Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : Roma 2 : 1-29 dan Kisah Para Rasul 17 : 29-31

Allah yang benar dan adil adalah Allah yang mengadili dunia yang telah berdosa melanggar keadilan dan kebenaran Allah. Dunia ini pasti diadili oleh Tuhan, dunia ini pasti akan menerima penghakiman dari Tuhan, tidak peduli manusia setuju atau tidak setuju. Orang yang berkata: “Saya tidak percaya kepada Allah”, suatu hari ia harus berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan segala hal, termasuk untuk kalimat yang ia ucapkan. Alkitab dengan jelas menyatakan penghakiman Allah, yang akan dimulai dari rumah-Nya sendiri.

Kedua ayat di atas menujukkan kepada kita bahwa Allah telah terus-menerus memberikan toleransi kepada kita, manusia yang berdosa ini, untuk bertobat. Tetapi kita selalu berkata bahwa segala sesuatu beres, sekalipun saya berbuat dosa, semuanya tetap lancar, sekalipun berbuat dosa begitu besar, Allah tidak bisa apa-apa. Inilah kebodohan manusia yang menilai kelancaran diri untuk menentukan kemarahan Allah atau tidak. Saya rasa, ajaran yang salah seperti ini sedang melanda seluruh Indonesia.

Penghakiman Yang Mendatangkan Hukuman

Ada orang yang menganggap jika seorang mati kecelakaan, berarti ia dikutuk Tuhan, dan segala kekayaan, kemurahan dianggap sebagai bukti Tuhan memberkati. Ajaran sedemikian kelihatannya seperti benar, tetapi salah, karena Anak Allah sendiri hidup paling menderita di dunia, bukan karena dosa, tetapi karena rencana Allah meremukkan Dia. Ayub menderita karena ujian Allah menunjukkan bahwa ia adalah orang yang mengikut Tuhan dengan hati yang murni. Stephanus justru membuktikan kepada orang lain bahwa ia begitu setia sampai mati.

Alkitab justru mengajar sebaliknya, orang yang hidup lancar dan memiliki kekayaan mungkin bukan karena berkat Allah. Ada orang yang menjadi kaya karena dosanya begitu besar, di mana ia telah menyimpang dari segala jalan yang benar, sehingga untuk sementara ia mendapatkan banyak berkat kekayaan, tetapi bukan dari Allah, melainkan dari setan. Itu sebab, yang misikin jangan iri hati kepada yang kaya, dan yang sakit jangan cemburu kepada mereka yang sehat.

Pada waktu pemazmur mengatakan, mengapa ada orang yang begitu jahat hidupnya begitu lancar, begitu berkembang dan maju? Tetapi Tuhan memberikan pewahyuan kepada orang-orang demikian sehingga mereka tahu bahwa orang yang sedemikian kelihatan lancar, sebenarnya sedang menuju kepada suatu jalan yang licin dan akan menjatuhkan mereka sendiri (Mazmur 73). Kekayaan dan kelancaran tidak membuktikan bahwa orang tersebut diberkati Tuhan. Banyak kekayaan yang berasal dari setan. Tuhan Yesus sudah memberikan contoh kepada kita, bahwa Ia menolak segala kedudukan dan kekayaan dari setan, dan rela naik ke kayu salib (Matius 4:11). Barangsiapa menganggap semua penderitaan adalah wakil atau simbol kutukan Allah, maka ia belum mengerti Alkitab, dan ia tidak berhak berdiri untuk mengajar orang lain. Paulus mengatakan ada hukuman yang datang seketika, tetapi ada juga hukuman yang mengejar sampai hari pengadilan terakhir.

Di sebuah kota kecil Urena di Uni Sovyet, sekitar 80 tahun yang lalu, di saat komunis sedang jaya, ada dua orang yang mempropagandakan tidak ada Allah dengan jalan menembakkan pistolnya ke atas, seolah menembak Allah sambil menghina Allah. Ketika orang-orang sudah bisa dipengaruhi dan mulai tidak percaya ada Allah, mereka hendak pergi dari kota itu, tetapi akhirnya keduanya jatuh dari kereta api, dan yang seorang meninggal seketika tergilas kereta, yang seorang lagi patah kedua kakinya. Tidak ada dosa yang tidak dihakimi Allah, tidak ada dosa yang lolos dari keadilan Allah, mungkin Allah menghukum dengan segera, tetapi mungkin juga Allah membiarkan sampai pada penghakiman terakhir.

Dengan segenap hati saya menegaskan, jangan bermain-main dengan Allah. Allah tidak mau dipermainkan. Celakalah Saudara yang melakukan segala sesuatu dengan kebebasan Saudara yang tidak terkendalikan. Celakalah Saudara yang berani mempermainkan anugerah Tuhan dengan mempermainkan yang benar dengan yang tidak benar. Tidak ada satu kelakuan dosa atau pikiran yang jahat yang tidak dihakimi Allah. Jika Saudara mau menjadi seorang yang takut dan hormat kepada Allah, berhati-hatilah dengan semua benih kejahatan dari setan yang ditanam di dalam hati, pikiran dan tindakan Saudara. Allah tidak pernah memberikan tempat bagi dosa. Disebabkan karena dosa, Anak Allah harus mati di kayu salib. Demi dosa, Yesus Kristus harus dikutuk dan berteriak: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Awal Oktober ini (tahun 1992) di Korea, ada pendeta yang ditangkap karena ia telah berkhotbah bahwa Tuhan Yesus akan datang tanggal 28 Oktober 1992, sehingga banyak orang memberikan persembahan dan yang sekitar US$ 4.000.000 itu dimasukkan ke dalam rekening pribadinya di bank. Saya sangat tidak setuju dengan gereja yang seluruh persepuluhan anggotanya diberikan kepada pendeta. Itu ajaran sesat, ajaran tidak benar. Di dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, dikatakan bahwa 12 suku Israel seluruh persepuluhannya diberikan kepada satu suku, yaitu suku Lewi. Ini berarti 12 suku berbanding 1 suku, maka kira-kira perpuluhan 12 orang untuk 1 orang. Tetapi kini satu gereja dengan 5.000 anggota memberikan perpuluhan untuk 1 orang. Itu hal yang tidak beres, hal sedemikian merupakan pencarian nafkah yang lebih tamak dari Yudas.

Pemimpin-pemimpin gereja seperti demikian harus bertobat! Jangan kira Saudara sedang menjalankan perintah Alkitab. Jangan kira dengan demikian Saudara boleh menjadi cukong-cukong yang mencuri uang Tuhan. Perpuluhan adalah untuk seluruh keluarga Tuhan, bukan untuk kepentingan pribadi. Pendeta tidak boleh memakai uang Tuhan di dalam rekening bank sendiri dan pendeta-pendeta tidak boleh memakai nama sendiri untuk mendirikan Yayasan, lalu semua keuangan dan inventaris gereja atas nama pribadi sendiri. Itu semua penipuan dan pencurian. Di Indonesia sudah terlalu banyak maling-maling yang berjubah pendeta. Mereka pasti tidak akan dilepaskan dari penghakiman Allah.

Hukuman Allah berdasarkan keadilan ilahi. Kesucian ilahi, keadilan ilahi, harus dilaksanakan di atas bumi. Di dalam Yesaya 42 Tuhan Allah berkata tentang Kristus: “Lihatlah, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan…supaya ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya” (Yesaya 24:1,4). Dia tidak akan kecewa, tidak akan putus asa dan terus-menerus menegakkan kebenaran di atas bumi ini.

Sarana Penghakiman Allah

  1. Penghakiman Hati Nurani,  Allah mencipta manusia dengan hati nurani untuk menjadi alat penghakiman bagi manusia. Hati nurani memang tidak dapat diandalkan secara mutlak, dan penghukuman hati nurani tidak mutlak benar, karena hati nurani sendiri sudah dicemari oleh kebudayaan, agama, segala macam opini masyarakat, tradisi dan oleh segala macam kebiasaan, penderitaan, dan dosa diri sendiri. Fungsi hati nurani sudah rusak oleh hal-hal itu. Hati nurani sudah memiliki ketegasan, tetapi bisa menjadi terlalu sensitif atau justru bisa kebal (tertidur). Orang yang pertama kali ke pelacur takutnya luar biasa, tetapi lama-kelamaan menjadi biasa.
  2. Penghakiman Hukum Taurat
    Tuhan Allah memberikan penghakiman kepada manusia melalui turunnya Hukum Taurat. Kita telah melihat bahwa Hukum Taurat menghentikan manusia dengan menyumbat mulut manusia yang berusaha melawan Allah.
  3. Penghakiman Masyarakat
    Allah juga menghakimi kita melalui masyarakat. Orang yang berbuat dosa terlalu hebat mendapatkan celaan yang besar dari masyarakat. Di Bagan Siapi-api, Sumatera, orang yang semasa hidupnya menjadi pencuri, pemabuk, perampok, dsb., ketika meninggal, ia akan dihukum oleh masyarakat dengan tidak dikuburkan.
    Kalau seseorang ketahuan menjadi pelacur, maka semua orang akan memandang dia dengan pandangan yang berbeda. Tuhan sengaja membuat setiap wajah berbeda, sehingga setiap orang dapat dibedakan. Orang yang terus menipu, melarikan uang orang lain, tidak dapat menyembunyikan wajahnya dari mata orang lain. Itulah penghakiman masyarakat.
  4. Penghakiman Pemerintah
    Pemerintah didirikan oleh Allah, tidak ada pemerintah yang kuasanya bukan dari Allah (Roma 13:1 dst.). Ini berarti:
    1. Semua perintah ada karena diizinkan oleh Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, kuasa pemerintah itu harus jatuh.
    2. Berarti kuasa Allah jauh lebih tinggi dari kuasa pemerintahan, karena semua pemerintahan diberikan oleh Allah.
    3. Semua kuasa pemerintahan dari Allah, berarti semua pemerintah harus bertanggung-jawab kepada Allah.
    4. Semua pemerintah dari Allah, termasuk pemerintah sekarang, tetapi ada juga pemerintah yang akan datang, yang menghancurkan pemerintah yang sekarang, maka kuasa yang akan datang itupun juga dari Allah.
    Pemerintah paling tidak menerima 2 macam kuasa dari Allah, yaitu: (1) kuasa ekonomi, dan (2) kuasa politik dan militer. Di dalam kuasa militer inilah, pemerintah diberi tugas memberikan pahala kepada mereka yang berbuat baik, dan menghukum mereka yang berbuat jahat.
  5. Penghakiman Salib Kristus
    Penghakiman Allah yang paling keras, yang paling hebat, yang paling mengerikan yang pernah terjadi kepada seseorang adalah penghakiman Allah pada Kristus saat Ia dipaku di kayu salib. Jangan Saudara kira Yesus diadili oleh orang biasa, atau dipaku di kayu salib karena kuasa dari Herodes, atau kuasa Hanas dan Kayafas, juga bukan kuasa dari Pilatus, atau dari rakyat Israel. Yesus dipaku di kayu salib justru juga karena penghakiman Allah yang ditimpakan kepada-Nya. Di dalam Yesaya 53:10 dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa Yahweh telah menetapkan untuk meremukkan Dia, karena Dia sedang mengganti Saudara dan saya, Dia sedang menebus dosa Saudara dan saya.
    Yesus diadili dan dihakimi di Golgota adalah karena dosa Saudara dan dosa saya. Inilah penghakiman yang paling berat dan penting. Barangsiapa mengetahui ayat “…karena bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5) janganlah hanya melihat ayat itu sebagai kesembuhan penyakit badan. Penyakit badan tidak terlalu penting, penyakit rohani Saudara itu jauh lebih penting, penyakit jiwamu itu penting, dan penyakit rohani status rohani Saudara di hadapan Allah, itulah yang terpenting. Seperti seruan Yeremia “Kembalilah bangsa-Ku, kembalilah umat-Ku Israel, Aku akan mengembalikan penyakit murtadmu.” Penyakit jasmani tidak terlalu penting, karena setiap orang suatu hari pasti harus mati. Mengapa Saudara datang kepada Yesus hanya untuk mencari kesembuhan badan saja? Pendeta yang selalu meneriakkan: “Datanglah ke sini, saya akan memberikan kesembuhan” akan menarik banyak orang datang. Tetapi jika tubuh Saudara disembuhkan, namun jiwa dan iman Saudara yang sakit tidak pernah disembuhkan, apa gunanya Saudara menjadi Kristen? “Bilurnya menyembuhkan aku” bukan hanya untuk kesembuhan badan — sekalipun saya percaya hal itu dan Tuhan akan selalu melakukan hal itu — namun lebih penting dari itu apa jadinya jika jiwa Saudara yang sudah murtad, yang sudah jauh dari Tuhan tidak disembuhkan?
    “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya.” (Yesaya 53:3-4). Kristus mati dan dikutuk karena dosa kita. Inilah hukuman Tuhan yang ditimpakan kepada Yesus.
  6. Penghakiman Injil Oleh Kuasa Roh Kudus
    Pada waktu Injil diberitakan, firman Tuhan dikabarkan, Kristus yang mati dan bangkit menjadi satu-satunya kabar baik yang diberitakan kepada manusia, saat itu juga, Roh Kudus bekerja untuk menghakimi manusia.
    Orang yang memaku Yesus di kayu salib, pada saat itu mereka merasa tidak bersalah, karena ia merasa hanya menjalankan tugas saja, setelah selesai ia bisa pulang. Orang Yahudi juga merasa bahwa Yesus terlalu kurang ajar, terlalu mengganggu, sehingga setelah Yesus mati, mereka tidak terganggu lagi. Mereka merasa sudah selesai, tetapi sebenarnya mereka tidak pernah bisa menyelesaikan persoalan mereka karena mereka membenci Yesus Kristus. Yesus Kristus disalibkan, dibunuh, tetapi pada hari yang ketiga, Roh Kudus bekerja di tengah-tengah orang yang pernah memaku Dia, Roh Kudus bekerja mulai dari Yerusalem, dan Roh Kudus dicurahkan sebagai penggenapan janji Allah akan pengiriman Roh Kudus, dan berita Injil disampaikan. Hari itu, ada 3.000 orang yang tertusuk hatinya karena Roh Kudus sedang menjalankan penghakiman.
    Roh Kudus bekerja pada saat orang dengan jujur memberitakan Injil Kristus. Siapa saja, pendeta-pendeta, pemberita Injil, jika Saudara sungguh-sungguh, dengan hati yang jujur dan tulus memberitakan Injil, tidak mungkin Roh Kudus tidak bekerja. Pemuda-pemudi jangan takut bersaksi bagi Tuhan, jangan takut menjadi hamba Tuhan. Tidak peduli Saudara berbicara dengan kurang fasih, tidak peduli tersendat-sendat, teralu pandai atau kurang pandai, asal Saudara berani berdiri dan bersaksi sungguh-sungguh meninggikan Kristus yang tersalib, tidak mungkin Roh Kudus tidak menyertai Saudara, karena Roh Kudus datang untuk mempermuliakan Kristus. Tetapi jika Saudara memberitakan diri sendiri, Roh Kudus akan meninggalkan Saudara. Jika Kristus yang diberitakan, Roh Kudus akan menyertai dan memeteraikan orang tersebut.
    Pada saat Roh Kudus menjalankan penghakiman, ada sesuatu yang mengherankan sekali terjadi. Manusia yang dulu menganggap diri sendiri benar, dan menganggap Yesus salah, sehingga Yesus perlu dipaku, dan manusia merasa berhak menghakimi Dia, kini diputar balik. Manusia kini menjadi sadar bahwa Kristus yang benar, kita sendiri yang berdosa. Bukan Kristus yang harus diadili, tetapi Kristuslah yang seharusnya menghakimi kita. Lalu manusia itu rebah dihadapan Tuhan dengan segala kerendahan hati dan tangisan yang menyatakan pertobatan yang sejati. Iman langsung timbul di dalam hatinya.
    Penghakiman Roh Kudus menciptakan pengharapan baru di dalam hati Saudara, melepaskan Saudara dari kekerasan hati Saudara, dari kedegilan Saudara dan dari pemberontakan terhadap Allah, dan kembali kepada Allah dengan segala kerendahan hati, dan mengaku dosa di hadapan Allah.
  7. Penghakiman Melalui Gereja
    Gereja adalah salah satu wadah yang Tuhan pakai untuk menjalankan penghakiman ilahi. Gereja mempunyai hak, gereja harus menjalankan keadilan Allah, sehingga anggota-anggota gereja harus mematuhi diri kepada seluruh peraturan yang sesuai dengan kehendak Allah.
    Jika seorang penatua atau majelis berzinah, tegurlah ia dan berhentikan ia dari menerima Perjamuan Suci. Penghakiman gereja harus sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi saat ini tidak terjadi hal yang demikian. Gereja-gereja sendiri kini berkompromi dengan dosa. Majelis dan majelis bekerja sama cari pelacur, sehingga keduanya saling mendiamkan. Kita perlu ingat, bahwa gereja adalah tempat yang dipakai Tuhan untuk menghakimi.
    Saya bukan bermaksud menyatakan ini agar gereja menjadi sombong dan setiap hari menghakimi orang lain. Gereja adalah juga tempat yang Tuhan pakai untuk mengampuni dan untuk memberitakan Injil. Yang tidak mau meninggalkan dosa, dosanya akan tetap padanya, yang mau mengaku dosa, dosanya akan diampuni, yang dinyatakan terikat, akan tetap terikat di surga, dan yang dilepaskan akan terlepas di surga (Matius 16:19). Biarlah gereja, pemimpin gereja, pendeta, majelis, dsb., semua yang melibatkan diri dengan tangan duniawi ini untuk mengerjakan pekerjaan surgawi, hendaklah mengerjakannya dengan kesucian hati, dengan kemurnian tangan, dengan pikiran yang mengabdi kepada Tuhan, dan dengan jiwa yang menyerahkan diri kepada Tuhan, seturut yang dicatat di dalam Alkitab.
  8. Penghakiman Tahta Kristus
    Pada saat Kristus kembali untuk kali kedua, Ia akan mengadili semua orang Kristen. Pengadilan ini tidak bersangkut paut dengan status dosa Saudara. Paulus menggunakan dua macam istilah untuk melukiskan dosa, yaitu (1) dosa yang dalam bentuk tunggal, dan (2) dosa dalam bentuk jamak. Pada saat ia menyatakan “saya ada di bawah dosa”, maka ditulis dalam bentuk tunggal, tetapi ketika ia mengatakan “saya melakukan banyak kesalahan” ditulis dalam bentuk jamak. Secara status dosa, kita tidak lagi dihukum, karena sebagai orang berdosa, status kita ini sudah diganti oleh Kristus di atas kayu salib. Kita adalah orang berdosa yang statusnya sudah diwakili oleh Kristus di Golgota. Jadi pada saat Kristus datang kembali, Ia tidak akan menghakimi kita akan status dosa kita dan menuntut kita binasa, karena kita yang sudah sungguh-sungguh lahir baru, yang sudah sungguh-sungguh bertobat, yang sudah dimeterai oleh Roh Kudus, tidak lagi diadili karena status dosa.
    Tetapi orang Kristen tetap harus diadili akan segala pelayanan kita, kesetiaan kita, dan ibadah kita, murni atau tidak, di hadapan Tuhan. Ini yang disebut sebatgai penghakiman atas keluarga Allah di hadapan tahta Kristus. Di dalam pengadilan ini, Allah menghakimi anak-anak-Nya; pendeta-pendeta, majelis-majelis dan setiap orang Kristen jangan mengira sebagai orang Kristen Saudara berhak berbuat sembarangan karena Saudara adalah “anak emas” Tuhan. Alkitab berkata: Engkau yang menganggap dirimu lebih baik dari yang lain? Engkau yang mengira begitu dimanja dan akan menerima sesuatu keistimewaan? Engkau mengira bahwa engkau akan bisa menghindarkan diri? Ketahuilah bahwa penghakiman Allah akan dimulai dari rumah Allah sendiri, mulai dari anak-anak-Nya sendiri, mulai dari Saudara dan saya yang berdiri di hadapan Allah.
    Siapakah yang bisa berdiri? Siapakah yang bisa bertahan? Karena baik pendeta, majelis, maupun penginjil-penginjil besar yang dijunjung di hadapan manusia, tidak bisa berdalih di hadapan Allah. Kalau di dunia ada banyak orang yang menghormati Saudara, jangan berharap nanti di surga malaikat-malaikat atau Roh Kudus akan datang untuk menghormati Saudara. Hukuman Allah justru mulai dari keluarga Allah sendiri.
  9. Pengadilan Tahta Putih
    Pada hari terakhir, di hadapan Tahta Putih Kristus semua orang jahat akan bangkit, semua orang baik juga akan bangkit, dan akan diselesaikan oleh Tuhan di hadapan Pengadilan yang Terakhir (The Final Judgement). Orang baik maupun orang jahat semuanya akan dibangkitkan dan semua harus menghadap kepada Tuhan, dan Alkitab mengatakan bahwa Allah akan mengadili semua orang atas semua yang mereka perbuat (Roma 2:6).
    Allah tidak menyelamatkan seseorang karena apa yang perbuat, tetapi Allah menyelamatkan seseorang karena apa yang Kristus perbuat bagi dia. Tetapi Allah akan mengadili seseorang akan apa yang ia perbuat. Kedua hal ini harus dibedakan secara tegas. Pada saat Saudara diadili, Saudara diadili berdasarkan kelakuan kejahatan, segala pikiran dan perbuatan Saudara yang tidak senonoh, yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Tuhan akan datang kembali dan penghakiman pasti akan dilaksanakan, tidak ada satupun dosa yang bisa diloloskan dari penghakiman Allah. Sudahkah Saudara bertobat, dan beriman kepada Kristus? Sudahkan Saudara membuka hati Saudara dan menerima Tuhan yang mati dan bangkit bagi Saudara? Sudahkah Saudara merendahkan hati dan mengatakan “disini saya dan saat ini saya datang kepada-Mu.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Majalah MOMENTUM No. 17 – Desember 1992

Sumber : https://thisisreformed.wordpress.com/tag/alkitab/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube