Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Tahun yang lewat akan dicatat di sejarah, tapi tahun sebelumnya merupakan aset yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita, karena aset kita yang penting dan paling dasar adalah waktu. Masalahnya: bagaimana cara kita menggunakan waktu? Setiap pertukaran tahun, saya selalu menilai diri: tahun ini, adakah saya menghambur-hamburkan waktu yang Tuhan anugerahkan atau saya telah mengisinya dengan ketaatan, dengan rasa takut padaNya? Kalau ternyata saya sudah menggunakan waktu dengan baik, saya bisa bersyukur padaNya dengan hati yang lega. Tapi kalau ternyata saya membuang-buang banyak waktu dan kesempatan penting, saya merasa sangat berhutang padaNya. Biarlah renungan yang singkat ini mengingatkan kita: keberadaan kita di dunia ini hanya sebagai tamu.

Di dalam sejarah yang panjang, manusia ini bersifat contingent (boleh ada, boleh tidak ada). Suatu hari nanti, langit dan bumi akan lenyap. Setelah kita menyadarinya, kita tahu: tubuh kita, keelokan paras kita, masa muda kita, kesehatan kita, segala yang kita miliki di dunia bersifat contingent adanya, waktupun mengukir hidup kita dengan kebenaran Tuhan, menginjili orang-orang yang belum mengenal Tuhan dengan kebenaranNya, berarti kita menggunakan waktu yang contingent sebagai alat guna mencapai sesuatu yang abadi, sesuai dengan kehendak Allah yang incontingent. Itulah bijaksana. Kiranya Tuhan memberi kita bijaksana, menjadi orang-orang yang mengikut Dia dan berkenan padaNya. Yakobus 2:1-8. Hak tertinggi yang bisa manusia nikmati adalah: listen to the word of God, understand the eternal will of God, and to take part in His eternal planning. Jika orang terkaya di dunia, misalnya Bill Gates mengundangmu menjadi CEO-nya, tentu kau merasa bangga bukan? Tapi bagaimanapun juga, tetap tidak semulia panggilan Tuhan padamu untuk berbagian dalam pekerjaanNya, Amin? Dunia akan berlalu, hanya mereka yang menjalankan kehendak Tuhan akan tinggal tetap selama-lamanya.

Kalimat di Yoh. 2 ini sempat mempengaruhi C.T. Staadd anak hartawan yang rumahnya bagaikan istana, menyerahkan diri melayani di Tiongkok. Kemudian, Tuhan memimpinnya pindah ke Afrika, dia mendedikasikan hidupnya menjadi penginjil di sana. Seorang wartawan menyandingkan foto gubuk tempat tinggalnya di Afrika dengan foto rumahnya di Inggris yang bagai istana di biografinya, membuat hati saya tersentuh: dialah orang yang mendengar dan melakukan Firman. Minggu lalu, kita sudah membahas: kita perlu mendengar, menerima, merenungkan, mengimani dan melaksanakan Firman, baru waktu kita membahasnya menjadi begitu berkuasa. Jadi Firman yang diresponi oleh mereka yang mau mentaatinya menjadi Firman yang hidup bukan Firman teori. Mengapa banyak sekali hamba Tuhan menyampaikan Firman, tetapi tidak membuahkan hasil? Karena orang menyasikan hidupnya berbeda dengan apa yang dia katakan. Seorang anak yang bertanggungjawab atas setiap Firman yang didengarnya, rohaninya lebih dewasa dari Pendeta yang hanya bisa mengomel tapi tidak menjalankan. Karena mendengar Firman harus dikaitkan dengan melakukan Firman. Soal melakukan Firman adalah suatu paradoks: Allah memberikan Taurat pada orang Israel bukan untuk mereka lakukan, melainkan untuk memberitahu bahwa mereka tak mungkin bisa melakukannya. Apa itu berarti: kita tak perlu melakukannya? Tidak, kita harus melakukannya dengan sekuat tenaga. Tapi akhirnya kita menyadari , kita tak mungkin dan tak sanggup melakukannya, maka kita lari pada Tuhan, minta pertolongan dan anugerah keselamatan padaNya.

Apakah karena keselamatan adalah suatu pemberian maka kita boleh tidak melakukan kewajiban kita ? Tidak, karena iman adalah suatu tanda, di atas kemungkinan kita melakukan, kita butuh anugerah Tuhan, bukan jasa diri. Tapi setelah kita beriman, kita perlu melakukan, dan itu adalah buah iman bukan benih yang bisa kita tukar dengan anugerah. Itulah perbedaan antara konsep kelakuan di dalam teologi Paulus dan teologi Yakobus. Paulus berkata, aku diselamatkan bukan karena melakukan, tapi Yakobus berkata: kita harus melakukan. Adakah pandangan mereka saling bertolak belakang? Tidak, melainkan sinkronisasi lewat konsep paradoks. Bagi Paulus, kelakuan itu sesuatu yang dibanggakan oleh orang Farisi, mereka belum menjalankan Firman tapi sangkanya sudah menjalankan, maka katanya: kita bukan diselamatkan lewat kelakuan. Sementara bagi Yakobus, kelakuan adalah tugas kita, bukan untuk menerima keselamatan, melainkan untuk membuktikan bahwa kita sudah diselamatkan. Salah satunya: bagaimana kita memperlakukan orang. Manusia selalu terjerat dalam: salah mengerti Allah dan salah menafsir manusia. Orang Ateis menganggap Allah tidak ada, padahal Allah itu ada, Dialah Pencipta segala keberadaan di luar diriNya. Kau menganggap Allah tidak ada hanya karena Dia tidak nampak, padahal angin, elektro, atom, wibawa satu negara, kebebasan, karakter yang agung… juga tidak nampak, bukan? Jadi, kau salah menilai: yang ada kau anggap tidak ada, yang tidak ada kau anggap ada. Yang bukan keberadaan incontingent dianggap sebagai yang terpenting. Itulah materialisme.

Salah memberi tanggapan pada Tuhan merupakan dasar kita salah menilai sesama: meninggikan orang kaya, menghina orang miskin. Dan menilai kaya miskin dari penampilan. Ay. 4 menguji kelakuan kita: apa yang kita perbuat saat berbakti pada Tuhan? Saat orang yang mengenakan pakaian indah datang, adakah kau menyambutnya dan mempersilakannya duduk di tempat yang penting, sementara saat orang yang pakaiannya lusuh datang, kau menyuruhnya berdiri atau duduk di tumpuan kaki: memandangnya sebagai budak? — menilai sesama lewat penampilannya: materi. Padahal ada orang kaya yang pakaiannya sederhana, ada orang yang penampilannya mentereng tapi kantongnya kempes, tapi manusia selalu menilai orang dengan kacamata yang tidak beres.

Salah seorang yang paling pintar di dunia adalah Stephen Hawking, penampilannya bagai orang bodoh, bicaranya tidak jelas, tapi sempat mengejutkan sejagat dengan teorinya yang mengubah nasib seluruh dunia. Jadi, jangan kita menilai orang dari penampilannya, karena penampilan bisa merupakan penipuan guna menguji siapa diri kita, dan perlakuan kita terhadap sesama. Albert Einstein tidak menyisir rambutnya, tidak mencukur kumisnya. Saat dia tergesa-gesa masuk ke ruang kuliah di Princeton, dia menjadikan dasi sebagai ikat pinggang, tapi kuliahnya membuat dunia memiliki bom atom. Inilah satu-satunya pasal di Kitab Suci yang menyinggung soal perlakuan kita terhadap orang kaya dan miskin di kebaktian; orang kaya dipersilahkan duduk di kursi yang baik, tapi orang miskin disuruh duduk di tumpuan kaki, tempat untuk budak. Padahal kebakitan berbeda dengan konser, tak boleh membeda-bedakan tempat duduk. Orang boleh punya bakat, kedudukan, IQ yang tinggi, pengalaman segudang, tapi di hadapan Allah, a man is equal to a man, maka barangsiapa menumpahkan darah orang, darahnya juga harus ditumpahkan, artinya: nyawa orang tak bisa diganti dengan uang. Itu sebabnya, di gereja, orang yang paling miskin bisa duduk berdampingan dengan orang yang paling kaya, Amin?

Suatu kali Gladstone, Perdana Menteri yang paling terkenal di abad-19, berkunjung ke sebuah kota kecil. Di hari Minggu, dia berbakti di sebuah gereja kecil. Kebetulan hari itu ada Perjamuan Suci. Menurut tradisi Inggris, setiap orang maju ke depan, menerima Perjamuan Suci dengan berlutut, Gladstone juga berlutut, menunggu giliran roti dan cawan dibagikan padanya, petani yang berlutut di sebelahnya merasa seperti mengenalnya, dan ketika dia menyadari orang itu adalah Perdana Menteri, dia mulai menjauh. Gladstone malah mengulurkan tangan, memegang bahunya sambil katanya, jangan bergeser, kau dan aku sama, merely sinner, we need the grace, the salvation of Jesus Christ, we need His blood to be our ransom, we need Him to be our savior. Jika gereja tidak mengerti konsep yang membedakan dirinya dengan organisasi dunia, tetap meninggikan orang kaya, merendahkan orang miskin, dia akan dibuang oleh Tuhan. Tak satupun gereja berhak memperlakukan sesama dengan cara yang berbeda-beda, menilai sesama dengan kriteria manusia. Gereja harus menjalankan apa yang Yesus katakan: waktu Dia di dunia. Dia tak pernah menghormati seseorang hanya karena dia kaya. Dosa yang terkecil Dia tolak, tapi orang dosa terbesar Dia terima. Dia memiliki kekayaan, kemuliaan, kehormatan yang melebihi siapapun, karena Dia adalah Raja di atas segala Raja, tapi dia lahir di palungan, mati di atas kayu salib, dikuburkan di kuburan orang – tidak punya hak asasi manusia barang satu persen.

Biarlah kita belajar pada Yesus Kristus; saat paling miskin Dia tidak mengomel, saat paling kaya, Dia rela turun dari sorga, artinya Dia sama sekali tidak sombong. Mengapa pada umumnya orang kaya dipersilahkan duduk di tempat yang baik, sementara orang miskin disuruh duduk di tempat budak? Karena kekuatan uang selalu membutakan manusia. Gereja butuh uang untuk membangun, apakah karenanya kita lebih memperhatikan orang kaya? No! Orang kaya yang menelan perpuluhan tidak lebih kaya dari orang miskin. Orang miskin yang memberi lebih dari perpuluhan lebih berkenan pada Tuhan ketimbang orang kaya yang hanya memberi seperseribu. Meski jumlah uang yang dia berikan banyak, kalau dia belum mematuhi perintah Tuhan, dia belum mengasihi Tuhan sebagaimana mestinya. Kalimat seperti ini hampir tidak terdengar di dalam kekristenan, apa sebabnya? Manusia terlalu kompromi, tidak menjalankan kehendak Tuhan. Saya pernah katakan: andaikata uang pembangunan kita tidak mencukupi, biar gereja tunggu 200 tahun baru jadipun tidak masalah. Yang penting, prinsip Firman Tuhan dijalankan, baru kita menyebut diri memuliakan Tuhan, Amin?

Di masa tuanya, Deng Xiao Ping mengakui, finally I realized, money talks very loudly. Tiongkok berubah dari ideologi Komunisme ke ideologi Kapitalisme – perubahan yang begitu drastis, tanpa persiapan mental, pendidikan. Akibatnya: money draw with the great power and create corruption. Uang itu baik atau tidak? Uang itu netral, uang adalah tanda kredibilitas pada nilai pemerintah yang mengeluarkannya. Uang bisa menjadi budak yang baik sekali, juga bisa menjadi tuan yang jahat sekali. Uang bisa merusak kerohanianmu juga bisa menjadi alat di tanganmu untuk meluaskan Kerajaan Tuhan. Mengapa manusia begitu mudah dibutakan oleh uang? Karena prinsip keadilan, takut pada Tuhan tidak ditegakkan, uangpun menyeretnya berkompromi dengan sembarangan. Apakah semua orang kaya harus dihina? Tidak. Apakah semua orang miskin harus dibela? Tidak. Membela orang miskin adalah dosa, menghina orang kaya juga dosa. Bukankah orang miskin lebih dekat dengan Tuhan? Tidak tentu. Abraham, Daud dan banyak tokoh Alkitab yang kaya tetapi dekat dengan Tuhan. Jangan menghina orang kaya yang memperoleh kekayaan secara beres, tapi jangan membela orang miskin yang begitu sombong, merasa dirinya harus dibela, dilindungi, menerima bantuan.

Jadi, jika kita punya prinsip yang didasari kebenaran, kita tak akan tertipu oleh sesuatu yang lahiriah. 2:4-8 adalah ajaran Alkitab. Kita tidak berhak membedakan manusia hanya berdasarkan lahiriahnya. Orang yang hari ini kaya, minggu depan mungkin jatuh miskin. Orang yang sekarang miskin, 20 tahun lagi mungkin adalah konglomerat. Saya adalah orang yang bertulang, waktu saya menikah, kamar saya hanya 2×3 meter, isteri saya berasal dari keluarga kaya, tapi dia tidak menghina saya. Meski secara keuangan saya miskin, tapi saya tidak mengambil satu rupiah dari orang tua untuk menikah, melainkan membeli semua kebutuhan nikah dengan uang sendiri. Bahkan, menyerahkan semua hadiah pernikahan untuk pekerjaan Tuhan. Waktu anak laki-laki saya mau menikah, saya tanyakan padanya: maukah kau melakukan hal yang sama? Dia pikirkan tiga hari lalu jawabnya: saya mau mengikuti teladan papa. Itulah persembahan pernikahan terbesar dalam sejarah GRII selama 15 tahun. Saya tidak berani mendidik anak, kalau saya sendiri tidak menjalankan. Karena pendidikan bukanlah teori, paksaan, rayuan, melainkan satu pengaruh dari hidup yang betul-betul percaya pada kebenaran. Inilah ajaran Alkitab yang bagus: jangan menghina seorang hanya karena dia kaya, karena dia miskin. Dengan demikian, kta punya hati yang lapang: tidak minder bersahabat dengan orang kaya, juga tidak takut bersahabat dengan orang miskin. Tuhan menginginkan kita menghormati satu dengan yang lain, maka kita harus saling jujur, saling mengasihi. Biar Tuhan memberi kita kekuatan mengerti ayat-ayat ini. Bagaimana memandang manusia dari kacamata Tuhan? Baca ay 5-6, orang kaya yang Yakobus maksudkan adalah orang yang menindas orang miskin, dan memperalat kuasa hukum demi kepentingan diri. Orang semacam ini tidak harus kita hormati. Lalu disambung dengan: jalankanlah hukum utama (bahasa aslinya mengacu pada hukum yang paling anggun, paling berharga, paling hormat): mengasihi orang lain seperti mengasihi dirimu. Jadi, to love yourself adalah dasar, prinsip kta mengasihi sesama. Seorang membenci, bukan karena dia terlalu mengasihi diri melainkan karena dia terlebih dahulu membenci dirinya, merasa hidupnya tidak berarti. Untuk bisa mengasihi orang justru harus mengasihi diri. Karena setiap diri dicipta menurut peta teladan Allah, perlu disayang, dihargai dan dihormati. Dengan demikian, to love others just like to love yourself adalah gabungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama mengajar kita mengasihi, menghargai orang lain? Kalau orang lebih pintar darimu, bisakah kau memuji Tuhan, karena Dia menciptakan orang begitu pintar? Kalau orang lain lebih cantik darimu, bisakah kau bersyukur pada Tuhan, karena Dia memberimu kesempatan menikmati karyaNya yang indah? Kalau bisa, hidupmu pasti lebih bersukacita, lebih leluasa. Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing.

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah–EL)

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2004_12_26_archive.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube