Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Nats : Yoh. 9 : 35 – 10 : 10

Minggu lalu kita sudah mengakhiri pembahas Yoh.9, pasal yang sangat unik, membahas bagaimana seorang yang buta sejak lahir dicelikan oleh Kristus, beriman dan bersaksi dihadapan pemimpin agama: yang telah menyaksikan the first and the greatest event in history, karena sejak Adam sampai zaman itu, tak pernah ada mata orang yang buta sejak lahir dicelikkan tapi orang itu mengalaminya. Itu berarti Yesus telah menyatakan kuasa creatio ex nihilo; kuasa Penciptaan dari tak ada menjadi ada. Sayang, mereka tak melihatnya. Maka di akhir pasal ini Yesus mengatakan satu statemen paradoks pada mereka yang tak mau bertobat: orang yang mengira matanya celik dibutakan, tapi orang yang buta dicelikkan. Siapakah orang yang mengira dirinya celik padahal buta? Mereka yang merasa diri tahu, tapi tak melihat kemuliaan Allah. Maka saya berulang-kali mengingatkan: orang yang paling kasihan adalah: orang Kristen yang tak punya Kristus, orang beragama yang tak mengerti ajaran agamanya dengan sungguh, orang yang mengira dirinya rohani padahal jauh dari Tuhan. Karena menurut Paulus, jika seorang merasa dirinya tahu. Sebenarnya menurut apa yang seharusnya dia tahu, dia belum tahu apa-apa — ajaran Alkitab yang paradoks: orang yang mengira dirinya tahu sebenarnya tak tahu apa-apa, orang yang merasa dirinya kaya sebenarnya miskin, orang yang merasa dirinya hidup, sebenarnya mati.

Bagai teguran Yesus pada gereja di Sardis. Memang, ada banyak orang yang mengira dirinya dekat Tuhan, padahal jauh sekali dariNya.  Nellie DeWaard, Misionari Reformed yang mendorong saya hadir di satu retreat, yang membawa saya bertobat, dan menyerahkan diri jadi hamba Tuhan itu pernah mengucapkan satu statemen yang mengejutkan saya: “kalau saya berbicara dengan orang Kristen, sebelum dia mengatakan sepuluh kalimat, saya sudah bisa mendeteksi: apakah dia sudah diselamatkan, dan bagaimana taraf rohaninya”. Karena statemen seseorang memantulkan kualitas hidup dan rohaninya. Orang yang belum diselamatkan tak mungkin mengucapkan kata-kata yang layaknya diucapkan oleh orang yang sudah diselamatkan, orang yang tidak rohani tak mungkin mengucapkan statemen rohani. Meski dia sangat pandai meng-copystatemen orang, tak mungkin dia mengatakannya dengan pengertian yang mantap, dan keluar dari kedalaman hatinya. Paling banyak hanya seperti tape-recorder yang memutar ulang perkataan seseorang begitu saja. Persis seperti apa yang dikatakan oleh pribahasa  orang Tionghoa: dari mulut anjing tak mungkin  tumbuh gading. Sebab mulut anjing memang tak punya potensi menumbuhkan gading. Begitu juga  kerohanian seorang, mungkin saja ada yang seperti orang Parisi: menganggap dirinya adalah umat Allah, yang mahir dan monopoli pengertian Taurat, keturunan Abraham, murid Musa…, lalu memandang rendah bangsa lain yang tak punya Taurat sebagai orang yang tak kenal Tuhan, identik dengan anjing. Tapi kata Yesus, orang yang mengira dirinya melihat akan Ku butakan. Sementara orang yang buta akan Ku celikkan. Karena Tuhan yang menjadikan segalanya dari tidak ada menjadi ada, dari gelap menjadi terang itu tentu sanggup mencelikan mata orang buta.

Itulah yang dialami oleh pengemis yang dipandang hina oleh masyarakat itu, membuat hidupnya berubah total. Guna menegaskan, bahwa mata fisiknya memang buta, tapi mata hatinya tak buta: dia melihat Allah menyertai Yesus Kristus, menandakan bahwa imannya tidak lebih rendah dari Nikodemus yang mengatakan: “ya Rabi, kami tahu, jika Allah tak menyertaiMu, tak mungkin Kau melakukan mujizat-mujizat ini”. Tapi mengapa pemimpin agama Yahudi lain tak melihat apa yang Nikodemus lihat? Karena mata mereka buta; tak melihat apa yang ada pada Yesus tapi tak ada pada mereka. Perhatikan statemen berikut: barang siapa dapat menemukan sesuatu yang ada pada orang lain – tapi tak ada pada dirinya, pasti dapat melangkah maju dengan pesat. Sebaliknya, barangsiapa hanya melihat apa yang ada pada dirinya – tak ada pada diri orang lain pasti jadi sombong luar biasa. Sama seperti orang Parisi yang begitu arogan, berani  menginterpretasikan shock therapy yang Yesus  lakukan pada kebudayaan Yahudi yang sudah menyimpang jauh dari Allah itu, sebagai  tindakan pelanggaran hukum — kasihan sekali,  bukan? Tak seperti orang yang tadinya buta itu, dapat menilai Yesus dengan kacamata, pengertian, mentalitas  yang sama dengan Nikodemus.  Tadi saya sengaja menyinggung apa yang anak pembantu saya lakukan: dari enam ratus ribu  rupiah yang dia terima dari ibunya itu dia  persembahkan lima ratus ribu rupiah. Tidakkah  bisakah saya mengatakan: bahwa dia lebih cinta  Tuhan dari saya atau majelis yang pelit, yang tak rela memberi perpuluhan? Bahkan saat penghasilan kita menurun – kita marah, tapi saat  penghasilan kita meningkat, hanya ingat diri – tak  ingat orang lain, apalagi pekerjaan Tuhan.  Karenanya ada banyak orang miskin yang  berjiwa sangat agung, tapi tak diakui oleh  masyarakat. Jadi, mungkin saja orang miskin  lebih cinta Tuhan, lebih dekat Tuhan ketimbang kita. Itulah yang sering Alkitab perlihatkan. Misalnya, Yesus memuji janda yang  memasukkan dua keping perak ke dalam peti persembahan: “dia telah memberi lebih banyak  dari orang kaya”. Karena dua ribu tahun silam, dua keping perak adalah biaya hidup satu keluarga untuk satu hari. Itu berarti, si janda membawa pada Tuhan kebutuhan hidup keluarganya pada hari itu, tanpa ada yang  ditahannya, bukan memberi dari kelebihannya. Di akhir Yoh. 9 terdapat statemen Yesus pada si  pengemis: “Aku datang untuk menghakimi, agar  orang yang buta melihat, yang melihat jadi buta”.  Lalu ditimpali oleh pemimpin agama: “apa  maksudMu, kami ini buta?” “karena kamu mengaku dapat melihat, maka dosamu tetap; tak diampuni”. Dan Yoh.10 diawali dengan statemen  Yesus: “Akulah pintu. Barangsiapa masuk  melalui Aku, dia adalah milikKu. Barangsiapa  tak masuk melalui Aku adalah pencuri”. Pintu memang sangat penting. Tanpa pintu kamar, mana mungkin kau berani tidur pulas, mana mungkin suami-isteri berani menanggalkan pakaian? Tanpa pintu kamar mandi, tentu kita  merasa sangat risih, bukan? Kata Yesus: “I am the gate. Barangsiapa masuk melalui Aku….”  Masuk ke mana? Kerajaan Allah. Jadi, hanya  Kristus yang dapat membawa kita ke sana. Dan  siapa yang Dia maksud mereka yang tak masuk  melalui pintu… adalah pencuri, perampok”?  Kristus adalah satu-satunya Pintu yang sah;  hanya Kristologi yang benar, yang dapat menghantar seorang datang ke hadirat Allah.

Orang pertama yang mengutarakan istilah “pintu  sorga” adalah Yakob. Setelah dia melarikan diri dari Esau, kakaknya yang ingin membunuh dia.  Malam itu, dia bermimpi tentang tangga yang  dari sorga ke bumi, malaikat naik turun di tangga  itu. Dan setelah bangun tidur, katanya: “this is  the gate of heaven, the temple of God”. Saya  sangat bersyukur pada Tuhan, karena kali  pertama istilah “bait” itu muncul di Alkitab, tak punya kaitan dengan bangunan. Karena yang  Yakob maksudkan dengan Bait Allah memang bukan bangunan. Itu sebab, berulang kali saya katakan: gedung gereja besar adalah anugerah  Allah yang terkecil buat kita. GRII bukan  bangunan, melainkan satu wadah dimana kita  berbakti. Gedung gereja adalah gedungnya  gereja, bukan gereja. Gereja adalah kau dan aku,  amin? Karena Tuhan tak tinggal di dalam  gedung, melainkan tinggal di dalam kita, Dia  hadir di tengah persekutuan kita. Maka kata  Paulus: “the tempel of God should be holly. And  you are the tempel of God”. Jadi, orang pertama  yang punya pengertian paling jelas dan paling  tepat tentang the temple of God adalah Yakob.  Saat Yakob melontarkan statemen tadi, apakah  sudah ada gate? Tidak ada. Bahkan dia juga bukan melihat “pintu” tapi “tangga” di dalam  mimpinya. Tapi dia menyebut tangga itu: the  gate of heaven. Di perikup ini, Yesus  memproklamirkan diri: Aku adalah pintu. Karena  Dia memang turun dari sorga ke bumi, untuk  menjadi Pengantara antara Allah dan manusia,  Pencipta dan ciptaan, yang tak nampak dengan yang nampak. Dengan sifat manusia dan sifat  Ilahi yang ada padaNya itulah Dia; Allah  berbicara dalam rupa manusia dan menggunakan  bahasa manusia: “Aku adalah pintu”, mengindikasikan bahwa tangga yang ada di  mimpi Yakob itu sudah inkarnasi. Maka hanya  melalui Dia, kita dapat kembali pada Allah, sang  Pemberi anugerah; percaya padaNya. Karena  Kristus telah membawa turun anugerah sorgawi  untuk kita, memungkinkan kita menerima Dia  dan berdoa dengan iman, Dia membawa doa kita  ke hadirat Allah. Jadi, Dia adalah tangga, pintu, Pengantara. Maka barangsiapa masuk melalui  Kristus, dia adalah milikNya yang sah. Tapi barang siapa menerobos masuk lewat memanjat  tembok…; jalan lain adalah pencuri, perampok.  Ay.8, siapa yang Yesus maksudkan dengan:  barangsiapa yang datang sebelum Aku…?  Ternyata, sebelum waktu yang Allah tetapkan  untuk mengirim Yesus jadi Mesias itu tiba, sudah  ada +260 orang yang mengklaim diri sebagai:  mesias, dan mengelabuhi banyak orang. Inilah salah satu gejala yang sering kita temui di dalam  agama: gampang menipu orang, bahkan lebih  gampang dari menipu uang orang. Itu sebab, ada  pemimpin agama yang hidupnya tak karuan, tapi  punya banyak pengikut. Maka sudah tiga minggu berturut-turut saya mengatakan: “agama itu  sangat berbahaya”. Karena siapa saja yang berani  menyalah gunakan otoritas, mengklaim diri  adalah: wakil atau utusan Allah, dapat menipu  banyak orang mengikuti dia.

Th.1990, ada  pendeta Korea yang “menipu”: Kristus akan  datang pada tgl. 28 Oktober, maka  persembahkanlah milikmu. Dan faktanya, bukan Kristus datang pada tanggal itu, tapi di account pribadinya terdapat enam juta dollar. Kalau  memang Yesus benar-benar akan datang,  mengapa dia menyimpan begitu banyak uang?  Jadi, pemimpin agama yang palsu berani  mengklaim dirinya adalah wakil Tuhan, nabi…..  dengan otoritas palsu, sebenarnya mereka adalah penipu ulung. Dua tahun silam, saya juga pernah  menyinggung “Marjo”, orang Amerika Latin  yang sejak usia 4 tahun disuruh menghafal  ratusan ayat Alkitab, berkhotbah menirukan gaya penginjil besar. Sebelum berusia 15 tahun, dia  pernah mengakui: “selesai khotbah (kebaktian  masih berlangsung), saya sibuk menghitung  persembahan; berapa banyak uang yang saya dapat”. Bahkan di saat berumur 40 tahun, mengaku dirinya bukan hamba Tuhan tapi Ateist. Dia sudah berhasil menipu banyak orang dengan khotbahnya — sangat mengerikan, bukan? Masalahnya: bagaimana kita membedakan akan khotbah yang palsu dan yang asli? Sebenarnya, saya pernah memberikan tolok-ukurnya: “jangan percaya pada orang yang khotbahnya “hebat”, tapi hidupnya tak suci. Atau orang yang pandai pidato, tanpa mendasarinya dengan prinsip Kitab Suci.

Maka kita perlu studi, membaca, mencek, membandingkan…. itu sebabnya, mengapa saya sering mengundang profesor-profesor terbaik dari luar negeri untuk mengajar, memberi seminar. Tapi, sedikit sekali jemaat GRII yang mau ikut-serta. Alasannya: harus membayar. Tanpa pernah menyadari, tak ada satu gereja seperti GRII, berani mengundang Profesor-Profesor yang amat terkenal dan bermutu untuk memberi kuliah atau seminar. Padahal mereka mau datang ke Indonesia adalah karena saya yang mengundang. Begitu juga dengan majelis di sini, banyak yang  tak mau belajar atau pun melayani. Lalu apa maunya? Pamer diri. Kalau kau memang berpikiran seperti itu, lebih baik jangan jadi majelis. Karena GRII bukan tempat kau menonjolkan diri, melainkan tempat untuk belajar dan melayani. Biar gereja ini selalu sadar: no one come to contribute, no one come to help God. Because God do not need your help. So you have come to learn and to serve; to sacrifice yourself. Jadi, jangan kita datang mengeritik ini dan itu, pamer kehebatan diri. Tapi datanglah untuk belajar dengan rendah hati, bahkan belajar  dari orang yang lebih hina dari kita tapi punya kelebihan yang patut kita teladani.  Kata Yesus: “dombaKu mengenali suaraKu, mereka tak akan mengikuti orang asing”. Apa maksudnya? Ada orang Kristen yang tak  mengenali suara Gembalanya, dan mudah sekali  tertipu oleh suara penipu yang begitu manis. Jadi,  apakah kau mampu membedakan suara  Gembalamu dan suara pencuri? Ingat, jika seorang mengajarkan Kristologi yang tak sesuai  ajaran Alkitab, jangan terima dia. Karena Kristus adalah Pintu, who come through the gate will tell  you about the true and the accurate  understanding of Christology. Seorang murid di  SAAT bertanya pada saya: “bagaimana caranya  menilai ajaran ini benar atau bidat?” “satu kunci  yang dapat kita gunakan: Soteriology in Pauline  Christology. Karena Paulus pernah  mengingatkan: 1.“setelah aku pergi, pasti ada  serigala yang mengenakan bulu domba datang  mengacaukanmu”. Kalau kau menerimanya, kau  akan dicabik-cabik olehnya. Karena dia itu  serigala.  2.“jika ada orang yang datang  memberitakan padamu Kristus yang berbeda dari  Kristus yang ku beritakan, let him be cursed”.  Dan sungguh, selain Paulus, tak ada yang  mengajarkan prinsip ini dengan begitu jelas dan  ketat. Sesuai dengan ajaran Yesus di Yoh.10:  come through Me, I am the gate. Meski ada saja  orang-orang yang masuk ke tengah kawanan dombaKu lewat memanjat tembok…, mereka  bukan gembala. Hanya melalui Kristus yang adalah pintu kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Yesus juga mengingatkan: suara pencuri berbeda  dengan suaraKu. Maka domba tak seharusnya  ikut dengan pencuri. Mungkin kau mengatakan: buktinya ada banyak orang yang ikut. Ya, mereka  itu bukan dombaKu. Karena memang ada banyak  orang yang masuk ke gereja yang nampak, jadi Kristen KTP yang tak mengenal Kristus. Dan saat penipu datang, mereka akan ikut dengannya.  Sementara domba-dombaKu, dapat mengenali  suaraKu. Dan Tuhan memang ajaib, Dia  mencipta manusia dengan jenis suara yang berbeda-beda: ada yang suaranya besar – ada yang lembut, ada yang suaranya tebal – ada yang tipis, ada yang suaranya tinggi – ada yang rendah… Itu sebab, orang Kristen harus bisa mengenali suara Kristus lewat pengajaran Kristologi yang benar, yang memampukan dia  memilah-milah dengan tepat. Maka saat dia mendengar khotbah yang ajaran Kristologinya berbeda, dia langsung dapat mengenali bahwa pengkhotbah itu adalah penipu, perampok dan tak mau ikut dengannya.

Apakah kau yang sudah lama mendengar khotbah di Reformed dapat membedakan ajaran yang salah dan yang benar?  Oral Robert pernah berkhotbah di Semarang: “Yesus bisa mati, Kristus tak bisa mati. Puji  Tuhan, Yesus mati dan Kristus bangkit”  mendengar itu saya langsung menemukan  ketidak-beresan dalam statemennya: dua  statemen di depan menyatakan Yesus bukan  Kristus. Dan statemen ketiga dan keempat lebih  kacau: kalau Kristus tak bisa mati, lalu Dia  bangkit dari mana? Kalau Yesus bisa mati, kapan  Dia bangkit? Mengapa yang mati adalah Yesus, tapi yang bangkit adalah Kristus? Tapi seribu orang pendeta gereja Pentakosta, Karismatik berseru-seru: “haleluya”. Menandakan mereka  tak mampu memilah-milah. Sejak kecil saya suka  ikut kebaktian, waktu usia 8 tahun, pernah ikut  serial KKR delapan malam, yang setiap sesinya  tiga jam. Karenanya, sejak kecil saya sudah  menemukan bukan semua khotbah sama: cara  khotbah, isi khotbah… berbeda-beda. Dan  perlahan-lahan menemukan juga ada khotbah  yang beres – ada yang tidak beres.  Kata Yesus: I am the gate. Jadi, mengenal  Kristus yang inkarnasi, yang adalah Anak Daud,  yang punya dwi sifat, yang firmanNya tak pernah bertentangan dengan nubuat di P.L. — Kristologi  yang benar menghantar kita jadi dombaNya. DombaKu pasti mengenali suaraKu, maka jangan  menyetujui khotbah yang tak bertanggungjawab.  Apalagi mempersamakan semua khotbah.  Karena dombaKu mengenali suaraKu, tak  mengikuti suara orang yang tak mereka kenal.  Ay.7-8, siapakah yang Dia maksud  “….barangsiapa yang datang sebelum Aku….?”  Dua ratus lebih orang yang mengaku-mengaku  diri mesias, sebelum Yesus inkarnasi. Mengapa  mereka berani melakukan hal itu? Karena mereka  tahu, bangsa Israel menanti-nantikan kedatangan Mesias. Dan saat seorang mengklaim: aku ini  mesias, langsung disambut dengan antusias. Tapi  Yesus mengingatkan: orang yang datang sebelum  Aku adalah pencuri, perampok. Dan mereka  datang bukan untuk memberi hidup, melainkan  untuk mencuri, membunuh dan membinasakan.  Anehnya: ajaran yang benar – hanya sedikit  orang yang mau mendukung, tapi ajaran sesat –  banyak yang mau mendukungnya. Itu  membuktikan, banyak orang Kristen yang tak  bisa memilah-milah. Ingat kata Yesus:  “barangsiapa masuk melalui Aku, dia akan  selamat, dan masuk-keluar mendapatkan  rumput”. Dia menjamin akan mencukupi  kebutuhan hidup kita. Pencuri datang untuk  mencuri, membunuh dan membinasakan. Tapi  Aku, datang untuk memberi hidup, bahkan hidup  yang berkelimpahan.  Inilah pengumuman besar yang keempat dari  Yesus: 1. I come to seek and to save the lost,  yang Dia umumkan di rumah Sakius. 2. I come to  call upon the sinners to repent, yang Dia katakan  di rumah Lewi. 3. I come to serve and to give My  life for ransom. 4. I come to give life and give it  abundantly.

Permisi tanya, apa yang dapat agama  berikan pada kita? Pengetahuan tentang baik-jahat, jahat-baik — moral, etika. Apa yang ilmu  pengetahuan berikan pada kita? Tahu – tak tahu;  benar – salah. Apa yang filsafat berikan pada  kita? Bijaksana – bodoh. Apa yang bisnis berikan  pada kita? Untung – rugi. Lalu apa yang Yesus  berikan pada kita? Melampaui semua itu: hidup  kekal – binasa kekal (Yoh.3:16). Maka agama  Kristen bukan mengajar kita tentang baik – jahat,  untung-rugi, pintar – bodoh, benar – salah….. melainkan hidup kekal – mati kekal. Itulah yang  membedakan kekristenan dengan agama, etika,  bisnis, filsafat, ilmu pengetahuan, psikologi,  politik…  Kristus memperkenalkan diriNya: Akulah pintu.  Tapi orang Yahudi tak mengerti apa yang Dia maksudkan, karena sangka mereka: kami sudah  memberikan korban tentu sudah diselamatkan.  Tapi Yesus menegaskan: Akulah satu-satunya  pintu yang membawamu pada keselamatan, yang  menjamin kau keluar-masuk mendapat rumput;  hidup, bahkan hidup yang berkelimpahan. Sejak  kecil saya suka adu panco dan hampir tak  terkalahkan. Bahkan dua tahun silam, masih  sanggup mengalahkan enam orang mahasiswa  Institut. Karena sejak muda, saya suka  memindahkan lemari, tempat tidur… seorang diri.  Baru saat mengalami gegar otak, untuk cuci-muka, sikat gigi-pun harus dibantu, saya menyadari akan definisi dari: hidup limpah –  hidup papa. Hidup papa adalah hidup yang selalu  minta tolong pada orang, sementara hidup yang  limpah adalah hidup yang selalu dapat menolong  orang lain. Seorang yang sudah berumur 90  tahun bertanya: “pak Tong, siapa yang lebih  bahagia: orang yang duduk di kursi roda atau  orang yang mendorongnya?” Saya balik bertanya  padanya: “bagaimana menurut bapak sendiri?” “yang mendorong kursi” “Bukankah dia itu  kasihan: lelah dan hanya mendapatkan sedikit upah” “ya, tapi dia tetap lebih bahagia. Karena  setelah selesai tugas, dia masih bisa jalan ke sana  – sini. Tapi yang duduk di kursi roda, waktu tak  ada orang mendorongnya, dia tak bisa ke mana-mana; hanya bisa diam di situ” Memang, orang  yang mendorong kursi lebih berbahagia. Karena  dia, selain masih bisa berjalan, juga masih punya  kekuatan yang lebih, yang dapat dia pakai untuk  mendorong orang lain. Jadi ingat, the more you  work, the more you labor, the more you feel lucky  and more happy.  Saya bersyukur pada Tuhan, karena meski sudah  berusia tujuh puluh lebih tahun, masih dapat  terbang ke sana-sini seorang diri untuk  berkhotbah, melayani, dan itulah yang membuat  saya benar-benar bahagia.

Seorang tua  mengatakan pada saya: “dulu saya bekerja mati-matian, sekarang sudah saatnya saya pensiun”  “apa yang ingin kau lakukan setelah pensiun?”  “beli rumah yang bagus dan tinggal di sana” “dan  sesudah itu?” “mulai merasa menganganggur”  “lalu?” “mulai merasa kesepian” “sesudah itu?”  “tinggal tunggu mati”. Maka kalau mungkin,  jangan pensiun. Saya tak habis mengerti akan  orang-orang yang ingin cepat-cepat pensiun.  Kalau saya, selama otak masih jernih, masih  dapat berkhotbah dengan beres; benar, tolong  jangan paksa saya pensiun. Saya akan marah!  Tapi kalau saya sudah pikun, majelis boleh naik  ke mimbar, menggotong saya turun; jangan  perbolehkan saya berkhotbah. Karena  sesungguhnya, yang mengharuskan seorang  pensiun, bukan umurnya tapi fungsi otaknya.  Kalau seorang baru berumur 30 tahun tapi sudah  pikun, dia harus pensiun. Tapi orang yang  otaknya masih cemerlang, meski sudah berusia  90 tahun, tetap boleh berkhotbah. Jangan mengira  menganggur dapat membuat hidupmu lebih bahagia. Karena bahagia yang sejati terdapat di  dalam hidup yang berlimpah, yang masih punya  kekuatan untuk melayani orang, amin?

(ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – EL)

Ringkasan Khotbah : Pdt., Dr. Stephen Tong

 

Sumber : https://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/jakarta/MRI1114.pdf

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube