Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : Yakobus 1:25

Orang yang mendengar Firman bagaikan seorang yang berdiri di depan cermin, mengetahui keadaan dirinya. Kalimat ini memberi inspirasi pada setiap pengkhotbah: sudahkah dia membawa pendengarnya mengenal Tuhan dan mengenal dirinya? Calvin berkata: lewat mengenal Tuhan barulah kita bisa mengenal diri. Hanya di hadapan Tuhan yang suci, manusia menyadari dirinya begitu tidak suci. Di hadapan Tuhan yang penuh dengan kesungguhan, manusia menyadari dirinya begitu licik; penuh dengan kebohongan. Di hadapan Allah yang penuh kasih, manusia menyadari di dalam dirinya menyimpan banyak kebencian. Orang yang tidak mengenal Tuhan tak mungkin mengenal dirinya. Itulah kelemahan terbesar dari filsafat Socrates: mengajar manusia should know yourself.

Yohanes adalah murid Yesus yang penuh dengan dendam, tatkala orang-orang Samaria tak mau menerima kehadiran Yesus di tempat mereka, katanya: Rabi, izinkan saya minta Allah di sorga menurunkan api menghanguskan mereka. Yesus bukan senang tapi menegurnya dengan keras: bagaimana hatimu, kamu tidak tahu. Karena Yesus tahu, pengenalan manusia terhadap dirinya begitu kabur. Bagaimana kita bisa mengenal diri? Lewat mengenal Tuhan. Bagaimana kita menilai diri? Seturut nilai dan prinsip penilaian Tuhan. Paulus berkata kepada Jemaat di Korintus: orang yang menilai orang dengan orang, orang yang membandingkan diri dengan orang, kedua-duanya salah: bodoh. How to estimate; evaluate the value of human beings? Kita hanya bisa mengenal diri lewat come to Him, face Him and look upon Him, barulah kita sadar ada begitu banyak dosa tersimpan di dalam diri kita. Inspirasi besar ini diberikan pada hamba Tuhan: tugas pemberita Firman adalah memaparkan cermin dari kebesaran Tuhan, kesucian Tuhan, keadilan Tuhan, kebenaran Tuhan dan cinta kasih Tuhan, membawa pendengarnya mengenali dirinya.

Bolehkah pendengar khotbah menjadi sombong? Inilah respon yang paling jelek terhadap Firman Tuhan: sambil mendengar khotbah sambil berkata, khotbah ini cocok untuk si anu. Sayang, hari ini dia tidak datang. Seorang yang mendengar khotbah untuk orang lain, rohaninya tak pernah maju, sifatnya tetap sama: dulu kau egois, sekarang juga tetap egois. Dulu selalu merasa tidak puas, sekarang juga begitu. Karena kau sudah bercermin, sudah melihat standar Tuhan, tapi kau pikir, khotbah ini bukan untukmu. Permisi tanya, setelah kau mendengar Firman Tuhan, adakah hidupmu berubah? Mendengar Firman adalah untuk dijalankan bukan untuk menghantam orang lain, membanggakan diri sebagai anggota gereja yang khotbahnya baik. Mendengar Firman bagai seorang yang berdiri di depan cermin, melihat dirinya kotor, tidak rapi, tapi meninggalkan cermin dengan tidak mengubah apa-apa. Sikap yang benar dalam mendengar Firman adalah: memperbaiki diri. Banyak orang berani membayar jutaan rupiah untuk mengikuti satu seminar bisnis demi mendapatkan rahasia yang membuat bisnisnya maju. Faktanya: orang yang sudah membayar mahal akan menyimak dengan teliti. Seseorang di Amerika berkata pada saya: “saya baru saja mengikuti seminar bagaimana mengambil foto yang diadakan oleh Nikon” “kau sudah ahli, sudah berpengalaman puluhan tahun di bidang foto memfoto, masihkah kau perlu mengikuti seminar seperti itu?” “ya, bahkan untuk seminar itu saya harus bayar 500 dollar” “apa yang kau peroleh dari seminar itu?” “semua bahan ceramah sudah aku ketahui bahkan sudah aku praktikkan, kecuali satu hal: saya baru tahu, saat kita mengambil foto di tempat yang kurang cahayanya, saat kita menjepret foto, secara tidak sadar, kameranya goyang, hasil fotopun kabur. Bagaimana caranya agar kita bisa memegang kamera dengan stabil? Tapi kalimat itu berharga 500 dollar”, “saya tidak mencari uang dari mengambil foto” akhirnya, dia katakan juga: “membalikkan kamera, dengan begitu, posisi kamera menempel di dahi, hasil fotonya justru lebih baik” “mengapa bisa begitu?” “karena dahi adalah tempat yang paling tenang di seluruh tubuh kita, tidak ada getaran nadi besar; denyut jantung, maka saat kamera diletakkan disana sangat stabil.

Di dalam hati saya berkata, kalau semua pendengar khotbah membayar 500 dollar, setiap orang menangkap satu kalimat yang bisa mengubah hidupnya, mereka pasti sudah seperti malaikat. Masalahnya, kita sudah begitu banyak mendengar khotbah yang penting, yang sangat berharga, tapi kita anggap remeh, tidak mendengarpun tidak jadi masalah, minggu depan toh pak Tong kotbah lagi. Kita tidak menghargai anugerah Tuhan, Firman yang kita dengar, kita anggap sebagai angin lalu, tidak kita simpan di hati. Saya mendengar satu berita yang mengejutkan, awal tahun lalu, perusahaan Toyota memuat satu iklan, tahun ini, mobil kami yang termewah—Lexus sudah mengalami 10.000 perubahan: desainnya, mesinnya, kuncinya, suaranya…..terus ditingkatkan. Saya kira, Toyota adalah satu-satunya perusahaan yang berani menyisihkan 24% dari profitnya untuk meneliti, meningkatkan produk mereka. 20 tahun lalu, orang berkata, setiap tahun mobil buatan Amerika hanya ganti kerangka, tidak pernah meningkatkan mutu mesinnya, Toyota secara diam-diam mengejar produk mobil Jerman, Amerika dengan terus mengadakan penelitian, meningkatkan mutu mobil mereka, sampai-sampai pemilik mobil Toyota hanya perlu mengganti oli saja, karena trouble free. Yang ingin saya kemukakan adalah: mereka mau memperbaiki mutu produknya, sementara orang Kristen, tak mau berubah, hanya ingin dipuji, how can we improve? Mari kita mengubah diri, mengubah diri, mengubah diri, hingga semakin mirip dengan Tuhan. Kadang kita tidak menyadari, di balik sesuatu yang bermutu tinggi ada orang yang rela menguras pikirannya begitu rupa. Kalau kita memperhatikan musik Eropa dari th 1801 sampai th 1901, selama 100 tahun itu, dari zaman Classic, Romantic sampai zaman Impressionesme, Nasionalisme, kau menemukan ada banyak perubahan dalam musik mereka. Tak seperti musik Jawa atau musik Tiongkok, hanya itu-itu saja, tak ada perubahan. Apa sebabnya? Sudah merasa puas. Kalau kita mendengar Firman, lalu kita berubah, kita akan mengalami kemajuan yang pesat.

Mendengar Firman bukan untuk mengoleksi pengetahuan, menambah gengsi karena sudah mendengar pembahasan surat ibraninya pak Tong…. Melainkan untuk menyerap bijaksananya, konsep-konsepnya. Anything we hear, try to transform into our deeds, daily life, to change ourselves, to be more similar with our Lord. Ay.25, barangsiapa meneliti (kata kerja) hukum, jangan dia melupakannya (kata kerja), tapi sungguh-sungguh melakukannya(kata kerja). Meneliti berarti mengupas, menganalisis, mengamati, merenungkan, menemukan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Dulu, ketika SAAT membangun perpustakaan, saat saya meneliti pekerjaan mereka, kontraktornya berkata, pak, jangan dilihat terus, kalau dilihat terus tentu ada banyak salahnya. Begini saja sudah lumayan. Jawab saya: tidak! Sayalah yang mendesain, maka saya minta semuanya dibuat dengan benar. Sesuatu yang sudah sempurna tidak takut diteliti: justru semakin diteliti semakin nampak keindahannya. Begitu juga Firman Tuhan, kalau hanya mendengar, sepertinya biasa saja, siapapun yang khotbah, asal bersemangat, sama saja. Tapi bila kau meneliti Firman Tuhan sampai detail, kau akan menemukan Firman Tuhan adalah kebenaran yang begitu indah dan begitu sempurna (ay.25).

Apa yang kita teliti? Hukum Allah. Hukum yang seperti apa? Hukum yang sempurna, yang memerdekakan. Mengapa hukum Allah disebut sempurna dan memerdekakan? Ingat: hukum hadir di dunia, setelah manusia berdosa. Jadi, Allah memberi hukum untuk menyadarkan manusia: dirimu adalah orang berdosa. Dengan lain perkataan, hukum adalah standar dari keadilan Allah, maka hukum menuntut kita bertobat atau dihukum. Sayang, banyak orang Yahudi mengira: hukum diberikan agar manusia tidak berdosa. Persis terbalik: hukum diberikan bukan supaya kita tidak berdosa melainkan membuktikan kita sudah berdosa. Mengapa Yakobus menyebut hukum Allah itu sempurna? Karena hukum Allah menyatakan tiga sifat ilahi yang besar: holiness, righteous, goodness. Ditinjau dari motivasi: Allah Pemberi Hukum itu bajik. Ditinjau dari sifat moral: Allah Pemberi Hukum itu suci. Ditinjau dari sifat hukum: Allah Pemberi Hukum itu adil. Taurat tak boleh dibuang atau diinjak-injak. Setelah kita memiliki Injil, kita tak boleh melupakan Taurat, menganggap Taurat sebagai sesuatu yang kuno, produk Perjanjian Lama. Memang di Ibrani tertulis: Perjanjian Lama lambat laun akan semakin layu. Perjanjian Baru-lah yang kekal. Namun jangan lupa, sifat ilahi yang dinyatakan di PL itu kekal, tak mungkin menjadi layu. Itu sebabnya, Yesus Kristus berkata di Mat 5:18, jangan menganggap Aku datang untuk meniadakan Taurat, Aku datang untuk menggenapi; menyempurnakan Taurat. Bukan karena Taurat masih punya kurang hingga perlu disempurnakan, melainkan karena hanya Yesus yang sempurna, yang sanggup memenuhi semua tuntutan Taurat, maka kataNya, I come to accomplish what had been demanded by the law, langit dan bumi akan berlalu, tapi perkataan Tuhan, tidak ada satu titik, satu noktah yang akan ditiadakan (Mat5:18). Dia mengulangnya di Mat 24:35, Firman yang Kukatakan padaMu itu kekal, Dia membandingkan FirmanNya dengan langit dan bumi yang akan lenyap, mengindikasikan: the word of Christ is identic with the word of God, that is eternal not temporal. Maka Yakobus mengajar kita untuk menyelidiki Taurat yang sempurna dan yang membebaskan; memerdekakan. Alkitab hanya menyebut tiga hal yang memerdekakan sekaligus mengkuduskan manusia: 1. Firman Allah 2. Roh Kudus 3. darah Yesus Kristus.

Jadi, jangan mengira, banyak berdoa akan membuatmu menjadi suci. Mengapa doa tidak menyucikan? Karena doa berasal dari manusia, mana mungkin manusia membersihkan dirinya sendiri? Yang bisa kita lakukan di dalam doa hanyalah mengaku diri tak mampu, minta pertolongan Tuhan untuk menyucikan kita. Setelah Firman, darah Yesus Kristus, Roh Kudus membersihkan kita, kita bebas dari dosa. Dulu di Jakarta ada jalan-jalan yang disebut daerah bebas becak, bukan berarti becak bebas beroperasi disana, melainkan becak tidak boleh beroperasi dengan bebas disana. Jadi, bebas dari dosa, bukan bebas berbuat dosa melainkan dosa tidak bisa beraksi dengan bebas di atas diri kita. Sekarang, airport dimana-mana tempat tidak mengizinkan orang merokok, perokok memang merasa tidak bebas, tapi orang yang tidak merokok merasa bebas. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak bisa merokok? Disediakan ruang khusus, dimana orang boleh merokok dengn bebas. Jadi, ada dua jenis kebebasan, bebas melakukan dosa atau bebas dari ikatan dosa. Apa maksudnya meneliti hukum yang memerdekakan? Mengamati, mempelajari Firman Tuhan, sampai kau menyadari Firman inilah yang membuatmu bebas dari dosa. Apa bedanya wanita dengan pria? Pria suka mengenakan ikat pinggang, wanita jarang mengenakan ikat pinggang, masalahnya: yang mengenakan ikat pinggang sama dengan tidak mengenakannya, yang tidak mengenakan ikat pinggang sama dengan yang mengenakannya. Wanita tahu membatas diri, karena mereka ingin cantik, langsing, takut kegemukan, maka dia mengikat pinggangnya dengan ikat pinggang yang tak nampak. Tapi pria, meski mengenakan ikat pinggang, percuma saja: begitu menyantap makanan enak, ikat pinggangnya dilonggarkan dan dilonggarkan, sampai tak bisa melonggarkannya lagi, dia menggantinya dengan ikat pinggang yang lebih panjang. Sesudah tubuhnya menjadi begitu gemuk, apakah dia bebas? Tidak bebas lagi: karena dia bebas makan, maka dia tidak bebas bergerak.

Suatu kali, saya melihat seorang lelaki yang berat badan paling sedikit 250kg berjalan, di belakangnya ada seorang yang badannya kurus, meski menenteng kopor berat, masih bisa berjalan dengan bebas. Apa bedanya kedua mereka? Yang satu membawa kopor berat, tapi saat dia merasa lelah, dia bisa meletakkannya, sementara yang lain, kopornya menempel di badan, tak bisa diletakkan. Bukan saja demikian, kopor yang paling berat –lemak menempel di jantungnya. Kapan istilah lemak membungkus jantung mulai digunakan? 2700 tahun yang lalu, dimulai oleh Yesaya. Jadi, Alkitab memang ajaib, tulisnya: kamu telah membungkus jantungmu dengan lemak, hingga kamu tidak bisa mendengar Firman dengan baik. Lalu apa gunanya Taurat diberikan? Menjadi ikat pinggang yang membatas gerakmu. Mungkin kau berkata, aku tidak mau hukum Tuhan. Karena hukum Tuhan membatasi gerakku. Tapi kata Tuhan, hukum bukan membatasimu melainkan membebaskanmu. Karena ikatan yang hukum beri adalah ikatan yang membebaskan. Kebebasan yang mengikat berbeda dengan kebebasan yang membebaskan: Firman Tuhan adalah ikatan yang membebaskanmu, dan dosa adalah kebebasan yang mengikat. Maka kata Yakobus: the law set you free. Hukum itu sempurna, hukum itu digenapkan oleh Kristus, hukum itu adalah kebenaran yang membebaskanmu.

Telitilah Firman Tuhan; kebenaran Alkitab. Karena waktu kau menelitinya, kau beroleh kebebasan. Orang yang meneliti hukum yang sempurna, yang memerdekakan, dan menjalankannya, dia bukan hanya mendengar dan melupakan melainkan mendapat banyak faedah untuk perbuatannya. Jadi butir yang terakhir: to work out. Saat kau melakukan Firman, kau menikmati kebebasan. Puji Tuhan! Kalau dokter mengatakan padamu, jangan makan terlalu banyak gula, gorengan, kulit ayam…. Mungkin kau merasa dokter itu tidak baik, karena dia memberikan begitu banyak batasan. Tapi katanya, aku membatasimu agar kau panjang umur, bebas dari kolestrol, penyakit jantung…. Sampai suatu hari, kalau dokter mengatakan padamu, sekarang kau boleh makan apa saja yang kau mau. Dan isterimu bertanya, mengapa dokter memperbolehkanmu makan sesukamu, barulah diberitahu karena kau sudah dekat mati, penyakitmu tidak bisa disembuhkan lagi. Apa bedanya Firman Tuhan dengan dosa? Firman Tuhan adalah batasan yang membebaskan, dosa adalah kebebasan yang mematikan. Mari kita mengindahkan Firman Tuhan. Baca Yak 1:25 sambil merenungkannya sungguh-sungguh.

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah–EL)

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2004_12_12_archive.html, Versi Mp3 dapat di dengan pada link https://www.youtube.com/watch?v=qadNawIudMs&feature=relmfu

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube