Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Dalam buku Long Walk to Freedom, Nelson Mandela menceritakan salah satu pengalamannya saat mendekam di penjara Robben Island selama 19 tahun.

Di penjara itu ada seorang kepala sipir yang dikenal paling kejam. Namanya Badenhorst. Beberapa hari sebelum Badenhorst pergi, Mandela dipanggil ke kantor pusat. Jenderal Steyn saat itu tengah mengunjungi pulau itu dan ingin tahu apakah ada pengaduan dari para narapidana. Badenhorst juga berada di kantor itu ketika Mandela menuliskan pengaduannya.

Ketika Mandela selesai, Badenhorst mengajaknya mengobrol. Badenhorst berkata kalau dirinya akan meninggalkan pulau itu. “Saya cuma berharap semua orang di sini baik-baik saja.”

Seketika Mandela tercengang sekaligus merasa kagum. Ucapan Badenhorst itu menurutnya sangat tulus dan menunjukkan sisi lain dirinya yang tak pernah terlihat sebelumnya. Mandela mengucapkan “terima kasih dan semoga sukses”.

Mandela merenungkan kejadian ini. Badenhorst mungkin kepala sipir yang paling kejam dan tak berperasaan. Namun pada hari itu di kantor pusat, ia menunjukkan bahwa ada sisi lain yang dia miliki, sisi yang tampak tak jelas tapi masih ada di dalam dirinya.

Hal ini mengingatkan kita bahwa semua bahwa manusia, yang kelihatannya bersikap paling dingin sekalipun, tetap memiliki kebaikan dalam dirinya. Sesungguhnya, Badenhorst bukanlah orang jahat. Sisi manusiawinya terpaksa ‘disingkirkan’ ke belakang, oleh sistem yang tidak manusiawi di tempatnya bekerja.

Pembaca yang Bijaksana!

Dalam kehidupan ini, kita seringkali menjumpai “Badenhorst” lainnya. Seringkali pula kita merasa kesal, jengkel, marah dengan sikap dan perilaku “Badenhorst” itu dan perasaan buruk ini berdampak negatif juga pada hari-hari kita.

Saat menghadapi orang-orang seperti Badenhorst, coba merenungkan sejenak alasan di balik sikap dan perilaku mereka yang menjengkelkan itu. Mungkin mereka bersikap begitu karena memang ada sesuatu yang mengharuskan mereka seperti itu (seperti halnya Badenhorst). Atau, mungkin kekesalan mereka diakibatkan karena persoalan rumit yang sedang mereka hadapi di kehidupan pribadi atau kehidupan kerjanya. Sayangnya memang, kekesalan mereka dilampiaskan dengan sikap kasar kepada orang lain, kepada kita. Tapi, alangkah lebih baiknya jika kita tidak mengimbangi sikap orang-orang seperti Badenhorst itu.

Seperti yang dikatakan Mandela, pada dasarnya setiap manusia memiliki sisi baik yang jika disentuh akan mampu mengubah manusia paling dingin sekalipun. Karena itu, dengan berusaha sedikit memahami, kita akan bisa bersikap sopan dan ramah. Perlahan tapi pasti kekerasan hati orang itu akan berhasil diluluhkan.

Tetesan air yang terus-menerus bisa melubangi kerasnya batu karang atau membuat besi berkarat dan hancur. Begitu pula, hati yang keras akan mampu luluh dengan sikap yang lemah-lembut.

Sumber : https://m.andriewongso.com/artikel/aw_corner/4615/Kebaikan_yang_Tersembunyi/  &  https://masterwordsmith2.blogspot.com/2011/09/kindness-within.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube