Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Melalui Natal ini, kita sekali lagi diingatkan kalau Tuhan menyatakan bahwa hanya cinta kasih yang kekallah yang boleh mengalahkan segala kelalaian, kebencian, kesalahan, perbuatan dosa, dan segala permusuhan di dalam dunia ini.

Kita bersyukur, berterima kasih karena Tuhan senantiasa membuka kedua tangan dengan lebar untuk menyambut manusia kembali kepada Tuhan. Tuhan telah mempersiapkan keselamatan, pengampunan dan segala anugerah untuk membawa manusia kembali kepada Tuhan.

Pada malam ini sekali lagi kita datang kepada Tuhan dengan segala kerendahan hati dan kerinduan jiwa, berkata kepada Tuhan, “Kiranya cinta kasih-Mu menghantar kami kembali kepada Tuhan dan kebenaran- Nya.”

Damai di Bumi – Pdt. Dr. Stephen Tong

Dua ribu empat ratus (2400) lebih tahun yang lalu, seorang filsuf yang bernama Empedokles (492-432 SM) mengatakan: “Di dalam seluruh alam semesta, hanya ada dua kekuatan: kekuatan yang mempersatukan dan kekuatan yang memisahkan.” Apakah kekuatan yang mempersatukan itu? Itu adalah kekuatan cinta kasih. Dan apakah kekuatan yang memisahkan, yang menceraikan, yang memecahkan? Itu adalah kebencian. Melalui pertemuan yang akhirnya mempersatukan, manusia menikmati cinta yang sejati. Melalui perceraian yang memecahbelah manusia, manusia terkutuk di dalam kebencian. Namun demikian, filsuf-filsuf yang tertinggi di dalam dunia belum pernah memberikan jawaban atas pertanyaan: Dari manakah cinta yang sesungguhnya itu dan bagaimana kita dapat mengalahkan kebencian?

Malam natal ini kita boleh berkumpul bersama dan mendengarkan suatu khotbah yang bertema: ‘Damai di Bumi’. Namun khususnya pada akhir tahun 2001 ini, beribu-ribu orang, berjuta-juta jiwa manusia tidak bisa mengalami perdamaian. Betapa besar pengharapan kita agar damai segera tiba. Pada waktu kita membicarakan kalimat ini: ‘Damai di Bumi’, kita melihat di bumi Indonesia pun tetap ada daerah-daerah yang tidak ada perdamaian: manusia dipaksa untuk disunat, orang Kristen dikepung, jalan-jalan keluar kota ditutup, gereja dibakar, kebencian masih melanda di sana-sini. Di Afganistan banyak orang tidak bersalah terkena bom, hanya karena seorang yang berani membunuh orang lain tetapi tidak berani menyatakan: saya harus mati, jangan orang lain yang mati. Pemerintah Taliban bukan pemerintah yang mencintai rakyat. Dia lebih mencintai seorang pemimpin pembunuh dan membiarkan rakyat dibunuh lebih banyak.

Mungkinkah di dunia ini ada damai? Adakah damai sejahtera yang sesungguhnya? Mungkinkah ada cinta kasih yang mempersatukan manusia kembali dari cerai-berai, pecah-belah dan segala macam kebencian yang sudah melanda seluruh kebudayaan dan seluruh tanah di dunia ini?

Dari dahulu terkenal ada empat (4) hal yang membuat kita berperang: pertama kuasa, kedua harta, ketiga perempuan dan keempat agama. Empat hal ini menjadi sumber, menjadi sesuatu penyebab dimana manusia merebut, manusia tidak lagi mengindahkan sesama, tidak lagi memperdulikan hidup dan bahagia orang lain. Asal saya bisa mendapat uang, saya akan membunuh habis, saya akan menghancurkan semua kompetitor saya. Jikalau saya bisa mendapatkan kuasa, saya akan menghancurkan, meremukkan semua orang yang bersaing dengan saya. Jikalau saya bisa mendapatkan perempuan yang saya mau, saya akan bunuh orang lain yang menginginkan dia juga. Dan jikalau saya memutlakkan agama saya, biar saya membunuh semua orang beragama yang lain, sehingga agama saya menjadi agama satu-satunya di dunia.

Apakah hal-hal ini kehendak Tuhan? Apakah benar kita harus berperang? Apakah harta atau wanita (nafsu) atau kuasa atau agama itu memang patut menjadi penyebab kita berperang satu dengan yang lain? Saya kira tidak demikian.

Pada waktu Yesus lahir di dalam palungan, malam itu malaikat menyatakan diri kepada penggembala-penggembala yang berada di padang, di tengah-tengah malam yang sejuk, mungkin dingin. Malaikat itu memberikan cahaya, memberikan kehangatan, dan berkata, “Jangan takut karena hari ini diberitakan kepada engkau kabar kesukaan yang bersangkut-paut dengan segala bangsa” (terjemahan sendiri, Lukas 2:11). The good news for all nations. Not only good news for this city, this town, this small place, this province of this country, but good news for all nations! Ada kabar berita yang baik untuk segala bangsa, untuk seluruh umat di dalam dunia!

Barangsiapa mementingkan diri sendiri, mementingkan sekelompok minoritas, orang itu tidak mungkin menjadi berkat bagi umat manusia. Barangsiapa mempunyai pikiran, sampai besarnya mencakup seluruh umat seluruh dunia, orang itu mempunyai jiwa yang sangat dekat dengan Tuhan.

Karena dari Tuhan, dari tempat yang tertinggi, dikirim malaikat yang mengatakan kalimat ini: ‘Kabar kesukaan adalah kabar yang bersangkutpaut dengan segala bangsa’. Mari kita berdoa untuk Bangsa Indonesia. Bukan hanya untuk Bangsa Indonesia saja, tapi juga untuk Bangsa Filipina, Bangsa Malaysia, Bangsa Thailand, Bangsa Birma, Bangsa Tiongkok, Bangsa Amerika, Bangsa Afrika, Amerika Selatan, Argentina dan semua bangsa! Karena seluruh umat manusia diciptakan oleh satu Tuhan saja. Seluruh bangsa berasal dari satu Tuhan saja.

Di dalam Kisah Para Rasul 17:26, dikatakan: ‘Dari satu sumber saja, Dia menciptakan segala bangsa – From one origin, He created all races…‘ Allah adalah Allah dari orang Yahudi, Allah orang Yunani, Allah dari orang kafir, Allah dari orang percaya, Allah dari orang atheis, Allah dari orang komunis, Allah dari orang yang beragama, Allah dari orang yang tidak beragama – sebab semua bangsa, seluruh umat manusia diciptakan hanya dari satu sumber. Dan Tuhan dengan sabar menanti, menunggu orang-orang atheis, orang yang melawan Dia, orang yang tidak beragama dan orang beragama yang jatuh ke dalam dosa, kembali kepada Dia.

Malaikat berkata: ‘Inilah suatu berita kabar baik untuk segala bangsa’. Lalu diberikan dua kalimat yang indah mengenai suatu relasi vertikal antara surga dan bumi: ‘Di tempat yang mahatinggi, kemuliaan bagi Allah; di bumi, damai bagi orang yang diperkenan oleh-Nya. (Lukas 2:14). Di sini kita melihat kabar kesukaan ini mengarah kepada dua kutub. Yang tertinggi, di surga, Tuhan mendapatkan kemuliaan. Dan yang paling  rendah, manusia yang begitu berdosa, yang begitu najis, diberi perdamaian dan kita boleh hidup berkenan kepada Dia.

Apakah peperangan itu perlu? Apakah damai itu mutlak? Tiga minggu yang lalu, saya beserta seorang pemimpin Budhisme yang tertinggi di Malaysia berdiri, duduk dan berpidato bersama-sama di suatu aula hotel berbintang 5 yang terkenal. Kapasitas 1.500 tempat duduk ternyata tidak cukup, karena yang hadir 2.600 orang. Aula itu begitu penuh sesak, sampai yang hadir duduk berjejal-jejal di atas karpet dan ada yang naik ke atas mimbar. Saya berpidato mewakili Kristen, apakah tanggapan agama Kristen tentang perang. Dia berpidato mewakili Budhisme, agama Budha, apakah pandangan agama Budha tentang perang. Kalimat-kalimat yang keluar darinya semua bagus. Dia mengatakan bahwa dengan kekerasan melawan kekerasan, kekerasan itu tidak mungkin lenyap dari bumi. Itulah kalimat dari Budha, kalimat dari Sakyamuni, kalimat dari pemimpin agama yang besar itu. Setelah setengah jam dia berceramah, maka tibalah giliran saya.

Saya berkata bahwa semua kebudayaan yang agung, kebudayaan yang tinggi pasti mencintai perdamaian. Demikian agama yang benar, pasti mencintai perdamaian. Lalu saya mengkutip dari Kong Fu Tse yang mengatakan: Kalau orang itu baik kepadamu, jangan lupa baik kepada orang itu juga. Tetapi kalau ditanya: Bagaimana kalau orang tidak baik kepada saya? Jawabnya: saya harus tegas, lurus, jujur; Bukan balik kepada dia, tetapi tegas menyatakan pendirian saya. Kong Fu Tze tidak mengajarkan balas dendam. Kong Fu Tse hanya mengajarkan: jujur, tegas, tegakkan pendirianmu, tidak berubah, engkau tetap jalankan apa yang harus dijalankan meskipun tidak disetujui oleh orang lain.

Saya mengutip orang kedua, yaitu Lao Tze. Lao Tze mempunyai pikiran lebih tinggi daripada Konfusius di dalam hal ini, karena dia mengatakan: Orang yang jahat kepada kamu, perbuatlah hal yang baik kepada dia. Kalau dia tidak baik kepada engkau, engkau jangan tidak baik kepada dia. Kalau dia tidak baik kepada engkau, biarlah engkau baik kepada dia.

Mungkin engkau akan merubah hidupnya. Tetapi ini masih kurang! Saya mengutip lagi kalimat yang dikutip oleh biksu pemimpin itu: Memang dengan kekerasan tidak bisa menghentikan kekerasan, karena kekerasan tidak mungkin dimusnahkan melalui kekerasan. Tetapi tidak ada yang lebih dalam dari ajaran Tuhan Yesus yang mengatakan: Cintailah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu (Matius 5:44). Cintai musuh? Berdoa bagi orang yang menganiaya? Ini bukan teori! Ini sesuatu pengorbanan yang sulit dilakukan oleh siapapun yang pernah dilahirkan oleh wanita.

Di Jawa Timur, pada waktu ada suatu gereja dibakar, orang-orang jahat itu sengaja menutup semua pintu karena mereka tahu pendeta masih berada di dalam. Supaya pendeta itu tidak bisa keluar, pintu dikunci dengan kuat dari luar, tidak mungkin dia bisa keluar. Setelah itu, mereka baru membakar gereja itu. Seluruh gereja hangus. Hari kedua setelah pembakaran itu, mereka mulai masuk, mencari apakah masih ada yang belum terbakar. Mereka menemukan pendeta itu dalam sikap sedang berlutut, sedang berdoa. Pendeta itu dibakar sampai mati hangus, sikapnya masih berdoa. Mulai hari itu, banyak orang yang membakar gereja menegur hati sendiri, sedih, mengapa ada orang seperti ini.

Saya membenci dia, namun dia mendoakan saya. Saya membakar dia, namun dia masih mencintai saya. Mereka berubah agama menjadi orang Kristen. Bolehkah ada perang? Perlukah ada perang? Apakah permusuhan tidak bisa dihindarkan? Jawabnya adalah permusuhan memang tidak bisa dihindarkan. Engkau bilang baru saya khotbah begitu indah, saya bilang cinta kasih mengalahkan kebencian. Mengapa mendadak mengeluarkan kalimat ini? Kalimat ini bukan keluar dari mulut saya. Kalimat ini keluar dari mulut Tuhan Allah sendiri!

Permusuhan tidak bisa dihindarkan. Kebencian dan peperangan harus ada. Tetapi peperangan dan kebencian dengan maksud yang bagaimana? Mari kita mengerti. Tuhan berkata: ‘Ular, karena engkau telah menggoda manusia, sehingga mereka melawan kehendak-Ku, mereka melanggar perintah-Ku, maka engkau harus dikutuk. Dan sekarang saya menetapkan suatu permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunan perempuan ini. Keturunan perempuan ini akan meremukkan kepalamu, tapi engkau hanya bisa meremukkan kaki-Nya (Kejadian 3:15).

Maka pasal ketiga dari kitab Kejadian atau pertama kali manusia berbuat dosa, di situ Tuhan langsung mengatakan: harus ada permusuhan, harus ada peperangan. Ini tidak bisa dihindarkan.

Di dalam ceramah/pidato saya kepada 2.600 orang di Malaysia itu, banyak pemimpin agama yang berada di situ. Saya menantang mereka semua dengan satu kalimat: Pernahkah suatu negara, karena menerima suatu agama lalu membubarkan tentaranya? Tidak ada! Sejak dulu sampai sekarang, sejak jaman dulu sampai hari ini, sejak beribu-ribu tahun yang lalu sampai hari ini, abad ke-21, tidak pernah ada satu negara yang karena menerima semacam agama lalu membubarkan tentaranya, lalu menghentikan peperangan. Tidak ada. Bahkan Swiss yang terkenal paling damai, tidak pernah mau ikut kelompok apapun, betul-betul dari dulu nonblok (sebelum ada kelompok nonblok, Swiss sudah nonblok.) Tapi Swiss tetap memiliki tentara, karena itu engkau tidak heran melihat Swiss Army Watch. Negara yang paling damai tetap ada tentara, berarti peperangan tidak mungkin berhenti, permusuhan harus ada dan yang mengatakan kalimat ini adalah Tuhan Allah sendiri. Tuhan mengatakan tidak boleh tidak ada, ada permusuhan antara engkau dengan perempuan ini. Manusia harus berperang. Berperang terus tak habis-habis. Dan peperangan ini dinubuatkan oleh Tuhan Allah.

Tuhan Allah bernubuat berkali-kali melalui nabi, tetapi kali itu tidak melalui siapa-siapa, tapi dari mulut Tuhan Allah sendiri. Maka Kejadian 3:15 itu adalah nubuat yang menjadi dasar semua nubuat. Itu adalah nubuat yang paling hakiki. Nubuat yang paling penting. Nubuat ini adalah nubuat yang menjadi dasar bagi semua nubuat yang lain. Dengan kata lain, semua nubuat dalam Perjanjian Lama hanya menjadi footnote, hanya menjadi catatan kaki di bawah, yang mendukung nubuat dari Tuhan Allah itu sendiri. Itu sebab saya katakan: `Mari kita jangan melarikan diri dari fakta. Mari kita jangan mengatakan: damai, damai, lebih baik tidak ada perang. Itu mimpi! Mari kita perang! Tetapi perang apa? Perang untuk apa? Perang macam apa? Perang sifat apa? Permusuhan kepada siapa?’ Istilah jihad di dalam Islam tidak seharusnya diterjemahkan atau ditafsirkan sebagai melawan orang yang berbeda agama, lalu dibunuh habis. Itu ajaran sesat, bukan Islam yang asli. Jihad boleh diartikan berperang dulu dengan nafsu dan berahimu yang tidak patut, yang tidak patuh kepada perintah Allah.

Tuhan berkata: ‘Ada permusuhan antara ular dan perempuan, antara keturunan ular dan keturunan perempuan; Namun bukan keturunan ular dan keturunan perempuan yang berperang, tetapi ular yang berperang dengan keturunan perempuan dan keturunan perempuan yang mengalahkan, meremukkan kepala ular.’ Dalam kalimat ketiga itu mendadak tidak lagi terjadi suatu perbandingan yang setaraf, karena ular sendiri yang akan memerangi keturunan perempuan, bukan keturunan ular. Dan keturunan perempuan yang satu-satunya itu yang akan meremukkan kepala ular. Di sini Tuhan memberikan suatu pengharapan kepada manusia. Tuhan memberikan suatu nubuat yang mengandung hari depan yang cerah bagi manusia. Manusia sudah berdosa, sudah jauh dari Tuhan. Kau sudah terjerumus di dalam kejahatan. Kau sudah digoda oleh iblis. Namun demikian Tuhan memberikan janji. Tuhan memberikan suatu janji menuju suatu prospek yang cerah. Pada hari depan, ada seorang Anak yang disebut benih perempuan, yang disebut keturunan tunggal dari perempuan akan meremukkan kepala ular yang adalah setan itu. Mulai hari itu, peperangan itu menjadi peperangan yang menjadi dasar damai.

Waktu itu saya berkata tidak ada agama yang akhimya bisa menghentikan perang. Itu sebabnya, jangan kita bicara teori yang tinggi tinggi: damai, damai, jangan perang. Saya mengatakan, mewakili orang Kristen saya berkata: Alkitab tidak pernah mendorong perang. Alkitab juga tidak pernah melawan perang. Alkitab bahkan pernah memerintahkan Israel pergi membunuh 7 suku orang Kanaan. Dengan peperangan, hancurkan mereka, satupun tidak boleh tinggal!

Engkau berkata: Bukankah ini mengajak, mengajar perang supaya orang Israel membunuh bangsa lain? Tidak! Ini adalah semacam perintah, sehingga orang Israel pada waktu itu harus menghabiskan orang-orang yang terlalu berbuat dosa itu. Orang Israel dipakai oleh Tuhan sebagai algojo. Ketika algojo membunuh orang, algojo itu tidak perlu dimasukkan ke penjara, karena algojo itu melakukan perintah untuk melaksanakan keadilan. Pembunuhan yang dilakukan algojo tidak termasuk melanggar 10 hukum: ‘Jangan engkau membunuh’, karena itu merupakan suatu hal yang harus dilakukan. Dengan demikian, bukan berarti Allahnya orang Kristen, Allahnya Alkitab adalah Allah yang kejam karena memerintahkan suatu bangsa pergi membunuh suku-suku yang lain. Saya mengatakan, itu justru menyatakan bahwa Allah di dalam Alkitab adalah Allah yang penuh cinta kasih kepada manusia.

Pada waktu saya berbicara sampai poin ini, banyak orang yang menengadahkan kepalanya ke atas, matanya melotot melihat, bagaimana jawabnya, bagaimana penjelasannya? Saya memberikan penjelasan: karena ke tujuh suku yang harus dibasmi itu adalah suku-suku yang melangsungkan perzinahan dalam kuil-kuil mereka. Mereka masuk ke dalam kuil, menyembah dewa-dewa, dansa-dansa di dalam. Di tengahtengah acara penyembahan, mereka membuka seluruh pakaian mereka, lalu laki-laki dan perempuan bergaul, bergiliran berzinah di dalam kuil itu.

Tuhan mengatakan: Jikalau memakai agama, tetapi caranya begitu najis, begitu berzinah, Saya harus hancurkan mereka, tidak tinggal satupun, kalau tidak seluruh umat manusia dari 3.000 tahun yang lalu semua sudah terkena AIDS. Mengapa Tuhan menyuruh Israel membunuh ke tujuh suku itu? Apakah karena Tuhan itu kejam? Apakah Tuhan itu kurang cinta kasih? Justru tidak! Karena Tuhan mengasihi isi dunia, sehingga Tuhan membasmi orang yang terlalu jahat! Saya percaya Osama bin Laden harus mati. Kalau tidak, keberanian orang membunuh sesama akan bertambah. Konferensi sedunia Islam yang baru selesai menyatakan bahwa terorisme bukan rumusan dari agama Islam. Jikalau konferensi itu diadakan di Indonesia dan seluruh dunia setuju bahwa terorisme itu bukan rumusan Islam, maka kita percaya masih ada kemungkinan untuk saling menghormati, saling berdamai antaragama.

Damai di Bumi; ini bukan omong kosong, ini mungkin. Dan `Damai di Bumi’ mungkin memerlukan peperangan dulu. Peperangan untuk menghancurkan mereka yang tidak mau damai. Peperangan menghancurkan terorisme yang menjadi ancaman lestari dari seluruh umat dunia. Kita berada di bumi Indonesia, bumi yang begitu subur, yang begitu dicintai oleh Tuhan, bumi yang penuh dengan segala anugerah, segala hasil bumi yang kaya lebih daripada di tempat-tempat lain. Tetapi jikalau bumi ini dilanda dengan kebencian dan bukan dilanda oleh cinta kasih dari Tuhan, maka hari depannya akan menjadi lenyap, akan menjadi sangat suram. Meskipun kaya di dalam harta benda, harta benda yang Tuhan simpan di bawah tanah untuk keturunan kita terus-menerus, kita mungkin akan menjadi negara yang paling miskin secara faktual.

Lalu bagaimanakah kita bisa mencapai damai yang sesungguhnya? Tuhan berkata: ‘Ada benih perempuan yang akan menghancurkan kepala ular itu: Benih perempuan itu bukan siapa, bukan banyak orang, bukan setiap orang yang dilahirkan oleh wanita, tetapi hanya satu, satu-satunya yang dilahirkan oleh seorang perawan, seorang anak dara, seorang yang belum pernah disentuh laki-laki, belum pernah berhubungan seks dengan pria. Perawan itu adalah perawan satu-satunya yang dipakai Tuhan.

Dengan tubuh wanita yang lembut, dia akan menaungi seorang pria yang gagah perkasa. Tuhan berkata melalui Yesaya: `Lihatlah bahwa Tuhan Allah sendiri akan memberi pertanda kepadamu, yaitu seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak dan namanya adalah Immanuel (Yesaya 7:14).

Dalam bahasa Ibrani, manu artinya manusia. Istilah manusia dalam bahasa Indonesia adalah istilah yang dipengaruhi oleh bahasa Arab dan dipengaruhi oleh bahasa Ibrani, bahasa dalam Alkitab. Manu itu manusia. Sedangkan El itu adalah Allah, Elohim. Immanuel berarti Allah beserta dengan kita yang sebagai manusia, Allah beserta dengan kita.

Jikalau hari ini presiden datang, kita tepuk tangan, kita beri tempat duduk yang paling tinggi. Apa mulianya? Dia cuma seorang manusia! Banyak presiden yang pada waktu berada di tahta diberi tepuk-tangan, lalu sebelum turun dicaci-maki. Dengan mata di atas kepala kita sendiri kita melihat, dalam beberapa tahun ini Indonesia sudah mengganti berapa presiden? Dari Soeharto menjadi Habibie, dari Habibie menjadi Gus Dur, dari Gus Dur menjadi Megawati. Apalagi? Tidak tahu. Mereka sebelum naik diharapkan, sesudah naik ternyata begitu saja. Jikalau presiden hadir di sini, kita bermegah, kita foto. Jikalau presiden ada di sini, engkau bangga? Bangga! Tetapi saya lebih bangga kalau Tuhan beserta kita!

Tuhan beserta kita, meskipun presiden tidak ada, jenderal tidak ada, gubernur tidak ada, tidak apa! Tuhan beserta dengan kita! Tuhan beserta dengan kita itu namanya Immanuel! Lalu saya mau tanya: Bayi yang dilahirkan oleh anak perempuan muda, siapakah yang berhak memberikan kepada kita jaminan bahwa dia itulah Immanuel? Siapakah bayi yang dilahirkan oleh perempuan muda yang berhak disebut dengan nama Immanuel? Itulah sebabnya di dalam Alkitab, Perjanjian Lama memakai istilah yang tidak boleh luput, tidak boleh tidak hanya satu arti: perawan, perawan, perawan, anak dara. Memang di dalam Yesaya 7:14, Yesaya memakai istilah yang tidak harus diartikan sebagai perawan, boleh diterjemahkan sebagai perempuan muda. Tetapi perempuan muda melahirkan anak itu tidak heran. Setiap hari di rumah bersalin, banyak perempuan muda yang melahirkan. Perempuan muda melahirkan itu bukan mujizat, itu umum. Perempuan tua yang melahirkan itu baru sedikit mujizat. Tuhan akan memberikan pertanda kepadamu.

Tuhan akan memberikan suatu mujizat kepadamu. Dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus menggerakan Matius untuk memakai istilah Yunani parthenos. Pada waktu istilah parthenos dipakai, ini mengunci semua kemungkinan yang lain, hanya satu-satunya kemungkinan arti adalah anak dara (Maria) melahirkan Yesus Kristus. Itu disebut keturunan perempuan.

Kita semua dilahirkan oleh perempuan bukan? Kita semua adalah anak-anak kelahiran dari perempuan. Tetapi kita tidak boleh disebut benih perempuan. Kita tidak boleh disebut sebagai keturunan perempuan. Kita keturunan perempuan plus laki-laki. Jikalau ibu kita tidak menikah dengan bapak kita, tidak mungkin kita ada di dunia. Jikalau bapak kita tidak tidur, bersetubuh dengan ibu kita, tak mungkin kita bereksistensi. Maka kita adalah keturunan laki-laki dan perempuan. Kita adalah keturunan suami isteri yang bergabung melahirkan kita. Kita keturunan dari papa-mama kita yang menikah.

Tetapi satu-satunya keturunan perempuan, yaitu Yesus Kristus. Karena malaikat berkata kepada Yusuf: ‘Jangan takut, karena kandungan yang dimiliki oleh Maria itu adalah dari Roh Kudus. Sebab itu engkau jangan menolak. Engkau jangan membuang Dia. Terima Dia dan sampai hari Dia lahir, beri nama Yesus. Yesus berasal dari bahasa Grika. Dalam bahasa Ibrani, Yosua. Apa artinya? Juruselamat. Dia akan diberi nama Yesus, akan diberi nama Yosua, diberi nama Juruselamat karena Dia yang akan menyelamatkan umat-Nya keluar dari dosa (Matius 1:21).

Di dalam Alkitab ada seorang yang melambangkan Yesus, yaitu Musa. Musa mengeluarkan umat Tuhan dari Mesir. Yesus Kristus mengeluarkan umat Tuhan, bukan dari Mesir tetapi dari dosa. Juruselamat Yesus Kristus. Bagaimana mengeluarkan kita dari dosa? Bagaimana mengeluarkan kita dari tangan setan? Kepala setan diremukkan dulu, baru kita dilepaskan! Pada waktu setan dikalahkan hanya oleh kuasa Yesus Kristus, maka dia tidak berdaya lagi mencengkeram kita, menahan kita. Dia harus melepaskan semua yang berada di dalam belenggunya untuk dibebaskan. Dan di situ kita mengalami kemerdekaan yang sejati.

Perdamaian itu menjadi mungkin, karena permusuhan ini diteruskan. Perdamaian itu menjadi mungkin, karena setan harus dihancurkan. Itulah sebabnya perdamaian yang palsu dan perdamaian yang sejati harus dibedakan oleh kita. Ada seorang filsuf Amerika yang paling melawan Kekristenan, sebenarnya dia dan adiknya dilahirkan di dalam keluarga pendeta. Mengapa keluarga pendeta yang menghasilkan orang yang paling cinta Tuhan, juga menghasilkan orang yang paling antikristen, paling antikristus?

Kedua orang ini adalah orang-orang yang paling melawan kekristenan sepanjang sejarah Amerika. Dua-duanya anak pendeta, sama-sama dilahirkan didalam keluarga pendeta. Saya heran. Saya mencari, menyelidiki. Saya mau mengetahui sebabnya. Akhirnya jawabannya adalah memang pendeta itu pendusta. Papa dari kedua orang ini adalah seorang pendeta yang tidak memiliki panggilan dari Tuhan. Seorang pendeta yang menjadikan kependetaan menjadi semacam profesi untuk mencari nafkah. Dia selalu main kotor, mengeluarkan perkataan-perkataan najis, suka mabuk, dan kalau sudah mabuk memukul orang. Namanya jelek luar biasa. Pendeta yang sekaligus menjadi pendusta. Pendeta yang kejam, bengis. Pendeta yang tidak mempunyai perikemanusiaan, membuat anak-anaknya benci kepada Tuhan, benci kepada gereja, benci kepada Yesus Kristus, benci kepada agama Kristen.

Kedua saudara ini suatu hari dipukul setengah mati oleh papanya yang kejam itu. Mereka akhirnya berjanji: ‘Mulai hari ini engkau dan saya, kakak-beradik memberikan sumpah bersama-sama melawan Tuhan sampai mati’. Adiknya, menjawab: ‘Saya setuju.’ Kakak-beradik, dua orang itu mengambil sumpah melawan Tuhan. Kedua saudara ini pada hari itu bersumpah: mulai hari ini kita keliling Amerika berpidato. Papanya pintar berkhotbah, tetapi hidupnya tak karu-karuan. Anaknya pintar berkhotbah melawan khotbah. Mereka berdua berpidato, melawan, ke mana saja di Amerika, berdiri di panggung, di tempat terbuka mencacimaki kekristenan, melawan Alkitab, melawan agama Kristen, melawan Tuhan Allah. Atheis bertepuk-tangan. Pada abad ke-19, di seluruh Amerika banyak orang pernah mendengarkan ‘kebangunan rohani’ melawan Tuhan dari dua anak pendeta ini. Jaman itu Moody berkhotbah, Billy Sunday berkhotbah, Ira Sankey bernyanyi, banyak orang melayani Tuhan dengan membuat tenda kebangunan rohani besar. Kedua saudara ini melawan Yesus, melawan Tuhan.

Dan di dalam tulisan dia, saya masih simpan, dari Ingersoll Brother’s, yang hidup di abad ke-19 mengatakan: all the prophecy in the new tastement are all never never, all never fulfill, except one – nubuat di dalam Kitab Perjanjian Baru tidak ada yang digenapi, hanya SATU. Wuah, saya tertarik sekali. Sejak umur 17 tahun, saya betul-betul mau membela kebenaran karena dulu saya sangat tertarik oleh komunisme, dialektika materialisme revolusionisme, atheisme, maka saya mau mengetahui orang melawan Tuhan itu karena apa. Mereka melawan Tuhan teorinya apa. Dari apa mereka berani begitu melawan Tuhan? Saya membaca makalah itu. Dia mengatakan dengan kalimat begini: Yesus berkata: Aku datang, jangan kira memberi damai kepada dunia. Aku datang memberi peperangan kepada dunia. Karena Aku, maka mertua menjadi musuh, menantu dan anak menjadi musuh ibu bapak, saudara menjadi musuh saudara, keluarga menjadi musuh antara keluarga, musuhmu ada di dalam keluargamu. Itulah nubuat satu-satunya yang terjadi tergenapi dari seluruh Kitab Suci. Saya membacanya dan menggelengkan kepala. Saya sangat jengkel membaca itu. Sekarang saya, sebagai hamba Tuhan, mau mencari jalan keluar bagaimana membuktikan kalau yang dia tulis itu salah, yang Tuhan katakan itu benar. Tuhan Yesus berkata, ‘Jangan kira Aku datang memberikan perdamaian, Aku datang justru memberikan permusuhan.’ Lalu saya berdoa di hadapan Tuhan: ‘Berilah kesadaran, berilah bijaksana, berilah keinsafan pengertian kepada saya apa artinya ini. Lambat-laun Tuhan mencerahkan hati saya. Saya mengerti; Satu keluarga sebelum menjadi Kristen, mereka damai. Sebelum mereka bertobat, mereka damai.

Sebelum mereka menerima Tuhan mereka bersama-sama ke tempat berjudi, bersama-sama ke tempat yang jahat. Mereka damai karena mereka mempunyai corak hidup yang sama. Lalu Tuhan mengatakan: ‘Aku datang bukan memberikan perdamaian itu, Aku memberikan peperangan. Sehingga ketika ada orang yang menerima Tuhan, ia mengerti kebenaran. Setelah mengerti kebenaran, percaya Tuhan, ia mulai dicaci-maki oleh orangtuanya, dibenci saudaranya, dikeluarkan dari keluarganya. Itu artinya Tuhan datang memberikan permusuhan!

Tapi Tuhan tidak pernah mengajar orang Kristen untuk memusuhi papa mama, Tidak! Meskipun engkau dianiaya, meskipun engkau dimusuhi, meskipun engkau diusir, meskipun engkau ditekan, tetapi berbahagialah engkau kalau dianiaya, karena nabi-nabi sebelum kamu juga dianiaya seperti itu! Permusuhan itu bukan berasal dari orang Kristen yang bertobat. Tapi karena engkau bertobat, engkau mengerti Tuhan, engkau cinta Alkitab, maka engkau dimusuhi oleh mereka yang tadinya mempunyai jiwa yang sama dengan engkau, hidup di dalam dosa. Lalu bagaimana? Ajaran Yesus Kristus: kasihilah musuhmu, doakan mereka yang menganiaya engkau, sampai mereka bertobat. Peperangan itu harus terjadi. Tetapi lambat-laun, orang-orang yang tidak setuju engkau beriman kepada Tuhan Yesus, bertobat.

Mereka kembali kepada Tuhan. Setelah mereka kembali, sama-sama menerima Tuhan, sama-sama bertobat, sama sama mendapat hidup yang baru, sekarang mendapat perdamaian yang berbeda. Perdamaian sebelum menerima Tuhan, peperangan setelah menerima Tuhan dan perdamaian setelah semua menerima Tuhan; Ini tiga tahap yang berbeda. Mereka yang dilahirkan di dalam keluarga Kristen, mungkin tidak kenal apa artinya permusuhan semacam itu. Siapa yang tadinya bukan Kristen lalu bertobat menjadi orang Kristen? Di tengah-tengah perjalanan hidupmu engkau bertobat, engkau menerima Tuhan dan engkau diperanakkan pula? Engkau dulu bukan Kristen akhirnya menjadi orang Kristen? Siapakah yang sudah menerima Tuhan, lalu engkau dimusuhi oleh keluargamu? Bersyukurlah Saudara jika tidak dimusuhi, karena itu berarti Tuhan telah memberikan keluargamu pengertian yang cukup terhadap engkau. Namun pada waktu peperangan terjadi, itu sulit luar biasa.

Saya pernah membaca suatu makalah kesaksian seorang Jepang: ‘Aku bertobat. Setelah aku bertobat, aku dipukul dan dikeluarkan oleh ayahku. Dengan kepala pecah berdarah, kaki hampir patah dan tangisan, saya, hanya dengan memakai sehelai pakaian di atas tubuh ini, keluar dari rumah: Ayahnya berteriak: `Sampai mati engkau tidak boleh pulang lagi!

Karena engkau sudah mengkhianati Shintoisme, engkau bukan berjiwa Jepang, engkau sudah berjiwa barat, keluar!’ Lalu dia hanya berdoa siang-malam: ‘Tuhan, selamatkan ayahku. Tuhan, beri pertobatan kepada dia: Dia terus berdoa. Sepuluh tahun kemudian, dia dipanggil Tuhan, bukan saja menjadi orang Kristen, tetapi kemudian menjadi pendeta. Dia masuk sekolah theologi. Dia belajar firman Tuhan. Di dalam sekolah theologi, pagi-malam ia mendoakan ayahnya, supaya ayahnya menjadi orang Kristen. Ia meminta Tuhan mengampuni ayahnya. Tapi tak pernah ada perubahan apapun. Hingga 26 tahun kemudian, terjadi mujizat. Dia menerima sepucuk surat dari ayahnya. Sewaktu membaca surat itu, dia langsung mencucurkan air mata, karena ia tahu itu tanda tangan dari papanya yang sungguh-sungguh.

Kalimat-kalimat dalam surat itu berbunyi: ‘Sudah 26 tahun aku tidak melihat mukamu. Akhirnya aku sendiri tidak tahan karena aku tahu engkau bukan sembarangan percaya kepada Tuhan Yesus. Memang ada permusuhan antara aku dengan kamu. Memang ada perbedaan antara agamaku dengan agamamu. Sangat tidak rela aku melihat anak yang dilahirkan olehku menjadi orang yang mengkhianati agamaku. Namun aku tahu, kecuali itu kebenaran, tak mungkin setelah engkau dianiaya sedemikian rupa tetap mempertahankan iman. Aku berpikir tidak habis habisnya. Aku tahan-tahan, sampai tidak tahan. Tahun lalu aku mulai membaca Kitab Sucimu. Aku mulai mau mengerti iman Kristen itu apa. Dan sekarang aku minta tolong, pulanglah, jemput ayahmu yang tua ini.’ Air mata anak itu mengalir tak habis-habisnya. Dia kembali ke rumahnya, yang tak pernah dimimpikan mungkin diterima kembali. Waktu dia masuk ke rumah, dia lihat sendiri; Waktu pergi masih muda, sekarang pulang umurnya sudah hampir 50. Dan waktu dia masuk kamar ayahnya, ayahnya sekarang sudah berumur 70 lebih. Waktu dia pergi dan sekarang pulang, sudah berbeda sekali. Waktu dia pulang, dia berkata: ‘Ayah, aku sudah pulang. Apakah saya boleh pulang?’ Ayahnya menjawab: ‘Boleh.

Aku mau engkau sendiri yang percaya, memberitahuku: mengapa Kristen? Mengapa harus Kristen? Bukankah kita mempunyai agama tradisi? Bukankah kita mempunyai kebudayaan sendiri? Sekarang pulang beritahu aku, mengapa harus Kristen!’ Anak ini berdoa kepada Tuhan, ‘Beri bijaksana kepadaku, ya Tuhan. Dalam kesempatan yang begitu indah, jangan ada satu kalimat yang luput, jangan ada satu kalimat yang salah. Aku mau memberitahu ayah yang kucintai, yang siang malam pagi sore aku doakan selama 26 tahun supaya bertobat. Lalu selama 7 hari 7 malam, anak ini membuka Kitab Suci dengan ayat berkata kepada ayahnya. Dan di dalam 7 hari 7 malam itu banyak kali ayahnya menangis, dia menangis, ayahnya menangis, dia menangis. Dan akhirnya ayahnya mengatakan: ‘Kalau begitu, sudah cukup, tidak usah bicara apapun lagi. Aku sudah tahu. Sebelum aku mati aku minta satu hal, aku tidak mau dibaptiskan oleh siapapun, kecuali anakku sendiri. Aku tidak tahu iman pendeta yang lain itu benar atau tidak. Aku tidak tahu apa motivasinya orang Amerika ke sini. Tetapi aku tahu anakku ini imannya betul. Aku tidak mau siapapun. Aku mau engkau membaptiskanku. Anaknya berkata,’Gerejaku tidak di sini, aku melayani di tempat yang jauh, di kota yang kecil: Jawab ayahnya: ‘Aku akan pergi ke situ, dibaptiskan di gerejamu; Ke mana engkau berada, di situ aku pergi.’

Akhirnya orangtua yang sakit-sakitan ini dengan susah-payah dibawa ke kota kecil, di mana anaknya menjadi pendeta di situ. Waktu hari dibaptiskan, dia memakai pakaian putih. Matanya terus lihat surga, seperti seorang malaikat yang hanya kekurangan dua sayap saja. Dan anak itu, sewaktu membaptiskan berkata: ‘Dengan tanganku sendiri, aku membaptiskan ayahku.’ Saya kira-kira berumur 27 tahun ketika membaca makalah itu. Selesai membaca saya menangis. Saya tahu, kecuali iman yang sejati, kecuali kebenaran yang sejati mempersatukan kita, di antara kita juga tidak ada perdamaian. Damai di bumi bukan tanpa syarat, hanya kepada mereka yang berkenan di mata Tuhan. Glory to God in the highest, good will for man on the earth. Perdamaian sejahtera bisa datang kepada kita, tetapi prinsip Alkitab: berperang dengan setan, berperang dengan dosa, berperang dengan segala hal yang jahat, baru damai itu diberikan kepada mereka yang berkenan di hadapan Tuhan.

Abad ke-21 dimulai dengan meriah, dengan komersil yang luar biasa. Hari itu, malam itu saya berada di New York. Dua setengah juta orang kumpul di Madison Square Garden. Mereka berada di situ untuk melihat suatu bola yang turun yang membuktikan bumi sudah masuk 2000 tahun. Di London, di Moskow, di negara apa saja, meriah menyambut abad yang hebat. Tahun 2001, bulan September, tanggal 11, dua tugu yang terbesar, WTC, twin tower rubuh, karena kebencian.

Apakah ini abad teknologi yang tinggi? Apakah ini abad yang sangat memberikan pengharapan? Apakah ini abad yang memberikan optimisme kepada kita? Saya menjawab, Tidak! Manusia semakin jauh dari Tuhan. Meskipun beragama, manusia akan menjadi binatang yang makin kejam. Kita melihat di dalam perdagangan, binatang-binatang ekonomi sedang dengah rakus tidak habis-habisnya melanggar segala macam etika dan segala moral untuk memperkaya sendiri. Kita melihat, di dalam politik begitu banyak orang berambisi, kekuatan dan kuasa yang paling tinggi, melanggar segala cara. Mereka berani merobek-robek hukum untuk mencapai suatu ambisi liar mereka. Kita melihat tempat pengadilan menjadi tempat yang menjalankan ketidakadilan yang paling berani. Asal ada uang, hitam menjadi putih, putih menjadi hitam. Di dalam militer, siapa mempunyai senapan, dia bersuara keras. Dia membela orang jahat.

Di Jakarta ada lebih dari 10 tempat perjudian yang tidak pernah bisa ditangkap karena memberi uang kepada militer untuk menjaga mereka. Mereka sekarang aman berjudi di dalam. Demi nama Tuhan Yesus, Indonesia harus bertobat! Demi nama Tuhan Yesus, orang politikus, orang hukum, orang militer, orang konglomerat harus bertobat! Jikalau tidak bertobat, kecelakaan akan tiba kepada negara ini. Perdamaian tidak akan kunjung tiba, karena ada peperangan yang belum selesai. Tuhan berkata: ‘Mau damai harus ada peperangan! Peperangan antara baik dengan jahat; Peperangan antara kuasa terang dengan kuasa gelap; Peperangan antara cinta dan benci; Peperangan antara kebenaran dan ketidakbenaran; Peperangan antara semua yang mencintai Tuhan dengan segala kejahatan yang melawan Tuhan.’

Saya berdoa supaya satu hari di Indonesia ada militer yang bersih, yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan, menahan nafsu, mempunyai senapan bukan untuk bergaya superior, tetapi membela rakyat. Saya mendoakan ada presiden yang cinta Tuhan, yang takut kepada Tuhan, yang mencintai rakyat. Saya mendoakan ada konglomerat yang mengetahui bagaimana dengan jalan yang benar mencari uang, lalu membagikan berkat kepada orang-orang yang perlu di dalam kebajikan mereka. Saya mendoakan ada hakim-hakim, jaksa-jaksa yang membela kebenaran, bukan membela orang yang memberikan uang kepada mereka, klien-klien yang kaya. Peperangan masih terus berjalan, perdamaian sungguh masih jauh. Kita berkata: ‘Damai di Bumi hanya bagi orang yang berkenan kepada Tuhan, bukan Damai di Bumi tanpa syarat.’

Mari kita yang tidak mempunyai senapan, tidak mempunyai kuasa, tidak mempunyai kelebihan, tidak mempunyai hal yang istimewa; kita yang hanya rakyat jelata, hanya orang biasa, tetapi kita orang yang beriman, berkata kepada Tuhan: `Dari rumahku, dari sekolahku, dari tokoku, dari usahaku, dari familiku, dari gerejaku, saya mau menjadi orang yang melakukan keadilan, cinta kasih, kebenaran, kebaikan, kesucian, sesuai kehendak-Mu, ya Tuhan.’ Berapa banyak pendeta yang dirinya sendiri menjadi ketua, isterinya menjadi bendahara, anaknya menjadi sekretaris? Mau apa? Berapa banyak pendeta, merampas perpuluhan jemaat untuk pribadi sendiri? Itu adalah perampok-perampok yang memakai agama. Berapa banyak alim ulama Islam yang mengajar kebencian kepada umatnya untuk membunuh, membakar? Itu memperalat agama! Kalau demikian, dunia ini tidak ada damai! Hari ini kita merayakan hari Natal. Mari kita belajar dari Yesus Kristus yang rela turun dari surga, rela masuk ke dalam palungan, rela meninggalkan kemuliaan-Nya, rela memakai segala hal yang memalukan, rela membuang segala kekayaan, rela hidup bersama orang miskin, rela menjadi contoh korban. Ini semangat Immanuel, ini semangat inkamasi. Dan barangsiapa yang mengikut jejak kaki Kristus, di situ dia mempelopori perdamaian di bumi. Damai di Bumi, Damai di Bumi, Damai di Bumi, mulai dari engkau dan saya yang memperkenan Tuhan Allah. Tuhan, saya mau Damai di Bumi bukan melalui suatu ideologi, citacita atau impian yang kosong, slogan-slogan atau teori yang tinggi. Saya mau Damai di Bumi mulai dari pelaksanaan saya dan keluarga saya, betulbetul mencintai Tuhan, betul-betul menjalankan sukacita di dalam kesucian, kebenaran, keadilan. Tuhan saya mau datang kepada-Mu.

Amin.

 

Artikel ini merupakan ringkasan khotbah Natal GRII di JHCC, 24 Desember 2001

 

Sumber:  Majalah  MOMENTUM No. 49 – Maret 2002  link (www.reocities.com/…/artikel/dmbumi.pdf)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube