Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pada waktu orang Yahudi membuat Taurat menjadi suatu close-system, pada waktu mereka terus berada di dalam Taurat dan menganggapnya sebagai self-sufficient; kecukupan diri di dalam sistem Taurat. Sebenarnya mereka terus berkeliling di padang belantara, tidak pernah tembus, tidak pernah mencapai tempat yang dijanjikan Allah. Demikian juga orang Kristen, kalau kau tidak menemukan prinsip Alkitab, kau akan terus berkeliling di dalam kerutinanmu. Tahun 1974, saya berkhotbah di sebuah gereja di Singapura. Ketika saya berkhotbah sampai separuh, saya melihat seorang yang tidak mendengar seluruh khotbah, hanya terus menghitung berapa banyak jumlah orang yang hadir. Kalau saya sedang berkhotbah di sana, tetapi majelisnya tidak mau mendengar khotbah, bagaimana? Saya berkata kepada dia, “Silakan duduk dan jangan menghitung-hitung orang lagi, ini adalah kebaktian, saudara perlu firman Tuhan, sebab itu, setiap kalimat harus didengar dengan baik, kalau tidak, kau tidak akan pernah maju.” Ketika saya mengatakan kalimat ini, dia jengkel luar biasa. Tetapi orang lain senang sekali. Karena menurut mereka, orang tersebut memang sudah 30 tahun hanya begitu-begitu saja. Jadi, dia menganggap diri paling baik, melayani gereja, setia menghitung jumlah orang yang hadir, tetapi sebenarnya, mati dalam kerutinan dan tidak maju-maju, mati oleh close-system yang dibuat sendiri. Banyak orang Kristen merasa bangga, saya paling rajin ke gereja, setiap minggu saya hadir dan selalu duduk di baris ke 4, kursi ke 5. Kalau diabsen, saya pasti yang paling setia. Tetapi dia duduk disana, hanya mengantuk, tertidur atau melihat kanan kiri. Lalu datang kebaktian bukan untuk mencari Tuhan, melainkan mencari pedagang besar, untuk coba lihat kalau-kalau ada bisnis yang bisa dia peroleh. Di dalam gereja sering ada orang-orang yang datang kebaktian hanya mau mencari pedagang besar, tetapi tidak mau datang kebaktian doa, juga tidak ada kemajuan dalam bidang lain. Tetapi harus diingat bahwa Allah akan menyeleksi mereka yang tidak beres. Biarlah kita datang kepada Tuhan dan mau maju. Jangan membiasakan diri di dalam kerutinan-kerutinan, dan berkata saya beribadah kepada Tuhan, saya cinta Tuhan, tetapi sebenarnya tidak maju. Orang Israel berjalan di padang belantara selama 40 tahun dan mengalami banyak kesusahan, tetapi apakah Allah berkata, kamu memang setia? Tidak. Allah mengatakan, nenek moyangmu mencobai Aku di padang belantara selama 40 tahun. Itu adalah kalimat kesimpulan.

Mereka menjalankan Taurat, menjalankan ibadah, mereka berpuasa, seperti orang Farisi yang berkata, ya Allah, aku tidak lebih jelek, bahkan lebih baik dari semua, khususnya pemungut cukai ini. Setiap minggu aku berpuasa dua kali, aku memberikan perpuluhan, aku tidak berzinah, aku tidak menipu uang orang, ya Allah! Yesus berkata, dia berkata-kata kepada dirinya sendiri. Allah tidak mendengar doanya. Orang Israel itu mencari dan mempunyai Taurat, mempunyai hidup yang beribadah, tetapi ibadah yang mengikat mereka di dalam kerutinan yang mematikan, tidak memberikan jalan untuk beriman kepada Tuhan. Padahal orang benar hanya hidup oleh iman, bukan oleh jasa atau kehebatan diri.

Perhatikan Roma 10:1, Paulus berkata, “keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya
mereka diselamatkan.” Mereka adalah orang Yahudi yang sekarang mati di dalam kerutinan agama mereka, tetapi saya masih mendoakan, agar mereka boleh mendapatkan hidup dan keselamatan. Roma 10:2 itu penting sekali dan menyatakan bahwa orang Israel itu giat, menggebu-gebu, berapi-api, sungguh-sungguh panas, mereka rajin, mereka menuntut. Tetapi celaka, kalimat kedua berkata, mereka tidak menurut pengertian yang sejati. Apa artinya beragama dengan berapi-api, tetapi tidak memiliki teologi yang benar? Beragama dengan sungguh-sungguh giat, tetapi tidak ada pengertian dan hermeneutika yang benar. Mereka tidak mempunyai pengertian Kitab yang betul-betul, hanya menggebu-gebu saja.

Bukankah di dalam zaman ini kita melihat banyak orang Kristen yang seperti ini? Mengikuti semua persekutuan, kalau berdoa sampai kursinya pecah, karena dipukul olehnya. Saya pernah melihat orang yang berdoa dengan memukul-mukul kursi rotannya sampai rusak semuanya. Sesudah dia selesai berdoa, saya bertanya, apa salah kursimu? Orang yang berdoa mati-matian, menggebu-gebu, berapi-api, tetapi kalau mendengarkan doanya, tidak terdapat pengertian yang benar. Inilah yang dimaksudkan disini. They are zealus, but their zeal is not based on true knowledge; mereka begitu berapi-api, begitu menggebu-gebu, bahkan begitu giat dan begitu ekstrim, tetapi tidak mempunyai pengertian yang sesungguhnya. Namun saya harus membalikkan lagi, banyak orang mempunyai pengertian yang benar, tapi berada dalam lemari es. Dua macam kecelakaan kekristenan. Ada orang Kristen yang memiliki teologi yang benar, memiliki doktrin Reformed, tetapi kalau dijamah, 40 derajat di bawah nol. Ada orang Kristen yang pintar, yang teologinya bagus, hebat dalam pengetahuan Alkitab, tetapi nol, dingin seperti es. Manusia es yang berjalan-jalan. Kalau ke gereja, matanya melihat sini sana, ditanya apa saja, jawabannya benar, tetapi tidak hangat, tidak ada persahabatan, tidak ada kasih, tidak ada api yang sungguh-sungguh, tidak ada cahaya yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, ada orang yang apinya sungguh-sungguh tetapi pengertiannya salah, teologinya tidak benar, pengertian Alkitab diselewengkan. Kedua macam orang itu tidak beres adanya, tidak memuaskan hati Tuhan. Itulah sebabnya kita menegakkan satu semangat, dimana teologi ditegakkan dan api Roh Kudus tetap berada di dalamnya. Apa yang ingin saya kerjakan, dan apa yang menjadi tujuan saya sedalam-dalamnya serta motivasi saya mungkin belum dimengerti zaman ini. Mungkin setelah saya meninggal dunia, dibawa pulang oleh Tuhan, orang baru melihat ini penting, inilah yang seharusnya ada dalam kekristenan. Pemahaman Alkitab yang benar dan teologi yang orthodoks dan penjelasan yang setia yang ditaruh dalam semangat pelayanan yang berapi-api. Ketika saya berceramah di Regent College, Vancouver, saya mengeritik teolog-teolog besar yang mengajar di situ, you, western theologians always put theology in the refrigerator, now put it out, and warm it up; kamu teolog-teolog Barat, selalu menyimpan teologi dalam lemari es, sekarang saya harap keluarkan itu, lalu buatlah menjadi hangat. Setelah selesai ceramah dan ketika kami makan, seorang profesor dari Oxford University berkata, Stephen, you are very right, you truly told us something very important, we always put our theology in refrigerator.

Mengapa gereja gereja yang ajarannya kurang beres begitu berkembang dan begitu banyak orang yang hadir? Karena bukan hanya memerlukan doktrin yang benar, tetapi juga memerlukan kehangatan. Mengapa gereja gereja tua, yang mempunyai teologi dan sejarah yang begitu kuat, justru makin lama makin kosong? Karena gereja yang begitu tua, yang begitu megah, yang mempunyai tradisi yang begitu panjang itu tidak ada api, tidak ada kesungguhan, tidak ada friendship, tidak ada keramahan, tidak ada cinta kasih, tidak ada persaudaraan, tetapi yang ada hanyalah kebanggaan, ini adalah gereja besar, kami sudah berdiri sekian ratusan tahun. Tetapi gereja-gereja itu sudah mau mati karena tidak pernah membangun ibadah, tidak pernah membangun semangat penginjilan. Kita sudah melihat dua macam gereja: yang dingin tetapi rapi, yang panas tetapi gila. Kau berkata, saya tidak mau yang dingin, yang puluhan derajat Celcius dibawah nol, saya mau yang panas, waktu memegang yang panas, wah sungguh-sungguh panas, panas apa? Malaria. Jangan menjadi gereja yang membeku atau yang malaria. Kalau kau mengatakan panas, panas, semakin panas semakin baik, akan celaka, tempat yang paling panas di mana? Di krematorium. Panas untuk mematikan dengan cepat, panas yang tidak sehat. Yang dingin tidak benar, yang panas juga tidak benar. Tuhan menetapkan panas yang diizinkan adalah 36.6-37 derajat Celcius untuk tubuh manusia. Kalau lebih dari itu, sudah perlu mencari dokter. Kalau sudah lebih dari 37 derajat masih berkata, puji Tuhan. Jika suhu tubuh sudah 38 derajat, awas! Kalau sudah 39, 40, 41, 42, bukan oke tetapi bahaya karena sudah melewati batas. Tuhan mempunyai satu prinsip, satu standar yang tidak boleh dilawan, karena Tuhan itu Tuhan. Seorang professor di Westminster Theological Seminary berkata kepada muridnya, begitu banyak orang yang begitu giat, berapi-api dan begitu panas tetapi bukan Reformed, begitu banyak orang yang Reformed tetapi tidak berapi-api. Orang Reformed tidak berapi, orang berapi tidak Reformed. Dia juga berkata kepada muridnya, Stephen Tong has fire and also Reformed. Ada orang memberitahu kepada saya, lalu saya bertanya kepada Tuhan, betulkah saya mempunyai keduanya? Saya merasa diri saya dua-duanya kurang, masih harus lebih berapi-api yang sungguh, yang sesuai dengan api Tuhan. Saya merasa diri saya masih kurang. Tetapi ini merupakan isi hati yang dicetuskan kepada zaman ini.

Di Roma 10 ini, Paulus juga menunjukkan kelemahan gereja pada zaman ini dengan tepat, mereka berapi-api, bersungguh-sungguh tetapi tidak menurut pengertian yang sejati. Siapa yang Paulus tunjuk? Paulus berbicara tentang orang Yahudi. Mereka berapi-api, mereka mempunyai kehangatan yang sungguh-sungguh tetapi mereka tidak mempunyai pengertian yang sejati. Maksudnya apa? Mereka belum sadar Taurat itu apa, belum sadar dasar Taurat itu apa, motivasi Taurat dan tujuannya apa, dan inti dari Taurat itu sebenarnya berada di dalam kunci yang bagaimana. Roma 10:3 Paulus menyatakan karena mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Istilah yang dipakai untuk kebenaran Allah di sini adalah dikaiosune atau keadilan kebenaran dan sesuatu zat yang menyimpulkan seluruh hukum Taurat. Paulus mengatakan, mereka tidak taat dan tidak mungkin taat, karena dasar pemikiran mereka yang paling mendasar itu sudah salah, maka semakin mereka giat justru semakin celaka. Misalnya, seorang naik sebuah kereta yang begitu besar dengan kuda yang begitu kuat, rumput yang disediakan kuda itu begitu banyak, kareta itu berjalan. Ketika berhenti, dia bertanya kepada seseorang, saya ingin pergi ke propinsi Shandong. Orang itu berkata, tidak bisa, Shandong itu di utara, mengapa kamu menuju ke selatan? Dia menjawab, tidak apa-apa, yang penting bukan selatan atau utara, yang penting kudaku cukup kuat. Orang yang ditanya berpikir, orang yang bertanya ini gila atau tidak? Bagaimana kuatpun kudamu itu, arahnya bukan ke sini. Kalau mau pergi ke Shandong harus mengarah ke situ. Jawabnya, tidak apa-apa, uangku cukup banyak dan persiapannya cukup lengkap. Orang itu masih memberitahu, tapi arahnya bukan ke sini, kesana. Jawabnya, tidak apa-apa, rumputnya penuh, rodanya besar, semua bahan jerujinya terbuat dari bahan yang baik. Lalu kata orang itu, ya sudah, semakin kuat kudamu, dia akan lari semakin cepat. Semakin banyak makanan, semakin banyak uang persiapan, semakin jauh dari tempat tujuan. Karena persoalannya bukan uang, persediaan bahan bakar, bensin, ban serep, mesin yang hebat, mobil yang kuat atau lainnya yang kau miliki, tetapi kalau arahnya salah, yang paling celaka justru kalau kecepatannya semakin tinggi, bukan? Arahnya sudah salah, lalu kau berkata, saya bisa cepat, padahal tadinya mabilmu sudah dekat dengan tujuan, tetapi kau putar balik, dan disetir dengan cepat, guna mengejar waktu, semakin mobil dilarikan cepat, semakin jauh dari tujuan, semakin diisi dengan bensin, semakin jauh lagi. Inilah keadaannya. Banyak orang yang giat dan mati-matian, tetapi tidak mempunyai pengertian yang benar, maka semakin mereka giat, semakin jauh dari Tuhan. Semakin giat semakin jauh dari pengertian yang sungguh, semakin jauh dari pengertian yang sungguh akan semakin menghina dan tidak mau dididik lagi. Ini adalah keadaan gereja pada akhir abad XX. Banyak orang merasa dirinya sudah besar, sudah tidak perlu dilatih, sudah hebat, sudah tidak perlu sekolah teologi, sudah begitu sukses, saya tidak perlu memperhatikan ajaran yang benar, pokoknya sukses, buktinya orang yang belajar teologi, gerejanya tidak bertumbuh, saya tidak tahu apa-apa, tetapi bertumbuh terus. Ini membuktikan Roh Kudus ada di sini.

Paulus berkata, kamu giat, kamu berusaha, tetapi tanpa pengertian, maka akhirnya kamu tidak takluk kepada kebenaran Allah. Orang yang sudah menjalankan, bukankah itu berarti sudah takluk? Orang Israel sudah menjalankan Taurat, menjalankan tuntutan Tuhan, mengapa disebut sebagai orang yang tidak takluk kepada kebenaran Allah? Kuncinya terdapat pada Roma 10:4. Motivasi dan kesimpulan dari seluruh Taurat adalah satu kata: kasih. Mengapa Allah berkata, jangan membunuh, jangan berzinah? Allah menyuruh kamu jangan berzinah bukan untuk merampas kebebasanmu, bukan mengganggumu, bukan mengadakan intervensi tetapi supaya kamu tidak tertular penyakit AIDS. Allah yang mencintai manusia mengetahui seorang pria hanya bersetubuh dengan seorang wanita dalam seumur hidupnya, dia tidak mungkin terserang penyakit seksual sebab Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Maka Dia berkata berdasarkan kasih. Jadi jelas Hukum Taurat itu berdasarkan kasih. Manusia diperintah untuk jangan ini, jangan itu, pagar-pagar itu semua diberikan agar kau menikmati keamanan, hidup yang begitu nikmat, baik, indah. Manusia dicipta oleh Tuhan dengan tubuh dan bentuk gerakan yang paling bebas, bahkan di dalam seks sekalipun, binatang tidak mempunyai kemungkinan kebebasan seperti yang dimiliki oleh manusia. Tetapi diperintahkan bahwa kebebasan itu tidak boleh dipakai untuk berzinah. Seks yang begitu indah akan menghancurkan manusia dan bisa menjadi begitu buruk. Bangkok menjadi sarang AIDS di Asia, Indonesia sudah tidak seperti dulu, berapa banyak orang di Indonesia ada yang mengidap virus penyakit AIDS, kau tidak mengetahuinya. Kalau sekarang kau tidak mau taat akan perintah-perintah Tuhan, jangan heran kalau 20, 30 tahun kemudian, kau menemukan ada keturunanmu yang mati karena penyakit AIDS. Di Bangkok saya mendengar kalimat yang membuat bulu kuduk saya berdiri, ada berapa anak majelis dan pendeta mati karena penyakit AIDS.

Jadi Tuhan mempunyai satu dasar mengapa Dia memberikan perintah, bukan untuk mengikat tetapi untuk membebaskan manusia. Memang perintah itu kelihatannya membatasi tetapi sesungguhnya menghidupkan. Seluruh Taurat yang didasarkan kasih itu intinya adalah Kristus. Roma 10:4 ini menunjukkan fokusnya dengan jelas, sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diberikan kepada tiap-tiap orang yang percaya. Di sinilah kaitannya, jika Taurat didasarkan kepada cinta kasih, dan Taurat menunjukkan bahwa kita tidak mungkin menjalankan, Taurat menunjukkan kesempurnaan yang tidak mungkin dicapai oleh manusia, Taurat merupakan refleksi dari cinta kasih, kesucian, keadilan, kebajikan dan kebijakan Tuhan yang tidak mungkin dicapai oleh manusia, karena terlalu sempurna. Akhirnya orang yang berada di bawah Taurat harus mengakui bahwa saya hanya manusia, manusia yang berdosa, yang tidak dapat melakukan apa-apa. Oleh karena manusia tidak bisa, maka Taurat mulai memberikan satu pernyataan bahwa hanya di dalam Kristus kau dapat memperoleh janji itu. Inilah arti dari ayat ini. Melalui Taurat bukan membuat aku sombong, bukan menyatakan diriku hebat, bukan juga untuk menghina mereka yang tidak bertaurat, justru melalui Taurat aku mengetahui bahwa Allah begitu mencintai manusia, sehingga Dia memberikan pagar yang begitu banyak untuk membatasi kebebasanku, untuk memagari aku di dalam lingkaran yang suci, adil, baik, dan kasih. Karena lingkaran berdasarkan cinta kasih inilah, maka kau bersyukur. Karena tuntutan ini berdasarkan sesuatu yang tidak mungkin dapat aku penuhi, maka aku bersandar. Waktu aku bersandar, maka faith menjadi satu opened system kepada Tuhan. Begitu aku beriman, barulah aku tahu, bahwa Taurat bisa digenapi dan sudah digenapi oleh satu-satunya manusia yang pernah hidup di dalam sejarah, yang namanya Yesus Kristus. Taurat itu hanya digenapi oleh Yesus Kristus. Maka disini dikatakan bahwa Kristus adalah penggenap Taurat, dan hidup diberikan kepada setiap orang yang percaya. Kebenaran Allah datang dari Kristus kepada mereka yang takluk kepada-Nya, puji Tuhan! Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada. Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman. Pengertian Roma 3:27-28 ini muncul lagi dalam pasal 10:4. Kebenaran bukan menjalankan Taurat, tetapi orang itu percaya. Percaya kepada siapa? Kristus. Kristus dimana: di luar Taurat atau di dalam Taurat? Setelah Taurat tak berguna, baru Kristus diturunkan atau di dalam Taurat memang sudah mengandung makna yang sesungguhnya yaitu Kristus? Disini memerlukan kesinambungan dan pengertian antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam Taurat yang diberikan itu terkandung Kebenaran Allah. Tapi kebenaran Allah yang begitu tuntas tak dapat dijalankan oleh manusia, maka manusia yang bersandar pada kelakuan pasti akan gagal, dan sasaran iman pasti sukses. Tetapi orang Israel tidak berdasarkan iman, justru berdasarkan kelakukan, maka mereka mencaripun tidak memperolehnya, karena mereka tidak mengerti dengan sesungguhnya, apa yang terpenting di dalam Taurat. Disini Paulus mengatakan, karena Kristuslah penggenap dari Taurat itu, sehingga kebenaran diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus. Percaya kepada Kristus yang berada di dalam Taurat atau Kristus yang berada di luar Taurat? Hakiki yang sebenarnya di dalam Taurat adalah firman, dan dalam Yohanes 1:1 dituliskan firman itu adalah Kristus, yang adalah Allah. Di dalam Taurat terdapat Kristus dan Kristuslah penggenapnya. Kristus menjadi intisari dari firman itu. Kristus itu adalah firman. Kristus yang berada di dalam Taurat, mereka tidak melihatnya, mereka buta, mereka hanya menganggap, kalau mereka menjalankan tuntutan dari segala peraturan Taurat secara permukaan, secara fenomena, mereka akan diselamatkan, pikiran, kehangatan dan api penuntutan semacam ini tidak akan membawa mereka kepada pengertian yang sejati, Kristus yang berada di dalam Taurat.

Orang Kristen melalui apa yang diwahyukan selanjutnya di dalam Perjanjian Baru ini, mendapatkan penelusuran dan menyinambungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kiranya Tuhan membawa kita pada inti, sehingga di situ kita mendapatkan ketenangan dan kestabilan iman yang tidak akan digoncangkan oleh segala kesulitan. Roda berputar dan di dalamnya terdapat semua titik yang bergerak habis-habisan, hanya ada satu titik, ketika roda berputar dengan begitu cepatnya, dia tidak perlu bergerak, yaitu titik pusat atas as-nya. Jika berada di bagian roda manapun akan membuat kita pusing, kecuali kita berada di as, baru kita akan merasakan ketenangan yang sejati. Biar orang Kristen, khususnya yang mendengarkan firman Tuhan seperti ini menemukan fokus dan titik pusat dari kehendak Allah.

Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 31 – September 1996
https://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/pi_pbenar.html
https://www.geocities.com/reformed_movement, https://www.sumberkristen.com/Kotbah/kegiatan_dan_pengertian_yang_ben.htm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube