Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats Alkitab : Ibrani 2 : 15-18

Saudara-saudari sekalian, kita sudah bicara tentang Dia sendiri harus menjadi bertubuh dan berdarah seperti anak-anak Allah yang lain. Ini adalah identik, sesuatu yang mempersamakan diri berdasarkan cinta kasih yang luar biasa. Yang di surga rela turun ke dalam dunia; yang adalah Allah rela menjadi manusia; yang tidak terbatas sudi untuk menjadi yang tidak terbatas seperti engkau dan saya. Apalagi engkau dan saya sudah berada dalam dosa, maka Tuhan Yesus bersalut dengan peta teladan orang berdosa. Manusia dicipta menurut Tuhan Allah, Yesus Kristus dilahirkan ke dalam dunia menurut peta teladan manusia. Ini adalah miripnya mirip. Supaya melalui tubuh yang berdaging dan darah, Ia boleh mati, boleh dipaku di atas kayu salib, boleh mengalirkan darah, boleh ‘dibuang’ oleh Tuhan Allah sehingga Dia membawa kita kembali ke dalam kerajaan Tuhan.

Dengan demikian Dia melepaskan mereka yang diperhambakan oleh kuasa kematian karena seumur hidup takut kepada kematian. Ini adalah apa yang sudah kita dengar, uraikan minggu yang lalu. Tetapi saudara-saudara dalam ayat selanjutnya langsung dikatakan suatu perbandingan yang luar biasa dan saya percaya, saya tahu ini adalah satu-satu kalinya dalam seluruh Kitab Suci mengenai perbandingan semacam ini, yaitu bagaimana dengan malaikat yang jatuh dan bagaimana dengan manusia yang jatuh? Hampir tidak ada tempat lain, menyinggung sedikit pun tentang apa yang disinggung dalam ayat ini, yaitu Allah tidak mengasihani malaikat tetapi Allah mengasihani anak-anak Abraham. Hanya dua kalimat ini mengandung rahasia yang luar biasa.

Tuhan mengasihani anak manusia dalam keadaan yang disebut sebagai anak-anak Abraham – apa artinya? Tuhan tidak mengasihani malaikat – apa artinya? Tidak ada penjelasan lebih lanjut di dalam ayat ini, tapi ayat ini telah memberikan kita suatu pengertian tidak bisa tidak tentang pengertian bahwa keselamatan hanya disodorkan kepada manusia. Keselamatan, pengampunan dosa, korban damai dan korban untuk dosa hanya berlaku untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk menyelamatkan malaikat.

Apakah sebabnya dan mengapa ini penting bagi kita? Di sini kembali memberikan sesuatu isyarat yang penting yaitu Allah adalah Allah yang berdaulat, our God is God of sovereignty. Dia mempunyai kemutlakan, kedaulatan yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun. Jikalau malaikat berbuat dosa, tidak ada kemungkinan diselamatkan. Manusia berdosa, ada kemungkinan diselamatkan. Ini adalah kedaulatan Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

Tema yang paling penting dalam seluruh Kitab Suci adalah bagaimana orang berada di dalam dosa dan bagaimana Allah menyelamatkan kita untuk kembali menghadap-Nya, bersatu dengan Dia? Bagaimana dengan malaikat? Bagaimana dengan malaikat kalau dia berbuat dosa? Bagaimana dengan malaikat yang jatuh ke dalam dosa? Apakah Yesus juga mati bagi mereka? Apakah keselamatan juga berlaku bagi mereka? Apakah darah Yesus juga mengampuni dan membersihkan dosa mereka? Jawaban di sini, tidak! Karena Allah hanya mengasihi keturunan Abraham tapi tidak mengasihi akan malaikat. Istilah kasihi, kasihan, mengasihi, memberikan kasihan, istilah ini dalam bahasa Yunani tidak langsung ditujukan kepada keselamatan tetapi sesuatu pertolongan yang melepaskan keluar artinya. Melepaskan keluar dengan pertolongan sehingga kita tidak lagi berada di dalam situasi dilema dan kesulitan krisis itu. Dilepas, dicabut, dikeluarkan dengan pertolongan dari atas itu artinya. Maka kalau digabungkan dengan ayat sebelumnya, ini langsung berarti keselamatan karena Yesus datang dengan berdaging dan berdarah adalah menyelamatkan kita dari dosa dan melepaskan kita keluar daripada kuasa kematian. Demikian di dalam Roma 8 dikatakan bahwa Roh yang memberikan hidup telah melepaskan kita daripada hukum dosa dan hukum maut, the law of sin and the law of dead. Dengan demikian kematian Yesus Kristus adalah mencabut keluar, melepaskan kita lepas daripada kuasa dosa dan kuasa maut. Kasihan semacam ini adalah kasihan terbesar sehingga manusia tidak perlu hidup dalam binasa, tidak perlu bercerai dengan Tuhan Allah dalam kekekalan, tidak perlu dilempar dalam neraka, tidak perlu selama-lamanya menjadi musuh Tuhan Allah.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena pertolongan ini berlaku untuk anak Abraham yaitu bukan berarti semua manusia yang akhirnya diselamatkan, bukan semua manusia yang akhirnya menerima jasa daripada korban dosa yang sudah menjadi sesuatu penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus. Maka siapa, siapakah yang mendapatkan pertolongan ini? Siapa yang mendapatkan akibat suatu kuasa keselamatan daripada Yesus Kristus? Yaitu mereka adalah anak-anak Abraham. Apa artinya? Orang-orang keturunan yang mempunyai iman kepercayaan seperti nenek moyang iman mereka yaitu Abraham. Abraham diselamatkan bukan karena dia mempunyai kelakuan yang terlalu baik. Abraham diselamatkan bukan karena dia mempunyai kepintaran yang terlalu hebat, Abraham diselamatkan karena dia mempunyai iman kepercayaan kepada Tuhan Allah. Yang dikatakan oleh Tuhan, dia menerima dengan iman. Apa yang dikatakan oleh Tuhan, semua diterima dengan iman. Kalimat-kalimat yang dia dengar menjadi sebuah bibit di mana dia bersandar kepada Tuhan, bukan bersandar kepada manusia.

Saudara-saudara, semua keturunan Abraham adalah mereka yang mempunyai iman yang sama seperti Abraham, bukan karena kelakuan, bukan karena jasa. Ini tidak berarti kita tidak perlu atau kita boleh mempunyai kelakuan yang tidak baik. Tidak. Karena iman menjadi akar, yang akhirnya akan membuahkan kelakuan. Iman menjadi suatu dasar yang akhirnya akan mengakibatkan perbuatan yang baik. Perbuatan yang jelek membuktikan iman yang jelek dan kalau tidak ada iman, akhirnya kelakuan akan mati. Alkitab mengatakan, jikalau kita tidak mempunyai kelakuan (yang baik-red) itu membuktikan bahwa iman kita itu mati adanya. Seperti tubuh. Kalau jiwanya sudah keluar dari tubuh, tubuh itu menjadi mayat. Demikian iman tanpa kelakuan, itu mati adanya.

Saudara-saudara, kita harus mempunyai iman seperti Abraham untuk bersandar kepada Tuhan, bukan bersandar kepada diri. Untuk menerima sesuatu yang sudah Tuhan lengkapi, yang sudah Tuhan genapi melalui Yesus Kristus yang mati di atas kayu salib, bagi engkau dan bagi saya.

Saudara-saudara, setelah ini penulis Ibrani mengatakan anak-anak Abraham diselamatkan tetapi bukan malaikat. Oleh karena itu kita terpaksa harus memikirkan mengapakah malaikat tidak diselamatkan? Engkau bilang bukankah jawaban telah diberikan tadi? Berdasarkan kedaulatan Allah, Ia mau mengasihani siapa, itulah yang dikasihani. Dia mau menganugerahi siapa, itulah yang mendapatkan anugerah. Kalau Dia tidak mau menyelamatkan malaikat berarti malaikat tidak diselamatkan karena kedaulatan Allah tidak mau menyelamatkan dia. Benar. Ini adalah suatu pokok, suatu dasar dari teologi Reformed, the Sovereignty of God in giving the grace.

Namun demikian ada beberapa poin yang kita perlu mengerti tentang keadaan malaikat dan kita. Darimana kita mengerti ini? Daripada sesuatu keadaan tubuh yang memerlukan tubuh pengganti kita mengertinya. Kita berada dalam tubuh, tubuh yang berdaging dan berdarah ini berdosa di dalam keterbatasan tubuh ini, mengakibatkan Kristus harus turun ke dalam dunia, harus mempunyai tubuh yang berdaging dan darah untuk menyelesaikan mereka yang berdosa di dalam kurun daging dan darah. Pengertian teologi dari sini.

Jika manusia memiliki daging dan darah dan manusia berbuat dosa di dalam tubuh yang berdaging dan darah, dalam kurun waktu dan tempat ini, in the limit of space and time, maka ini menjadi suatu rangsangan kita menyelidiki lebih dalam mengapa malaikat tidak diberikan keselamatan, tidak diberikan kesempatan untuk bertobat, tidak mungkin mereka menerima hidup yang baru.

Malaikat tidak bertubuh, berdaging dan berdarah. Malaikat diciptakan dalam substansi yang murni, roh dan rohani adanya. Malaikat-malaikat bukan makhluk seperti kita yang mempunyai tubuh, mempunyai daging, mempunyai darah yang di dalam kurun materi yang kelihatan ini. Malaikat-malaikat langsung diciptakan di dalam sesuatu dunia rohaniah, dunia yang tidak kelihatan, dunia yang substansinya tidak terdiri dari elemen daripada materi.

Dengan demikian kita melihat bahwa malaikat-malaikat mempunyai keadaan roh yang langsung hidup di hadapan Tuhan Allah. Kita hidup secara berbeda keberadaan dengan malaikat di hadapan Tuhan Allah. Kita tidak melihat Allah, kita tidak melihat dunia rohani, kita tidak bisa melihat segala sesuatu di luar keterbatasan daripada kemampuan kita melihat. Atau dengan kata lain, kita hanya bisa melihat segala sesuatu yang berbentuk materi. Beyond the physical world, beyond the material world we cannot see. Kita tidak lihat. Jadi itulah sebab ada orang yang sengaja membangkang, menekan akan segala kebenaran yang diwahyukan Tuhan yang menghakimi mereka secara alamiah (the natural or general revelation, they suppressed). Dan mereka mengatakan, tidak ada Allah, aku tidak percaya Allah, aku menganut ateisme. Ini merupakan semacam penekanan yang betul-betul menahan sesuatu kesaksian Allah secara internal di dalam intuisi mereka. Lalu mereka sengaja melawan Tuhan dengan berkata aku tidak percaya Allah. Alasannya hanya karena aku tidak lihat.

Bukankah melalui ateisme kita mengerti bahwa manusia hidup tidak direct di hadapan Tuhan Allah. Manusia hidup indirect, manusia hidup tidak langsung berada di hadapan Tuhan Allah meskipun sifat relatifitas dari eksistansial ini memang ada dalam diri kita masing-masing. Disebut sebagai suatu eksistansi relatif berarti saya berada bukan independen, saya berada menghadap keberadaan yang bersangkut paut dengan saya. Dengan demikian, pria tidak bisa hidup sendiri karena dia harus hidup menghadapi wanita. Sehingga perlu pernikahan. Kecuali mereka yang diberi bakat khusus bisa hidup tanpa seks, hidup tanpa pernikahan, itu suatu pengecualian. Tapi Allah telah menciptakan pria untuk apa? Untuk wanita. Allah menciptakan wanita untuk siapa? Untuk pria, tapi bukan untuk semua pria, bukan untuk semua wanita. Satu untuk satu, maka cari baik-baik. Akhirnya kalau tidak kamu akan rugi luar biasa.

Saudara-saudara, ini namanya eksistansi relatif dan kita mempunyai suatu substansi eksistansi relatif secara manusia kepada manusia, antara pria dan wanita. Tapi bagaimana dengan yang kelihatan dan tidak kelihatan? Tetap kita dicipta sebagai suatu eksistansi relatif yaitu manusia dicipta tidak mungkin tidak ada Allah. Mereka yang mengatakan aku tidak percaya Allah, aku ateis, aku tidak mau percaya agama – orang itu tidak bisa mewakili hari selanjutnya. Karena waktu ia berada dalam kepicikan, ia berada dalam kesulitan, kemiskinan, penyakit yang keras, akan menghadapi perbatasan hidup menuju kepada kematian, saat-saat seperti itu, manusia banyak yang digugah dan mulai sadar ada Tuhan Allah. Seorang yang bernama Thomas Scotch, seorang politikus dari Inggris, dia mengatakan, “I never believe heaven and hell. I never believe God and spiritual world.” “Aku tidak pernah percaya ada Allah, ada dunia Roh. Aku tidak percaya ada surga ada neraka.” Tetapi pada waktu beberapa detik sebelum meninggal dia mengatakan kalimat ini, “I never believe heaven and hell before, but now I believe both. Yet, it’s too late.” Langsung dia mati.

Saudara-saudara, manusia tidak mungkin terlepas daripada suatu eksistensi relatif di dalam substansinya itu; ia menghadap Tuhan Allah tapi ia tidak sadar. Saudara-saudara, keadaan relatif ini mengakibatkan manusia berperasaan tanggung jawab. Eksistensi menyebabkan kita gentar pada waktu kita harus menghadapi kekekalan karena kita mengetahui sedalam-dalamnya di dalam diri hati kita ada satu kesaksian intuitif bahwa hidup tidak terbatas dengan kematian tubuh. Kita berdaging dan berdarah tapi pada saat kita menghadapi kematian kita mengetahui kematian bukan terbatas, bukan membatasi saya. Eksistensi akan menerobos ke sana dan pada waktu itu engkau akan sadar, aku memerlukan Tuhan, mungkin sudah tidak ada kesempatan.

Keadaan tubuh yang berdaging dan berdarah inilah menjadi salah satu kurun di mana Tuhan menyatakan anugerah dan inilah satu-satunya kurun di mana Tuhan memberikan keselamatan kepada manusia. Jikalau manusia tidak mempunyai tubuh, tidak mempunyai daging, tidak mempunyai darah, maka manusia sama seperti malaikat berada di hadapan Tuhan Allah, langsung melihat Dia, langsung eksistansi relatifnya direct dengan Dia. Saudara-saudara, maka manusia pun tidak ada kemungkinan menerima keselamatan. Ini adalah pengertian yang kita bisa terima dari seluruh Kitab Suci membandingkan malaikat dan manusia.

Kedua, pada waktu malaikat berbuat dosa, berlainan dengan manusia berbuat dosa. Jikalau pertama kita mengatakan malaikat berbuat dosa dalam keadaan rohaniah, manusia berbuat dosa di dalam keadaan jasmaniah, maka kurun di mana kita berada dalam tempat dan waktu, dan daging dan darah ini, mengakibatkan kita tidak lihat dia. Sehingga kita berbuat dosa itu tidak langsung kepada Tuhan tetapi indirect.

Maka yang kedua kita memikirkan bahwa setan langsung berdosa kepada Tuhan Allah. Manusia berada dalam daging dan darah bukan langsung berbuat dosa kepada Allah. Itulah sebabnya manusia berbeda dengan malaikat waktu diberikan kesempatan dan kemungkinan menerima keselamatan.

Kita melihat lagi satu poin yang penting malaikat-malaikat berbuat dosa tanpa adanya pencobaan. Pada saat malaikat pertama melakukan dosa melawan Tuhan Allah, tidak ada yang mencobai dia. Tapi waktu manusia waktu Adam dan Hawa berbuat dosa, dicobai oleh iblis. Di sini kita melihat pada waktu malaikat berbuat dosa, dia langsung melawan, langsung berontak kepada Tuhan Allah. Tapi waktu manusia berdosa, langsung dicobai oleh ular itu. Apakah benar Tuhan mengatakan tidak boleh makan? Apakah benar Tuhan mengatakan tidak boleh menjamahnya? Jika menjamahnya hari itu juga engkau akan mati. Justru terbalik. Waktu engkau makan, matamu akan menjadi terang, akan terbuka, coba makan saja. Mengapa engkau begitu takut kepada Tuhan Allah?

Saudara-saudara sekalian, maka Adam dan Hawa dicobai oleh setan. Waktu Adam dan Hawa dicobai oleh setan, berarti berdosa di dalam, berarti dengan pencobaan yang menggoda dia untuk melawan Tuhan Allah, untuk melawan perintah, melawan segala perkataan yang dikatakan oleh Tuhan Allah. Di situ Adam dan Hawa jatuh. Tapi kalau kita tanya, apakah setan berdosa juga dicobai? Kalau manusia berdosa dicobai oleh setan, apakah setan dicobai oleh setannya setan? Tidak. Jadi di dalam Alkitab jelas dikatakan kepada kita, manusia dicobai oleh penggodaan, manusia dicobai akibat ada pencobaan tapi mereka tidak. Itu sebab saya percaya dengan pengertian seperti ini, kita bisa mengetahui mengapa malaikat tidak diberikan kesempatan untuk bertobat. Mengapa Yesus mati bukan untuk menyelamatkan malaikat. Selain kedaulatan Allah masih ada hal-hal teologis yang kita perlu mengerti di dalam Kitab Suci. Saudara-saudara, bukan saja demikian, manusia bersalah kepada Tuhan Allah, berdosa dan berdosa kepada Tuhan meskipun indirect, meskipun berada dalam pencobaan, dan dikurung di dalam tubuh dan sebagainya, tetapi Alkitab akhirnya mengatakan tidak terlepas dari pertanggungjawaban diri sendiri. Orang yang berdosa tidak bisa mengatakan aku berdosa karena yang lain. Setiap orang berbuat dosa karena ditarik, dicobai oleh kehendak kemauan diri yang berada di dalam. Ini adalah pengertian tentang diri.

Apa artinya diri? Setiap diri mempunyai sifat yang bersifat oknum. Setiap diri adalah suatu kepribadian. Di dalam bahasa psikologi, dalam bahasa khususnya filsafat, istilah self, itu berarti sesuatu pribadi yang hidup, yang menyadari diri. Saudara-saudara, saya adalah seorang diri, engkau adalah seorang diri, kita adalah seorang diri, diri, diri, …, diri. Diri ini adalah yang dicipta oleh Tuhan yang berkepribadian maka kita mempunyai pendirian.

Kita berbeda dengan binatang. Binatang-binatang tidak dicipta dengan kepribadian. Semua binatang tidak mungkin mempunyai keputusan berdasarkan pemikiran mereka, kemauan mereka, dan emosi mereka yang menyatu, yang akhirnya menyatakan pendirian mereka. Tidak mungkin, karena mereka adalah makhluk hidup namun seperti mesin makan, mesin seks dan mesin yang akhirnya mati saja. Semua makhluk, semua binatang di bawah manusia adalah sesuatu organ yang hidup, yang berkuasa untuk menghidupkan sendiri dengan daya dasar mencari makan dan memenuhi kebutuhan fisiknya saja khususnya makan dan seks. Tetapi mereka tidak mungkin mempunyai kesadaran aku berada, apa tanggung jawabku, aku harus mempunyai moral, aku menuju pada kekekalan, aku menghadap pada Tuhan Allah, tidak! Karena eksistensi relatif itu tidak diberikan kepada binatang, mereka tidak mempunyai diri, mereka tidak mempunyai self, mereka tidak mempunyai soul yang bersifat spiritual eternal, mereka tidak mempunyai self – consciousness yang mungkin menyadari keberadaan diri. Tidak. Itu sebab saudara-saudara, semua binatang setelah mati itu habis. Mereka tidak mempunyai kekekalan, mereka tidak bertanggung jawab terhadap Tuhan Allah tentang semua moralitas yang ada pada mereka. Mereka adalah makhluk yang seperti satu benda, mesin yang hidup saja. Tetapi manusia berbeda. Manusia memiliki pendirian. Diri, diri yang dicipta di luar diri, ini merupakan suatu crucial and most dangerous being. Semua diri yang dicipta oleh Tuhan, di luar diri Allah itu menjadi sesuatu makhluk yang sangat bahaya, bisa melawan Tuhan sehingga bisa dihukum oleh Tuhan. Maka itu bahaya bagi yang dihukum dan bisa melawan Tuhan, itu suatu bahaya bagi Tuhan Allah. Pada waktu Allah menetapkan menciptakan sesuatu yang mungkin melawan Dia, Dia telah menciptakan suatu makhluk yang krusial, yang sangat bahaya. Ini adalah suatu hal yang menjadi suatu permulaan pengertian apa artinya dosa, apa artinya permusuhan dan perdamaian dengan Tuhan Allah.

Saudara-saudara, umpama, kau membuat suatu mesin, akhirnya bisa jalan sendiri, bisa melawan engkau, itulah mesin yang sangat bahaya bagi kamu. Demikian Allah menciptakan manusia dengan adanya diri di dalamnya, dan diri ini bisa melawan dirinya Allah dan diri ini bisa menetapkan pendirian sendri, diri ini bisa menjadi musuh Allah dan akhirnya mengatakan kita telah menjadi seteru Allah. Memang kita diciptakan dalam keadaan krusial, di dalam keadaan yang sangat krisis, di dalam keadaan yang sangat bahaya. Bahaya untuk kita, karena perlawanan dengan Tuhan Allah, yaitu dosa yang mengakibatkan kebinasaan adalah mematikan diri kita sendiri. Dan berbahaya bagi Tuhan Allah, Dia adalah Allah yang berdaulat, karena mencipta manusia-manusia mempunyai diri, akhirnya Dia bisa dilawan, diejek, difitnah, tidak dipercaya oleh manusia. Tapi Allah rela, Allah rela menciptakan diri di luar diri. Diri di luar diri bagaimana penyelesaiannya? Penyelesaiannya adalah, bila engkau tetap membanggakan dirimu, berada pada dirimu, engkau adalah orang yang berdosa. Tapi bila engkau menyangkal diri, engkau kembali kepada Tuhan, engkau menjadi orang yang diselamatkan dan dibenarkan.

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://buletintaipei.blogspot.com/2011/09/ringkasan-khotbah-keselamatan-hanya.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube