Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pendahuluan

Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus diberikan Tuhan kepada dunia ini untuk orang Kristen. Pentakosta berarti hari ke-50 setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Selama 40 hari di dunia setelah kebangkitan-Nya Yesus berada di dunia, berulang kali menyatakan diri kepada para murid bahwa Ia adalah Tuhan yang hidup. Ia tidak ditahan oleh maut, tidak dicengkeram oleh kuasa Iblis. Ia sudah bangkit, melebihi segala keterbatasan dan menyatakan hidup, yang menjadi pengharapan di tengah umat manusia. Setelah itu Ia naik ke surga dengan pesan, “Tunggu di Yerusalem! Jangan pergi, melainkan berdoalah hingga Roh Kudus turun atasmu.”

Sepuluh hari kemudian, Roh Kudus turun ke dalam dunia, pada hari Pentakosta. Hari itu orang-orang Israel berkumpul di Yerusalem dari semua kota, mengikuti tulisan Musa dalam Taurat. Setiap tahun paling sedikit 3 (tiga) kali mereka ke Yerusalem. Hari itu Roh Kudus turun. Orang-orang yang sebelumnya merasa takut, tidak berani menghadapi kesulitan politik, sosial sehingga menutup diri; sekarang berani mengabarkan Injil dan 3.000 orang menerima Tuhan Yesus pada hari itu juga. Dalam hari Pentakosta tidak dilakukan penyembuhan atau mujizat tetapi terjadi pemberitaan mengenai salib dan kebangkitan Kristus. Itulah hari jadinya gereja.

Makna Turunnya Roh Kudus Dalam Tubuh Kristus

 “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — “telah kamu dengar dari pada-Ku.  Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.”  (Kisah Para Rasul 1:4-5)

Mengapa mereka harus menunggu di Yerusalem sampai janji Allah datang kepada mereka? Apa maksudnya dengan “janji Allah”? Dalam Alkitab istilah janji begitu penting sehingga Perjanjian Lama adalah buku perjanjian dan Perjanjian Baru adalah kitab perjanjian. Allah kita adalah Allah yang berjanji berdasarkan kesetiaan-Nya yang tidak berubah, mengatasi pengeseran waktu dan sejarah. Sejak Adam berdosa, yang dialami manusia adalah kematian, pertama yaitu keterpisahan manusia dari Sumber Hidup. Yang dialami oleh manusia adalah menuju kepada kematian. Dalam makna kedua adalah kemusnahan tubuh fisik ini. Ketiga adalah kematian yang kedua dalam api neraka. Itulah manusia yang hidup tanpa Tuhan, menuju kepada kematian, berada di bawah murka Allah untuk selama-lamanya. Dunia yang berada di bawah kuasa kematian ini menunggu satu janji Allah. Janji yang tidak ditandatangani dengan pena atau tinta. Perjanjian Lama ditandatangani dengan darah binatang. Sedangkan Perjanjian Baru ditandatangani dengan darah Anak Allah yang Tunggal. “Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.” (1Yoh. 2:25). Janji keselamatan itu sudah digenapi oleh Yesus Kristus, maka kini manusia memperoleh hidup yang kekal. Inilah janji terbesar dari Allah kepada manusia. Kalau filsafat menemukan yang bodoh dan bijak. Dalam etika mencari yang benar dan salah. Dalam ilmu mencari yang sungguh dan tidak sungguh. Dalam agama mencari yang boleh dilakukan dan tidak. Dalam Kristus, bukan tidak baik dan baik saja, bukan benar dan tidak benar saja, bukan mengetahui dan tidak mengetahui saja, tetapi adalah kepastian tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Bagaimana Kita Menerimanya?

Allah Bapa yang sudah menyediakan keselamatan, mengirim Allah Anak untuk menggenapinya. Setelah menggenapi, Ia kembali kepada Bapa. Lalu turunlah Roh Kudus, Oknum ketiga dari Allah Tritunggal.Janji keselamatan Allah tidak bisa dilepaskan dengan janji kedatangan Roh Kudus. Keduanya merupakan satu janji, karena melalui Roh Kudus hidup kekal yang dijanjikan boleh datang kepada manusia. Itu sebabnya setelah Yesus menyatakan diri selama 40 hari, pada hari yang ditetapkan Ia berkata, “Sekarang saatnya Aku pergi, dan engkau akan menerima Roh Kudus. Engkau dibaptiskan dengan air, sekarang engkau akan dibaptis Roh Kudus.” Arti dibaptiskan oleh Roh Kudus adalah manusia menerima pembersihan total dan dikuduskan menjadi orang-orang yang suci. 1Pet. 1:2 mengatakan bagaimana Tiga Oknum Allah Tritunggal menggarap manusia berdosa menjadi orang suci sehingga gereja adalah gereja yang kudus dan am, merupakan kumpulan orang yang disucikan, tempat orang kudus berkumpul berbakti, bersekutu dan bersaksi.

Pengudusan ini hanya bisa dilakukan melalui penebusan yang dilakukan Yesus Kristus. Dengan darah-Nya menyucikan dosa kita, memberikan kuasa perdamaian antara kita dengan Tuhan Allah. Tetapi yang melakukan pengudusan ini adalah Oknum Ketiga yaitu Roh Kudus. Itu sebab Allah Bapa memilih sebelum dunia diciptakan, Allah Roh Kudus mengadakan pengudusan melalui gerakan hati kita masing-masing sehingga kita taat kepada Kristus, lalu kita menerima percikan darah bagi kita masing-masing. 1Pet. 1:2 merupakan ayat yang menyatakan siapa orang Kristen dan siapakah gereja, “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” “Orang-orang yang dipilih” demikian dituliskan Petrus. Bukan Kristus yang dipilih, lalu orang-orang masuk ke dalam Kristus, seperti yang diajarkan Karl Barth.  Alkitab dengan jelas mencatat orang-orang itu dipilih sebelum dunia diciptakan, lalu digarap oleh Tuhan di dalam proses sejarah melalui Roh Kudus yang menguduskan mereka.

Roh Kudus tidak datang kepada orang suci, tetapi datang untuk menyucikan orang berdosa. Itu sebabnya gereja jangan menolak atau menghina orang berdosa, yang masih najis, karena itulah sasaran keselamatan yang harus dikerjakan gereja. Jangan senang bila ada orang suci mau datang ke gereja. Itu bukan tujuan penginjilan. Tujuan penginjilan adalah mencintai orang berdosa, berdoa dan mengharapkan mereka kembali kepada Tuhan. Roh Kudus menguduskan seseorang bukan karena seseorang sudah suci, melainkan Ia menguduskan mereka, yang berdosa. Pengudusan terjadi melalui mendengar dan mengerti firman, sehingga orang tertegur, mengerti, merasa perlu merendahkan diri datang kepada Tuhan, menjadi taat, maka setelah taat, percikan darah yang menyucikan, tiba atas mereka sehingga mereka menjadi orang suci. Sebelum naik ke surga Yesus berkata, “Tidak lama lagi engkau akan menerima baptisan Roh Kudus.” Yang membaptiskan adalah Kristus dan melalui Roh Kudus mereka dikuduskan. Hal ini terjadi di Yerusalem, pada waktu hari Pentakosta. Pada waktu Roh Kudus turun, mereka mendengar firman, taat, dikuduskan dan rela dibaptis. Setelah mereka tahu Kristus mati dan bangkit bagi mereka, hati merasa tertusuk, maka dengan inisiatif sendiri menyadari mereka perlu Tuhan. Maka mereka bertanya, “Bagaimana caranya kami diselamatkan?” Petrus menjawab, “Engkau harus bertobat, meninggalkan dosamu dan dibaptiskan. Engkau akan menerima Roh yang dijanjikan.”

Hari itu juga Roh Kudus bekerja begitu hebat. Sehingga pada tahap pertama, rasul-rasul dipenuhi. Tahap kedua, kuasa penginjilan dinyatakan sehingga orang-orang bertobat juga menerima kuasa Roh Kudus atas mereka. Mereka tidak berencana untuk dibaptiskan pada hari itu. Mereka datang hanya untuk merayakan hari Pentakosta. Tetapi Roh Kudus bekerja demikian rupa sehingga begitu besar anugerah keselamatan dinyatakan kepada orang Israel.

“Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juru Selamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.'” (Kis. 5:31-32)

Pertobatan pun merupakan suatu anugerah. Jikalau bukan anugerah Tuhan tidak ada satu orang bisa bertobat, bisa mengenal Yesus dan jika bukan karena gerakan Roh Kudus tidak ada seorangpun menyebut Yesus sebagai Tuhan. Ini merupakan suatu anugerah Tuhan yang memutarbalikkan kita kembali kepada Tuhan Allah. Menerima baptisan Roh Kudus sama artinya dengan diperanakkan pula secara sejati. Ketika kita diperanakkan kembali itu berarti juga kita dibaptiskan oleh Roh Kudus. Setelah dikuduskan kita mendapat status sebagai anak-anak Allah. Sebelum menerima pengudusan Roh Kudus kita adalah jiwa yang tersesat. Maka jiwa yang tertidur memerlukan gugahan Tuhan dengan pendampingan Roh Kudus sehingga kita berjalan sesuai dengan pimpinan-Nya. Kita diberikan kebebasan sebagai manusia yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah.

Namun sejak jatuh dalam dosa maka kebebasan itu sudah menjadi liar dan buas sehingga kita tidak mau diatur. Kita sudah menjadi makhluk liar yang bebas. Bila ada seseorang mengatakan sesuatu kepada kita, kita tidak berpikir akan kebenaran perkataan itu lebih dulu, tetapi langsung berpikir, “Kenapa saya diganggu, mengapa dia berani berkata demikian kepada saya?” Manusia tidak mau diatur orang lain, itu soal kecil, tetapi manusia tidak mau diatur Tuhan, itu kurang ajar. Kita tidak suka diatur Tuhan, mau mempunyai kebebasan mutlak. Sehingga roh kebebasan kita, tidak kembali kepada Allah sebagai Sumber peta dan teladan. Karena peta dan teladan Allah yang sudah rusak dan liar dalam diri manusia, roh kita menjadi jenuh, tertidur dan mati. Pada waktu kita mati dalam dunia, Dia membangkitkan kita kembali. Paulus mengatakan dengan tegas bahwa kita terpisah dari Allah, sehingga roh kita berstatus mati. “oleh karena nama-Mu yang kudus Engkau membangunkan jiwaku dan membawaku pada jalan yang benar.” (Mzm. 23:2-3). Membangun rohani berarti melalui pekerjaan Roh Kudus kita mempunyai kesadaran dan kembali ke jalan yang benar. Ini suatu pekerjaan Roh Kudus. Maka kita tahu Allah memberikan Roh Kudus untuk umat manusia. Pemberian terbesar Allah kepada manusia adalah diturunkannya Anak-Nya yang Tunggal kepada manusia. Pekerjaan Allah terbesar kepada gereja adalah dengan diturunkannya Oknum Ketiga. Oknum Kedua datang ke dalam dunia untuk mengganti manusia, menebus dosa kita. Kristus sebagai pemberian Allah kepada dunia. Oknum Ketiga diberikan kepada gereja.

Dengan turunnya Roh Kudus gereja didirikan, yaitu setiap orang yang sudah diperanakkan pula dan didampingi oleh Roh Kudus. Perbedaan orang Kristen dan orang belum Kristen adalah jiwa kita sudah diberikan Roh Kudus sedangkan jiwa mereka adalah jiwa yang melayang-layang, tidak ada arah. Maka barangsiapa dipimpin Roh Kudus adalah anak-anak Allah karena kita diberikan Roh Allah, Roh dari Anak itu sendiri.

Ada tiga istilah mengenai Roh Kudus:

1).Roh Anak (The Spirit of the Son)

 “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus ia bukan milik Kristus.” (Roma 8:9). Barang siapa memiliki Roh itu, bersama-sama dengan Anak, kita disebut anak-anak Allah. Roh Kudus diturunkan supaya kita menjadi anak-anak Allah. Kita tidak lagi menghadap Allah dengan ketakutan, melainkan memanggil-Nya dengan “Bapa”. Semua agama mengandung satu misteri yang menakutkan sehingga setiap orang yang beribadah makin takut dan gentar, tidak berani melanggar karena mereka adalah oknum di bawah agama. Religion controls a personality but the Holy Spirit guides the personality.

Dalam Kristus kita dipimpin Roh Allah. Kita datang kepada Allah bukan dengan takut, melainkan dengan sebutan Bapa, Papa. Menyatakan hubungan yang begitu erat dan intim. Ini hanya ada pada orang-orang di dalam Yesus Kristus, karena diberikan Roh Anak. Paulus mengatakan, “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!'” (Rm. 8:15). Bagaimana cara seorang anak datang kepada Bapa? Bukan dengan ketakutan atau harus menyusun komposisi kalimat yang sangat indah untuk datang kepada seorang ayah. Katakan dengan terus terang. Itu sebabnya bila Saudara diminta berdoa, jangan takut. Kita berdoa kepada Bapa karena Roh Anak sudah diberikan kepada kita. Kita menjadi anak-anak Allah yang mempunyai hak berbicara kepada Bapa. Berdoalah kepada-Nya dengan bebas. Dengan tangisan, dengan iman, dengan sukacita, dengan keintiman sebagai anak.

2). Roh Kebenaran

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia,sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”  (Yohanes 14:16-17).

Karena Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, maka kita tidak boleh memisahkan antara Roh Kudus dengan kebenaran. Ada orang mengatakan banyak pakai otak dan pengertian, bukan pekerjaan Roh. Pekerjaan Roh tidak memakai pikiran. Ini merupakan dualisme yang dikerjakan manusia yang tidak mengerti Alkitab. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Roh Kebenaran sehingga di mana Roh Kudus bekerja, Ia membuka pikiran manusia, memberi pencerahan kepada intelek manusia membawa manusia kepada pengertian yang lebih jelas dan tepat. Yesus berkata, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:25-26). Artinya Roh Kudus dan pekerjaan Roh Kudus memberikan kelimpahan kepada manusia. Kita bukan saja mengerti, melainkan terjun ke dalam, dengan sadar berbagian di dalam, bahkan diberikan kekuatan untuk meliputi diri di dalam kebenaran. Roh Kudus bukan membunuh otak atau rasio. Jangan kira bila beriman rasio tidak bekerja, intelek harus dibunuh. Jangan kira dengan percaya kepada Yesus Kristus kita menjadi orang bodoh. Menjadi orang Kristen yang percaya kepada Tuhan, makin percaya makin bijaksana dan pandai. Karena Allah tidak membodohkan manusia, melainkan memberikan bijaksana kepada manusia.

Selama berpuluh tahun menjadi orang Kristen sudah lebih mengertikah engkau akan kebenaran? Berapa banyak doktrin yang engkau mengerti dan jalankan sehingga engkau mempunyai bijaksana surgawi yang melampaui pikiran dunia?

3). Roh Penghibur

Kita hidup dalam dunia tidak mungkin tidak ada air mata dan keluhan, kekecewaan. Orang yang paling kita cintai justru paling sering mengecewakan kita. Orang yang kita harapkan selalu memutuskan harapan kita. Oleh sebab itu kita memerlukan seorang Penolong yang berkuasa untuk menguatkan kita terus. Kuasa Roh yang begitu besar mendampingi kita menempuh perjalanan hidup. Setiap orang menapaki jalan hidup yang menakutkan, penuh ujian dan pencobaan. Tidak ada orang yang bermata, tidak mengalirkan air mata. Tidak ada orang bernafas tidak pernah mengeluh. Tidak ada orang yang bernafas tidak pernah mengeluh. Tidak ada orang yang mempunyai hati, tidak pernah sakit hati. Kekuatan kita sangat minim dibandingkan cita-cita kita yang tinggi. Kita melihat fakta yang kejam: bahwa segala sesuatu yang indah dalam ide tidak terwujud dalam hidup sehari-hari secara nyata. Kita mempunyai segala sesuatu yang sangat jauh dari kesempurnaan. Dalam perjuangan hidup jangan mengira kekayaan, kedudukan tinggi akan menyelesaikan segala persoalan. Orang miskin merindukan jadi orang kaya. Orang kaya memiliki keluhan tersendiri yang tidak dimengerti oleh orang lain. Setiap orang hidup dalam ide tidak terbatas tetapi kemampuan terbatas. Manusia hidup dalam konflik. Sehingga membutuhkan suatu kuasa paradoks untuk mengubah dan memberikan kekuatan kepada kita. Kita memerlukan suatu Roh yang tidak terbatas untuk menjadi Penolong. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Aku akan pergi dan mengutus Penghibur datang kepadamu.” Dalam bahasa Yunani nya adalah Parakleitos, Roh Penolong, Roh Penghibur. Yang diutus bukanlah manusia, oknum yang berdarah daging, melainkan Roh.

Beberapa hari kemudian, pada Hari Pentakosta merupakan penggenapan dari janji Yesus itu. Roh Kudus turun memberikan penghiburan dan kekuatan kepada mereka. Apakah yang mengubah situasi sehingga manusia tidak lagi takut mati? Apa yang mengubah status sehingga orang-orang yang tadinya begitu gemetar dan takut akan orang Yahudi, menjadi berani bersaksi bagi Kristus?

Demikian juga banyak sikap gereja sekarang. Mengurung diri di dalam supaya aman. Memelihara diri baik-baik, supaya bisa mengadakan penginjilan di dunia. Mereka tidak sadar, ketika mereka menutup pintu melindungi diri, mereka menutup pintu penginjilan. Pintu penginjilan tidak pernah ditutup dari luar, melainkan dari dalam. Injil tidak pernah ditutup dari luar, melainkan dari dalam. Injil tidak mungkin ditutup oleh politik, diktator, komunisme, atheisme. Pintu penginjilan hanya ditutup oleh setan-setan penakut yang sedang mengganggu orang Kristen dengan semboyan “bijaksana”. Bijaksana yang sesungguhnya adalah berani mengabarkan Injil, tetapi juga teliti. Tidak sembarangan menimbulkan huru-hara yang tidak perlu, tetapi dengan hikmat menyatakan Injil. Tetapi tidak mungkin kita tidak melindungi diri, tidak mungkin kita dapat menerobos keluar. Karena kita belum diberikan kekuatan Roh Kudus, belum melihat berapa besar kebutuhan manusia. Maka kita mengunci diri dengan begitu hati-hati dan Injil tertutup di dalam. Tetapi Tuhan berkata, “My children that is not the way. That is not heavenly wisdom. I am going to give you the strength, new hope, annointment, fulfilment and the filling of the Holy Spirit.

Maka pada hari Pentakosta Roh Kudus turun. Setelah dipenuhi Roh Kudus, mereka tidak perlu terus berdoa sampai Tuhan Yesus datang kembali. Sekarang waktunya keluar untuk mengabarkan Injil karena mereka diberikan Roh yang tidak terbatas, mereka mendapatkan Penolong yang luar biasa. Mereka mendapatkan kekuatan dari atas. Bersama Tuhan maka segala sesuatu bisa kita kerjakan, tetapi tanpa Tuhan maka manusia tidak bisa berbuat apa apa. To be united with God we can do everything. But depart from the Lord we can do nothing. Yoh.15:5,

“Dengan meninggalkan Aku engkau tidak bisa berbuat apa-apa.” Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Itulah artinya Roh Kudus diberikan kepada manusia. “supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16). Inilah beda pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama Roh Kudus bekerja pada beberapa orang yang mendapatkan tugas penting dari Tuhan. Setelah selesai tugas, Roh Kudus ditarik kembali. Pada orang yang berbuat dosa, Roh Kudus akan meninggalkannya. Sehingga Daud ketakutan. Dalam Mazmur 51 ia berdoa, “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” Tetapi ketika Yesus Kristus berjanji di dalam Injil Yohanes, Ia akan berdiam dalam hatimu untuk selama-lamanya. Ini merupakan kalimat yang luarbiasa.

Saat hari Pentakosta, Roh Kudus turun, dan tidak pernah ditarik kembali.

Di mana Roh Kudus Berdiam? Di dalam gereja-Nya, yaitu orang-orang yang diperanakkan oleh Tuhan, dikuduskan, dibaptiskan menjadi orang suci. Orang yang menerima Kristus, beriman dalam Kristus, diberikan Roh Kudus yang menjadi meterai dalam dirinya untuk selama-lamanya. Barangsiapa yang sudah diperanakkan pula oleh Roh Kudus, menerima Kristus dengan sungguhsungguh, menerima Roh Kudus sekaligus. Karena Roh Kudus diberikan kepada orang yang beriman kepada Kristus untuk selama-lamanya. Kapankah Roh Kudus Bekerja? “Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran yaitu Injil keselamatan — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” (band. Efesus 4:30; Galatia 3:14; 1Yohanes 3:24). Roh yang dijanjikan turun, menjadi karunia dan sumber segala berkat, menjadi Penolong dalam hati kita dan tinggal dalam diri kita sampai selama-lamanya.

Bagi orang Kristen yang sudah diselamatkan, yang sudah menerima Roh Kudus, perlukah kita berdoa minta Roh Kudus lagi? Apa tujuan kita mengadakan persekutuan doa sepuluh malam menjelang hari Pentakosta? Bukan untuk minta Roh Kudus turun lagi melainkan minta supaya Roh Kudus terus bekerja di dalam diri orang-orang lain. Kapan Roh Kudus bekerja? Bukan hanya pada hari Pentakosta. Setelah hari Pentakosta sampai Kristus datang kembali merupakan hari-hari di mana Roh Kudus bekerja. Setiap hari adalah hari penginjilan. Setiap hari adalah hari Tuhan bekerja. Setiap hari kita berdoa agar Roh Kudus turun, padahal Roh Kudus turun untuk gereja satu kali untuk selama-lamanya. Tetapi barangsiapa menerima Yesus karena Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka dan mendapatkan pembaruan berarti Roh Kudus turun atas mereka. Sebagaimana Kristus cuma mati satu kali, tetapi waktu kita percaya, kita bersatu dalam kematian dan kebangkitan-Nya pada hari kita percaya. Demikian Roh Kudus hanya turun satu kali, tetapi kita dimasukkan dalam pembersihan itu pada hari Pentakosta pertama itu.

Ingat mulai hari ini engkau tidak sendirian, ada Roh Tuhan dalam dirimu. Ia menghibur, menolong, memberi kekuatan, mencurahkan kasih kepadamu. Pada saat engkau susah dan menderita, pada saat itu juga Roh Kudus mencurahkan cinta kasih kepadamu. Khususnya dalam kesukaran yang berat, baru betul betul engkau merasakan betapa manis dan hebat pencurahan kasih yang diberikan Roh Kudus (Rm. 5:5). Roh Kudus memberikan kekuatan dan keberanian kepada kita untuk mengabarkan Injil kepada orang lain. Dulu sungkan, malu, takut orang lain tersinggung dan marah, sekarang tidak. Ketika Roh Kudus memenuhi kita, kita penuh dengan kasih secara alamiah, dengan berani dan penuh prihatin, memberitakan Injil kepada orang lain. Janji keselamatan Allah tidak bisa dilepaskan dengan janji kedatangan Roh Kudus. Arti dibaptiskan oleh Roh Kudus adalah manusia menerima pembersihan total dan dikuduskan menjadi orang-orang suci.  Amin.

 

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Majalah Momentum No. 12 – Juni 1991

Sumber : https://www.facebook.com/notes/sola-scriptura/makna-turunnya-roh-kudus-bagi-gereja-artikel-pdt-dr-stephen-tong/378805385501254?comment_id=4292841&offset=0&total_comments=1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube