Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Di bulan Maret tahun 2008 lalu tepatnya tanggal 22, saya mencoba memberanikan diri membuat suatu group di Facebook yang bernama Chains Of Love kini bernama KEEP IN MIND dan  blog KEEP IN MIND  yang dikembangkan menjadi  blog NUSAHATI.  Saat itu saya masih berusia tepat 35 tahun, kini  menjelang memasuki usia 39 tahun artinya sudah 4 (empat) tahun saya menyelami internet untuk membaca kisah yang pernah terjadi dan  dapat menjadi inspirasi serta membagikannya kepada insan lainnya, setidaknya itulah kini yang bisa saya berikan kepada sesama.

Beberapa hari ini secara tiba tiba jempol tangan kiri saya terasa sakit dan ngilu tanpa sebab, dan hasil ngobrol dengan teman-teman disimpulkan bahwa itu adalah gejala asam urat, dan wajar untuk usia seperti saya, kata mereka.

Berbicara tentang penyakit saya sepatutnya sangat bersyukur karena saya termasuk jarang terserang penyakit, penyakit yang membuat saya sempat putus asa hanya satu yaitu Malaria… kenapa saya putus asa? karena dia menyerang saya 3 (tiga) kali dalam setahun dan penyakit itu sirna bak ditelan bumi ketika saya pindah ke Pulau Jawa. Mungkin pembaca bertanya sebelumnya dimana saya tinggal? Dari tahun 1996 s.d 2001 saya memang mengabdi di tempat malaria berada yaitu bumi Cendrawasih.

Jika saya bertanya dapatkah kita mengingat beberapa peristiwa sejak lahir sampai dengan usia 39 tahun, mungkin beberapa pembaca mampu dan sangat banyak. Namun pernah kah kita bertanya apa yang telah kita berikan untuk sekedar mengucap syukur kepada Dia sang pencipta? beberapa diantara kita mungkin berkata banyak dan tidak perlu  diumbarkan.

Pola pikir memang sangat dinamis seiring dengan bertambahnya usia, banyak hal yang dulu adalah hal biasa dan lumrah sekarang adalah hal yang memalukan, dulu yang sepertinya tidak layak sekarang menjadi layak dan keharusan. Demikianlah yang saya pahami tentang pola pikir dan keijaksanaan tersebut entahlah empat tahun lagi.

Daya Juang Sang Perusak

Perasaan hina dan berdosa adalah andalan luar biasa si perusak saat kita mencoba untuk hidup kudus. Mengintimidasi kekotoran kita setiap saat disaat kehendak kita untuk berlaku kudus. Dan hal ini adalah konflik luar biasa dibandingkan hal-hal remeh temeh yang diperebutkan dan diperjuangkan insan di dunia ini yaitu materi.

4 (empat) tahun dan  dalam waktu itu sudah ratusan kesaksian yang pernah saya baca ditambah kesaksian pribadi sangatlah cukup untuk mengubah cara pandang saya tentang arti hidup. Dan ini bukanlah alasan saya untuk membenarkan kenapa saya menolak tawaran rekan-rekan untuk berbisnis dan bekerja untuk sekedar menambah penghasilan. Menurut saya tidak ada penghasilan yang cukup jika cara pandang kita hanya tertuju pada kelayakan hidup.

Masa Masa Ujian

Saya katakan ujian karena saya mengerti substansi materinya, tinggal kemampuan saya untuk menyelesaikan dengan cara yang telah diajarkan. Usia 39 tahun adalah dimana saya memahami kebijaksanaan namun diperlukan kemampuan untuk memilih dan menjalankan dengan cara yang bijak.

Teringat saya  akan beberapa kegagalan dalam ujian yang dibuat oleh manusia untuk mengetes kelayakan saya, bukan karena saya gagal sehingga saya menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah hal biasa dan tidak berarti apa-apa kecuali saya dikatakan tidak layak, saya gagal karena saya tidak mampu memindahkan tulisan kedalam pikiran saya dan menuangkannya kedalam kertas ujian sehingga saya tidak lulus. Memang hanya itulah parameter yang dijadikan semua lembaga/penguji untuk menentukan kelayakan seseorang, namun janganlah kita memungkiri bahwa itu adalah suatu pembelajaran.

Maka besar kepercayaan saya bahwa beberapa tahun kedepan adalah masa-masa pengujian yang sangat berat. Menyadari bahwa saya adalah ciptaan maka kebijaksanaan, kehebatan, pengalaman saya tidak lah mampu untuk melaluinya tanpa bersandar kepada Sang Pemberi.

Apa Yang Tak Terpikirkan

Waktu saya adalah bukan waktu Dia, Waktu Dia adalah indah dan ajaib. Jika saya mengingat banyak janji kepada Nya yang saya langgar namun Dia tetap setia dan memperkenankan saya. Banyak hal luar  biasa yang tidak pernah saya bayangkan yang diberikan.

Saya merasa sukacita dengan mengakui banyak hal yang semula tidak mungkin menjadi mungkin, yang semula luar biasa adalah biasa jika dia berkenan. Disaat duka adalah hal yang jujur dan luar biasa mengakui bahwa karya Nya ajaib.

Sempat dulu saya bangga, ketika guru spiritual seorang teman menolak untuk meramal saya, yang tanpa seijin saya  teman saya mencoba memohon kepadanya. Dengan kepolosannya teman tersebut memarahi saya karena tidak mau percaya, sejujurnya saat itu adalah masa yang paling suram yang tidak memiliki jalan keluar dan pengharapan, tidak menggoyahkan pola pikir rasional saya, saya percaya masa-masa seperti itu pasti pernah dialami setiap insan, masa dimana sepertinya tidak ada jalan keluar dari rutinitas yang menjemukan disebuah daerah asing dan ingin menjangkau kemungkinan yang terjadi didepan.

Masa Berikutnya Yang Terencana

Saya menyadari sebagai manusia ciptaan yang lemah, bersandar kepada Dia sang pemberi hidup adalah hal yang bijaksana. Konsep di dalam pikiran ini adalah berjalan sesuai dengan kehendak-Nya,  dapat dipastikan akan banyak onak dan duri di depan sana tetaplah itu tidak merupakan suatu penghalang untuk tetap maju melangkah.

Saya tidak tahu berapa usia yang akan Tuhan berikan pada saya, beruntunglah saya menyadari untuk ingat akan berkat dan Kasih-Nya, mendedikasikan hidup dengan berbagi dalam pelayanan bukan sekedar untuk menyeimbangkan hidup melainkan semua karya untuk kemuliaan Dia.

Berbagi Dengan Ketiga Putraku

Berbekal pengalaman hidup selama 39 tahun tersebut, saya mencoba untuk mendidik ketiga putra yang dipercayakan oleh Dia kepada saya. Tahu kah pembaca? dibutuhkan kesabaran dan kearifan yang tinggi. Diperlukan manajemen yang luar biasa yang belum pernah diajarkan oleh para akademisi, dan akhirnya jawabannya menurut saya adalah  mengembalikan posisi kita dengan meminta kepada Dia sang pemilik hidup.

Seperti biasa malam sebelum anak2ku tidur (10th, 8th, dan 3th), aku meluangkan waktu bercerita. Sumber cerita adalah pengalaman hidup dan sebagian bersumber dari Nusahati ini :). Kadang mereka saya suruh bercerita tentang apa saja. Saya dan Istri tercinta mencoba mempertahankan tradisi yang menurut kami baik ini.

Kadang sebagai orang tua, saya paham adalah tidak baik memanjakan anak. Konsep pengajaran ini adalah terbukti sangat baik namun kadang kala karena kasih yang begitu besar kadang sering terabaikan. Saya menyadari mereka adalah ibarat kertas putih yang menunggu kita melukisnya dan membuat dia kuat dan bernilai nantinya. Tak putus2 doa dan pengharapan ini agar Dia sang pemilik Kebijaksanaan memberi kemampuan kepada kami orang tua untuk mendidik seturut kehendak-Nya.

Berkarya Dalam PanggilanNya

Masing-masing dari kita pasti memiliki panggilan, ada diantara kita yang sensitif dan bertanggung jawab  atas panggilan tersebut ada yang tidak. Memang disadari semangat selalu naik turun seperti nilai mata uang Dollar terhadap Rupiah, hanya satu  faktor yaitu si perusak tadi yang setiap waktu menunggu titik lemah kita dan masuk menusuk. Sehingga sensitifisme itu hilang dalam diri, dan terlalu dasyatnya pengaruhnya sementara saya pribadi terkadang tak mampu mengontrolnya. Biarlah di hari yang spesial ini Tuhan memampukan saya untuk bertindak, bertingkah, berlaku seturut kehenak-Nya. Biarlah Tuhan memampukan saya menghadapi setiap masalah dan pencobaan.

Dengan tangan terbuka saya meminta kepada pembaca untuk sudi mendoakan saya dan keluarga. Dan secara pribadi saya selalu mendoakan para pembaca setia nusahati.com agar di berkati hari lepas hari.

Admin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube