga puluh lima kali, melampaui akumulasi dari semua mujizat yang pernah manusia lakukan di sepanjang sejarah. Di luar itu, adakah mujizat-mujizat lain yang Yesus lakukan? Saya percaya, masih banyak. Karena di penutup Injil Yohanes tertulis: kalau semua perkara yang Yesus perbuat dituliskan satu per satu, maka agaknya, seluruh dunia tak sanggup menampungnya. Dan memang, di Al’quran juga terdapat dua mujizat Yesus, yang tak tertulis di Alkitab:

  1. Saat orang-orang mencerca, menghujat Maria: “perempuan najis, perempuan zinah; belum menikah sudah hamil”. Jawabnya: saat bayiku lahir nanti, tanyakan saja padaNya, apa Dia lahir karena perzinahan? Dan benar, saat Yesus lahir, Dia dapat berkata-kata, menjelaskan bahwa Dia bukan anak haram.
  2. Suatu kali, saat orang-orang yang meragukan Yesus Kristus berasal dari Allah itu mengelilingi Dia, Dia menundukkan kepala, mengambil sebongkah tanah liat dan dibentuknyalah seekor burung, lalu menghembus nafas ke hidungnya, dan terbanglah burung itu ke angkasa.

Merupakan salah satu bukti bahwa apa yang Yohanes katakan benar adanya. Dulu, saat saya membaca ayat itu sempat berpikir, tidakkah Yohanes membual; mengatakan sesuatu dengan terlampau membesar-besarkannya, mana mungkin dunia tak mampu menapung catatan dari pekerjaan satu orang? Tapi kemudian saya menyadari, seluruh dunia bahkan seluruh alam semesta, termasuk semua yang non materi, misalnya: malaikat-malaikat, adalah ciptaanNya. Jadi, hal yang Yesus kerjakan bukan terbatas dalam masa hidupNya di dunia; tiga puluh tiga setengah tahun. Jadi, mana mungkin dunia mampu menampung semua catatan pekerjaanNya? Jadi, mari kita kembali pada Allah, tak membatasi Dia dengan otak kita yang sangat terbatas. Karena the meaning of miracles is the sign or the signature of God, guna membuktikan bahwa Dia adalah Allah Pencipta langit dan bumi yang tak terbatas, yang kekal. Kata mereka: “sampai kapan Kau membiarkan kami bimbang, katakan saja dengan terus terang, Kau ini Mesias atau bukan?” — dirinya yang bimbang, tapi Yesus yang dipersalahkan — kurang ajar sekali, bukan? Bagaimana Yesus menanggapinya? Setiap kali mengamati tanggapan Yesus kita menemukan, Dia begitu sabar: ay. 25. If you can not believe My words, that is OK. But you should look at My work. Because My work is My witness.

Kalau seorang pesuruh presiden datang mengantarkan sepucuk surat padamu, tapi kau perlakukan dia bagai pesuruh biasa, tentu dia akan berkata: jangan pandang pakaianku, tolong pandang tanda tangan Presiden di surat ini. Itulah yang Yesus lakukan: kalau kau hanya memandang tampangKu: manusia berdarah-daging, tentu kau menyangka, Aku adalah manusia yang sama denganmu. Tapi coba amati pekerjaanKu, kau akan tahu, bahwa Aku datang dari Allah. Tapi faktanya, kau bukan saja tak mau percaya padaKu, malah menganggap Aku telah membuatmu bimbang. Padahal sesungguhnya, adalah kau yang tak mau membuka diri, percaya bahwa Allah ada di tengah-tengahmu. Jadi, mau membuat seorang yang tak percaya jadi percaya memang susah sekali. Tapi Yesus, menanti dengan sabar akan orang-orang sezaman yang tak percaya padaNya; bukan dengan memaksa. Tapi mereka tetap tak percaya. Baru kemudian Dia menyebutkan alasan yang sesungguhnya: you are not my sheep. Kalau seorang anak kecil melihat mamanya lewat, tentu dia akan memanggil: “ma, ma” sambil minta mamanya menggendong dia. Tapi kalau orang lain yang lewat, dia tak peduli. Meski orang itu sangat suka dengan anak kecil, dia juga tak mau digendong orang itu. Karena orang itu bukan mamanya. Jadi, kalaupun orang itu sangat gemas dengan si anak yang lucu itu, kalau si anak menolak, dia tak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga kalau kau jatuh cinta pada seseorang, tapi ternyata dia tak suka denganmu, kau juga tak dapat memaksanya! Kata Yesus: kau tak percaya padaKu. Karena kau bukan dombaKu. Sementara dombaKu, akan datang padaKu dan mengikutKu.

Sebagai hamba Tuhan, kadang-kadang saya merasa meski sudah berteriak-teriak sampai tenggorokan kering, sulit sekali meyakinkan orang percaya. Tapi Tuhan menghibur: pasti akan ada orang yang mau mendengar akan firman yang kau sampaikan. Karena diantara pendengar, ada dombaKu, ada juga bukan dombaKu. Itu sebab, hamba Tuhan harus berserah pada Tuhan, melakukan apa yang Dia tetapkan dengan sungguh, meski ada kalanya pelayanan kita seperti tak membuahkan hasil. Yesus sendiri, meski sudah melakukan mujizat, menyatakan diriNya adalah Tuhan, orang Yahudi tak percaya padaNya. Dia menegaskan di sini, kamu bukan dombaKu. Karena dombaKu, mengenali suaraKu, mengikutKu, dan memperoleh hidup kekal dariKu. Bahkan tak seorangpun dapat merebutnya dari tanganKu atau tangan BapaKu. Di ay.28-30 ini, satu-satu kalinya Alkitab membahas tentang: 1. Tangan Yesus (ay.28), 2. Tangan Bapa (ay.29), dan ditegaskan bahwa Aku dan Bapa adalah satu (ay. 30). Indah sekali, bukan?

Kita punya double insurances: tangan Yesus dan tangan Allah Bapa. Karena kedua tangan itu memegang kita, maka tak akan ada yang sanggup merebut kita dari Mereka, amin? Tuhan memelihara kita, Dia tak membiarkan sehelai rambut kita rontok. Meski ada kalanya, Dia mengizinkan kita melewati mara bahaya, bahkan kematian, kita tak perlu takut. Karena Dia memelihara jiwa kita untuk selamanya. Itulah eternal life yang Dia janjikan. Jika Dia memberi hidup kekal, mengapa Petrus, Yohanes, Paulus, Andreas, Bartolomeus…. satu per satu rasul harus mati syahid: Petrus disalibkan dengan posisi terbalik, Paulus dipenggal kepala…? Karena hidup kekal yang Yesus janjikan bukan hidup jasmani yang bisa mati. Maka kataNya, jangan takut pada mereka yang hanya bisa membunuh ragamu. Takutlah pada Dia yang bisa membunuh jiwamu sekaligus mencampakanmu ke neraka. Siapa yang dapat mencampakan kita ke neraka? 1. Dosa-dosa kita. 2. Penghakiman Allah. Tapi kesulitan, sakit penyakit, kelaparan, kesengsaraan, penganiayaan,… tak dapat mencampakan kita ke neraka. Bagian ini mencatat, orang-orang Yahudi yang tak mau percaya Yesus itu menegur Dia: mengapa membiarkan mereka terus menerus hidup dalam kebimbangan? Mereka minta Dia mengatakan dengan terus terang, Dia ini Mesias atau bukan. Dan jawab Yesus: Aku sudah memberitahumu, tapi kamu tetap tak percaya. Jadi, karena mereka terus mengeraskan hati, maka meski Yesus mengatakannya seribu kali juga tak guna. Mereka bukan dombaNya yang mengenal suaraNya dan mau ikut Dia, ada di dalam tanganNya dan tangan BapaNya — punya jaminan kekal yang tak ada bandingnya. Itu sebab, orang Kristen harus lebih berani dari siapapun. Dan hamba-hamba Tuhan harus lebih gigih dari siapapun, tak mengenal kompromi.

Kemarin, saya bertemu dengan seorang murid saya, yang demi mempertahankan kebenaran, sampai dicela, diumpat, difitnah di depan para majelis oleh murid-murid saya yang lain, yang menerima Pria Sejati — ajaran sesat yang mengatakan: Yesus-pun butuh Juruselamat. Karena memang, ada banyak pendeta mengira, dengan menerima Pria Sejati, gerejanya akan bisa “berkembang”. Tapi murid saya itu menyatakan dengan tegas: ajaran itu salah. Dan hamba Tuhan lain menuding dia menyeret gereja ke dalam bahaya — mempermasalahkan dia; orangnya bukan kebenaran. Maka murid saya itu memutuskan untuk mengundurkan diri. Dan tanya saya: “mengundurkan diri? Bukankah itu berarti kau tak lagi mau berjuang bagi kebenaran” “bukan tak mau berjuang bagi kebenaran, tapi tak bisa kompromi dengan pendeta-pendeta yang tak punya pendirian” “terus terang, hati saya susah. Karena bila kau mau terus berjuang, mungkin gereja itu masih punya pengharapan. Tapi kau malah mau mengundurkan diri. Kau ingin melayani di mana?” “saya belum pikirkan” “kau adalah anakku yang sudah terhilang beberapa tahun. Mungkin kau harus kembali, melayani bersamaku”. Dia mau berdoa untuk hal itu. Memang, sejak tahu 1964, saya telah mendidik  dua ribu lima ratus lebih pendeta. Dan saya tahu, banyak dari antara mereka yang suka play safe. Tapi banyak juga yang mau berjuang dengan gigih meski harus dikucilkan, dibenci. Yesus Kristus tak mengenal kompromi. Dia mengatakan dengan terus terang: kamu tak percaya padaKu, karena kamu bukan kawanan dombaKu. Orang Yahudi mengambil batu ingin melempari Dia. Dan tanyaNya: “Aku telah melakukan banyak hal yang bajik. Adakah kebajikan yang ku lakukan tidak beres, sehingga kalian ingin melampariKu dengan batu?” “kami ingin melempariMu dengan batu, bukan karena Kau mengerjakan sesuatu yang tidak beres” — mereka mengaku, pekerjaan Yesus beres adanya. Lalu mengapa mereka ingin melempari Dia? Karena Dia mempersamakan diri dengan Allah. Aneh, bukan?

Tadi mereka minta Yesus mengatakan dengan terus terang, Dia itu Mesias atau bukan, mengapa setelah Yesus mengaku: ya, Aku adalah Mesias, mereka malah ingin melempari Dia dengan batu? Jadi, apa sih mau mereka? Mereka ingin memaksa Yesus mengatakan: Aku bukan Mesias; bukan Allah. Saya mengatakan pada anak-anak saya: “kalau kalian tak berbuat salah, jangan meminta maaf. Kalau kalian sudah mengatakan dan menjalankan kebenaran, never compromise. Sebab kalau kau tak berani mengatakan kebenaran, kau berdosa. Tapi kalau kau sudah mengatakan kebenaran, lalu minta maaf pada orang yang menganiayamu, dosamu lebih besar dari orang yang tak berani mengatakan kebenaran. Orang-orang Yahudi itu di satu segi ingin Yesus mengatakan dengan jujur, apakah Dia Mesias atau bukan. Di segi lain, juga tak memperbolehkan Dia menyebut diriNya Mesias. Karena menurut mereka, Yesus adalah manusia. Maka saat Yesus menyatakan diri adalah Allah yang menjelma jadi manusia, mereka tak bisa menerima. Hal ini menandaskan, saat seorang bertanya, sering kali sudah punya jawaban. Dia bertanya mungkin hanya ingin menjebak atau mematikan orang yang menjawab pertanyaannya. Masih ingatkah anda akan pertanyaan Pilatus pada Yesus: apakah Kau raja orang Yahudi? Dan pertanyaan imam besar tanyakan pada Yesus: apakah Kau Anak Allah? Mengapa bukan terbalik, Pilatus bertanya: apakah Kau Anak Allah dan imam besar bertanya: apakah Kau raja orang Yahudi? Tidak mungkin. Karena Pilatus adalah seorang politikus, maka dia ingin memakai jawaban Yesus “Aku adalah Raja orang Yahudi” itu untuk menvonis Dia sebagai pemberontak dan menghukum-mati Dia. Begitu juga imam besar, dia ingin memakai jawaban Yesus untuk menvonis Dia sebagai Pelanggar hukum Allah dan harus mati. Jadi, dasar dari pertanyaan mereka adalah status quo, interes pribadi, kepentingan pribadi. Adakah Yesus yang ditanya seperti itu berpikir: celaka, kalau Aku jawab ya, tentu mereka menvonis-mati Aku. Jadi jawab saja: bukan? Tidak! Kata Yesus pada Pilatus maupun imam besar: apa yang kau katakan itu benar. Dan apakah pengakuanNya itu: “Aku adalah Anak Allah”, imam besar berlutut, bertobat, minta pengampunan padaNya? Tidak, malah katanya: pengakuan diriNya sudah cukup membuktikan bahwa Dia adalah penghujat. Jadi, dia bertanya bukan ingin mendapat jawaban, melainkan ingin membunuh Yesus Kristus. Sama dengan orang-orang Yahudi di sini, setelah mereka mendengar Yesus mengakui Dia adalah Mesias, mereka malah ingin melempariMu dengan batu, karena memandang Dia sebagai penghujat, berani menyebut diri adalah Allah; menyamakan diri dengan Allah. Mereka tak percaya Yesus adalah Allah yang menjelma jadi manusia.

Seseorang di Menado mengajukan satu pertanyaan di hadapan enam ribu sekian audience: “pak Stephen Tong, mengapa anda berani menjadikan seorang manusia sebagai Allah, hanya karena Dia bisa melakukan mujizat?” dan jawab saya: “ha? Hanya karena Dia bisa melakukan mujizat? Mengapa kau meremehkan hal melakukan mujizat, sampai berani menyebutnya hanya? Bisakah kau melakukan mujizat? Coba lakukan. Mengapa kau berani menghina Yesus yang dapat melakukan mujizat? Padahal itu adalah bukti yang otentik, yang menandakan bahwa Dia adalah Allah. Dan kau mempersoalkan saya, yang berani memperallah seorang manusia? Maka saya ingin balik bertanya “mengapa kau berani mempermanusia Dia yang adalah Allah?” Hanya ada dua kemungkinan: Dia memang adalah Allah yang menjelma jadi manusia atau saya yang telah salah dalam hal menjadikan seorang manusia sebagai Allah? Juga hanya ada dua kemungkinan respon manusia: tunduk pada Tuhan, bersembahsujud pada Dia, Allah yang menjelma jadi manusia, yang dapat melakukan mujizat? Atau kau tak mau tahu siapa Dia, tetap bersikukuh dengan opinimu: Dia adalah manusia, mana mungkin Dia itu Allah? Kata mereka: kami ingin melempariMu dengan batu, bukan karena kebajikan yang Kau lakukan, melainkan karena Kau telah menghujat Allah”. Kapan Yesus menghujat? Setiap kalimat yang Dia ucapkan sebagai fakta: Akulah kebenaran, Akulah jalan, Akulah hidup… dianggap sebagai hujatan terhadap Allah oleh orang-orang yang tak percaya, yang terus menerus mencari-cari kesalahanNya. Sesungguhnya, fakta bukan hujat. Yesus memang adalah Anak Allah, mengapa Dia tak punya hak mengatakan: Aku adalah Anak Allah? Yesus adalah jalan, mengapa Dia tak boleh mengatakan: Aku adalah jalan? Yesus adalah kebenaran, mengapa Dia tak boleh mengatakan: Aku adalah kebenaran? Jadi, orang Yahudi menuding Yesus menghujat, itu adalah problem mereka – bukan problem Tuhan Yesus.

Dan karena kata mereka: we do not thrown You with stone, simply because You do something good. We will thrown You with stone, because You blasphemy our God, You claim that You are God. Itu menandakan bahwa mereka menutup kemungkinan untuk rekonsiliasi dengan Yesus, mereka sudah ada di gang buntu, hanya tinggal memilih: menerima Yesus Kristus atau memusnahkan; membunuh Dia. Kita sudah membahas Injil Yohanes sampai di pasal 10, itu berarti sudah hampir setengah dari seluruh Injil Yohanes. Dan sudah semakin nyata, bahwa situasi Yesus jadi semakin dan semakin sulit: di ps.2, Yesus melakukan mujizat. Ps.3, Nikodemus menemui Dia. Ps.4, perempuan Samaria mengaku Dia adalah Mesias. Ps.5, Dia menyembuhkan orang yang sakit tiga puluh delapan tahun. Ps.9, Dia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Ps. 10, mereka menemui jalan buntu. Ps.11, Yesus melakukan mujizat yang lebih besar: membangkitkan Lazarus. Itulah yang membuat mereka membulatkan tekad untuk membunuh Yesus. Maka, sungguh tak mudah bagi seorang hamba Tuhan mau menyatakan atau mempertahankan kebenaran tanpa kompromi. Yesus adalah contoh; teladan bagi orang yang mau setia, yang akhirnya harus mengarah ke Golgota; mati syahid. Kiranya Tuhan memberkati kita, jadi domba Allah yang sejati, yang mau mendengar; mengenal suaraNya, dan mau mengikut jejekNya dengan sungguh, amin?

 (ringkasan ini belum dipe riksa oleh pengkhotbah – EL)

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

 

Sumber : https://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/jakarta/MRI1117.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube