Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jean Thompson duduk di depan murid-murid kelas lima yang diasuhnya di hari pertama sekolah pada musim gugur dan mulai berbohong kepada anak-anak itu. Seperti umumnya guru, ia menatap murid-muridnya, mengatakan bahwa ia mencintai mereka tanpa kecuali, bahwa ia akan memperlakukan mereka dengan adil. Akan tetapi, hal itu rasanya muskil dilakukan karena di depannya, di kursi baris ke tiga, duduk seorang anak laki-laki kecil yang terlihat kumuh, bernama Teddy Stoddard.

Bu Thompson telah mengamati Teddy sejak setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa anak itu tidak berbaur dengan anak-anak lainnya, pakaiannya lecek, dan kelihatannya ia jarang mandi. Karena wajah Teddy kelihatan selalu muram, tidak seorang pun temannya yang suka bergaul dengannya. Teddy sama sekali tidak menyenangkan. Tidak perlu waktu lama bagi Bu Thompson untuk  segera merasa sangat senang memberi nilai jelek untuk setiap pekerjaan rumah Teddy dan menandainya besar-besar dengan huruf F (fail).

Sekolah tempat Bu Thompson mengajar mengharuskannya untuk memeriksa dokumen yang memuat catatan informasi setiap murid dan Bu Thompson selalu memeriksa catatan tentang Teddy terakhir sekali. Ketika tiba saatnya, ia membuka arsip laporan mengenai Teddy dan menemukan hal-hal yang mencengangkan. Gurunya di kelas satu menulis: “Teddy adalah murid yang cemerlang, suka bertanya, dan ceria. Teddy mengerjakan pekerjaan sekolahnya dengan rapi dan berperilaku santun. Dia disukai teman-temannya.” Guru kelas duanya menulis: “Teddy adalah murid yang sangat pandai dan sangat disenangi teman-temannya. Tetapi, belakangan ia sering terlihat gundah karena ibunya sakit keras dan telah divonis tidak akan dapat bertahan lama. Kehidupan di rumahnya pastilah sangat merisaukannya.” Guru kelas tiganya menulis: “Teddy terus berusaha bekerja keras, tetapi kematian ibunya membuatnya sangat kehilangan. Ia berusaha melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan anak seusianya, tetapi ayahnya kelihatan kurang peduli. Kehidupan di rumahnya tentulah sangat berat bagi Teddy yang masih kecil dan ini dapat menimbulkan dampak buruk baginya jika tidak dilakukan langkah-langkah yang tepat.” Guru kelas empat Teddy menuliskan komentar: “Teddy kelihatan selalu menyendiri dan tidak menunjukkan perhatian pada pelajarannya. Dia tidak memiliki banyak teman dan sering tertidur di kelas. Hampir setiap hari ia terlambat dan kemungkinan akan menjadi masalah serius di kemudian hari.”

Bu Thompson terhenyak di kursinya. Tatapan matanya menerawang ke langit-langit ruang kelasnya, Ia sekarang menyadari betapa serius masalah yang dihadapinya. Akan tetapi, perayaan Natal sepertinya datang lebih cepat. Kesibukan kegiatan sekolah dan persiapan menjelang Natal membuatnya lupa dengan murid yatimnya yang kumuh, berwajah muram, dan tatapan mata kuyu. Sampai kemudian sehari sebelum liburan Natal tiba, fokus perhatiannya tiba-tiba kembali pada Teddy Stoddard.

Sehari sebelum perayaan Natal murid-muridnya membawa hadiah buatnya. Semuanya terbungkus rapi dengan kertas warna-warni, kecuali hadiah dari Teddy yang sepertinya dibungkus sekadarnya dengan kertas koran yang lusuh. Bu Thompson dengan suka cita menerima semua hadiah itu, dan membukanya satu-persatu di hadapan mereka. Sampai akhirnya ia membuka hadiah yang diberikan Teddy. Sebagian anak-anak terdengar tertawa cekikikan ketika Bu Thompson menemukan seuntai kalung perak dengan hiasan manik-manik yang tidak lengkap dan sebotol parfum yang isinya tinggal separuh. Kelas yang riuh mendadak senyap ketika Bu Thompson menyatakan betapa cantiknya hadiah Teddy sambil mengalungkannya di lehernya dan kemudian menggosokkan parfum itu di pergelangan tangannya.

Beberapa saat setelah anak-anak yang lain meninggalkan ruang kelas, Teddy berdiri dan perlahan-lahan mendatangi Bu Thompson. Di depan Bu Thompson ia berkata terbata-bata: “Bu, hari ini bau ibu seperti ibu saya ketika masih ada.” Setelah itu bergegas ia meninggalkan kelas tanpa menoleh lagi.

Bu Thompson terpana. Tak sanggup berkata-kata, dadanya terasa sesak, matanya berkaca-kaca. Ia menangis cukup lama sebelum akhirnya ia berketetapan hati. Pada hari itu, Bu Thompson berhenti mengajar Membaca, Menulis, dan Berhitung, dan Berbicara. Sebaliknya ia mulai mengajar Anak-anak. Bu Thompson mulai menaruh perhatian khusus kepada seorang anak bernama “Teddy.” Ketika ia mengajar anak itu dengan ketulusan hatinya, tatapan si anak tampak mulai memancarkan cahaya, dan pikirannya mulai terbuka kembali. Semakin banyak Bu Thompson mendorongnya semakin cepat Teddy menanggapinya. Pada hari-hari ketika berlangsung ujian yang penting, Bu Thompson selalu ingat memakai parfum yang dihadiahkan Teddy.

Pada akhir tahun, Teddy telah menjadi salah satu murid yang berprestasi tertinggi di sekolahnya. Dan…ia pun kemudian menjadi murid kesayangan para guru. Teddy telah kembali menjadi anak yang ceria, rajin belajar, santun, dan tidak pernah terlambat.

Setahun kemudian, Bu Thompson menemukan sebuah surat di mejanya. Surat itu dari Teddy yang memberitahunya bahwa dari semua guru di sekolah dasar itu ia adalah guru favoritnya. Enam tahun berlalu tanpa terasa dan Bu Thompson memperoleh lagi surat dari Teddy. Teddy memberitahunya bahwa ia telah menyelesaikan SMA dengan nilai tertinggi di kelasnya, dan tak lupa ia menyatakan bahwa Bu Thompson masih guru yang paling dikaguminya.

Empat tahun kemudian, Bu Thompson kembali mendapat surat dari Tedy yang memberitahunya bahwa sekalipun mengalami berbagai kesulitan, ia tetap melanjutkan studi. Teddy mengabarkan bahwa ia telah memperoleh gelar sarjana muda dengan nilai tertinggi. Ia juga menyatakan bahwa Bu Thompson masih guru yang paling dikaguminya.

Empat tahun lagi berlalu ketika Bu Thompson menerima lagi surat dari Teddy. Kali ini Teddy menjelaskan bahwa setelah memperoleh gelar sarjana muda, ia memutuskan untuk meneruskan studinya. Dalam surat itu Teddy tidak lupa menyatakan bahwa Bu Thompson masih tetap guru favoritnya. Surat itu diakhiri dengan mencantumkan nama lengkapnya yang kali ini bertambah dua huruf: dr. Teddy F. Stoddard.

Kisah ini tidak berakhir di sini, karena masih ada lagi surat yang diterima Bu Thompson di awal musim semi. Dalam suratnya kali ini Teddy mengatakan bahwa ia telah menemukan gadis pujaan hatinya dan memutuskan untuk menikahinya. Ia menjelaskan bahwa ayahnya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu dan ia meminta kesediaan Bu Thompson menghadiri pernikahannya dan duduk di tempat yang disediakan bagi ibu pengantin pria.

Dan begitulah…pada hari yang istimewa itu. Bu Thompson hadir memakai kalung perak yang sebagian manik-maniknya telah hilang. Dan pada hari yang sangat istimewa itu Bu Thompson memancarkan aroma seperti yang diingat Teddy akan aroma ibunya pada Natal mereka yang terakhir. Mereka berpelukan dengan erat, dan dr Stoddard berkata, “Terima kasih Bu karena telah mempercayai saya. Terima kasih banyak karena membuat saya merasa penting dan mendorong saya supaya bisa berhasil.” Dengan berlinangan air mata Bu Thompson berkata: “Kamu keliru nak. Kamulah yang sebenarnya mengajari ibu sehingga ibu bisa berhasil. Sebelumnya ibu tidak tahu bagaimana mengajar sampai ibu bertemu dengan kamu.”

Catatan : Kisah ini ditulis oleh Elizabeth Silance Ballard yang dimuat di Home Life magazine pada 1976.

You never can tell what type of impact you may make on another’s life by your actions or lack of action. Consider this fact in your venture thru life.

Sumber : https://www.rogerknapp.com/inspire/teacher.htm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube