Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pada malam yang dingin di bulan Maret dan angin berhembus di kegelapan malam di Dallas Amerika, seorang dokter melangkah masuk ke dalam ruangan di mana Diana Blesing dirawat. Diana masih merasa pening akibat dari efek operasi. Suaminya David mengenggam tangannya dan berusaha menahan emosinya atas berita yang baru saja didengarnya. Siang itu pada tanggal 10 Maret 1991, Diana mengalami komplikasi pada kandungannya. Di usia kandungan baru 24 minggu dia harus menjalani operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungannya. Maka lahirlah anak perempuan pasangan itu, yang bernama Dana Lu Blesing. Dengan panjang hanya 12 inci, berat Dana hanya satu pound sembilan ons (0.86 kg).

Dan perkataan dokter yang lembut rasanya seperti bom bagi mereka. Dokter mengatakan dengan pelan, “Saya tidak yakin anak ini akan dapat bertahan. Hanya ada kemungkinan 10 persen dia akan melewati malam ini. Dan jika dapat bertahan, hanya ada kesempatan yang sangat kecil dia dapat bertahan, masa depannya akan sangat kejam.”

Dengan rasa tidak percaya, David dan Diana mendengarkan apa yang dokter jelaskan tentang sesuatu yang sangat buruk. “Dana sangat mungkin tidak akan selamat, dia tidak akan dapat berjalan, dia tidak akan dapat berbicara, dia kemungkinan akan buta, dan dia pasti akan mudah untuk dapat menderita catastrophic (masalah besar) dari celebral plasty (idiot) dan penghambatan perkembangan mental dan lain sebagainya.”

“Tidak mungkin,” kata Diana tidak percaya. Dia dan David suaminya dan anak lelakinya Dustin yang berumur 5 tahun, telah lama mendambakan seorang putri di dalam anggota keluarganya. Dan sekarang mimpi itu telah terwujud.

Tetapi setelah hari itu berlalu, ada penderitaan baru di dalam keluarga itu. Karena Dana mengalami pertumbuhan sistem sel saraf yang sangat lambat sehingga cahaya atau sentuhan dapat membuat dia merasa kesakitan (tidak nyaman), jadi mereka tidak dapat menggendong bayi mungil itu di dada dan memberikan rasa cinta mereka yang besar. Yang dapat mereka lakukan hanya berdoa supaya Tuhan mau berjaga di dekat putri mereka yang berharga, dan Dana berjuang sendirian di bawah lampu sinar ultraviolet di dalam incubator.

Mereka tidak melupakan bagaimana Dana bertumbuh dan akhirnya menjadi semakin kuat. Minggu demi minggu berlalu, Dana tumbuh dengan lambat tetapi pasti. Berat dan kekuatannya juga semakin bertambah. Akhirnya setelah Dana berusia dua bulan mereka mendapatkan ijin untuk menyentuh Dana dengan tangan untuk pertama kalinya.

Dan dua bulan kemudian, setelah dokter mengingatkan kembali kecilnya kemungkinan bagi Dana untuk bertahan dan hidup dengan normal, ia mempersilahkan Dana untuk dibawa pulang dari rumah sakit, seperti yang diinginkan ibunya.

Lima tahun kemudian, Dana telah menjadi seorang gadis kecil yang mungil dengan mata abu-abunya yang cerah dan semangat hidup yang luar biasa. Tidak ada tanda-tanda dia akan mengalami suatu gangguan mental atau fisik. Dia seperti gadis kecil yang normal dengan segala aktifitasnya. Tetapi cerita tidak berakhir di sini.

Di suatu siang yang panas, pada musim panas tahun 1996 di dekat rumah mereka di Irving, Texas. Dana sedang duduk di pangkuan ibunya, di sebuah lapangan bola setempat, di mana saudaranya Dustin sedang latihan baseball bersama teamnya. Seperti biasa, Dana mengoceh tanpa henti kepada ibunya dan beberapa orang dewasa yang duduk di dekat mereka ketika tiba-tiba Dana terdiam. Dana memeluk tangan ibunya dan merangkulkannya ke tubuh mungilnya. Lalu ia bertanya, “Mama, mama mencium sesuatu?”

Mamanya mencoba membaui udara dan berusaha mendeteksi akan mendekatnya badai. “Ya, baunya seperti akan hujan,” Diana menjawab.

Dana memandang mata ibunya dan bertanya lagi, “Mama mencium baunya?”

Sekali lagi ibunya mejawab, “Ya… saya pikir nanti akan hujan. Karena baunya seperti hujan.”

Masih dalam dekapan ibunya, Dana menggelengkan kepalanya dan menepuk pundak ibunya dengan tangan mungilnya. Dengan perlahan dia mengatakan, “Bukan, baunya seperti DIA.” Itu baunya Tuhan, ketika kamu medekap ke dada-Nya.

Air mata mengalir ke pipi Diana karena Dana, karena kebahagian, dan karena pertolongan Tuhan sehingga Dana dapat seperti anak lainnya.

Sebelum hujan turun, perkataan Dana mengingatkan Diana akan keberadaan Dana dalam keluarga itu, dan di dalam hatinya selama ini. Pada saat hari-hari yang panjang di dalam dua bulan pertama kehidupan Dana, ketika sistem sarafnya sensitif terhadap sentuhan sekalipun. Pada saat Dana tidak dapat didekapnya di dalam pelukannya sekalipun ibunya sangat menginginkanya. Tuhan telah mendekap Dana di dalam pelukan-Nya dan menjaganya. Dan bau cinta Tuhan itulah yang telah diingat dengan sangat baik oleh Dana.

 

Sumber : https://www.truthorfiction.com/rumors/s/smellofrain.htm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube