Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
(Rom 13:8)  Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barang siapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

Tuhan berkata kepada Abraham ketika ia berumur sembilan puluh sembilan tahun, “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1). “Akulah Allah Yang Mahakuasa” di dalam bahasa Ibrani adalah El-Shaddai. El-Shaddai dimengerti sebagai kelimpahan, seperti seorang dewa daripada orang Kanaan yang dikisahkan sebagai seorang ibu yang memiliki banyak payudara. Tetapi El-Shaddai ialah Allah sendiri, bukan dewa itu. Dan Allah berkata, “Aku Mahakuasa dan Aku bisa memberikanmu segala sesuatu. Sebab itu, engkau harus menjadi orang yang sempurna di hadapan-Ku.” Waktu Bapa mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus, ke dalam dunia, Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Baik dalam PL maupun PB, Tuhan menuntut manusia untuk menjadi sempurna.Ada dua pertanyaan patut kita ajukan.

Yang pertama, mungkinkah manusia menjadi sempurna dan hidup sempurna? Konfusius mengatakan bahwa tidak ada kebajikan yang lebih besar daripada orang yang berbuat salah, lalu mengaku, lalu berubah. Tidak ada orang yang tidak berbuat salah, karena itu berarti tak mungkin ada orang yang sempurna. Jikalau tak mungkin, lalu mengapa Tuhan menuntut orang untuk menjadi sempurna? Mungkinkah manusia sempurna? Tidak! Tidak ada seorang pun dalam sejarah manusia yang dapat menjadi sempurna dalam moral, karakter, dan keadilan.

Pertanyaan kedua, apabila tidak ada kemungkinan untuk mencapai kesempurnaan, mengapa Tuhan menuntut suatu hal yang tidak logis? Jika tidak ada orang yang mungkin mencapai kesempurnaan, kenapa Tuhan menuntut manusia untuk menjadi sempurna? Ini tidak logis dan tidak masuk akal. Jawabannya, jika dalam PL, karena progressive revelation, memang belum sempurna. Tetapi dalam PB pun Yesus menuntut kita untuk sempurna. Akhirnya, kita melihat tokoh-tokoh dalam PB melakukan dosa dan merasa diri berdosa. Tidak ada orang yang sempurna, bukan? Tetapi ini tuntutan Tuhan.

Kalau begitu, sempurna memiliki arti yang lebih dalam dari pikiran kita yang terikat oleh dosa. Kesempurnaan bukan sesuatu yang utuh sempurna, yang kalau tidak utuh berarti tidak sempurna. Dalam Filipi pasal 3, Paulus mengajak orang sempurna yaitu orang Kristen untuk bermental merasa tidak sempurna. Ini namanya paradoks. Paradoks berarti kelihat konflik, tetapi sebenarnya tidak. Kelihatan tidak harmonis, tetapi sebenarnya harmonis.

Apa paradoksnya? Yaitu orang sempurna harus selalu bersedia mengaku bahwa dirinya tidak sempurna. Orang yang tidak sempurna dan tidak mengaku dirinya tidak sempurna, berpura-pura sempurna, akan terus tidak sempurna, dan akhirnya tidak mungkin sempurna. Orang yang tidak sempurna, namun mengaku bahwa dirinya tidak sempurna, selalu mengkoreksi diri untuk menuju kesempurnaan, akhirnya menjadi sempurna. Orang yang rendah hati tidak merasa dirinya rendah hati. Sayangnya, orang yang sombong tidak pernah sadar dia sombong. Maka dalam Filipi 3, Paulus berkata. “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna… Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian.” (Flp 3:12; 15).

Saya pernah berkotbah mengenai kesempurnaan sebanyak empat kali di Amerika, yaitu The perfection in the original creation; The perfect lost after the fall; The perfection in Jesus Christ as a promise; dan The perfection after eternity totally redeemed. Inilah empat tahap dari teologi Agustinus, yaitu pada permulaan ialah posse peccare, posse non peccare (bisa berdosa, bisa tidak berdosa), kemudian setelah manusia jatuh, non posse non peccare (tidak bisa tidak berdosa), setelah ditebus oleh Kristus, posse non peccare (bisa tidak berdosa), dan setelah disempurnakan oleh Kristus dalam kekekalan, non posse peccare (tidak bisa berdosa).

Mari kita mengerti Kitab Suci dengan tuntas dan memegang teologi yang ketat. Hanya dalam teologi Reformed kita dapat mempelajari kebenaran. Hargailah semua ini, yaitu pengertian-pengertian yang bermutu dan mendalam yang diwarisi dari para nabi dan rasul, dari Yesus dan Paulus, dari Agustinus dan Calvin, karena disinilah kita bisa mendapat pengertian yang paling tuntas, jernih, dan baik.

Paulus berkata, “Aku merasa diri tidak sempurna, aku hanya menuju terus kepada sasaran yang terakhir yaitu Kristus sebagai telos” (Flp. 3:14). Telos berarti the ultimate goal. Telos dalam filsafat Latin berarti the highest good. Who is the highest good? The highest good is only in the only begotten Son of God, Jesus Christ. Kita dituntut untuk menjadi sempurna, namun kita berada dalam keberdosaan. Karena itu kita melihat ada perbedaan kualitas di dalam teologi John Wesley dari teologi John Calvin.  Kesempurnaan bagi John Wesley merupakan asumsi apabila manusia suci 100% di dunia. Kesucian bagi Calvin ialah hal yang tidak mungkin, namun kita harus terus menuntut dengan kualitas kesempurnaan. The quality and mentality of perfection as the basis. To achieve the quality of perfection in the Scripture is not easy. Itu sebabnya, kita harus selalu mengaku apabila kita tidak sempurna, berdosa, dan perlu belajar terus.

Dengan demikian, kerendahan hati dan keadaan memuliakan Tuhan menjadi mungkin. Apabila tidak ada kerendahan hati yang memegang kualitas kesempurnaan dan mengaku diri tidak sempurna, seseorang tidak mungkin rendah hati, selalu sombong, menghina orang lain, lalu merebut kemuliaan Tuhan Allah. Apabila orang-orang Kristen tidak rendah hati,  gereja-gereja pasti akan selalu bertarung dan manusia pasti saling menghina. Perdamaian dan saling mengasihi tidak mungkin tercapai. Sebab itu, Paulus dalam Roma 13:8 mengatakan, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.”

Saya dilahirkan dalam kondisi yang susah. Ibu saya pernah mengatakan, “Sekarang miskin, tidak apa-apa. Namun, jangan sampai hati menjadi miskin. Kantong boleh kosong, jantung tidak boleh kosong. Tidak ada uang, itu soal kecil. Tidak ada niat perjuangan, itu soal besar.” Saya ingat terus dari kecil, dalam kondisi sesusah apapun, tidak boleh meminjam uang. Lalu ketika saya membaca Roma 13:8, saya mengerti ini Firman Tuhan, yaitu jangan berhutang di dalam hal apapun kepada siapapun, tetapi hanya dalam cinta kasih, harus selalu merasa berhutang dan harus membayar.

Apabila kita merasa kurang memberi kasih, kita akan selalu menuntut diri agar tidak boleh sembarangan, tidak boleh sombong, harus rendah hati, dan membayar harga untuk menolong orang lain. Apabila engkau tidak pernah menuntut diri, hanya menuntut dari orang lain, Konfusius pun mengatakan bahwa engkau orang kecil. Di dalam filsafat Konfusius, manusia dibagi di dalam dua lapisan, gentleman dan little man. Gentleman is seeking after righteousness, little man is seeking for profit. Orang kecil, demi mencari untung, membunuh orang. Tetapi orang besar tidak peduli untung rugi pribadi, hanya mementingkan bagaimana melaksanakan keadilan dan kebenaran. Orang besar menuntut diri, orang kecil menuntut orang lain.

Di dalam gereja, kita juga melihat dua macam orang Kristen. Ada orang yang selalu merasa diri penting, sedangkan ada orang Kristen yang selalu merasa kurang mencintai Tuhan, berkorban, dan menyangkal diri, dan harus lebih melayani. Cinta yang tidak pernah merasa cukup adalah cinta yang selalu berkorban. Apabila seseorang merasa dia kurang melayani, maka dia akan melayani terlebih dahulu. Selalu ingin bersumbangsih, ini orang Kristen. Namun ada orang yang tidak mau melayani, tetapi masih ingin dihargai dan membuat orang lain melihat kepada dirinya, bukan kepada Tuhan, betapa buruknya hati orang tersebut. Di dalam melayani, marilah kita belajar bagaimana merendahkan diri dan meninggikan Kristus. Yohanes Pembaptis berkata bahwa Kristus harus semakin besar, tetapi ia harus semakin kecil (Yoh. 3:30).

Kenapa saya, meskipun sudah tua, melayani lebih berat daripada orang lain? Karena saya tahu bahwa saya telah diberi banyak berkat, bakat, dan karunia. Alkitab mengatakan yang diberi banyak, dituntut banyak (Luk. 12:48). Yang diberi sedikit, dituntut sedikit. Apabila saya tidak bekerja lebih berat, bagaimana saya menghadapi Tuhan nanti? Saya tidak merasa orang berhutang kepada saya, saya merasa saya berhutang kepada dunia dan orang lain. Di dalam cinta kasih, harus selalu merasa diri berhutang, baru kita bisa menuntut diri, menyangkal diri, dan minta diri untuk berkorban banyak bagi orang lain. Dunia akan mendapatkan berkat dari orang seperti ini. Itu sebab saya mengambil tiga langkah untuk menjelaskan kesempurnaan. Pertama, barangsiapa yang merasa diri sempurna, pasti tidak sempurna. Kedua, barangsiapa yang meanggap diri tidak sempurna, mungkin dia memang belum sempurna. Ketiga, barangsiapa yang sempurna, pasti tidak pernah menganggap diri sempurna. No one is perfect, only God is perfect.

Kalau demikian, apa artinya sempurna di dalam Kitab Suci menurut teologi Reformed? Apabila John Wesley menyimpulkan bahwa kita di dunia bisa mencapai kesempurnaan, maka menurut teologi Reformed, kita tidak mungkin mencapai kesempurnaan, namun kita harus menjadi orang sempurna. Apa artinya hal ini? Pertama, perfection in quality. Seekor ayam kecil sempurna karena merupakan ayam asli dan memiliki kesempurnaan ayam. Setiap orang jangan melihat orang lain lebih hebat dan kaya, namun harus bisa menuntut kesempurnaan yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai the seed of the essential foundation of perfection. Setiap orang memiliki kesempurnaan dalam kualitas. Jangan menghina diri. Kita harus menggali diri kita sendiri menurut kualitas kesempurnaan sebagai potensi yang telah Tuhan berikan.

Kedua, kita harus memiliki motivasi kesempurnaan, the motivation of perfection. Maksudnya, kita harus memiliki suatu motivasi yang jelas, suatu hati yang murni dan tidak ada embel-embel lain ingin menjadi sempurna. This motivation becomes the greatest impulse in your efforts. Manusia yang memiliki potensi namun tidak memiliki motivasi susah sekali. The quality of perfection has been given and implanted in everybody. Namun, motivasi kesempurnaan harus dicari dan dipupuk oleh masing-masing orang.

Ketiga, the progressive perfection. Di dalam mencari kesempurnaan, harus maju. Maju sedikit-sedikit, meskipun perlahan, harus maju terus. Aesop Fables mengajarkan bahwa kura-kura bisa menang daripada kelinci karena kura-kura maju terus, sedangkan kelinci tidur. Ini merupakan pengajaran yang sangat besar. Jangan mengira diri hebat. Kebanyakan anak pintar menjadi anak malas, karena dia sombong dan tidak menjalankan tugas dengan rajin. Kebanyakan orang sukses adalah orang yang ulet dan tekun. The quality of perfection as the seed of perfection. The motivation of perfection as the impulse, the driving power. The perfection of achievement slowly, step by step, as perfection of progress.

Keempat, the perfection of always living upon God and His promises. Our God is God Almighty, the living God, the God of promises. What is promise? Istilah promise dalam bahasa Latin mempunyai dua arti. Pertama, sebelum, dan kedua, janji. Sebelum terjadi suatu misi, diberi janji terlebih dahulu. Promise can be divided into two parts, pre- and mission. Before God grant you a mission, He first tells what it is going to be. Dengan iman melihat suatu kemungkinan, maka terlihat sebelum misi. Itu yang namanya pre-misi, promise.

Saya bersyukur saya telah memikirkan banyak hal jauh-jauh hari. Saya tidak hidup dalam dunia ini dengan sia-sia dan hidup foya-foya. Meskipun saya telah tua dan akan menjadi tambah tua, tidak apa-apa. The growth inside is better than the decay outside. Waktu di luar semakin tua dan jelek, Paulus berkata, hati semakin diperbarui. Waktu tua saya akan menjadi orang yang mengeluarkan mutiara-mutiara, karena saya memupuk bijaksana. Progressive perfection is the goal as our telos. Uncompromised, we go forward, with our effort and struggle and with the promise of God and with the hope and hold on Him to guide us. Orang tua yang selalu berbicara hal yang sama akan tidak disukai. Orang muda yang berbicara hal yang sama berarti sudah tua. The secret of keeping you young is always speaking and thinking something fresh, inspiring others.

Puji Tuhan, Alkitab mengatakan bahwa kita bisa sempurna. Sasaran tidak boleh terlalu rendah, harus tinggi. Semakin tinggi, semakin merambat, terus naik. Sukarno mengatakan, “Jangan memiliki sasaran di bumi, harus memiliki sasaran di langit. Harus mempunyai ide yang paling tinggi di langit. Kalau bisa, di langit lapisan ketujuh! Apabila tidak bisa capai, hanya bisa dilapisan pertama, toh di langit.” Banyak anak muda hidup tidak ada sasaran, hidup untuk foya-foya. Hidup akan hancur. Milikilah sasaran dan berkatalah, “God, I want to have goal that high, I want to achieve that high.”

I am not joking. I have very high goals, I want to achieve and achieve. Setiap tahun adalah aset saya untuk maju. Setiap kalori dalam hidup saya adalah aset untuk mewujudkan apa yang Tuhan mau saya laksanakan di dalam hidup saya. Biarlah semua anak muda di GRII belajar dari orang tua yang sekarang berdiri di depan, karena dia belajar bagaimana mencapai sasaran yang tinggi. Paulus berkata, “Aku tidak berhenti-henti menuntut mencapai tujuan yang dipanggil Tuhan dari atas bagi diriku dan sasaranku ialah Yesus Kristus.” Saya harap malam ini kita mendengar Firman Tuhan dan belajar menjadi orang yang tidak puas diri, merasa diri kurang, tidak pernah merasa sempurna, maka mau maju. The quality in perfection as a potential, with a motivation to be perfect, and with the progress, step by step growth to be perfect, and with a high goal with Jesus Christ as the model of our perfection, kita akan menjadi orang Kristen yang selalu maju. Start from today, ask God to guide you.

 Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber :https://griimelbourne.org/node/188

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube