Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Setelah menyelesaikan sekolah menengah di Mendham, N.J., Maggie Doyne tidak yakin apa yang ingin dilakukannya. Ia seorang pelajar yang berambisi dan bersemangat—editor dari buku tahunan, atlet utusan sekolah, dan bendahara kelas—tetapi saat menimbang-nimbang pilihan ke perguruan tinggi, ia merasa semakin jenuh, dan memutuskan ia perlu cuti.

“Saya mengambil cuti setahun,” kata Maggie, kepada The Huffington Post, dari rumah keluarganya di Mendham. “Saya mau melakukan investasi ini di kehidupan saya, namun saya tidak punya tujuan yang jelas. Saya ingin mendapat jawabannya.”

Di semester pertama cutinya, Maggie ikut program ekspedisi LeapNow, yang melakukan perjalanan dengan membawa backpack. Program tersebut membawa para pelajar melakukan misi-misi layanan dan proyek-proyek kebudayaan ke seluruh dunia untuk satu semester. Dan saat tiba waktunya untuk memutuskan rencana musim seminya, Maggie bertanya kepada seorang mentor bagaimana caranya agar dia dapat “memberi dampak” terbaik. “Saya katakan, saya ingin berguna dan saya ingin bekerja untuk anak-anak,” Maggie mengingat. “Jadi saya pergi ke India untuk bekerja bagi suatu organisasi di sana.”

Di India bagian Timur Laut, ia bertemu dengan para pengungsi muda Nepal yang tak terhitung banyaknya, yang melarikan diri dari negerinya setelah timbul pemberontakan pengikut Mao, dan perang saudara. Seorang remaja putri yang ditemuinya, menyelamatkan diri dari Nepal enam atau tujuh tahun sebelumnya, dan tidak pernah kembali lagi. Jadi dia dan Maggie memutuskan melakukan perjalanan bersama—kembali ke Nepal, untuk mencari keluarga anak perempuan itu.“Kami duduk di bus selama dua setengah hari,” kata Maggie. “Di akhir perjalanan, kami diturunkan di sebuah pemberhentian di jalan, dan supir bus seolah berkata, ‘Baiklah nona-nona, kamu tak dapat pergi lebih jauh lagi.’”

Kedua remaja itu kemudian berjalan kaki dua hari lagi melalui Himalaya, untuk menemukan desa asal gadis itu. Mereka mendapat rincian mengenai keluarganya yang lenyap, dan di mana banyak anggota keluarganya telah berakhir.“Dampak pada seluruh wilayah itu benar-benar sangat menyakitkan,” kata Maggie mengingat pengalamannya itu. “Tetapi saya langsung merasa lekat dengan wilayah itu, seolah saya seharusnya berada di sana.”Maggie semakin terpikat oleh keindahan alam Nepal, juga oleh rasa komunitas dan optimisme yang dimiliki penduduknya, tetapi ia juga mendapat pengaruh yang mendalam dari anak yatim piatu yang ditemuinya di desa-desa.

Ia sering melihat seorang anak perempuan Nepal memecah batu-batu di pinggiran sungai yang kering. Anak perempuan itu tak bersekolah, tak berkeluarga; ia tak punya apa-apa, namun ia tetap tersenyum dan melambai setiap kali Maggie melintas. Nama anak perempuan itu Hema.“Itu benar-benar penyadaran yang memalukan,” kata Maggie. “Saya pikir, hanya diperlukan uang masuk sebesar 5 dolar, dan 5 dolar biaya seragam, untuk memasukkannya ke sekolah. Mengapa saya tak dapat melakukannya?”Maka Maggie melakukannya. Dan ia memasukkan beberapa anak-anak perempuan lain lagi untuk bersekolah juga.

Dan ia menyadari bahwa ia bisa berbuat lebih banyak lagi dengan tinggal di Nepal, dan bergelut dengan masalah pengungsi di hulunya; dari pada menunggu anak-anak ini melarikan diri ke India, atau, lebih buruk lagi, tertahan di perbatasan, dan menemukan diri mereka jadi korban perdagangan manusia dan perbudakan domestik. Ia menyadari, ia ingin memberi anak-anak ini rumah yang betul-betul permanen.

Itulah yang terjadi ketika Maggie menelefon orangtuanya dari “kotak telepon yang reyot di tengah-tengah antah berantah” dan meminta mereka mengirimkan tabungan masa depannya—5.000 dolar yang dikumpulkannya dari bekerja sebagai pengasuh anak saat sekolah menengah—ke Nepal. Setelah pembicaraan yang panjang (“Saya tidak benar-benar ingat apa yang saya katakan, tepatnya,” Maggie tertawa) orangtuanya setuju mengirim uang tersebut. Maggie membeli sepotong lahan di Surkhet, Nepal dan membentuk tim dari komunitas lokal, untuk membantunya menggali fondasi awal untuk rumah yatim piatu, yang sekaligus menjadi rumah kediamannya juga.

Namun segera, Maggie sadar bahwa ia perlu lebih banyak sumber jika ia benar-benar mau membangunnya. Jadi ia terbang kembali ke New Jersey dan bekerja. Ia menjadi pengasuh anak, pengasuh anjing, penunggu rumah, mengadakan penjualan barang bekas, menjual kue, dan apa saja yang bisa dilakukannya untuk menggalang dana.

Koran lokal akhirnya memuat kisah Maggie, dan segera cek-cek dari para simpatisan mulai mengalir. Dalam waktu 5 bulan, Maggie berhasil mengumpulkan US$60.000. Dengan dukungan tambahan dana ini, Maggie dan timnya di Surkhet dimampukan untuk melanjutkan pembangunan dan menyelesaikan rumah Maggie. Ia membentuk pengurus tim orang Nepal dan mendirikan rumah yatim-piatunya, yang dinamakannya Kopila Valley Children’s Project—Proyek Kanak-kanak Lembah Kopila. Ia mendaftarkannya sebagai NGO (LSM). Ia baru berusia 22 tahun.

Anak-anak segera mulai masuk ke rumah yatim-piatu itu dan visi Maggie pun terlaksana. “Saya dapat melihat dengan jelas apa yang saya inginkan,” katanya. “Hingga kini saya telah mengunjungi rumah-rumah yatim-piatu, saya dapat menciptakan sebuah model yang bisa berjalan berdasarkan bagaimana saya dibesarkan. Saya ingin anak-anak ini memelihara binatang, saling peduli.” Tetapi Maggie tak berhenti dengan rumah yatim-piatu.

Tahun lalu ia juga mendirikan sebuah sekolah di Surkhet—The Kopila Valley Primary School/Sekolah Dasar Lembah Kopila—yang kini memiliki 230 pelajar dan 14 guru penuh waktu. Anak-anak makan siang penuh gizi setiap hari, kadang-kadang itulah satu-satunya makan sehari-seharinya, mengingat bahwa mereka hidup di daerah di mana 50% anak-anak usia 5 tahun kekurangan gizi, dan kurang gizi menyebabkan 70% kematian di bawah usia lima tahun.

Karya Maggie semua dilakukan dibawah bendera nirlabanya, BlinkNow. Misinya adalah “melengkapi anak muda menjadi pionir-pionir dalam mengembangkan solusi mereka sendiri terhadap kemiskinan global.”“Saya rasa ada suatu perubahan besar yang sedang terjadi di dunia, dan orang tidak setuju dengan cara anak-anak hidup,” kata Maggie. “Saya pikir orang benar-benar lapar akan pengharapan.”Kini, Maggie berusia 24 tahun dan bertanggung jawab secara resmi atas 40 anak Nepal, semuanya datang kepadanya tanpa keluarga, tanpa uang, dan tanpa pendidikan. Banyak yang tadinya korban aniaya (abuse).

Ia menyediakan bagi mereka semua, pemeliharaan kesehatan yang pokok dan pangan, dan ia hingga kini mengajar mereka baca-tulis. “Gadis kecil pertama yang saya ambil itu jenius,” kata Maggie. “Ia belajar bahasa Inggris hanya dalam beberapa bulan dan ia membaca setiap buku yang saya berikan. Saya dapat melihat dia akan masuk ke Harvard atau yang lain. ”Ketika orangtua Maggie mengunjunginya di Nepal, anak-anak memanggil mereka “nenek dan kakek”. Mereka terus membantunya sejauh mereka bisa, khususnya mengorganisir rapat pengurus tim dan mengurusi laporan pajak. Sementara Maggie di rumahnya di Amerika Serikat, adik perempuannya ke Nepal, bekerja di rumah yatim-piatu itu.“Banyak orang berpikir saya besar di tenda atau berasal dari keluarga gila di luar sana, atau saya dibesarkan di pondok di Afrika,” katanya, “Namun saya hanya katakan kepada mereka saya ini gadis biasa saja asal Jersey.”

Sumber : https://parenting.blogs.nytimes.com/2010/10/22/when-a-child-moves-to-nepal/ dan https://klikheadline.com/in/berita/berita.asp?id=news6142011212047a8di6uyud1i4s9l1071339337

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube