Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Yakobus 2: 15-20

Mungkinkah orang beriman, tapi tidak berkelakuan, mungkinkah orang berkelakuan tapi tidak beriman? Di dalam hidup sehari-hari, kita menemukan orang yang mengaku dirinya beriman, tapi kelakuannya tidak berbeda dengan orang yang tidak beriman. Sebaliknya, orang yang kelakuannya amat baik, tidak merasa perlu percaya Tuhan. Salah seorang yang sangat unggul dan sangat sukses di dunia modern ini, Lee Kuan Yew pernah berkata: I never understand why we need the One who sit there to take care of us, maksudnya, manusia bisa menyelesaikan segala kesulitannya tak perlu beriman pada Tuhan. Memang dia adalah salah seorang politikus yang paling sukses di paruh abad ini, negara yang dipimpinnya tak perlu punya iman, meski lebih kecil dari kota Jakarta namun berhasil menjadi negara yang sangat kuat di Asia Tenggara, negara-negara sekitar yang begitu besar, begitu banyak populasinya tak berani mengganggu gugat. Sementara negara yang mengklaim dirinya beragama, saat melakukan korupsi, membunuh, menganiaya orang, tidak menunjukkan takutnya pada Tuhan, setelah itu mereka bisa dengan tenangnya masuk ke tempat ibadah, menyebut nama Allah dengan sembrono.

Mana yang lebih baik: beriman tapi tidak berkelakuan atau berkelakuan tapi tidak beriman? Dari zaman dulu sampai sekarang, manusia selalu terjepit dalam dua hal ini. Mengapa iman tidak diimplikasikan ke dalam kelakuan sehari-hari, sementara orang yang berkelakuan baik lewat pemahaman etikanya tak beriman pada Tuhan? Mari kita merenungkan hal ini secara serius, bahkan kalau mungkin secara tuntas.

Tanpa iman, tak seorangpun bisa diperkenan Tuhan (Ibr 11:6) –definisi iman yang sangat penting. Karena perbuatan yang terbaik dari manusia, di hadapan Allah yang mutlak sempurna, hanya seperti pakaian yang compang camping, kataNya, tidak ada yang mengerti kebenaran, seorangpun tidak, tidak ada yang mencari Tuhan, seorangpun tidak. Statemen itu muncul dua kali di Mazmur, satu kali di surat Roma. Tak ada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, takut pada Tuhan, berbuat baik, menjalankan kebenaran. Yang ada hanyalah yang mencari berkat Tuhan, keuntungan diri, melakukan kebajikan hanya untuk menimbun jasa, membanggakan diri. Allah melihat sampai ke hati sanubari manusia sedalam-dalamnya, tahu motivasi keturunan Adam adalah egois, maka kataNya: sekalian orang telah berbuat dosa. Statemen itu ternyata membuat banyak orang beragama berpikir, kalau semua orang berdosa, tak mungkin berkenan pada Allah, mari kita melakukan dosa sesuka hati.

Itu sebabnya, Tuhan memberikan surat Yakobus, guna mengimbangi pikiran yang tidak bertanggung jawab itu. Perlukah kita beriman? Perlu! Karena iman adalah dasar kita belajar berkelakuan baik. Tapi kelakuan tak bisa diperhitungkan sebagai jasa dan menukarnya dengan keselamatan. Bible leaves no room for human merit in obtaining salvation, karena keselamatan diberi berdasarkan sola gratia (only by grace). Jadi, iman dan kelakuan adalah satu kesatuan yang tidak boleh di-disintegrasikan, dipisahkan, bahkan harus dipelihara keseimbangannya, sama seperti kepala tak bisa hidup tanpa tubuh, tubuh juga tidak bisa dipisahkan dari kepala. Orang Kristen sejati mengutamakan hidup baru yang Tuhan beri, menampilkannya lewat kelakuan sehari-hari. Kata Yakobus, apa gunanya kalau seorang berkata pada seorang yang tak punya makanan, tak punya pakaian: ini adalah musim dingin, jangan mengenakan pakaian yang tipis, jangan kurang makan, agar kau tidak mati kedinginan? Karena yang dibutuhkan orang itu bukan anjuran, penghiburan, tapi pemberian yang konkrit.

Manusia punya kebutuhan rohani, juga kebutuhan tubuh. Itu sebabnya masyarakat perlu menangani masalah diakonia. GRII memang sengaja meletakkan diakonia di urutan akhir, tidak boleh dibalik. Gereja disebut gereja, karena gereja adalah tempat orang beriman berkumpul, jadi perlu pembenahan iman, gereja adalah satu komunitas yang mempraktikkan kasih, jadi harus ada persekutuan. Gereja adalah saksi Tuhan di dunia, jadi harus melakukan penginjilan. Gereja adalah tempat di mana anak-anak Tuhan peduli pada dunia, jadi harus melakukan diakonia. Urutan mana yang duluan, mana yang belakangan, harus dilakukan seturut signifikansi masing-masing seperti yang diajarkan Alkitab. Itu sebabnya, GRII memakai waktu yang lama untuk menggarap doktrin, bersekutu, mengabarkan Injil dan baru mengerjakan diakonia. Sebagaimana tubuh kita, kaki harus taat pada kepala, tidak mungkin kepala yang taat pada kaki. Menandakan urutan dan posisi adalah dua hal yang berbeda; urutan Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus, tidak bisa dibalik menjadi Allah Roh Kudus, Allah Putera, Allah Bapa. Hanya Allah Bapa bersama Allah Putera mengutus Allah Roh Kudus, tak pernah ada Roh Kudus atau Allah Putera mengutus Allah Bapa. Meski status mereka sama, urutannya tetap berbeda.

Jadi, mana yang duluan: iman, kelakuan: atau hidup baru? Dengan iman, kita datang pada Tuhan, kita menerima anugerah, kita diberi hidup baru yang menjadi pangkalan kita membuahkan perbuatan baik. Jadi, iman mendahului kelakuan, namun iman dan perbuatan harus sinkron. Kalau seseorang hanya beriman tapi tidak berkelakuan. Itu tandanya imannya palsu, mati. Karena iman dan kelakuan harus nyata sebagai satu kesaksian yang utuh: di dalam diri kita ada iman, di luar diri kita ada kelakuan. Iman adalah fondasi, kelakuan adalah buah. Waktu sebatang pohon berbuah, menandakan pohon itu masih hidup. Kalau anda naik eskalator di hotel Grand Hyatt, kau akan melihat dua batang pohon yang bagus sekali. Perhatikan: pohonnya asli tapi daunnya palsu. Indahkah pohon itu? Indah. Apakah pohon itu cukup berseni? Ya. Tapi ada satu hal: tak mungkin berbuah.

Waktu saya membeli rumah, di halaman belakang rumah saya terdapat sebatang pohon mangga, di tahun-tahun pertama dia tak menghasilkan buah, sampai tahun ke 4, mulai menghasilkan mangga yang kecil dan masam. Tapi sekarang, setelah hampir 20 tahun, mangga yang dihasilkan pohon itu manis luar biasa. Itulah sola gratia. Maka pohon yang hidup adalah pohon yang berbuah, sementara pohon yang sudah mati tak bisa berbuah.Maka buah adalah tanda:

  1. hidup. Kalau kau berbuah, kau adalah orang Kristen yang hidup. Karena jika di dalam dirimu tidak ada hidup, tidak akan menghasilkan buah yang nampak dari luar. Seperti dikatakan disini; iman tanpa kelakuan mati adanya.
  2. jenis pohon yang ditanam, pohon mangga tak mungkin berbuahkan semangka, pohon pepaya tak mungkin berbuah durian. Buah durian keluar dari pohon durian, buah mangga keluar dari pohon mangga. Inilah dalil yang tidak berubah.
  3. bukti dari kualitas hidupnya. Hidup yang berlimpah, dibuktikan dari banyaknya buah yang dia hasilkan, dan rasa buahnyapun manis. Yesus berkata: Anak Manusia datang untuk memberi hidup bahkan hidup yang berkelimpahan (Yoh. 10:10). Hidup yang berkelimpahan itu hidup, hidup yang miskin juga hidup bukan? Apa bedanya? Yang saya maksudkan tentu bukan soal uang, melainkan soal kaya iman atau miskin iman, kaya kasih atau miskin kasih, kaya pengertiannya akan kebenaran atau miskin pengertiannya akan kebenaran, kaya pengharapan atau miskin pengharapan.

Apa pengertianmu terhadap kebenaran begitu miskin, sampai tidak mengerti hal-hal penting di Alkitab. Apa imanmu begitu miskin, hingga kau selalu merasa takut. Karena dimana ada iman, disitu tidak ada ketakutan. Dimana ada iman, disitu kau melihat kemungkinan-kemungkinan yang masih berupa potensi; masih tersembunyi. Dimana ada iman, disitu kita melihat Allah yang berjanji adalah Allah yang tidak pernah berbohong, yang pasti akan menepati janjiNya. Iman yang berlimpah berasal darimana? Terus mendengar, mengerti, menerima dan melaksanakan Firman. Semua pengharapan, janji, tersimpan dalam Firman, maka lewat Firman dan janji yang Dia berikan, kita menikmati Tuhan. Apa tujuan utama dari hidup manusia? Filsuf-filsuf sepanjang sejarah memberikan tekanan-tekanan yang berbeda, namun Reformed Theology memberitahu kita: tujuan utama dari hidup manusia adalah : to glorify God and to enjoy Him, jadi ada dua aspek: to glorify God and to enjoy Him. Siapa yang merasa menikmati Tuhan dalam hidupnya, coba acungkan tangan. Sedikit sekali: mungkin hanya 1%. Padahal kalau kau ditanya, adakah kau menikmati kotbah yang kau dengar, menikmati saat memuji Tuhan? Kau tentu akan jawab: Ya. Itulah to enjoy God.

Allah adalah sumber kekayaan dari rohani kita, sumber kebenaran bahkan dirinya kebenaran. Pada waktu saya mendengar kebenaran; Firman Tuhan, mengerti adanya pengharapan, saya merasa senang. Itu juga termasuk menikmati Tuhan –menganggap beriman pada Tuhan, menerima janjiNya, karuniaNya adalah satu kebahagiaan. Bukan saja demikian, setiap saat kita menghirup udara, siapa sih yang menyaring oksigen? Tuhan. Jadi, we are enjoying God every minutes, every second, every moment, Amin? Puji Tuhan, semua binatang yang bersayap, tubuhnya kecil; nyamuk, lalat, burung,….. Tapi semua binatang yang bertubuh besar: gajah, sapi….. Tidak bersayap. Kalau tidak setiap hari kita hanya direpotkan saat mengganti genteng rumah kita. Saya yakin, kalau kau tidak pernah bersyukur untuk hal-hal seperti itu bukan? Padahal, ada begitu banyak perkara indah yang perlu kita syukuri.

Maka kunci dari menikmati atau tidak menikmati Tuhan: adakah kau menghargai anugerah yang Tuhan berikan padamu. To enjoy God and to glorify God akan membuat hidup kita seimbang, penuh dengan sukacita. Biarlah kita yang sudah mengenal Tuhan, menikmati diriNya, iman menyatukan kita dengan Tuhan, membuat kita bisa selalu menikmati Tuhan, dan rohani kitapun berlimpah, bahkan, sampai luber, menjadi berkat bagi orang. Mengapa ada orang yang pernah miskin lebih mudah memahami orang miskin? Karena dia pernah mengalami. Maka ada kalanya Tuhan mengizinkan kita, mengalami kesusahan, untuk mengingatkan kita, hidup kita bukan laut mati, harus menjadi berkat bagi orang. Ada 2 macam orang melayani Tuhan: karena penuh dan meluber keluar atau karena bocor. Saya bersyukur pada Tuhan, karena tahun ini pengunjung mimbar ekspositori baik di Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong maupun Taiwan terus bertambah, padahal mimbar ini memasuki tahun yang ke-6, karena saya bukan membor di bawah, melainkan penuh dari atas, terus merenungkan Firman Tuhan, terus diisi, enjoy God, lalu the abandonness of life mengalir, menjadi berkat bagi orang.

Kiranya Tuhan menjadikan hidup kita hidup yang berkelimpahan, bisa terus menerus menjadi berkat bagi orang, bukan hidup yang miskin, hanya mengisi kebutuhan diri saja. Iman dan kelakuan adalah satu kesatuan, iman itu internal, menyangkut hidup kita, kelakuan itu eksternal, menyangkut kehidupan kita di luar.Ay.18, Paulus menuliskan di surat Korintus, kita bukan hidup berdasarkan hal yang nampak, melainkan iman yang invisible(tidak nampak). Tapi Yakobus, sengaja mengkonfrontasikan keduanya, imanmu yang tidak kulihat dan kelakuanku yang bisa kau lihat. Apa maksudnya? Allah tahu akan imanmu yang tak dilihat orang, tapi manusia tak mungkin melihat imanmu yang tak nampak, maka kita tidak bisa hanya hidup dengan iman, tidak menyatakan lewat kelakuan. Karena kelakuan yang didasari iman itu hidup adanya, tapi iman yang tidak membuahkan kelakuan itu mati adanya –konklusi Yakobus.

Kiranya Tuhan memberi kita kekuatan, agar komunitas menyaksikan hidup kita: orang-orang yang beriman adalah hidup yang berbuah. Yakobus menyambungnya dengan sesuatu yang tak pernah muncul di bagian lain di Kitab Suci: kau percaya Allah itu satu (istilah teologisnya: monoteisme)? Percayamu itu betul. Lalu Yakobus mulai menyindir: iman monoteismu tidak menjamin kau memiliki hidup baru. Karena setan-setanpun percaya Allah ada. Inilah satu-satunya ayat yang memberitahu kita, setan bukan ateis, dia membuat teori ateis hanya untuk membodohi, menipu manusia. Sebenarnya setan bukan Ateis, Panteis, melainkan Monoteis, maksudnya: setan punya doktrin yang benar: percaya Allah itu esa. Kalau begitu, apa bedanya kita dengan setan? Kita berkata: aku menikmati Allah, tapi setan berkata: aku gentar padaNya. Mengapa? Karena iman setan adalah: faith without grace, faith without salvation, faith without promise, iman setan iman setan hanya berhenti pada pengetahuan kognitif, sementara iman Kristen yang sejati, seperti yang dilukiskan Martin Luther: faith is the acceptance of acceptance, aku menerima fakta, bahwa Allah sudah menerimaku. Mengapa Tuhan menerimaku, apakah karena aku baik? Tidak, aku tidak cukup baik, aku najis, tak mungkin masuk sorga, tapi kata Tuhan: aku menerimamu. Mengapa Tuhan menerima? Karena Tuhan mencintaimu, telah mengikat janji denganmu. AnakNya Yesus Kristus telah mati bagiku. Jadi, bukan berdasarkan kelayakanku, melainkan berdasarkan anugerahNya dan janjiNya. Itulah bagian yang tidak setan miliki, maka jangan kau mempersamakan dirimu dengan setan atau dengan mereka yang tidak berbagian di dalam janji dan anugerahNya. Karena Tuhan sudah berjanji, janji itu adalah mutlak setia, jujur, kekal, tidak berubah sampai selama-lamanya, keempat hal yang bisa kita pegang dengan teguh. Karena setiap orang yang beriman disebut sebagai anak-anak Abraham yang beroleh anugerahNya; hidup baru dan yang menyatakan hidup baru itu dalam perbuatan bajik, membagi-bagikan anugerah yang kita nikmati pada orang. Puji Tuhan! Kita hidup di dalam kemenangan, keperkasaan, pengharapan, dinamika yang tidak bisa digoncang oleh siapapun, Amin? Karena kita adalah anak-anak Allah, kita memperoleh janji yang akan Dia genapkan pada hari Kristus datang kembali.

Baca 2:14-20.

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah–EL)

Ringkasan khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2005_01_23_archive.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterreddit