Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : Yohanes   9 : 24-34

Semakin  kita  membahas  pasal  ini  semakin  merasa ngeri. Karena agama yang sangat penting, dan tak  mungkin  dihapus  dari  sejarah ini  juga  bisa  berubah  jadi  sesuatu  yang  sangat mengerikan.  Kapan?  Saat  orang  menafsirkan  agama  secara  harafiah  dan  melegalisasi, mematuhinya lebih dari mentaati pimpinan  Roh  Kudus  yang dinamis. Karena keduanya: legalism and flexibel to follow the guidance  of the  Holy  Spirit  memang  sangat  berbeda.  Bila  orang percaya  tak  mengerti  atau  tak  mau  taat  akan  pimpinan Roh Kudus, dia akan jadi keras kepala, hakim  yang  menghancurkan.

Sebenarnya, Yesus  Kristus  datang untuk melepaskan  manusia dari belenggu  harafiah  yang mematikan,  mentaati  pimpinan  Roh  Kudus  yang  menghidupkan; membawanya  mengerti  arti  yang  lebih  dalam.  Tapi  pemimpin  agama  yang  berpegang pada interpretasi agama secara tadisi tetap memandang  Yesus melanggar hukum Sabat; dosa. Itulah yang membuat  mereka  tak dapat menerima  anugerah  yang baru. Kalau  saja  Yesus  tak  melakukannya di hari  Sabat,  tentu  Dia  tak  akan  mati,  bukan?

Masalahnya:  Yesus  harus  mengoreksi  akan  interpretasi  mereka  yang  salah  tentang  Sabat, mengutamakan  “hari”  ketimbang  “makna”.  Perhatikan:  dari  masa Adam  sampai  Abraham, orang  tak  memelihara  hari  Sabat. Mengapa?  Karena  tak  ada  sepuluh  hukum.  Jadi,  sepuluh hukum bukan sesuatu  yang  ada  sejak kekal,  melainkan  seperti  kata Paulus  “tambahan”.  Itu sebab,  kita  perlu  memilah-milah:  mana  yang  kekal mana  yang  sementara,  mana  yang contingent mana  yang incontingent.  Jangan  mencampur-aduk atau memutar-baliknya. Mereka berkata pada orang yang tadinya buta itu:  “katakanlah  jujur….”  menandakan  bahwa: 1). Mereka  tak  percaya  dia  jujur. 2). Sepertinya  mereka  mengizinkan  dia  mengutarakan  apa adanya,  tanpa  ada  intervensi.  Tapi faktanya,  statement mereka selanjutnya justru memaksakan kehendak,  menyuruh dia  menyetujui  konsep  mereka  yang  tidak  benar:  Yesus adalah  orang berdosa.  Dengan  begitu,  kita  jadi  makin  jelas,  mengapa  Yesus tak  belajar  dari  pengalaman pahitNya setelah menyembuhkan  di hari Sabat,  malah  sengaja  mengulang, guna  memberikan shock  therapy. Terapi  yang  sangat  tidak menyenangkan,  tapi  sangat  dibutuhkan. Sama yang  saya  kerjakan  di  zaman  ini,  agar  orang-orang  yang  tertidur;  terbius  di  gerakan Karismatik  bangun. Tapi  orang  yang  sudah  menerima shock  therapy dan tak mau  berpikir lebih  jauh  akan  binasa. Sementara  orang yang  mau merenungkan dengan  merendahkan  diri  akan menerima  pimpinan Tuhan. Memang,  terlalu  sedikit  orang  yang  mau  dan bisa  memberikan shock therapy. Sebab  resikonya memang sangat  berat.  Maka  banyak  orang  memilih  untuk  tak mencari  banyak  musuh,  agar  tak  menuai  kritikan  seperti  pak  Stephen  Tong:  sombong, menganggap  diri  paling  benar semua  orang  salah. Tetapi, kalau  tak ada  yang melakukannya, tak  akan  ada  orang  yang  mengkaji  ulang  ajaran  Karismatik  itu  benar atau  tidak?  Tak  sadar dirinya  berada  di  air  yang  suhunya  terus  meningkat  secara perlahan dan mati – bius dari  iblis untuk orang yang tak mau memilah-milah.

Yesus  Kristus memberikan shock  therapy, ingin  mereka menyadari:  penekanan Sabat  terletak pada makna bukan hari.  Dari  mana kita  tahu hal  itu?  Yesaya (1:11-14),  Allah berfirman:  “Aku  muak  akan hari Sabatmu…. karena Tuhan saat bangsa Israel  di  Mesir,  mereka  diberi  makan-minum yang cukup  agar  dapat  bekerja  berat;  jadi  budak  Firaun. Tapi kata Tuhan: umatKu tak  boleh  jadi budak  orang  berdosa,  Aku akan membebaskan  mereka; memberi mereka perhentian. Dan setelah mereka  bebas,  masuk  ke padang  belantara,  ternyata  tak  ada  makanan  buat  mereka. Sebenarnya  mana yang lebih  penting:  makan  minum yang limpah tapi jadi budak  atau bebas dan belajar bersandar  padaNya  untuk  semua  kebutuhan hidup?

Orang  Israel bersungut-sungut pada  Musa:  “apa  karena  di  Mesir  tak  ada  kuburan,  maka  kau  membawa  kami  mati  kelaparan  di  padang  belantara?”  Musa  susah  berbicara pada orang-orang yang mengutamakan  makan-minum yang lezat. Tak peduli statusnya  budak  atau orang  merdeka, bekerja  berat  atau menikmati  sabat.  Dan  Tuhan  menghukum  generasi itu mati di padang belantara.  Di  zaman  Yesus,  pemimpin Yahudi  mentaati  Taurat secara harafiah, memelihara Sabat dengan mengutamakan hari bukan  maknanya.  Maka saat  mereka menemukan Yesus menyembuhkan orang  di  hari  Sabat,  langsung  menudingNya berdosa.  Mengindikasikan  mata  mereka  buta,  tak dapat  mengenali mujizat yang Yesus lakukan itu adalah  karya Allah. Dan di antara orang Parisi, memang  hanya  Nikodemus seorang  yang menyadari: jika  Allah  tak  beserta  Yesus, mana mungkin  Dia melakukan  mujizat? Karenanya mereka berkata  pada  orang  yang  tadinya  buta  itu  “katakan dengan jujur…; kami tahu, bahwa orang itu orang  berdosa?” jujur dan dosa adalah dua perkara yang ada kaitannya  dengan agama.  Tapi  agama itu  sangat  berbahaya.  Bahkan  menjadi  orang Reformed  juga  berbahaya:  kalau  pengertianmu  akan  Reformed  tidak  beres,  kau  akan  jadi Reformed  yang mati, menghalangi  banyak orang  mengenal  Tuhan.  Maka  Synod  of  Dort mengingatkan:  “jangan  membahas  Predestinasi  dengan  sembrono.  Karena Predestinasi adalah satu doktrin yang sangat berbahaya, bisa jadi batu  sandungan bagi orang mau percaya  Yesus. Tentu bukan  maksud  saya  mengatakan  doktrin  Predestinasi itu salah. Tapi doktrin yang seratus persen benar  itu  kalau salah  interpretasi  justru  dapat  membuat  orang  merasa  diri  hebat  dan secara tak sadar menghina;  mengejek  orang  lain.  Padahal menurut Martin  Luther, hampir  tak  ada  yang  tahu  siapa  diselamatkan  –  siapa  tidak  diselamatkan. Itulah kepekaan para Reformator, mengemukakan statement  yang  penting  di saat  yang tepat. Tak seperti orang yang terkurung oleh harafiah,  tak  akan  berpikir dan mengerti lebih  dalam. Padahal  dari  catatan Yohanes,  mujizat-mujizat  yang Yesus lakukan: 1. air jadi anggur (Yoh.2) 2.  orang lumpuh 38  tahun disembuhkan  (Yoh.5). 3.  Orang  buta  dicelikkan (Yoh.9) dan 4.  Lazarus  yang  sudah  mati  empat  hari  dibangkitkan  (Yoh.11)  semakin  besar  dan  besar,  guna  meyakinkan orang  Yahudi:  Aku adalah  Allah.  Tapi  faktanya?  Mereka  malah  semakin  mengeraskan  hati.  Dan  puncaknya,  ingin membunuh  Dia.

Karena mereka  tak memilah-milah substansi  dan  fenomena,  hanya mau hari Sabat, tak mau substansi Sabat: perhentian sejati.  Beberapa  waktu  lalu,  seorang  Dosen  Petra menulis  surat  pada  saya: “sekarang,  di  SAAT  yang baru terdapat banyak patung – melanggar hukum  kedua  dari  Sepuluh  hukum?”  Setelah  membaca suratnya,  saya tahu, dia ingin merusak SAAT. Dan dalam porsinya sebagai Dosen, tentu  akan mempengaruhi  banyak  orang.  Maka  saya menjawab:  ada  patung  tak  berarti  melanggar  hukum  kedua.  Karena Allah yang  melarang bangsa Israel membuat patung, juga adalah Allah  yang menyuruh mereka  membuat  dua ukiran kerubium di  atas  Tabut  Perjanjian. Apakah itu  berarti Allah  kita plin-plan? Tidak. Karena Dia memberi dua perintah itu dari segi yang berbeda:  substansi  dan  fenomena.  Jangan  mencampur-aduk  atau  mengkonfrontir  keduanya.  Ingat,  penekanan dari larangan membuat ukiran adalah: jangan  menyembahnya.  Bukan  menolak semua  ukiran  atau  lukisan  Yesus,  cerita  Alkitab bergambar….. Sama  dengan yang orang  Yahudi  lakukan, karena mengutaman “hari” Sabat, maka orang dilarang mengerjakan  apapun  di hari itu.  Sampai sebuah hotel dua puluh sekian lain di Tel-Aviv,  juga  memberlakukan  larangan  menekan  tombol  lift di  hari  Sabat, dan memprogram lift buka-tutup di setiap lantai.

Di  sini  mereka memanggil  orang  yang  tadinya  buta  itu dan memaksanya ikut menuding Yesus adalah orang berdosa.  Tapi orang itu  menolak,  katanya: soal orang  itu  berdosa  atau  tidak, saya tak  tahu.  Maksudnya, kalian berani  menuding  Dia berdosa? Itu urusan kalian.  Aku  tak mau ikut-campur. Aku hanya tahu satu  perkara,  dulu  aku  buta, sekarang  aku  melihat. Ini adalah fakta, Dia sudah  menyatakan  kuasa  Tuhan;  menyembuhkanku.  Dan  fakta  ini lebih  penting dari teorimu: Dia berdosa.   Merekapun bertanya lagi: “apa yang Dia perbuat  padamu?” itu  menyatakan  mereka menemui  jalan buntu. Karena dialog mereka dengan orang itu  tak  menemukan  titik-temu.  Dan  di  luar  dugaan,  orang  itu  menjawab:  “aku  pernah mengatakannya,  tapi  kalian tak  mau  mendengar. Lalu untuk  apa kalian  tanyakan  lagi? nada  yang  biasanya  dilontarkan  oleh guru pada  murid itu  sekarang meluncur dari  mulut  si pengemis.  Maka  jangan karena  kau itu  pendeta, majelis, pejabat…,  lalu  menuntut  semua  orang  menghormatimu. Karena bila jabatanmu  tinggi, tapi  hidupmu tak beres: berdusta, berzinah… kau  bukan dihormati tapi dihina. Bukan maksud saya menghasut jemaat menghina pendeta,  majelis….,  hanya  ingin  semua orang  mengerti  kebenaran: hormatilah  orang  yang  pantas  dihormati,  nyatakanlah simpatimu pada orang yang memang pantas  mendapat simpati.

Karena di Los  Angels  terdapat  orang yang punya uang tabungan  tiga ratus enam puluh empat ribu dollar di bank. Tapi  tetap  mengenakan  pakaian  compang-camping, minta  belas-kasihan orang. Dia  memperkaya diri  dengan memperalat kemurahan hati orang. Tentu bukan maksud saya mengatakan, jangan menaruh  belas-kasihan  pada  orang, tapi  kasihanilah orang  yang  patut  dikasihani.  Kalau  kalau  tak  memberikan  apa  yang  seharusnya  seorang dapatkan,  kau  berhutang.  Tapi  kalau  kau  memberi pada  orang  yang  tak pantas menerima, itu sama dengan menghamburkan uangmu.  Mari  pelajarilah  prinsip  Alkitab  yang  Tuhan  beri dengan  tepat,    dan  jalanilah  dengan  penuh  tanggungjawab.  Agar kita tak  selalu  dibodohi orang tapi tak menyadarinya.   Orang  Parisi memang  tak pantas dihormati, tapi  pengemis yang tadinya buta  itu, meski berstatus sosial rendah, punya  jiwa  yang  anggun, berani mengatakan kebenaran:  dulu, kalian  tak  mau  mendengarnya.  Mengapa kalian sekarang  ingin mendengar,  apa  karena  kalian  ingin  jadi  muridNya?”  Kalimat  yang  sangat  menusuk perasaan orang  yang selalu menganggap  diri  di  atas  semua  orang.  Menunjukkan  bahwa  dia do not  care about  their high position, just  tell  the truth.

Merekapun balik  mengejek: “kau adalah murid  orang  itu.  Tapi  kami,  murid  Musa” kami  tinggi –  kau  rendah. Kami  tahu, Allah berfirman pada Musa. Padahal menurut catatan di  Kitab  Suci, saat  Musa  hidup, mereka setiap  hari  bersungut-sungut padanya. Baru setelah dia mati,  mereka  menangisi  jasadnya puluhan  hari. Ada  seorang Profesor Teologi  di  Hong  Kong  yang  sombong  luar  biasa. Karena dia adalah murid T. F.  Torrance,  menyandang gelar  Doktor  dari  Cambridge.  Suatu  hari, waktu seorang bertemu dengan Torrance,  dia  bertanya: “what  do  you  think about xxx, who is teaching in Hong Kong?” “I  tell  you  the  truth,  he  never  understand  my  theology”.  Jadi,  jangan  selalu  gembar-gembor: aku  ini   Reformed, padahal  kau  tak sungguh-sungguh mengerti apa itu Reformed. “kami tahu, Allah berfirman pada Musa. Ay. 29, tapi dijawab  orang yang  tadinya  buta  itu:  “aneh, Dia sudah mencelikkan  aku yang  buta  sejak  lahir, kalian  masih belum tahu Dia datang dari  mana?” dan disambungnya: “kita tahu, Allah tidak mendengar  doa  orang berdosa…” Perhatikan: hati orang ini  jujur,  tapi  teologinya  salah.  Kalau  Allah  tak  mendengar  doa  orang  berdosa,  mengapa  Dia mengampuni dosa mereka? Tapi kalau yang dia  maksud  adalah:  “Tuhan  tak  mau  menuruti  kemauan orang  berdosa”,  maka  apa  yang  dia  katakan itu benar adanya.

Tuhan suka mendengar doa  orang  yang  senantiasa  menjalankan  kehendakNya. Suatu  kali,  Pdt.  H.F.  Tan berkata pada  saya:  “heran,  saya  pernah  mendengar  khotbah seorang  pendeta  di Soe  yang hanya sekolah sampai SMP, tapi jalan pikirnya mirip  Karl Barth” —- teolog New Orthodox terbesar di abad  ke-20.  Ingat:  orang  yang  pintar sekolah,  sebenarnya hanya mewarisi  kepintaran  gurunya. Tapi ada semacam orang yang  pintar sekali, dan  bukan  mewarisi  kepintaran dari  gurunya. Dan saya percaya, orang yang tadinya buta itu adalah  seorang  pemikir yang  hebat,  hanya  saja tak diakui oleh dunia akademis. Tapi bolehkah dunia  akademisi  memonopoli  pengetahuan  dan menghina orang-orang  yang tak berkesempatan  studi  tinggi?  Tidak!  Karena  ada banyak  tokoh penting  di  sejarah  seperti  Kongfuzu,  Tagor,  Yesus,  Mozart…..,  yang  bukan  lulusan  sekolah tinggi tapi memberi sumbangsih yang jauh lebih  tinggi dari para lulusan sekolah tertinggi.

Th. 60-an, Reader  Digest pernah memuat satu makalah,  dimana  tertulis:  “untung Da  Vinci  tak  pernah studi  di  sekolah  tertinggi pada zamannya. Tapi  meneliti  alam;  sumber  pengetahuan,  mencari-tahu  prinsip  yang  ada,  menemukan  banyak  penemuan inovatif  yang mengubah dunia.  Saat dia masih berusia  dua  tahun, seekor  burung besar hinggap di ayunannya. Saat burung itu diusir dan terbang, dia mulai berpikir: mengapa burung bisa  terbang,  tapi  saya  tak  bisa  terbang?  Maka  dia mencoba  terbang  dengan  sayap  buatannya.  Karena  the  observation  of  the  nature  is  the inspiration  or  source  of  the  invention  of  tehnology.  Dia  menemukan  laher,  cara  meringankan  pekerjaan  menimba  air di  perigi,  teori dari ball point, pesawat terbang, saluran  air  di  bawah  tanah, kereta  perang  yang  dipasangi  pisau yang berputar-putar, dapat memotong  kaki musuh  yang mendekat…..  dia adalah  arsitek,  tehnisi, desainer  of  the most  modern  weapon  of  the day. Jadi, pendeta yang sukses adalah mereka  yang mau mengamati khotbah dari Pendeta yang  punya  talenta khotbah dengan rendah  hati.

Plato  studi  di  sekolah yang Socrates dirikan sejak dia  berusia  20  tahun  sampai  28  tahun.  Mengapa  begitu  lama?  Karena  dia selalu  merasa,  ada  sesuatu  dalam  diri  gurunya  yang  belum  dia  ketahui. Maka dia terus mendengar apa yang dia  katakan,  mengamati  debatnya…  Padahal  dia  adalah orang yang sangat pintar,  salah seorang yang otaknya paling besar di  sepanjang sejarah,  tapi  dia  mau  belajar  dan  belajar terus.  Sampai kapan? Socrates disuruh  minum Sam  Lok dan  mati. Baru  dia  meninggalkan  Athena.  Apa alasannya?  I  am  not  going  to  give  another  opportunity  for the  democracy  to  kill  another genius.  Dia  pergi  ke Macedonia,  Persia,  India,  abia, Israel,  Mesir…. Tiga  belas  tahun kemudian baru kembali lalu mendirikan sekolah yang diberi nama: Academy  di  Athena. Mendidik  ratusan murid  yang berpengetahuan  lewat  mengamati,  mempelajari  buku-buku  di perpustakaan….. apa komentarnya tentang  sekolah  itu?  Sekolah  ini  terbentuk dari  dua  unsur: 1.  tubuh  dari  semua muridku.  2.  otak  dari  seorang  muridku.  Maksudnya, muridku  banyak,  tapi  yang  punya otak hanya seorang. Siapakah dia? Aristotle. Jadi,  the  Greek  classical  school  of  philosophy  composed  of  three  persons:  Socrates,  Plato,  Aristotle. Mereka  memikirkan hampir semua  hal yang pernah dipikirkan  oleh  orang  di  sepanjang  zaman.  Aristotle  seorang,  menulis  seribu  buku dengan judul yang berbeda-beda. Dia pernah jadi  guru  dari  Iskandar  Agung,  orang  yang  pintar berpikir  dan  pintar  berperang. Meski  dia tak meneruskan gurunya jadi seorang filsuf,  tapi dia jadi undefeated Emperor of all times.

Dari semua  contoh  ini  kita  tahu,  orang  yang  mau mengadakan observasi  dengan  cermat  akan  sukses.  Tapi  orang yang hanya  membanggakan diri  pernah studi  dimana, adalah  orang  yang  bodoh.  Sama dengan para pemimpin Yahudi itu, mereka  tak  tahu  Yesus  jauh  lebih  besar  dari  Musa. Karena  Allah  mengirim Yesus  datang  untuk menggenapkan hal yang tak mungkin dapat Musa genapkan.  Tapi  mereka  menghina  orang  yang  tadinya  buta  itu.  Padahal  orang  itu bijak,  dia mengerti  akan  rahasia yang  ada  di dalam  diri  Yesus: melakukan kehendak Allah,  maka Allah mendengar  doaNya. Apakah kau rindu:  doamu didengar Tuhan?  Awasi doa  yang  kau  minta. Kalau  kau  hanya  minta jodoh,  kesembuhan,  kekayaan…  doamu belum  tentu  didengar. Tapi kalau  kau  senantiasa melakukan  kehendakNya,  maka pada  saat  kau  punya “kebutuhan”  yang masuk  akal, Tuhan  tak akan  meninggalkanmu.  Orang  yang  tadinya  buta  itu  adalah  pengemis, berasal dari lapisan masyarakat yang rendah, tapi  dia mengerti prinsip kebenaran lebih dalam dari para  pemimpin  agama.  Yang telah  merusak  agama dengan interpretasikan yang salah, tapi tak menyadarinya. Sehingga tetap keras  kepala, tak  mau taat pada pimpinan Tuhan yang baru. Maka sejak  dua  belas  tahun  silam,  saya  selalu mengatakan pada rekan-rekan: open  your  heart, your  mind,  your  spirit,  always  available  to  the  new guidance of the Holy Spirit. Memang orang-orang  di gerakan  Reformed  sering mengeluh,  mengikuti Stephen  Tong  susah, karena  terlalu dinamis. Tapi jangan lupa, saya mengikut Tuhan,  jauh  lebih sulit dari kalian mengikut saya. Dan ingat, gerakan Reformed bukan organisasi, badan  hukum….  yang  kaku, melainkan  gerakan yang sangat  dinamis. Sama dengan  orang  Israel  di  padang belantara, saat mereka melihat tiang awan atau  tiang  api bergerak, mereka  harus  segera  berkemas  dan  ikut.  Dan  saat tiang  awan  atau tiang api berhenti, mereka juga harus stop.

Dulu, kita  hanya  mengadakan penginjilan rutin.  Dan saat  membandingkan  diri  dengan  gereja  lain  masih  bisa  bersyukur,  karena  gereja lain  tak mengadakan KKR regional, kami melakukan dan  sudah  menginjili  dua  puluh  ribu orang.  Tapi ternyata,  Tuhan  bukan  hanya  memberikan  dua  puluh  ribu orang. Tahun  ini,  Dia memberi enam ratus delapan puluh empat ribu jiwa. Sungguh, di  dunia ini, tak ada satu gereja, dalam satu  tahun menginjili enam  ratus  delapan  puluh sekian ribu  orang. Mengapa kita melakukannya? Karena His new  guidance.  Dua  tahun  lalu, target  KKR  Regional kita  tiga  ratus  ribu  orang.  Tapi  kita hanya  mencapai  dua  ratus  delapan  puluh  ribu  orang.  Maka  tahun  lalu,  kita  tak  berani menaikkan target.  Tapi  pimpinan  Tuhan,  kita  bukan  hanya  mencapai tiga  ratus  dua  puluh empat  ribu orang, melainkan enam ratus delapan  puluh empat ribu orang. Membuktikan bahwa the  grace of God is greater than what we think, what  we  pray,  and  what  we  can  imagine. Maka saat  Dia Tuhan  memberi  kita  pimpinan  baru,  kita  harus  menangkapNya  dengan  cepat.  Meski memang at  the  first,  we  can not accept. Because  it  is  too  difficult  to  follow, but  finally we  will praise  God. Misalnya sebelas  tahun  silam, saya  jelas  pimpinanNya  keliling  lima  negara.  Dan sekarang,  ada  ribuan  orang  yang  menerima  doktrin  Reformed.  Maka  saya  tak  menyesal mengikuti  pimpinanNya.  Meski  sekarang,  ada kalanya  saya  tak  ingin  pergi,  khususnya hari Minggu,  selesai khotbah dua  sesi  di  sini, masih  harus khotbah dua sesi di Singapore. Tapi karena God  wants  me  to  do  it, maka lebih baik secara  lahiriah  menanggung berat,  tapi  secara  batin, sukacita  karena taat pada kehendakNya. Bukan  karena sudah berpengalaman. Meski saya berani mengatakan, saya sudah khotbah sekian kali lipat  dari khotbah Billy  Graham, pendengar saya tiga puluh  sekian  kali  lipat dari pendengar  John  Sung….  sudah keliling dunia  lebih  dari  seratus lima kali. Tapi pengalaman adalah sesuatu yang  sudah berlalu. Sementara the guidance of God  is concerning  the  future.  Jadi,  biar  kita  menguburkan semua  yang  sudah  berlalu,  terus menatap pada pimpinan Tuhan dan siap mentaati.  Syair  lagu:  ke  mana  saja  ku  telah  sedia, pimpinanMu tak kan pernah bersalah…. saya tulis  dengan cucuran  air  mata, menyatakan keyakinan  saya: mau selalu taat pimpinanNya. Karena saat  saya  melihat,  seorang  misionari wanita dari  London,  yang  berusia +  40  tahun,  mandi  di  sungai,  di  hutan  Sarawak.  Awalnya berpikir, mengapa  dia  begitu  bodoh?  Tapi  Tuhan  menyadarkan saya akan apa yang dia lakukan. Dan  saat  berjalan  di  hutan  itulah,  saya  mendapatkan melodi yang indah itu. Tapi waktu saya mengeluarkan  pen, ingin menuliskan, tapi  tak  ada  kertas.  Maka saya  tuliskan  di  atas selembar daun  kering yang besar. Sambil minta  Tuhan  menolong saya  dapat  memadukannya dengan  syair yang sepadan:  ke  mana  saja  aku  telah sedia. Karena pimpinanMu tak akan pernah salah….  dalam kota besar, atau dalam rimba,  jiwa  sama  berharga  di  mataMu  —  bukan merupakan teori kosong, melainkan benar-benar  saya  jalankan.  Waktu  KKR di  Papua, saya membahas  pekerjaan  Allah  Bapa, pekerjaan  Allah Anak, pekerjaan Allah Roh Kudus. Selesai KKR, baru terpikir oleh saya, mengapa khotbah  di  Papua lebih dalam dari khotbah yang sama, yang  saya  sampaikan  di New  York?  Ternyata  karena  di  Papua,  masih  banyak  orang  yang memikirkan  pekerjaan  Tuhan,  maka  Dia  memberikan  pengertian  akan  rahasiaNya  yang begitu  dalam. Sementara  mereka  yang di New  York, lebih banyak memikirkan uang  dan uang.

Jadi, pimpinan Tuhan memang sangat ajaib dan  dinamis, kita harus always  available  to  the  new guidance of the Holy Spirit.   Meski  orang  yang  tadinya  buta  itu  sudah mengatakan  semuanya  dengan  jujur,  mereka  mengusirnya: kami  tak  butuh kau. Dan diapun  dikucilkan dari rumah ibadah; komunitas Yahudi,  melalui hidup yang lebih  merana dari  saat  dia  masih jadi pengemis. Karena saat jadi pengemis,  ada  banyak  orang  yang  berbelas-kasihan padanya.  Tapi  sekarang,  setelah  divonis  membangkang Taurat Musa, dia dibenci banyak orang.  Itulah  salib  yang  harus  dipikulnya.  Kiranya Tuhan memberkati kita.

(ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – EL)

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

 

Sumber : https://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/jakarta/MRI1112.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube