Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Injil Yohanes 19:29 – 30

Kalimat-kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus di atas kayu salib mempunyai arti tertentu yang unik dan berhubungan begitu erat dengan seluruh penebusan bagi manusia. Waktu kita menguraikan, memikirkan, dan merenungkan ketujuh kalimat ini, maka seolah-olah kita menjelajah masuk ke dalam tempat Maha Suci Allah.

Apa yang dianggap habis oleh manusia adalah satu permulaan dari tindakan Allah. Pada waktu manusia mengalami kesulitan yang terbesar, timbullah pengharapan yang baru. Pada waktu manusia sudah mengalami satu kepedihan yang paling tuntas, di situlah kemenangan hidup rohani tiba kepada orang itu. Tuhan Allah berfirman: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8,9). Bagi konsep manusia, setiap hari di mulai dari pagi, lalu siang dan diakhiri dengan malam. Bagi Tuhan Allah, setiap hari dimulai dari malam diakhiri dengan siang. Konsep ini adalah filsafat dan pikiran dari Tuhan Allah sendiri. Cara manusia hidup dalam dunia adalah mulai dengan pagi, diakhiri dengan malam yang gelap, tetapi cara Allah adalah kebalikannya. Kitab Kejadian menuliskan hal ini dengan kalimat “…jadilah petang (malam) dan jadilah pagi, maka itulah hari pertama…dst.”

Manusia memulai dengan sukacita, diakhiri dengan dukacita. Manusia berbuat dosa sebanyak-banyaknya, akhirnya dihukum di dalam neraka. Cara Allah memulai adalah dari kegelapan malam, lalu diakhiri dengan terang siang. Kristus lahir di dunia pada malam yang gelap dan mati pada waktu siang. Barangsiapa yang mengerti cara Allah bekerja, orang itu akan mengerti perkataan Kristus yang keenam di atas kayu salib: “Sudah genap!” Jika Kristus tidak mengalami kesulitan dan malam yang paling gelap, maka tidak ada sinar cahaya yang bisa datang kepada-Nya. Jikalau Kristus tidak mengalami sengsara dan kematian, maka tidak ada kebangkitan yang datang kepada Dia. Jikalau Kristus tidak mengalami pengaliran darah dan penyerahan jiwa, maka tidak ada mahkota kemenangan atas kematian yang bisa diberikan kepada-Nya. Hanya sesudah Kristus berteriak: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, barulah Ia bisa mengatakan: “Tetelesthai! Sudah genap!”

Setelah mengatakan: “Sudah genap!”, tidak lama kemudian Yesus Kristus menundukkan kepala, menghembuskan nafas terakhir dan hari mulai senja. Pada waktu hari mulai senja, kemenangan mulai dinyatakan. Pada waktu kegelapan akan datang, Dia sudah bersedia menjelajah ke dalam kemenangan yang agung. Kristus berseru pada waktu matahari mulai turun, Dia berseru pada waktu matahari mulai terbenam: “Tetelesthai!” Pada waktu pukul 9 di mana matahari mulai naik, Ia meminta pengampunan bagi manusia (Luk. 23:24). Pada waktu jam 12, di mana matahari bersinar paling terik, Dia mengalami kegelapan yang terbesar dan berteriak: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk. 15:34). Pada waktu pukul 3 sore di mana matahari mulai turun, Dia mengatakan: “Sudah genap!” (Yoh. 19:30). Kemuliaan dan kemenangan Allah di dalam Kristus, bukan dinyatakan sesudah Kristus bangkit, tetapi sudah dinyatakan sebelum Kristus menghembuskan nafas yang terakhir. Jikalau Kristus mati di dalam kegagalan dan setelah itu baru ada cerita tentang kebangkitan, maka kita boleh ragu-ragu akan kebangkitan dalam Kristus. Tetapi kebangkitan orang percaya dalam Kristus merupakan satu hal yang pasti terjadi, karena sebelum mati Kristus sudah mengatakan: “Sudah genap!” Ucapan keenam ini merupakan ucapan yang amat bermakna dan berharga.

Sebelum menyerahkan jiwa-Nya kepada Allah, Kristus yang agung, berani, dan berhasil, sudah melihat kemenangan-Nya di dalam kepedihan dan kebahayaan yang paling dahsyat. Jikalau kita membandingkan perkataan Kristus di atas kayu salib dengan perkataan semua orang yang paling agung di dunia pada segala zaman, maka kita akan menemukan perbedaan yang terlalu besar. Bandingkanlah semua perkataan dari Hannibal, Mao Tse Tung, Stalin, Kennedy, Genghis Khan, Charlemagne, Napoleon, atau perkataan terakhir siapapun dengan perkataan terakhir dari Kristus. Kristus berkata: “Sudah genap!”.

Di dalam perkataan keenam tersimpanlah segala pengharapan orang Kristen yang beriman kepada Yesus Kristus. Ucapan: “Tetelesthai!” bukan berarti sudah hancur atau habisnya sesuatu, tetapi satu teriakan kemenangan. Seperti teriakan seorang pelari yang mencapai garis akhir dan memenangkan perlombaan. Sepanjang jalan yang letih dan payah di dalam perlombaan yang penuh dengan keringat dan kecapaian di dalam seluruh urat, daging dan seluruh tubuh, pada waktu melewati saat terakhir melewati batas akhir, berhentilah segala letih lesu dengan perkataan: “Sudah genap!” Inilah kalimat teragung yang pernah diucapkan oleh manusia di dalam seluruh sejarah. Di dalam perkataan “Sudah genap!” ini, air mata Anda harus berhenti, beban Anda harus diletakkan, sikap hidup yang pesimis harus berubah menjadi penuh dengan pengharapan, karena Kristus mengatakan kalimat ini di atas kayu salib.

Perkataan pertama Tuhan Yesus di kayu salib adalah: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Di sini kita melihat akan cinta kasih yang tidak ada bandingnya. Kalimat keempat: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46), menyatakan siksa yang tidak ada bandingnya. Kalimat keenam: “Sudah genap!”, merupakan kemenangan yang tidak ada bandingnya. Kasih yang tidak ada bandingnya, sengsara yang tidak ada bandingnya dan akhirnya datanglah kemenangan yang tidak ada bandingnya.

Dari sudut yang lain, kita dapat mengerti akan perkataan pertama dalam arti kemurahan Allah yang luarbiasa. Pada perkataan keempat, kita mengerti akan kemurkaan Allah yang luarbiasa. Pada kalimat keenam, kita mengerti satu kuasa Allah yang luar biasa. Dalam kalimat pertama, Kristus menyatakan Allah sebagai Allah yang Mahamurah yang menyediakan pengampunan bagi manusia yang datang kepada Kristus. Di dalam kalimat yang keempat, Kristus menyatakan Allah sebagai Allah yang Mahaadil, sehingga Anak Tunggal-Nya sendiri harus menerima hukuman pada waktu Ia dijadikan berdosa mengganti Anda dan saya. Pada kalimat keenam, Kristus menyatakan Allah sebagai Allah yang Mahakuasa. Jikalau tidak berdasarkan kalimat keenam di atas salib, maka tidak akan ada pengumuman agung di dalam Amanat Agung Kristus dalam Mat. 28:18b yang berbunyi: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Mengenal akan kasih, keadilan dan kuasa Allah adalah unsur pokok dalam gereja yang memberitakan Injil dengan penuh kuasa ilahi.

Salib adalah tempat di mana kasih dan keadilan Allah berjumpa, maka salib merupakan tempat di mana kuasa Allah dinyatakan. Salib adalah titik penerimaan dari murka Allah, maka salib menjadi titik permulaan untuk mengalirkan kasih Allah. Salib adalah titik permulaan di mana kesucian Allah untuk menghukum dosa dinyatakan, maka salib menjadi titik permulaan di mana Allah mengampuni orang berdosa dengan kuasa-Nya yang baru dan ajaib. Allah menciptakan alam semesta dan berhenti dari pekerjaan mencipta pada hari keenam. Kristus mengatakan perkataan di atas salib: “Sudah genap!” Penciptaan digenapkan pada hari keenam dari atas kayu salib. Kesempurnaan kegenapan ini akan dinyatakan seluruhnya dalam kekekalan di dalam perkataan malaikat yang ketujuh (Why. 16:17). Di antara penggenapan-penggenapan ini, ada penggenapan status dan ada penggenapan total. Ada penggenapan kualitatif dan ada penggenapan kuantitatif. Yang sudah dijanjikan, pasti akan digenapi oleh Kristus sendiri. Melalui Anak yang menggenapkan pekerjaan penciptaan, Bapa menciptakan segala sesuatu. Melalui Anak yang menggenapkan karya penebusan, Bapa menyelamatkan manusia. Anak Domba Allah terpuji dan mulia. Biarlah segala zaman tidak melupakan salib-Nya.

“Sudah genap!” Kristus tidak perlu lagi mengulangi salib karena di dalam perkataan-Nya semua sudah selesai. Kristus tidak perlu lagi mengalirkan darah, tidak perlu letih lesu, tidak perlu lagi menerima bilur-bilur, penghinaan, ejekan, diadili, pergumulan doa, air minum, meneteskan keringat seperti darah, mahkota duri, salib dan penghukuman Allah, karena di dalam kalimat ini, semua itu sudah selesai. Inilah satu kemenangan total. Akhir dari perjalanan panjang selama 33,5 tahun dalam dunia. Dalam setiap detik kehidupan-Nya, Kristus bertahan, berjuang dan melawan pencobaan iblis sampai pada detik terakhir di atas kayu salib Ia berkata: “Tetelesthai!” Waktu Kristus meneriakkan kalimat ini, Allah Bapa di dalam surga boleh tersenyum dan melihat ketaatan yang tuntas dari Hamba-Nya yang mengganti dosa manusia.

Semenjak Adam berontak kepada Allah, maka tak ada seorangpun di dalam dunia yang bisa memuaskan tuntutan Allah di dalam ketaatan. Semenjak Adam meninggalkan kehendak Allah, maka semua keturunan Adam hanya tahu memberontak, berzinah, berjudi, tidak setia kepada suami dan berbuat segala kejahatan serta dengan sewenang-wenang mempergunakan segala kebebasan yang sudah Tuhan berikan. Kebebasan yang harus kita pertanggungjawabkan secara pribadi dengan serius di dalam kekekalan!

Allah melihat dan mencari manusia yang taat kepada-Nya. Tidak ada seorangpun yang berbuat baik (Rm. 3:11-12). Manusia berbuat baik dengan motif yang tidak murni dan egois. Allah mencari dengan standard-Nya yang paling suci. Adakah manusia yang sungguh-sungguh mencari dan mencintai Dia dengan setuntas-tuntasnya? Tidak ada. Satu-satunya orang yang dilahirkan dari perempuan yang menggenapi tuntutan Bapa di surga adalah Dia yang mengatakan: “Tetelesthai!” Kristus taat sampai tuntas dan sampai sempurna. Karena ketaatan Kristus, maka setiap orang yang mau datang kepada Kristus memiliki pengharapan hidup kekal. Perkataan Kristus yang keenam ini mempunyai arti terlalu besar dan terlalu dalam. Tetelesthai! memberikan pengharapan yang terbesar bagi Anda dan saya yang tadinya terjerumus di dalam kebinasaan serta menunggu akan hukuman yang terakhir dalam neraka yang kekal. Karena Kristus taat, maka barangsiapa yang menerima Kristus diterima oleh Allah. Mulai saat “Tetelesthai!” diucapkan dari mulut Yesus Kristus, maka saat itu juga siapapun yang datang kepada Kristus boleh diterima oleh Allah dan tidak ada seorangpun yang ditolak.

Apakah pengaruh dari empat perkataan terakhir Kristus yang diteriakan-Nya? Empat dari tujuh kalimat terakhir di atas salib, diucapkan Kristus dengan teriakan keras dan terdengar bukan saja oleh orang-orang di bawah kayu salib. “Allah-Ku, Alllah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, dikatakan dengan teriakan yang keras. “Aku haus!”, dikatakan dengan teriakan yang keras. “Sudah genap!” dikatakan dengan teriakan yang keras. Perkataan “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku!” juga dikatakan dengan teriakan yang keras. Apakah arti teriakan-teriakan yang begitu berlainan dengan tiga perkataan sebelum terjadinya kegelapan yang menudungi daerah itu? Karena satu penyataan Tuhan yang ajaib yang menyatakan bahwa kematian Kristus bukan terjadi karena Ia kalah oleh kematian. Kematian-Nya bukan karena harus meletakkan jiwa-Nya di dalam keadaan pasrah dan pasif, melainkan kematian yang berdasarkan kerelaan dan inisiatif. Kristus menyerahkan nyawa-Nya di dalam status kebebasan diri-Nya sendiri. Kristus berkata: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.”

Orang yang belum mengenal Kristus berpikir bahwa kayu salib adalah kegagalan yang terbesar. Jika dibandingkan dengan pendiri-pendiri agama yang lain, Kristus kelihatan terlalu gagal. Konfusius mempunyai 3.000 murid, tetapi Kristus mempunyai 12 murid inti, 70 murid dan 120 murid. Yesus mempunyai pengikut yang lebih sedikit dibandingkan Konfusius. Di antara pengikut Konfusius, tidak ada seorangpun yang menjual dia, tetapi di antara murid Kristus yang paling inti ada seorang yang menjual-Nya karena menginginkan tiga puluh keping perak. Bahkan di antara murid-murid Kristus yang dicintai-Nya, ada satu orang yang menyangkali Dia sampai tiga kali dan ada lagi murid-murid lain yang melarikan diri pada waktu Kristus disalibkan, kecuali Yohanes. Konfusius dijunjung tinggi oleh para murid-Nya, tetapi Yesus dijual oleh murid-Nya. Konfusius hidup 72 tahun, Buddha hidup 80 tahun, Musa hidup 120 tahun. Semua pendiri-pendiri agama meninggal dunia pada usia yang normal dan alamiah. Hanya Kristus satu-satunya pendiri agama yang mati dibunuh dengan kekejaman yang tidak terbandingkan. Bagaimana kita bisa percaya bahwa Kristus itu sukses? Tetapi apakah Dia gagal?

Sebelum para pendiri agama meninggal dunia, mereka masing-masing mempunyai waktu yang cukup panjang untuk mengajarkan doktrin mereka dan mempengaruhi masyarakat. Mereka mempunyai waktu puluhan tahun panjangnya, tetapi Kristus hanya mempunyai waktu 3,5 tahun. Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, Ia belum pernah mendirikan satu sekolah Kristenpun. Dia belum pernah menulis satu syair Kristen yang baik, Dia belum pernah menulis otobiografi, belum pernah mengumpulkan data-data bagi murid-murid-Nya untuk mengabarkan Injil. Kristus belum pernah mendirikan partai politik. Dilihat dari sudut pandang manusia pada umumnya, Kristus tidak membangun satu perbuatan jasa yang besar. Dia kelihatannya gagal total. Tetapi heran sekali di dalam keadaan yang tampaknya gagal total, berusia pendek, mati dalam dalam keadaan paling pedih, hidup dalam ancaman besar, hidup tersendiri, tidak menikah, tidak mempunyai banyak pengikut dan tidak memiliki jasa ataupun karir yang mempunyai pengaruh yang besar, minoritas; namun Yesus Kristus memberikan pengharapan kekal.
Yesus berteriak: “Tetelesthai!” Suara ini terdengar menembus ke dalam dunia-dunia yang lain, selain kepada orang yang ada di bawah kayu salib, yaitu:
1. Dunia malaikat
2. Dunia manusia dalam segala zaman
3. Dunia dalam alam maut

1. Dunia Malaikat
Apakah yang didengar oleh para malaikat? Satu pengumuman kemenangan yang sudah lama ditunggu. Malaikat-malaikat memperhatikan saat kelahiran-Nya, saat dicobai, saat di Getesemani saat di atas kayu salib, waktu dikubur, waktu bangkit, waktu naik ke surga dan setiap saat Injil Kristus dikabarkan. Waktu kita mengabarkan berita Kristus dan salib-Nya dan ada orang yang bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat setelah mendengarkan Injil, maka malaikat-malaikat di surga bersukacita karena orang itu (Luk. 15:10). Bukankah mereka semua (malaikat-malaikat) adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan? (Ibr. 1:14).

Malaikat melihat, terheran, dan tidak mengerti. Pada waktu Kristus berteriak: “Tetelesthai!”, maka keheranan mereka terjawab, kesuksesan yang dinanti-nanti sudah datang. Keheranan yang terbesar dari dunia malaikat sudah terjawab. Yang ditunggu-tunggu oleh para malaikat adalah kemenangan dan proklamasi yang heran dan terbesar dari Kristus.

2. Dunia Manusia Di Segala Zaman
Perkataan Kristus ini juga adalah satu proklamasi yang paling memberikan sukacita bagi dunia manusia. Puji Tuhan. Mulai dari hari Kristus berkata: “Tetelesthai!” dunia tidak perlu takut kepada iblis. Kita mempunyai satu jaminan, seperti yang dikatakan oleh syair sebuah lagu:

Di kaki salib Yesus, aku aman berteduh
Naungan kukuh dan kekal, lindungan yang teguh
Di kaki Yesus Kristus, tempat istirahat yang tenang
Bagiku yang penat, kuterima damai yang penuh
Dan lenyaplah beban yang berat
Di bawah kali Yesus Kristus
Air mataku dihapus, bebanku ditanggung
Di bawah kaki Yesus Kristus
Pengharapanku dijernihkan
Dan pandanganku diarahkan ke dalam surga yang kekal

Mulai hari itu, pengharapan menjadi penuh. Arah hidup jelas menuju kepada kekekalan dan menikmati kemuliaan Tuhan selama-lamanya. Tidak ada satu zamanpun di mana manusia di dalam Kristus bisa menjadi putus asa. Meskipun zaman itu gelap, penuh dengan penganiayaan ataupun kesusahan namun jika manusia kembali ke bawah kaki salib, sukacita terbesar diberikan.

3. Dunia Dalam Alam Maut
“Tetelesthai!” menembus dunia kegelapan alam maut dan menggoncangkan dasar neraka. Kuasa kegelapan, kuasa neraka harus berhenti pada waktu Yesus Kristus mengatakan ucapan keenam. Bukankah penguasa langit atau penguasa maut yaitu iblis, pernah dengan segala usaha mencoba untuk merusakkan hidup Yesus di dalam dunia dengan pencobaan yang terus menerus? Tetapi setan dan segala pesuruhnya gagal total. Lalu mereka membongkar segala kebencian dan serangan yang paling sengit, yaitu berikhtiar membunuh Yesus Kristus. Kegelapan yang diizinkan oleh Allah untuk menudungi Yesus, juga datang dari iblis. Tetapi segala usaha dan kegiatan dari kuasa gelap, akhirnya berhenti dengan gentar pada waktu mendengar perkataan “Tetelesthai!” diucapkan Tuhan Yesus. Dunia malaikat mengalami keheranan terbesar, dunia manusia di segala zaman mengalami sukacita terbesar, dunia neraka mengalami kegoncangan terbesar. Inilah Kristus yang mencintai Anda dan saya.

Waktu Yesus Kristus mengatakan “Tetelesthai!” apakah yang Dia katakan kepada Bapa yang mengutus-Nya datang ke dalam dunia? Waktu Kristus datang ke dalam dunia, ada satu status yang tidak ditulis dalam keempat Injil, tetapi ditulis seribu tahun sebelumnya oleh Daud dalam Mzm. 40:8-9. Kalimat tersebut juga dikutip oleh penulis surat Ibrani dalam Ibr. 10:7-8. Kalimat tersebut berbunyi: “Ya Allah-Ku, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Pada umur 12 tahun, Kristus mengatakan: “Tidak tahukah kamu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (terjemahan lain: “Bukankah Aku harus menaruh di dalam hati-Ku satu niat yang mengerjakan pekerjaan Bapa yang mengutus Aku?” (Luk. 2:49). Waktu bertemu perempuan Samaria di pinggir perigi, Yesus berkata pula: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Kristus berdebat dengan orang-orang Yahudi dan mengatakan: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Di dalam Yoh. 17:4, Kristus berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.”

Hanya satu-satunya orang yaitu Yesus Kristus yang dari lahirnya, masa remaja, masa permulaan mengerjakan pekerjaan Mesias, sampai mati di atas kayu salib, tidak putus-putus untuk taat kepada Bapa. Sekarang Ia berkata kepada Bapa: “Tetelesthai!”, semua pekerjaan yang Bapa serahkan kepada-Nya sudah diselesaikan-Nya. Kalimat ini tidak akan pernah diucapkan oleh mulut kedua selain Kristus. Kalimat ini tak mungkin diucapkan oleh yang lain, baik sebelum Kristus maupun setelah Kristus. Tidak ada satu manusiapun yang sungguh-sungguh bisa menempati posisi seperti Kristus. Kristus sudah taat kepada Bapa.

Murka Allah sudah berhenti di atas diri Kristus waktu Dia berkata: “Tetelesthai!” Murka Bapa tidak lagi turun kepada anak-anak manusia yang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, karena Kristus sudah taat. Kristus sudah menggenapi segala rencana Allah, murka Allah sudah diterima dan dihentikan oleh Kristus. Penebusan hutang dosa sudah dikerjakan oleh Kristus. Manusia akan terus menuju kepada neraka, tetapi Kristus telah menghentikan jalan menuju kebinasaan itu dengan mengorbankan diri. Semua yang dinubuatkan oleh nabi-nabi, sudah digenapkan dalam diri-Nya. Kristus adalah satu-satunya Oknum yang boleh, pernah dan mendapat kesaksian yang diberikan oleh Bapa demikian: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi.”

Bagi setiap orang di dunia, perkataan Kristus keenam di kayu salib ini berarti satu pernyataan bahwa kutukan Taurat sudah diterima oleh Kristus. Manusia salah, jika mengira bahwa mereka bisa menjalankan hukum Taurat ataupun menyempurnakan Taurat. Barangsiapa berusaha diselamatkan dengan melalukan segala syariat Taurat adalah orang yang akan kecewa belaka. Barangsiapa yang berusaha diperkenan oleh Allah melalui melakukan Taurat harus mengetahui bahwa hal itu tidak mungkin. Kalimat ini kerap kali diucapkan oleh Paulus (Rm. 3:28; Gal. 2:16,21; 5:4), yang sejak kecil dididik dalam hukum Taurat dengan ketat (Flp. 3:4-6). Paulus dididik oleh profesor Taurat terbesar zaman itu bernama Gamaliel (Kis. 5:34, 22:3). Di dalam Kristus ada hidup kekal. Di dalam perjuangan yang sengit di mana Kristus sudah berteriak: “My God, My God, why hast Thou forsaken Me?”, kini dilanjutkan dengan “Tetelesthai! Sudah genap!” Setan sudah kalah, kita tidak perlu takut akan kematian. Arti lain dari Tetelesthai adalah janganlah takut akan kutukan Taurat, karena itu sudah Kristus terima. Tuntutan yang keras dari Taurat sudah digenapi. Janganlah takut akan kematian, karena Kristus sudah mati bagi kita. Demikianlah perkataan Kristus bagi umat manusia sepanjang zaman.

Barangsiapa yang datang kepada Dia, akan mendengar lagi perkataan yang lebih indah sebagai manifestasi dari perkataan “Tetelesthai!”, yaitu gereja akan menjadi mempelai perempuan Kristus dalam kekekalan. Bagi setiap kita yang dicintai oleh-Nya, tak akan pernah dikalahkan oleh kuasa neraka. Anak Tuhan bisa dianiaya, dibunuh, dipenggal, dilemparkan ke dalam mulut singa, dilemparkan ke dapur api, disiram minyak dan dibakar seperti lilin. Tetapi bagi gereja yaitu orang-orang yang dikasihi Kristus, Dia berkata dari atas salib: “Tetelesthai!” Dia berkata pula: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat. 10:28). Bagi setiap umat tebusan Tuhan Yesus, diberikan kelepasan dari kutukan Taurat, hukuman dosa, dan daripada kematian serta kuasa setan. Bukan saja demikian, pintu surga terbuka bagi kita.

Waktu Kristus mengatakan: “Tetelesthai!”, kuasa neraka berhenti dan pintu surga terbuka. Waktu itu dalam bait Allah yang besar di Yerusalem ada satu tirai besar yang karena besarnya harus diangkat oleh 300 orang. Pada saat itu juga tirai tersebut robek dari atas sampai ke bawah. Tirai yang besar memisahkan ruangan suci dan ruangan mahasuci dalam bait Allah di Yerusalem. Sedangkan bait Allah tersebut sudah dibangun kira-kira 46 tahun, waktu Kristus menubuatkan kehancurannya (Yoh. 2:20), pembangunannya diteruskan sampai belasan tahun setelah penyaliban Kristus, jadi total pembangunan Bait Suci tersebut memakan waktu kira-kira 54 tahun. Tirai yang besar di bait Allah yang robek dari atas sampai ke bawah (Luk. 27:51), adalah salah satu tanda mujizat yang dinyatakan dari Golgota. Apa arti tanda itu? Artinya: jalan menuju surga sudah terbuka. Di dalam Yesus Kristus kita mempunyai pengharapan terbesar yang tidak ada lagi bandingannya. Anak yang terhilang sekarang sudah boleh pulang kembali kepada Allah. Haleluya. Melalui Kristus, kita dapat diam dalam pangkuan Tuhan yang kekal dan tidak berubah.

*Disarikan dari buku:
Tujuh Perkataan Salib
Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 15 – Maret 1992

Sumber :

SUDAH GENAP! PERKATAAN KEENAM DARI KRISTUS DI ATAS KAYU SALIB – Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong

https://www.geocities.com/thisisreformed/artikel/pi_genap.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube