Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : Yakobus 4 : 1-6

Perjanjian Lama berulang kali menandaskan: orang yang takut pada Allah adalah orang bijak, sementara Perjanjian Baru, kecuali Yak. 3 bagian akhir, menyinggung soal bijaksana sorgawi, tak banyak menyinggung bijaksana. Bijaksana sorgawi mengandung damai, suci, kelembutan, mendamaikan orang. Dunia perlu damai, tapi orang dunia hanya tahu mencapai damai dan mempertahankan apa yang mereka miliki lewat perang, merekapun menyediakan dana yang besar guna membelanjakan senjata perang. Tapi Alkitab mengajarkan: damai diperoleh lewat bersandar pada Tuhan.

Pada malam, ketika Yesus dijual, Petrus bertanya: kami punya dua buah pedang, sudah cukupkah itu? Jawab Yesus, cukup. Karena yang Yesus maksudkan dengan “juallah pakaian dan belilah pedang” bukanlah harafiah, buktinya: saat Petrus menebas telinga Malkus, kata-Nya: sarungkan pedangmu. Barangsiapa menggunakan pedang, akan mati oleh pedang. Mengindikasikan: damai tak mungkin dicapai lewat peperangan. Saat kita menang perang, tumbuhlah rasa dendam di hati musuh, mereka akan membeli senjata yang lebih ampuh, guna merebut kemenangan yang sudah kita raih. Kata Budha; Sakiamuni: yi bao zhi bao bu nen zhi kekerasan tak bisa dihentikan dengan kekerasan. Semua agama tahu, berperang, berkelahi. berselisih, tak pernah bisa menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Peribahasa Tionghoa mengatakan: hen ren zhi. ren beng hen zhi, ai ren zhi ren heng ai zhi; barangsiapa suka mendendam, dia akan selalu dibenci. Barangsiapa bergaul dengan kasih, dia akan selalu disayang.

Itu sebabnya biarlah hati kita selalu memancarkan damai, cinta, ramah, menghormati orang. Kita semua suka dihormati, tapi kita tidak suka menghormati orang. Kita semua mau diperlakukan dengan ramah, tapi kita kurang ramah terhadap orang. Kita semua tidak suka dilukai. tapi kita sering melukai orang tapi tidak sadar. Itu sebabnya. bergaul dengan sesama adalah satu perkara yang begitu rumit dan sering kali gagal. Waktu kami studi di sekolah teologi, Rektor kami menempatkan orang-orang yang sangat berbeda sifatnya di satu kamar, misalnya: yang jorok dan yang suka bersih, yang rajin dan yang malas, yang bawel dan yang pendiam. Saya sempat bertanya padanya “mengapa dia lakukan hal itu?” “karena kau dipersiapkan untuk melayani, yang kau layani bukan malaikat, melainkan orang yang meleset dari target, maka kau harus belajar hidup bersama dengan orang yang sifatnya aneh-aneh. Tentu, saat orang yang pendiam disatukan dengan orang yang banyak bicara merasa kesal, padahal orang yang banyak bicara disatukan dengannya juga amat tersiksa” “Berapa waktu yang mereka butuhkan untuk beradaptasi?” “Kira-kira tiga tahun. Sampai tahun terakhir, waktu mereka menulis skripsi, barulah yang pendiam ditempatkan dengan yang pendiam… Jadi, selama itu mereka dicampur-aduk agar saling mengasah. Dasar ayatnya: besi bertemu besi, saling mengasah, dan jadilah pisau yang tajam” Ada kalanya, Tuhan meletakkan kita di tengah orang-orang yang tidak kita sukai. bahkan Tuhan menjodohkan dua orang yang sama sekali berbeda sebagai suami isferi. Faktanya, pria yang sifatnya keras tertarik pada wanita yang lembut, bukan? Itulah natural selection, tapi setelah mendapatkannya barulah dia sadar, ternyata tidak mudah namun membuahkan sesuatu yang positif: anak mereka tidak ekstrim. Itu sebabnya, kita harus bersyukur pada Tuhan, kalau rekan kita, pasangan hidup kita berbeda sifat dengan kita. Saat ada orang di dalam team kita punya pendapat yang berbeda, jangan marah dulu. Pertengkaran. perselisihan, tak pernah menyelesaikan masalah, bersabarlah untuk mengerti dia.

Apakah kita berkelahi demi membela kebenaran? Tidak! Sering kali, kita hanya membela pendapat, yaitu tanggapan atau interpretasi kita yang subjektif: menurut pikiran saya, saya rasa…. bukan kebenaran. Jadi, janganlah memutlakkan sesuatu yang bukan kebenaran, jangan keras kepala sampai menjadikan rekan sebagai musuh. Saudara itu tetap saudara, meski pakaiannya, sifat-nya, tradisinya berbeda, tetap berasal dari keluarga yang sama: sama-sama sudah ditebus oleh Yesus Kristus. Bersyukurlah pada Tuhan, karena di dalam perbedaan yang begitu banyak, masih punya dasar yang sama. Jangan dibalikkan: mengapa di atas dasar yang sama masih ada begitu banyak perbedaan. Maksudnya: jangan menekankan perbedaannya melainkan persamaannya.

Suatu kali, saya berkata pada seorang “we are very different” Jawabnya “but we still have so many same things: same faith, same Lord, same believe in the Bible. same Bible, same redemption experience” Dengan cara pandang seperti itu, kita bisa berdamai, belajar dari perbedaan yang orang miliki. Kalau seorang sedang marah, jangan kau ingat akan marahnya. tapi nikmatilah kejujurannya. Karena waktu marah, dia melepas topengnya, berkata jujur. Jadi, mana yang lebih baik: orang yang tampangnya ramah, tapi tidak jujur atau orang yang marah tapi jujur? Jadi, ingat selalu akan segi positifnya, barulah kita bisa menanggulangi kesulitan-kesulitan yang kita temui saat kita bergaul. Itulah yang dibahas di ps. 3.

Minggu lalu, kita sudah menelusuri bagian awal dari ps. 4 ini dari belakang; dari soal minta. Apa itu minta? refleksi dari keadaan rohani seseorang: what do you pray is the manifestation of your spirituality. Saat Yesus di dunia, Dia mengajar kita satu perkara: hal yang manusia pandang berharga ternyata adalah hal yang Tuhan benci. Apa maksudnya? Kalau hal yang kau tuntut itu membuatmu berani mengkompromikan hal-hal lain yang lebih penting, Tuhan tidak akan berkenan. Kalau demi uang, kau berani memungkiri janjimu, membunuh, berlaku tidak jujur, maka uang yang kau anggap berharga itu menjadi kebencian di mata Tuhan. What do you pray? kalau kau hanya menuntut profit diri, itu berarti kau menjadikan diri sebagai pusat, Tuhan akan berkata padamu, kau belum mengenal Aku. Karena orang yang benar-benar patuh pada Tuhan akan minta: kehendakMu bukan kehendakku yang jadi — self-centered life is transformed into the God’s center life. Kata Calvin, Tuhan, aku meletakkan hatiku ke dalam tanganMu, peliharalah keinginan hatiku, agar aku tidak hidup untuk diriku, tanganMulah yang mengaturku. Apakah tujuan hidup manusia? Menurut Westminster Confession; teologi Reformed: to glorify God and to enjoy Him. Kalau kita hanya mau menikmati anugerah Allah bukan menikmati Allah, tentu kita bukan memuliakan Allah, melainkan memperalat Allah buat memuliakan diri.

Jadi, doa yang salah, yang dasar rohaninya tidak beres, Tuhan tidak dengar. Kamu menginginkan sesuatu. tapi kamu tidak mendapatkannya, maka kamu berperang, berselisih. Apa yang dimaksud dengan sesuatu? Yang fana, yang tak bernilai di mata Tuhan. Setelah kau mendapatkannya, kau gunakan untuk apa? Kalau kau ingin jadi kaya, agar bisa hidup dengan lebih enak, tapi kau mendapatkannya dengan cara yang tidak beres, itu bukan berkat Allah. Semakin banyak uang yang kau peroleh lewat cara itu, semakin menumpuk saksi atas kejahatan yang kau lakukan. Setelah kau menyerahkan uangmu yang begitu banyak pada anak-anakmu, mereka malah perang satu dengan yang lain, tak ada habis-habisnya. Itu sebabnya, di rumah tangga orang miskin belum tentu rumah tidak ada damai. Kalau kita perhatikan riwayat hidup orang yang kaya raya, yang berpangkat, sering kita dapati perang di dalam rumah tangga mereka begitu menakutkan.

Di sepanjang sejarah, Raja yang paling lama bertahta adalah raja Thailand, dia mendapatkan posisi itu dengan membunuh saudaranya. Orang yang memilih mengorbankan moralnya, karakternya, rohaninya yang bernilai untuk sesuatu yang tidak bemilai adalah orang yang sangat bodoh. Kaisar pertama dari Dinasti Ming: Zhu Yuan Zhang. sebelum tutup usia, menetapkan cucu kesayangannya sebagai pewaris tahtanya, dan dengan segera, dia memandang anaknya yang ketiga, yang pikirannya begitu cemerlang, lalu bersedih, apa sebabnya? Dia tahu, anak itu bakal membunuh kemenakannya. Menurut legenda, Kaisar Jian Wen menggantikan kakeknya: Zhu Yuan Zhang, semua pamannya menjadi raja di negara bagian. pamannya yang ketiga berkuasa di Beijing. Para pembesar negeri menggalang kekuatan guna melindungi kaisar. Suatu kali, kaisar yang masih berusia remaja itu memerintahkan semua pamannya berkumpul untuk bermusyawarah, setelah mereka sampai di Nan Jing. satu per satu ditumpas. Sisa pamannya yang ketiga, yang tidak datang memenuhi undangannya. Diapun mengirim pasukan untuk mengepung kota Beijing, tapi mereka pulang dengan laporan “pamanmu sakit” “Sakit apa?” “Sakitj iwa” “Bagaimana kamu tahu hal itu?” “Dia merangkak di lantai, makan kotoran anjing” Padahal semua itu tipuan belaka, butiran kecil yang pamannya makan bukan kotoran anjing, melainkan coklat. Di luar dugaan siapapun, pamannya mengepung kota Nan Jing, membakar istana dan memerintahkan orang membunuh kaisar, tapi tak seorangpun menemukan kaisar, maka dia mengutus seorang Jendral yang beragama Islam, yang tinggi badannya dua sekian meter: Zheng Ho; Sam Po Kong keliling dunia dengan kapal untuk mencari kemenakannya. Maka enam ratus tahun silam, armada Tiongkok sudah menjelajah sampai ke India, Semarang, Malaka, Srilanka, Arab, Afrika Timur… sang Jendral tak berhasil menemukannya, hanya membawa pulang burung merak, jerapah yang berleher panjang…. Raja itulah yang memindahkan ibukota Tiongkok dari Nan Jing ke Beijing. Membangun istana terbesar di dunia: the forbidden city, yang memiliki 9.999 buah kamar. Jadi, dengan cara apa dia memperoleh kuasa? Membunuh.

Menurut Presiden Afrika, unsur yang membuat manusia berperang hanyalah: uang, kuasa. nama, wanita. Bukankah semua itu bisa Tuhan berikan padamu, mengapa kau bukan minta padaNya malah merebutnya lewat peperangan, berselisih. Kalau kau sudah minta, mengapa kau tidak mendapatkannya? Karena kau hanya ingin menghambur-hamburkannya. Bagaimana kalau kita balikkan, Tuhan, aku minta kerajaan dan kebenaranMu, janjiNya: segala sesuatu yang kau perlukan akan ditambahkan padamu, amin?

Bagian ini diakhiri dengan dua statemen yang mengejutkan:

  1. Ayat 5b, do you know the Spirit which have been given in your heart is the spirit of jealousy? Apa maksudnya? Jika kau mencintai sesuatu yang di dunia lebih dari mencintai Allah, Roh Kudus tidak senang. Karena ayat sebelumnya berbunyi: tahukah kamu, kalau kau bersahabat dengan dunia, kau adalah musuh Tuhan? Salah menafsirkan ayat ini mengakibatkan timbulnya sejenis pemikiran asketik di gereja: menahan nafsu, hidup sederhana, mengisolir diri dari dunia. Suatu kali, Billy Graham berkhotbah di London. Selesai dia berkhotbah, seorang tua mengatakan padanya, your preaching is very good, but your wife is very worldly. “why?” “nyonyamu mengenakan riasan di wajahnya, duniawi” apa jawabnya? “I think, you need a little bit also” Saya dibesarkan di sebuah gereja yang “aneh”, semua pria duduk di sebelah kanan, semua wanita duduk di sebelah kiri, suami isteripun harus duduk terpisah. Semua orang yang mau melayani, tidak boleh mengeriting rambut, memakai lipstik di bibirnya…..jadi. apa itu duniawi? Orang mengira, semakin seorang terisolir dari dunia semakin suci, tapi Harvey Cox justru membalikkannya: orang rohani bukanlah orang yang tidak berhubungan dengan sesama, melainkan orang yang bergaul dengan semua orang berdosa. Dia mengutip kata-kata Yesus Kristus: Anak manusia adalah kawan orang yang berdosa, kawan pemungut cukai. Jadi, apakah Yohanes pembaptis lebih rohani dan Yesus lebih duniawi? Tidak. Saya pernah menyinggung, salah seorang teolog Reformed yang terbesar: Jonathan Edward, dikucilkan oleh gereja, karena jemaat menemukan isterinya membeli sendok yang terbuat dari perak. Tapi sejarah mencatat, mereka tidak sadar, kalau mereka telah mengusir seorang hamba Tuhan yang terbesar di antara ketiga pemikir yang teragung di sepanjang sejarah Amerika: Jonathan Edward, Horace Busnell, Rauschenbusch. Dan menurut Reinhold Niebuhr, di antara ketiganya. hanya Jonathan Edward yang orthodox; Reformed. Sejak muda, saya adalah pendeta yang paling modern, waktu di SAAT sayalah orang pertama yang membeli kulkas, membeli mobil, menggantung lukisan yang indah di rumah…. baru diikuti oleh dosen-dosen lain. Mengapa? Mereka takut dicap duniawi. Padahal orang Kristen bergaul dengan non Kristen tidaklah masalah, seperti kemarin, orang Budha, orang Islam… hadir di kebaktian Paskah, asal waktu khotbah, kita tetap mengkhotbahkan inti sari kekristenan: mengapa kau berada di sini? Karena Kristus bangkit. Tahukah kau bahwa di antara para pendiri agama, hanya Yesus Kristus yang bangkit? Kita boleh bergaul dengan siapapun, tapi kita punya pendirian. Paus yang baru saja meninggal adalah orang yang punya bijaksana ini: bergaul dengan siapapun, bahkan orang Islam yang mencoba membunuhnya, dia ampuni, dia kunjungi di penjara, tapi soal praktek aborsi, homoseks….. tidak ada kompromi sama sekali. Jadi, orang yang mampu menyelaskan how to keep your absolute faith, and how to be friendly to anybody adalah orang bijak. Apa maksudnya Roh Kudus iri? Dia tidak menginginkan kita mengutamakan ciptaan lebih dari sang Pencipta, Dia tidak menginginkan kita bergaul dengan dunia yang berdosa dan mengkompromikan iman; kita harus tetap setia kepada Tuhan.
  2. Ayat 6b, saat seorang sombong, Tuhan menyetop anugerahNya sampai sebegitu saja, tapi pada orang yang rendah hati, tersedia lebih banyak anugerah. Tahun 1991, seseorang mendengar khotbah saya di Granada, komentarnya: pak Stephen Tong khotbah begitu panjang, isinya begitu padat, setengah tahun lagi pasti kehabisan bahan. Tapi sampai sekarang, 14 tahun sudah berlalu, adakah saya kehabisan bahan khotbah? Belum. Apa sebabnya? Kalau kau betul-betul rendah hati di hadapan Tuhan. cinta Tuhan, Dia akan menambahkan lebih dan lebih banyak anugerah lagi, tak perlu takut kekurangan.

Mungkin kau berujar, mengapa waktu saya membaca bagian ini, sepertinya tidak ada apa-apanya? Bukannya tidak ada apa-apanya, kalau kau rendah hati, Tuhan akan memberi pencerahan, mencerahkan hatimu.

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah —EL)

 

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : https://foodforsouls.blogspot.com/2005_04_17_archive.html, versi Mp3 Dengan Siapa Kita Bersahabat?  Bagian II

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube