Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jika cinta kita hanyalah keinginan untuk memiliki, hal itu tak bisa dinamakan cinta. (Thich Nhat Hanh)

Kata-kata itu tak akan bisa menghibur Mike Sanders. Ia baru saja diputuskan pacarnya. Tentu saja si pacarnya itu tidak mengatakan segamblang itu. Ia berkata, “Aku benar-benar menyukaimu, Mike, dan aku ingin kita bisa berteman.” Bagus, pikir Mike. Tetap berteman. Kau, aku, dan pacar barumu bisa nonton bersama.

Mike dan Angie sudah pacaran sejak kelas tiga SMP. Tapi, pada musim panas ini ia naksir pemuda lain. Sekarang, saat Mike sudah di kelas tiga SMU, ia merasa kesepian. Selama tiga tahun mereka mempunyai teman-teman yang sama dan menghabiskan waktu di tempat nongkrong yang sama. Pergi lagi ke tempat itu tanpa Angie membuatnya merasa – hm, hampa.

Latihan football biasanya bisa membantunya melupakan masalahnya. Para pelatih selalu menyuruh peserta laithan berlari sedemikian rupa sehingga mereka merasa sangat kelelahan dan tak punya waktu lagi untuk memikirkan hal lain. Tapi, belakangan ini, pikiran Mike tidak tercurah pada latihan. Suatu hari ia kena batunya. Ia tak mampu menangkap lemparan bola yang biasanya mudah baginya, dan ia membiarkan dirinya dijatuhkan lawan yang biasanya tak mampu menjatuhkannya.

Mike tahu bahwa jangan sampai dibentak lebih dari sekali oleh pelatihnya. Jadi ia berusaha keras agar tidak dijatuhkan lawan lagi sampai latihan usai. Saat ia berlari hendak meninggalkan lapangan, ia diminta melapor ke kantor pelatih. “Cewek, keluarga, atau sekolah: yang mana yang meresahkan hatimu, Mike?” Tanya pelatihnya.

“Cewek,” sahut Mike, “Bagaimana Anda bisa tahu?”

“Sanders, aku sudah menjadi pelatih football sejak sebelum kau lahir. Dan setiap kali ada pemainku yang hebat bermain kacau, pastilah salah satu dari ketiga alasan tadi yang menjadi penyebabnya.”

Mike mengangguk. “Maaf, Pak. Aku tidak akan mengulangi lagi.”

Pelatih menepuk bahunya. “Tahun ini tahun yang menentukan bagimu, Mike. Tak ada alasan yang bisa menghalangimu diterima di perguruan tinggi pilihanmu. Tapi, kau harus ingat. Kau harus memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting. Yang lainnya akan beres dengan sendirinya.”

Mike tahu pelatihnya benar. Ia harus merelakan Angie dan meneruskan hidupnya. Tapi ia tetap merasa terluka, dan terkhianati. “Aku merasa sangat geram, Pak. Aku mempercayainya. Aku selalu terbuka padanya. Aku menyerahkan segala baginya, tapi apa yang kudapat?”

Si pelatih mengambil selembar kertas dan bolpoin dari laci mejanya. “Itu pertanyaan bagus. Apa yang kau dapatkan?” Ia menyerahkan kertas dan bolpoin itu kepada Mike dan berkata, “Ingat-ingat waktu yang kau lewatkan bersamanya, dan tuliskan sebanyak mungkin hal yang kau alami bersamanya, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Lalu, tuliskan hal-hal yang kau pelajari darinya dan yang ia pelajari darimu. Aku beri waktu satu jam.” Pelatih meninggalkan Mike sendirian.

Mike menjatuhkan diri duduk dikursi dan kenangan bersama Angie membanjiri ingatannya. Ia teringat saat pertama kali memberanikan diri untuk mengajaknya berkencan, dan betapa senang hatinya kala Angie bersedia pergi bersamanya. Kalau bukan karena dorongan Angie, Mike tak akan mencoba masuk tim football.

Lalu ia mengingat-ingat pertengkaran mereka. Ia memang tak ingat semua alasan yang menyebabkan mereka bertengkar. Tapi, ia ingat bagaimana mereka menyelesaikan persoalan diantara mereka. Ia belajar berkomunikasi dan berkompromi. Ia juga ingat bagaimana mereka berbaikan kembali. Dan saat-saat seperti itu sangat disukainya.

Mike teringat saat-saat Angie membuatnya merasa kuat, dibutuhkan, dan istimewa. Ia menulis kertas itu dengan pengalaman mereka, liburan, perjalanan bersama keluarga masing-masing, dansa sekolah, dan piknik berdua saja. Sebaris demi sebaris ia menuliskan pengalaman mereka berdua, dan ia menyadari bagaimana Angie telah membantu membentuk hidupnya. Ia akan menjadi pria yang lain tanpa Angie.

Ketika pelatih kembali sejam kemudian, Mike sudah tak ada di situ. Tapi, Mike meninggalkan catatan di mejanya. Bunyinya sederhana saja:

Pak, Terima kasih atas pelajaran yang telah Bapak berikan. Saya rasa memang benar kata orang bahwa bagaimanapun juga lebih baik pernah mencintai dan kehilangan cinta. Sampai jumpa di latihan nanti.

Sumber : https://sayangdibuang.blogspot.com/2005/11/cinta-tak-pernah-hilang.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube