Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Yakobus 2:22-26

Minggu lalu kita sudah membahas iman tanpa perbuatan tidaklah sempurna. Di bagian ini, Yakobus menyatakan dengan jelas; kita tidak menginginkan iman dan perbuatan berjalan sendiri-sendiri, iman perlu disempurnakan lewat perbuatan, karena perbuatan adalah bukti bahwa imannya itu benar. Teologi Paulus dan teologi Yakobus tidak bertentangan, karena mereka berdua sama-sama percaya:

  1. Keselamatan hanya ada di dalam Kristus.
  2. Iman yang sejati pasti terpancar lewat kehidupannya.
  3. Sesama kita pasti membenarkan bahwa kita sudah dibenarkan oleh Tuhan. Maka Yakobus mengajak kita membuktikan iman lewat perbuatan (ay.26), membuktikan bahwa peta teladan Allah yang ada di dalam kita telah renewed through transformation. 

Kita pernah membahas, Paulus mempersonifikasikan dosa secara literatur, untuk menggambarkan keadaan kita sebelum menerima Kristus, dosa bagai satu pribadi yang menguasai kita, mengakibatkan kita melakukan dosa-dosa. Tapi setelah kita diselamatkan, kita mengalami perubahan besar: konsep kita berubah, karena kebenaran Tuhan menguduskannya. Emosi kita berubah, karena kasih Allah menguduskannya. Kehendak kita berubah, karena kita mengikuti kehendak Allah, artinya seluruh pribadi kita: keputusan kita, niat kita didasarkan atas kehendak Tuhan yang bekerja di dalam kita (Fil. 2:11).

Saat kita berbicara tentang iman, seringkali kita berhenti pada pengertian dan pengakuan rasio, itu bukan iman. Saat Indonesia mengategorikan orang yang tidak beragama sebagai komunis, pemberontak, lalu ditangkap dan dipenjarakan. Maka secara mendadak, semua pelajar di Indonesia harus menerima pendidikan agama, bahkan kalau pelajaran agamanya tidak lulus, dia harus tinggal kelas. Inikah cara terbaik untuk memaksa orang beragama? Tidak, Agama adalah agama, jikalau didasarkan atas kesadaran iman dan kerelaan dirinya: tanpa paksaan. Sebagai akibatnya: banyak murid yang mengantongi nilai tinggi untuk pelajaran agamanya, tapi sama sekali tidak beriman. Karena guru yang mengajar bukanlah orang beriman, melainkan orang yang berpengetahuan agama, sementara murid belajar agama bukan karena mau mengerti Firman melainkan karena diharuskan. Sama persis dengan dua peristiwa di sejarah:

  1. Abad ke-4, Kaisar Constantine mengumumkan dirinya percaya Yesus Kristus, agama Kristen diadopsi sebagai agama Kerajaan Romawi, orang berbondong-bondong menjadi Kristen, kekristenan bertambah pesat secara kuantitas, tapi kualitas gereja justru merosot drastis. Jadi, saat agama dianiaya, iman justru bertumbuh, tapi saat agama diberi fasilitas, hak istimewa, justru akan hancur dari dalam. Itulah sebabnya, saat orang Kristen minoritas, iman dan substansi agamanya dianiaya, kita tak perlu takut, karena Tuhan tak pernah meninggalkan anak-anakNya.
  2. George W.Hegel adalah seorang yang pikirannya begitu cemerlang, dia mengembangkan German Idealism yang dimulai dari Immanuel Kant, Fichte, Schelling sampai pada puncaknya, membahas sejarah dunia dengan tesis dilawan dengan antitesis, menghasilkan sintesis yang bisa dijadikan tesis baru untuk tahap kedua, guna memancing antitesis, melahirkan sintesis…… Begitulah spirit mutlak (istilah yang dia pakai untuk menggantikan Allah di dalam agama) di dalam alam, yang mendorong terjadinya evolusi secara ide bukan secara biologis. Pada saat Kaisar mengharuskan semua sekolah di Jerman mengajarkan Heigelisme, dari mana sekolah mendapatkan guru yang bisa mengajar Heigelisme? Setiap orang membaca dan mengajar dengan sembarangan, akibatnya Hegelianisme hancur dalam satu generasi.

Peristiwa di sejarah itu memberi pengajaran penting pada kita, agama tidak bisa dipaksa, perlu diberi pengertian sampai seseorang sadar, berinisiatif untuk bertumbuh. Apa hubungan iman dengan kelakuan? Jika kau punya iman yang sejati, tentu kau akan mewujudkannya dalam kelakuanmu. Kapan kita tahu iman seseorang sejati atau tidak? Saat dia dituntut untuk melakukan apa yang dia imani. Maka kelakuan adalah batu penguji yang paling bisa dipercaya. Di dalam hal iman, kaum Injili hanya mengenal dua hal: trust, obey –trust pada Allah, obey menyatakan dirinya sungguh-sungguh beriman. Tapi apakah cukup hanya trust and obey saja? Tidak! Itu sebabnya, teologi Reformed menekankan: Firman, Iman berasal dari mana? Firman. Apa yang kita pakai sebagai petunjuk kelakuan? Firman. Jadi, mengerti Firman adalah dasar kita beriman dan berkelakuan. Maka bagi saya, iman adalah trust, understand and obey. Paulus berkata, I know whom I believe. Yesus berkata, Aku akan pergi, dan Roh Kudus akan turun. Roh Kudus akan mengingatkanmu akan apa yang pernah Kukatakan kepadamu, karena Dia adalah Spirit of the Truth. Roh kebenaran akan mencerahkan pikiran kita, membimbing kita mengerti kebenaran. Itu sebabnya, GRII menekankan Firman dan Firman. Karena mengerti Firman adalah dasar iman dan perbuatan kita. Kelemahannya, kita lebih banyak tahu ketimbang melakukan. Karena mentransfer pengetahuan mudah, tapi melaksanakannya susah luar biasa. Apakah Abraham itu bapak iman kita? Ya. Tapi mengapa tidak ada orang yang sejak awal siap patuh pada Tuhan, saat Tuhan memberinya perintah: tinggalkan rumahmu, bangsamu, pergi ke tempat yang untuk sementara tidak Kuberitahukan padamu. Pimpinan Tuhan selalu membiarkan unknown future untuk menguji iman kita. Kemarin saya mengatakan kepada para hamba Tuhan dan majelis, jangan over-confidence! Karena over-confidence, mengakibatkan miss-calculate, miss-estimate, miss-locate…. Semua hal yang salah. Karena saat kita melayani Tuhan, Dia selalu menyimpan sebagian, tidak memberitahu kita semuanya. Dia tidak memberitahu Paulus, Abraham,…. Nasib mereka akan seperti apa, hanya memberikan janjiNya di dalam Kristus, kelak akan bersama denganNya di sorga. Setelah Abraham mendengar perintah Allah, dia segera meninggalkan rumahnya, sanak keluarganya dan mengikut Tuhan. Padahal menurut penelitian arkeolog, rumah orang-orang kaya di Ur, paling sedikit mempunyai 65 buah kamar. Tapi Abraham, sejak meninggalkan Ur pada waktu dia berusia 75 tahun sampai dia mati pada usia 175 tahun, selama 100 tahun, dia tidak tinggal di rumah melainkan tinggal di tenda. Itulah iman, iman dinyatakan lewat ketaatan, kelakuan yang nyata.

Selama perjalanan pelayanan saya, berkali-kali saya menemui kesulitan, tapi saat pimpinan Tuhan begitu jelas, maka saya melangkah. Waktu saya tahu pimpinan Tuhan untuk memulai gerakan Reformed dari nol di zaman ini. Karena ajaran kekristenan sudah dibuat simpang siur begitu rupa oleh orang-orang yang mengaku hamba Tuhan, mengacaukan pikiran anak-anak Tuhan, sayapun memulainya dari nol, tidak ada yang membiayai hidup saya, saya harus pindah dari Malang ke Jakarta. Apakah saya punya rumah di Jakarta? Tidak! Apa yang saya miliki? Iman, mengerti dan ketaatan; iman dinyatakan dalam perbuatan. Apakah gampang untuk mengikuti pemimpin seperti ini? Tidak gampang. Di bagian ini, Yakobus tidak mengambil puluhan contoh dari Perjanjian Lama, dia hanya mengambil dua contoh: Abraham yang begitu luhur, terhormat dan Rahab, pelacur yang begitu hina. Dia menyejajarkan Abraham dan Rahab, aneh bukan?

Banyak orang Kristen mengerti sifat manusia hanya dari lahiriahnya, keberhasilannya, tapi Alkitab mencatat, Abraham diperbolehkan menjadi nenek moyang Yesus, Rahab juga diperbolehkan menjadi nenek moyang Yesus. Jadi, jangan bawa latar belakangmu masuk ke gereja, apalagi ingin menjadi boss disana. Karena prinsip Alkitab begitu jelas, bukan soal kaya, miskin, berpangkat tinggi… mereka diterima, karena Yesus mati bagi mereka, Amin? Maka orang kaya jangan sombong, orang yang miskin jangan minder, sebaliknya orang yang miskin jangan sombong, orang kaya juga jangan minder. Mana ada orang kaya yang minder? Ada, mereka dibuat minder oleh orang miskin yang galak. Karena bukan semua orang miskin minder, rendah hati, ada orang miskin yang galak luar biasa. Tidak semua orang kaya sombong. Maka Alkitab tidak membela siapa-siapa, kalau membela, adalah karena kebenaran bukan karena miskin. Ada sebagian orang yang menjadi miskin karena malas, ada sebagian orang menjadi kaya karena bermain curang. Tuhan tidak membedakan anak-anakNya berdasarkan status sosialnya, kita juga tidak boleh saling menghina, membenci, iri atau dengki.

Pada umumnya, kita merasa senang, kalau anak kita mendapatkan jodoh dari keluarga yang baik, tapi Tuhan memperbolehkan Boas menikahi Rut yang berasal dari suku Moab (suku yang dikutuk sampai 10 generasi tidak boleh masuk ke bait Allah), Rut menjadi salah seorang perempuan yang paling baik di sepanjang sejarah. Yakobus mengambil Abraham yang paling hormat, paling kesohor, dan Rut yang paling dihina, dikutuk oleh masyarakat sebagai contoh dari orang beriman yang berkelakuan baik. Kapan Abraham menyatakan ketaatanNya? Saat dia dipanggil, dan dia mempersembahkan anak tunggalNya. Beriman di mulut itu gampang sekali, tapi waktu mau menjalankan susah sekali. “Kau beriman? Sembelih dan korbankan anakmu dengan tanganmu sendiri” Pada saat Abraham menghunus pisau mau membunuh anaknya. Tuhan berkata, stop. Aku sudah melihat imanmu, menyediakan domba untuk menggantikan anakmu. Seseorang suka menyambut saya tinggal di rumahnya, tapi saat Tuhan memanggil anaknya menjadi hamba Tuhan, dia marah. Itu membuktikan hormatnya pada hamba Tuhan punya motivasi lain. Akhirnya terbukti, orang memberitahu saya, dia suka menyambutmu tinggal di rumahnya, karena dia percaya tahayul, kalau hamba Tuhan tinggal di rumahnya, dia bisa lebih cepat kaya. Tidak demikian dengan Abraham, dia betul-betul jujur, what he believed he did it. Bagaimana dengan Rahab yang adalah pelacur? Kita tak boleh sembarangan menghina pelacur, ada pelacur yang jahat, ada juga yang bertobat. Setelah dia bertobat, kerohaniannya mungkin lebih baik dari orang Kristen biasa, karena dia pernah tahu apa itu dosa. Menurut legenda, salah seorang dari kedua pengintai yang ditolong oleh Rahab itu menikah dengan Rahab, melahirkan keturunan, keturunan…..menjadi leluhur Yesus Kristus. Rahab adalah seorang yang beriman, dia melacur tapi dia tahu dunia sudah begitu bobrok, tapi Tuhan mengangkat dia menjadi nenek moyang Yesus Kristus. Karena apa? Dia beriman. Dan iman perlu membayar harga: dia beriman pada Tuhan lewat berita yang disampaikan oleh kedua pengintai itu, maka stop dari ikut binasa bersama dengan bangsanya, percaya adanya keselamatan. Dia membuktikan imannya dengan menolong dua pengintai yang dikejar oleh bangsanya; membuktikan imannya dengan kelakuan. Maka kata Yakobus: iman tanpa kelakuan mati adanya. Kelakuan bukan menunggu segalanya sudah beres, melainkan harus taat, berani jump or leap into the vacuum, emptiness, karena percaya, tangan yang tak nampak menanti kita di sana.

Filsafat Kierkegaard menyebutnya sebagai leap of faith, saya mengartikannya sebagai action of obedience, jump into emptiness. Contoh: kalau kau bersepeda di atas balok dari sebuah rumah yang runcing, kau tidak punya pilihan lain; hanya bisa maju dengan penuh konsentrasi, memegang sepeda itu erat-erat, agar tidak goyah ke kanan atau kekiri, sampai di satu titik puncak atap itu kau harus berhenti, selanjutnya kemana? Itulah yang disebut lompatan iman. Saat Tuhan membuat kau berada di dalam situasi seperti itu, kau tidak punya pilihan lain, upayamu, akalmu sudah habis, bahkan kau sudah berada di Omega point; titik akhir yang begitu terbatas. Kata Tuhan, maju! Itu artinya: terjun, menyatakan: membuktikan iman dengan kelakuan. Meski waktu kau terjun, mungkin kau sempat pikir, atap ini tinggi sekali, tubuhku pasti akan hancur berkeping-keping. Nyatanya justru di saat seperti ini, tangan Tuhan menopangmu. Memang tidak gampang, kadang Tuhan membiarkanmu mengarah pada titik akhr dari keterbatasanmu, kau tak punya kemungkinan mendapat pertolongan dari sumber manapun, kecuali kau berkata Tuhan aku menyerah. Maka di antara kelakuan itu butuh pengertian I know whom I believe. Itulah kesamaan antara Rahab dan Abraham. Maka marilah kita bukan melihat latar belakang dan status masyarakat Rahab, melainkan melihat imannya: pada waktu orang Israel mengelilingi kota Yeriko satu kali, dua kali,….. tujuh kali, dan semua sangkakala ditiup, saat itu Rahab tahu, dunia akan hancur, tapi aku bukan milik dunia, aku milik Yehovah, sang Penebus orang Israel. Dia beriman, dan dia menggantung benang merah, tapi dia tidak pergi, tidak lari, dia menunggu di sana, dia taat. Sementara Abraham, persis terbalik: dia taat untuk tinggalkan tempat asalnya. Cara Tuhan memimpin mereka memang berbeda, tapi substansi iman mereka sama: taat. Maka saat seluruh kota Yeriko runtuh, Tuhan memelihara rumah Rahab tidak runtuh. Sebagaimana tubuh tanpa jiwa mati adanya, iman tanpa kelakuan juga mati adanya. Mari kita berdoa untuk semua kesulitan yang Tuhan ijinkan kita hadapi, kita belajar taat padaNya.

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah–EL)

 

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2005_02_06_archive.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterreddit