Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ayat.5 kalimat pertama, Yakobus menegaskan, apabila di antara kita ada orang yang kurang bijaksana. Maksudnya: jangan kita pikir, orang Kristen pasti tidak akan berbuat salah. Faktanya, orang Kristen tak mungkin luput dari melakukan kesalahan, kebodohan yang mungkin manusia perbuat. Siapakah orang bijaksana? Orang bijaksana tidak identik dengan orang yang berpengetahuan tinggi. Karena orang yang berpengetahuan tinggi, belum tentu berbijaksana, orang yang bijaksana belum tentu berpengetahuan tinggi. Bijaksana jauh lebih penting dari pengetahuan, karena bijaksana adalah arah dari pengetahuan. Kalau kau menyetir mobil yang sudah kau isi penuh dengan bahan bakar, tapi kau kehilangan arah, kau membutuhkan peta untuk mengarahkanmu. Tapi ingat: waktu kau melihat peta, hal pertama yang harus kau temukan adalah lokasimu di peta itu, bila tidak, kau tetap tidak tahu bagaimana caranya sampai di tujuanmu.

Inilah kesulitan manusia: hanya tahu mau ke mana, tapi tak tahu posisinya di mana. Tak heran, ada banyak orang punya cita-cita yang sempurna tapi gagal mewujudkannya. Maka setelah Adam berdosa, pertanyaan pertama yang Allah tanyakan padanya bukan “apa yang kau kerjakan?”, tapi “dimanakah kau?”. Tuhan memang sangat prihatin akan hal itu, karena tidak tahu keberadaan diri merupakan titik tolak seorang tak bisa mencapai tujuan hidupnya. Mengenal keterbatasan diri, kejatuhan diri, kegagalan diri adalah titik tolak kita keluar dari kemelut, masalahnya: orang berdosa sering kali bukan saja tidak mau mengakuinya, malah balik mencela Tuhan, mempersalahkan orang lain. Bijaksana memang bukan pengetahuan.

Pengetahuan dapat kita peroleh dari buku, mengamati orang lain, menimba dari pengalaman, tapi knowledge is not wisdom, knowledge is the content of your thinking and wisdom is the direction of your life. Tuhan berfirman kepada gereja di Efesus: ingat, dimana kau jatuh…..artinya akuilah kegagalanmu, carilah tahu akan penyebab kegagalanmu, sadar dirimu perlu ditolong, itulah titik tolak kita berpaling. Dulu, saat saya mendengar dari Pendeta berkata: dimana kau terjatuh, disitu juga kau berdiri. Saya pikir, kata-kata itu berlebihan, mana mungkin orang jatuh disini lalu bangun disana? Tapi lambat laun saya mengerti, yang dia katakan itu bukan pengetahuan melainkan bijaksana yang lebih dalam, lebih prinsipil, lebih dasar dari pengetahuan. Mungkinkah kita jatuh disini tapi bangun disana? Mungkin, khususnya di dalam hal rohani.

Pada umumnya, orang yang jatuh di dalam kesombongan, selalu kepingin bangun di kesuksesan, memperlihatkan pada orang dirinya unggul, tidak pernah mau tahu soal kejatuhannya. Padahal, masalah dasar ini akan selalu menggerogoti kita, tapi kita tetap tidak peduli. Itulah yang disebut dengan ben xing nan yi; sifat dasar manusia memang sulit diubah: tidak mau mengakui kesalahan, hanya minta kesuksesan, tidak mau bertobat hanya mau dipandang sebagai orang Kristen yang baik rohaninya. Itu sebabnya, kerohanian kita tak pernah maju. Karena bijaksana diawali dari mengenali diri, mengenali posisi kita, kelemahan kita. Maka di kalimat kedua (ay.5), Yakobus menganjurkan kita minta Allah memberitahu posisi kita.

Mengapa ada banyak yang sangat berbakat tapi tak pernah sukses, ada banyak orang punya kesempatan yang begitu indah tapi nasibnya tak pernah berubah? Contohnya: Yudas, dia lebih bahagia dari Socrates dan Konghucu, karena dia punya Guru yang terbaik, teman sekolah yang terbaik, hidup di zaman yang sama dengan Yesus, bahkan sempat terpilih untuk berada di sisi Yesus selama tiga setengah tahun. Tapi toh dia gagal, menjadi orang terkutuk yang tidak bertobat. Mengapa? Dia tidak pernah bertobat dari kelemahannya yang pertama: mencuri, dia adalah anak binasa, orang yang menutup telinga untuk kebenaran. Bijaksana diawali dari mengerti dimana posisi kita, maka the first question of the mouth of God: where are you, Adam? Jika kita tak punya bijaksana, kita akan sering melakukan kesalahan, dan secara tidak sadar, kita akan menikmati kesalahan itu, tidak mungkin bertobat. Bijaksana tersimpan di dalam hal yang benar, dalam kesempatan yang penting. Orang yang tidak punya bijaksana akan salah bergaul, salah menggunakan kesempatan, salah jalan, salah pilih teman, salah beriman pada Allah dan agama yang salah. Semua ini adalah malapetaka yang amat besar. Peribahasa Tionghoa: kurang beberapa mili berakibat kurang beberapa kilometer.

Di Amerika, ada sebuah rumah saat turun hujan, air menitik di atap rumah itu, lalu mengalir turun, kalau turun di sebelah kanan akan sampai ke laut Meksiko, kalau turun di sebelah kiri akan sampai ke laut Pacific. Padahal jarak kedua laut itu kurang lebih tiga ribu kilometer. Begitu juga anak-anak yang sama-sama dibesarkan di dalam satu keluarga, sama-sama studi di satu sekolah, dididik oleh guru yang sama, tapi mengapa yang seorang menjadi orang baik, yang lain menjadi orang jahat? Karena pada saat tertentu akan terjadi pemisahan. Kalau tidak berhati-hati, perbedaan satu mili saja, hasilnya akan sangat berbeda. Apa yang membuatnya berbeda: sikapnya, responnya terhadap Allah dan FirmanNya. Apa itu bijaksana?

  1. Alkitab mengajarkan satu kalimat yang melampaui ajaran buku manapun: fear of the Lord is the beginning of the wisdom (takut akan Tuhan adalah permulaan bijaksana). Orang yang tidak takut akan Tuhan, bagaimanapun pintarnya, dia akan binasa. Adakah politikus yang lebih pintar dari Mao Ze Dong? Saya percaya, di dalam sejarah Tiongkok, tidak lebih dari 5 orang yang lebih pintar darinya. Karl Marx menulis buku tentang komunisme, tapi dia tidak mampu mengubah pemerintah manapun, sementara Mao Ze Dong, berhasil merombak seluruh negara menjadi komunis. Keberanian, bijaksana Martin Luther saat merombak seluruh sistem Katholik memang luar biasa, namun perombakan yang dia lakukan hanya di bidang agama. Sementara Mao Ze Dong, melakukan perombakan di bidang budaya, politik, di negara yang sudah berpopulasi 400 juta orang. Karl Marx pernah “menubuatkan”: Inggris dan Perancis akan menjadi negara komunis pertama di dunia. Kalimat ini merangsang orang-orang di Eropa untuk berpikir, dan mereka menemukan cara untuk mencegah hal itu: social welfare, memperhatikan kesejahteraan seluruh rakyatnya. Karena kesenjangan antara kaya dan miskin akan memancing datangnya paham komunisme. Maka komunis tidak dimulai di Perancis dan di Inggris, melainkan di Rusia, lalu merambat ke Tiongkok, Korea, Kuba, Etiopia dan tempat-tempat lain di Eropa Timur, dimana kesenjangan ekonomi begitu mencolok. Dari sana kita tahu, Mao Ze Dong punya bijaksana, keberanian yang luar biasa, sayang, bijaksananya bukan didasari atas takut akan Tuhan, maka meskipun dia hebat, dia tetap gagal: menjadikan Tiongkok sebagai salah satu negara yang paling miskin di dunia.
  2. Hidup berdamai dengan sesama –mengacu pada EQ, surat Yakobus adalah satu-satunya kitab di PB yang membahas bijaksana. Di PL, bijaksana selalu dikaitkan: takut pada Tuhan, mengenal kesucianNya, dan hidup suci. Tapi di PB, bijaksana dikaitkan dengan human relationship. Tentu dasar dari berdamai di sini adalah damai sorgawi, bukan damai manusia yang munafik. Minggu lalu kita sudah membahas, akumulasi dari IQ, EQ, WQ, adalah SQ (spiritual quotient), the relationship between you and God, and the relationship between you and man, takut pada Allah dan tahu bagaimana berdamai dengan sesama. Saya kira, kita perlu belajar akan kebaikan setiap orang. Peribahasa Tiongkok kuno: xue wu xian hou, da zhi wei shi: dalam hal studi, tidak mempersoalkan siapa duluan, siapa belakangan. Barangsiapa terlebih dulu mencapainya, dia adalah guru.
  3. Sanggup mendisiplin diri. Orang yang mampu menguasai diri mampu menguasai dunia. Karena manusia adalah miniaturnya alam, yang Allah letakkan di tengah alam yang makro sebagai wakil Allah, maka dia harus bisa mendisplin diri barulah dia bisa mengatur yang lain. Kegagalan orang tua adalah: mereka tak mampu mengatur diri tapi mau mengatur anaknya. Kegagalan Presiden atau Raja adalah: memerintah orang padahal dirinya tak sanggup mengatur rumah tangganya. Hukum hanya dipakai sebagai alat untuk mengeruk keuntungan, melawan musuh, bukan untuk mendisiplin diri.
  4. Tahu posisi kita: di atas materi, materi hanyalah fasilitas yang ada di bawah kita. Kita harus jelas akan konsep ini: this world is not my eternal home, everything given is not mine, is not my eternal property. Rumah, perusahaan, uang….hanya Tuhan pinjamkan, sekian puluh tahun, dan harus kta tinggalkan. Orang bijaksana tahu mengatur semua berkat Tuhan dalam hidupnya, karena dia tahu, the way he treats his money, the way he responses to his property, Tuhan mencatatnya. Kelak kita akan meninggalkan dunia dengan dua tangan yang hampa, sama seperti saat kita lahir. Bedanya, saat lahir, tangan kita menggenggam, saat mati, kedua tangan kita terbuka. Maka orang bijak tahu how to overcome the temptation of the material world.
  5. Tahu the interaction, the influence between the temporary occasion and eternal will. Bisakah kau memakai waktumu di dunia yang sedikit untuk mencapai nilai yang selama-lamanya tak akan layu? Itulah bijaksana yang Alkitab ajarkan. Kebudayaan Tionghoa mengajarkan: li yan, li de, dan li gong: waktu kau hidup, tegakkanlah teori yang berguna sampai ribuan tahun. Namun ajaran itu hanya mencakup ribuan tahun di dunia, sementara Alkitab mengajar kita membuahkan sesuatu yang tahan sampai selama-lamanya. Salah satunya adalah: menginjili, membimbing orang beroleh hidup kekal. Selama kau menjadi orang Kristen, berapa orang yang pernah kau Injili? Hasilnya tak mungkin digugurkan sampai selama-lamanya. Waktu saya memanggil seseorang naik ke mimbar, biasanya, orang akan merasa ragu, menoleh ke kanan, ke kiri, sampai saya tunjuk dia: kamu, barulah dia yakin dirinyalah yang saya panggil. Begitu juga waktu orang membaca kalimat pertama (ay. 5), dia akan berpikir: siapa yang kurang bijaksana? Sambil mencari-cari.

Coba kau akui orang itu adalah dirimu, kau akan langsung membaca kalimat berikutnya: you pray to God, doa untuk apa? Bijaksana. Jadi, bolehkah kita minta bijaksana? Boleh. Adakah catatan Alkitab tentang orang yang minta bijaksana? Ada, Salomo. Apakah dia kurang bijaksana? Tidak, Lalu mengapa dia minta bijaksana? Karena orang bijak adalah orang yang sadar dirinya kurang bijak. Ingat: orang yang mengaku dirinya kurang bijaksana, berarti dia sudah punya bijaksana dasar. Salomo berdoa (pray is to express your will before your God): Tuhan, aku masih muda, tapi aku harus memerintah rakyat yang begitu banyak, maka berilah aku bijaksana. Apakah dia hanya memperoleh bijaksana? Tidak. Orang yang meminta bijaksana akan mendapat semuanya. Karena bijaksana lebih penting dari yang lain. Jadi, Salomo dengan bijaksana minta bijaksana, langkah berikutnya: dia harus dengan bijaksana menggunakan bijaksana. Bila tidak, bijaksananya justru akan menghancurkan bijaksana. Bijaksana yang menghancurkan adalah bijaksana yang tidak didasarkan atas takut pada Tuhan; bijaksana palsu. Riwayat Salomo adalah pengajaran yang sangat berharga; saat dia merasa diri kurang bijaksana, dia minta bijaksana, saat dia merasa dirinya sudah cukup bijak, dia justru menghancurkan bijaksana.

Maka marilah kita membacanya dengan rendah hati: Tuhan, orang yang kurang bijak itu adalah aku, lalu kita datang minta bijaksana padaNya. Dengan sikap apakah kita minta? Dengan iman (ay.5). Jangan jadikan bagian ini sebagai prinsip dari semua doa kita. Karena bagian ini khusus berbicara tentang doa minta bijaksana. Ingat: iman bukanlah self-confidence in psychology: aku beriman. Tuhan pasti mengabulkan. Siapakah kamu? Mungkinkah imanmu di dalam keyakinan diri (self-confidence) mengatur bahkan memaksa Tuhan mengerjakan sesuatu sesuai keinginanmu? Itu tidak mungkin. Allah adalah Allah yang berdaulat, rencanaNya tidak bisa diganggu gugat. Lalu mengapa kita harus berdoa? We pray because He promises. Janji Tuhan didasarkan atas tiga hal:

1. kejujuranNya. The true God is God of truth, God of sincerity, God of honesty. Dia memberikan janjiNya dengan sungguh-sungguh.

2. ketidakberubahanNya. Every body, everything can change, only God remain unchange ever and ever more, Amin?

3. kekekalanNya. Saat ketiga hal ini menjadi dasar iman kita, our faith need not afraid to be shaken.

Jadi, iman adalah dasar doa. Orang yang berdoa dengan ngotot, tapi tidak mendasari doanya atas janji Tuhan, doanya adalah mencobai Tuhan, karena imannya dia dasarkan pada keinginan diri, memaksa Tuhan, iman yang muncul dari self-confidence. Sementara iman yang sejati adalah surrender under the sovereignity of God and submit to the guidance of Holy Spirit. Inilah janjiNya: berdoalah dengan iman, samasekali tidak bimbang. Dia akan memberimu bijaksana. Sebab ay.6-8. Ayat-ayat ini mengajar kita, mengaitkan doa dengan janji Allah, when you pray concentrate youself, you hope from God, do not think something contradict with the promise of God, Amin? Apakah doa saya? Melayani dengan lebih baik, lebih setia, lebih berkenan di hati Tuhan, melayani sampai mati. Seumur hidup ini, saya tidak membiarkan hati saya bercabang, selalu one hearted, one direction.Tuhan memberkati setiap kita.

(ringkasan khotbah belum diperiksa oleh pengkhotbah–EL)

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2004_06_20_archive.html,  versi Mp3 dapat dilihat di  https://www.youtube.com/watch?v=mNTIzmZfiP4

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube