Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Konsep Hak Asasi Manusia Pada Gerakan Reformasi
Mari kita perhatikan sumbangsih gerakan Reformasi pada abad ke-16 juga hubungan antara gerakan ini dengan masalah hak asasi manusia. Reformasi agama di abad ke-16 dan Renaissance yang berlangsung sebelum abad ke-16 sama-sama ingin menemukan kembali harga diri manusia yang sudah hilang. Baik Martin Luther, Calvin atau Zwingli sama-sama mencari harga diri manusia. Bedanya adalah Renaissance mencari harga diri manusia dari kesuksesan yang pernah diraih Yahudi sedangkan para Reformator mencari harga diri manusia dari wahyu Allah. Kesuksesan Yunani memang sangat agung, tetapi saya harus mengatakan sesuatu yang sangat kontradiktif, karya-karya seniman besar ini, bukan saja saya sukai bahkan sayapun pernah menelitinya dengan sungguh-sungguh. Saya bersyukur kepada Allah, karena di dunia ini pernah ada orang yang bernama Bethoven, meski dia adalah penderita penyakit syphilis. Saya bersyukur kepada Allah, karena di dunia ini pernah ada orang yang bernama Davinci, meski dia adalah seorang homo. Saya bersyukur kepada Allah karena di dunia ini pernah ada orang yang bernama Schumann, meskipun dia mengakhiri hidupnya dengan mencebur ke laut. Saya bersyukur kepada Allah karena di dunia ini pernah ada oarang yang bernama Tchaikowsky, meski dia juga seorang homo. Saya bersyukur kepada Allah karena di dunia ini pernah ada orang yang bernama Freud, meski dia adalah seorang yang menentang Allah. Namun dari respon-respon mereka terhadap wahyu umum, nyata bahwa mereka telah melihat banyak hal yang tidak dilihat oleh orang Kristen.
Meskipun demikian, interpretasi mereka, semua kesuksesan mereka perlu dikaji ulang, dikritik ulang oleh konsep nilai yang terdapat di dalam wahyu khusus. Jadi kita sebagai orang Kristen masih belum selesai. Di satu pihak, kita bersyukur kepada Allah untuk mereka-mereka ini, namun di lain pihak, kita juga merasa sayang. Karena mereka tidak menggunakan hak istimewa, potensi yang Allah berikan semaksimal mungkin, mencapai tahap yang paling sempurna. Tatkala kita membandingkan mereka yaitu tokoh-tokoh yang agung di dalam sejarah dengan Yesus maka segera terlihat adanya perbedaan kualitatif. Di balik kesuksesan-kesuksesan mereka terdapat kebobrokan sifat manusia, maka ketika dibandingkan dengan Yesus, segera terlihat akan perbedaan kuantitatif. Tatkala para Reformator akan mendiskusikan harga diri manusia, mereka harus menoleh ke belakang untuk mengkaji dengan sungguh-sungguh apa yang disebut gambar dan rupa Allah.
Interpretasi Katolik sebelum Reformasi dan interpretasi para Reformator setelah Reformasi serta perkembangan akhir-akhir ini, menunjukkan kepada kita bahwa perkara ini amat sangat besar. Segala kesuksesan, penelitian, pengembangan yang dilakukan oleh manusia tidak bisa terlepas dari pengenalannya terhadap sifat manusia. Dan pengenalan terhadap sifat manusia ini tidak dapat terlepas dari dua titik tolak dasar yaitu yang satu bertitik tolak dari wahyu yang berpusat pada Allah. Yang lain bertitik tolak dari rasio manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Hari ini kita menyaksikan tatkala politikus mendiskusikan hak asasi manusia, titik tolak mereka tidak dapat terlepas dari distorsi dan penyelewengan interpretasi rasio mereka yang sudah jatuh di dalam dosa. Sebab itu, kita perlu kembali kepada Alkitab. Manusia yang dikemukakan oleh Alkitab adalah manusia yang seperti apa? Menurut filsafat Agustinus, kita dapat menggambarkannya dengan tiga garis dan empat wilayah, dan sekarang cara inipun sudah menjadi salah satu konten yang amat penting di dalam pemikiran teologia Protestan: Ketiga garis itu adalah: Garis kejatuhan, garis penebusan, garis penggenapan. Garis yang berada di tengah adalah rencana Allah yang kekal. Di dalam rencana kekal ini, Allah pernah memperbolehkan manusia jatuh di dalam dosa. Itu bukan rencana-Nya, melainkan diizinkan oleh-Nya. Di dalam rencana Allah yang kekal, ada penebusan yang Allah siapkan bagi kita, inilah titik pusat sejarah. Dan di akhir sejarah ini, ada perkara yang akan Allah genapkan seturut dengan kehendak-Nya. Namun di antara penciptaan dan penebusan pernah terjadi satu fakta yang tidak dapat disangkal, yaitu kejatuhan manusia.
Fakta ini tidak dapat diterima oleh teologia Modern, Ateisme, kaum intelektual masa kini dan teori Evolusi. Baik kau berada di luar maupun di dalam gereja, kalau kau menyangkal fakta ini, maka interpretasimu tentang kosmos tidak dapat terlepas dari noda dan kesalahan yang dibawa oleh dosa. Sayang sekali, karena kaum intelektual, khususnya orang Kristen, tidak mendapatkan latihan teologia yang orthodoks, sebab itu, meski sudah sekian lama menjadi orang Kristen masih tetap memegang sesuatu yang samar-samar. Kalau saja semua ini sudah dibereskan, sumbangsih yang diberikan oleh para peneliti terdahulu tentu akan menjadi begitu besar. Garis kejatuhan adalah fakta, meski disangkal oleh teori evolusi, komunis, materialisme, dan teologia modern, tapi kepastian dari garis kejatuhan ini justru menghindarkan kita menjalani jalan yang sia-sia, dan membawa teologia terus berada pada jalur yang benar. Barangsiapa menyangkali garis kejatuhan dan menyangkali fakta sejarah tentu akan terjerumus ke dalam pola pikir optimisme yang kosong yaitu kesuksesan masa datang yang “optimis” dijadikan arah yang pasti. Lebih lagi, tidak mau menerima garis kejatuhan yang pernah ada itu adalah efek samping dari teori evolusi, yang sudah mempengaruhi ke setiap lapisan kebudayaan. Di dalam filsafat sejarah Hegel terdapat teori evolusi yang “optimis” ini. Teori biologi Darwin telah mempengaruhi pemikiran evolusi sosialnya Herbert Spencer dan Thomas Henry Huxley, yang mempengaruhi Tubingen School, juga mempengaruhi sebagian pemikir Liberal seperti Adolf von Harnack, Wilhelm Hermann. Kemudian pemikiran tersebut juga merasuki pikiran Carl Marx, Encles, Lenin, Mao Ze Dong menjadi pikiran Materialisme dan Evolusi yang bersifat politis. Kemudian pemikiran-pemikiran tersebut juga membentuk semacam pemikiran masa depan optimis yang palsu baik di dalam maupun di luar gereja. Namun orang-orang ini tidak sanggup menyelesaikan masalah manusia, karena mereka tidak menemukan penyakit yang sesungguhnya terletak pada fakta kejatuhan di dalam sejarah manusia.
Bagaimana kondisi manusia ciptaan yang asli? Bagaimana kondisi manusia setelah kejatuhan? Bagaimana kondisi manusia yang telah diselamatkan? Bagimana kondisi manusia sempurna di dalam kekekalan? Kebebasan yang semula pada saat dicipta itu adalah kebebasan yang seperti apa? Setelah manusia jatuh di dalam dosa, kebebasannya berubah menjadi seperti apa? Bagaimana dengan kebebasan sejati yang Yesus Kristus berikan setelah manusia ditebus? Bagaimana kebebasan manusia disempurnakan di dalam kekekalan? Karena saat itu kita tidak dapat berbuat dosa lagi, kita akan beserta dengan Tuhan yang kudus untuk selama-lamanya, tidak mungkin mengalami kejatuhan lagi. Kebebasan saat dicipta adalah kebebasan yang belum mengalami ujian, yaitu kebebasan yang pertama. Kebebasan yang kedua adalah kebebesan setelah dirusak oleh dosa. Kebebasan yang ketiga adalah kebebasan setelah ditebus. Dan kebebasan yang keempat adalah kebebasan yang disempurnakan.
Dengan demikian, tatkala kita membahas kebebasan, bukan hanya membahas sesuatu secara supervisual saja, melainkan memahami dari segi wahyu Allah yang melampaui sejarah. Demikian juga hak asasi manusia. Ketika kita membahas hak asasi manusia, kita perlu mengamati kebebasan semula yang Allah berikan kepada manusia. Setelah kejatuhan, kerusakan apa yang dialami oleh kebebasan manusia? Setelah manusia ditebus, tahap mana yang mungkin dicapai oleh kebebasan manusia? Kali ini kita tidak memikirkan hal hal tersebut secara mendalam. Namun kita akan membahas beberapa point tentang dasar hak asasi manusia dari Alkitab.
Tujuh Butir Dasar Hak Asasi Manusia
Manusia mempunyai hak hidup Dari mana kita mengetahui hal itu? Baik kita hidup, kita bergerak, kita ada, semua itu bergantung pada Tuhan. Paulus telah memastikan hal tersebut di Aeropagus, Atena. Allah memberi hidup kepada manusia bukan untuk dipermainkan dan dihujat semaunya. Allah memberikan hak hidup kepada manusia adalah supaya manusia menikmatinya. Sebab itu, bila terjadi salah membunuh atas keputusan hukum yang tidak adil, Allah menyediakan kota perlindungan bagi bangsa Israel, membuktikan hak hidup adalah sesuatu yang dihargai Tuhan. Ketika orang lain memfitnahmu, Allah berfirman, jangan hanya berdasarkan satu orang saksi saja; agar jangan sampai kamu salah dibunuh. Diperlukan banyak saksi adalah bukti Allah menghargai hak hidupmu. Dengan demikian, hak manusia disatukan dengan hidupnya, badan hukum manapun tak boleh memperlakukan seseorang dengan sembarangan, tidak boleh merampas hak hidup seseorang dengan seenaknya, karena Allah sendiri menghargai hak itu. “Jangan membunuh. Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia.” Statemen ini begitu tegas, begitu mutlak di mana Allah menghargai hidup manusia, tidak menginginkan manusia menumpahkan darah sesamanya. Sudah barang tentu masih ada perkecualian yang perlu didiskusikan, seperti membunuh orang di dalam peperangan, atau mereka yang bertugas sebagai pengeksekusi hukuman mati. Bukankah mereka juga turun tangan membunuh orang? Di sini kita tidak membahas hal-hal itu. Karena hal-hal tersebut termasuk di dalam wilayah etika, bukan di dalam wilayah dasar hak asasi manusia yang kita bahas.
Manusia mempunyai hak beragama. Manusia mempunyai hak untuk beribadah kepada Allah. Jadi, jelaslah sudah bahwa Allah memberi manusia insting untuk mengadakan komunikasi dua arah. Insting ini lahir dari sifat relasi antara manusia dengan Allah; the relation between men and God is the relational nature of communication. Itu sebabnya Allah menyediakan hari Sabat, agar manusia boleh menikmati perhentian yang Allah berikan kepadanya dan bersekutu dengan Allah. Ketika hak bangsa Israel untuk beribadah ini diganggu, Allah berfirman kepada Musa, pergilah menghadap Firaun, katakanlah kepadanya, biarkanlah umat-Ku pergi untuk melayani Tuhan; menyembah Allah mereka. Inilah reservasi dari hak beragama: menyembah dan melayani Tuhan. Saudara harus memperhatikan hal ini, baik kau berada di kalangan penguasa atau kalangan rakyat, ingatlah bahwa hak beragama bukan bukan pemberian pemerintah, kebebasan beragama bukanlah pemberian pemerintah; pemerintah tidak layak memberi hak bebas beragama kepada manusia. Bebas beragama sudah dimiliki oleh manusia, tidak perlu mengaisnya dari pemerintah. Kuasa pemerintahanpun diberi oleh Allah. Ketahuilah jauh sebelum Allah memberikan hak apapaun Dia telah memberikan hak bebas beragama kepada manusia.
Manusia dicipta oleh Allah, maka manusia mempunyai kebebasan untuk menyembah Allah, ini adalah hak beragama. Seturut dengan apa yang manusia terima di dalam hati nurani dan pemahamannya terhadap kebenaran dalam iman, lahirlah penyembahan. Manusia mempunyai hak bekerja, Mengembangkan bakat yang ada lahir dari sifat ciptaan. Bakat apapun yang ada padamu, kau mempunyai kemungkinan untuk mengembangkannya. Itulah sebabnya kau harus memilih pekerjaan yang sesuai dengan bakat yang kau terima dari Tuhan dan mengembangkan potensimu, itulah kebebasan bekerja. “Kau akan makan dari hasil jerih lelahmu,” pekerjaanmu lancar dan kau dapat makan dari hasil jerih lelahmu. Kau bisa makan buah dan menikmati keteduhan di bawah pohon buah yang kau tanam sendiri, menikmati apa yang kau peroleh. Manusia mempunyai hak untuk bekerja dan menikmati hasil kerjanya. Komunisme membelah sejarah manusia menjadi beberapa wilayah: dari sistem feodal sampai sistem Kapitalisme, dari sistem Kapitalisme sampai sistem Sosialisme, dari sistem Sosialisme sampai sistem Komunisme. Setelah kau berada di masyarakat Sosialisme, tiap orang melakukan sebisanya dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan nilai kerjanya. Tetapi setelah meningkat ke jenjang yang tertinggi yaitu masyarakat Komunisme, setiap orang melakukan sebisanya dan mendapatkan hasil sesuai dengan kebutuhannya. Sungguhkah? Ketika orang-orang Polandia mendapati sebuah kereta api keluar rel dan terguling, mereka berebut untuk menengok apa yang ada di dalam kereta api tersebut. Saat itu, barulah mereka tahu apa sebabnya banyak kaum sebangsanya menderita kelaparan. Karena roti-roti dikirim ke Soviet, hingga mereka sendiri tidak bisa makan dari hasil jerih lelahnya. Saat itu barulah mereka sadar hak asasi mereka sebagai manusia sudah dirampas, maka gelombang mogok kerjapun melanda negeri itu, sampai persatuan buruh Polandia berhasil merebut kemenangan yang memberi pengaruh besar terhadap dunia. Kalau saja “yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang,” maka Komunisme yang mengawali gerakannya dengan mogok kerja juga akan berakhir dengan mogok kerja.
“Bangkitlah buruh-buruh di dunia, putuskan semua rantaimu! Lawanlah kaum Kapitalis yang mengeksploitasi kamu untuk memperoleh nilai sisa.” Deklarasi Komunisme tahun 1848 berbunyi yaitu: “kalaupun kalian gagal, kalian tidak rugi apa-apa. Karena kalian adalah golongan proletarian yang tidak mempunyai harta, sebab itu tidak rugi apa-apa. Yang rugi adalah rantai kalian.” Sungguh suatu statemen yang sarat hasutan. Statemen itu bagaikan api yang menjalar ke seluruh dunia, akhirnya kita saksikan sendiri, Komunis yang mengawali gerakannya dengan mogok kerja juga berakhir dengan mogok kerja. Di Polandia terjadi gerakan yang besar juga mendatangkan pengaruh besar. Karena hak yang seharusnya mereka nikmati dari hasil jerih payahnya telah dieksploitasi, tidak heran kalau Paul Tillic, teolog itu mengemukakan satu statemen: Komunisme mutlak bukan pengganti Kapitalisme, Komunisme hanyalah musuh dari Kapitalisme, musuh persaingannya. Secara ketat bisa kita katakan, Komunisme hanyalah Kapitalisme yang lebih egois, lebih mengelompok, lebih sentralisasi, bedanya kapitalis itu bernama Deng Xiao Ping, Yang Sang Kun, dan lain-lain.
Selama 15 tahun ini, banyak pemerintah telah belajar satu hal, perusahaan yang dimiliki umum, perusahaan yang dikelola pemerintah semuanya rugi, dan ketika perusahaan-perusahaan tersebut diserahkan kepada swata akan lebih mudah berkembang. Saya tidak sepenuhnya menyetujui pendapat itu. Karena akar permasalahannya adalah setelah garis kejatuhan, manusia baru menjadi begitu egois, sehingga benda-benda umum sering dianggap sebagai benda yang tidak bertuan (something or anything belonging to everybody means it belongs to nobody). Itulah sebabnya bau toilet umum begitu menusuk hidung, dan tatkala segala-galanya berubah menjadi milik umum akan segera jadi sulit diurus. Manusia mempunyai hak untuk menikah dan membina rumah tangga, Menikmati kesenangan dalam berumahtangga, menghargai pernikahan adalah ajaran Alkitab yang begitu jelas, sebab itu, “setiap orang harus menghargai pernikahan” adalah satu perkara yang penting di dalam hak asasi manusia. Hendaknya setiap orang menghargai pernikahan. Kau mempunyai hak untuk memilih partner, setelah menjalin hubungan kasih barulah kalian membina rumah tangga yang kau anggap ideal, itu adalah hak manusia. Alkitab mengajarkan dengan jelas, pasangan yang telah disatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Statemen itu tidak menjelaskan, pasangan itu harus percaya dengan yang percaya, atau yang percaya dengan yang tidak percaya, atau yang tidak percaya dengan yang tidak percaya. Asal kau adalah manusia, pasangan suami istri tidak boleh pisah. Sebab itu, orang yang belum percaya Tuhan sekalipun, setelah mereka membina rumah tangga, kau bukan saja tidak boleh memisahkannya, bahkan harus menganggap mereka sebagai pasangan yang disatukan oleh Allah.
Allah menciptakan pria seturut gambar-Nya, Allah juga menciptakan wanita seturut gambar-Nya. Ketika pernikahan dihargai, rumah tangga menjadi satu unit yang tetap. Jadi, sebuah pernikahan, baik pernikahan antara orang percaya atau antara orang tidak percaya, setiap orang harus menghargainya. Karena rumah tangga mereka adalah satu unit yang paling dasar dalam membentuk masyarakat. Manusia mempunyai hak untuk menikmati pernikahannya, sudah barang tentu, yang dimaksud pernikahan juga mencakup tanggungjawab yang harus mereka tunaikan. Manusia mempunyai hak untuk menikmati harta pribadinya. Di dalam sepuluh hukum disebutkan, jangan menginginkan harta orang lain. Jangan mencuri. Kita tahu bahwa Allah menghargai manusia dan memberinya hak untuk menikmati harta pribadi. Meskipun Alkitab juga mengajarkan banyak hal tentang memperoleh harta dengan cara yang halal, namun Alkitab
juga mengajarkan, setelah seseorang memperoleh harta pribadi, Allah tidak menghendaki orang lain menggunakan pelbagai alasan untuk merampas dan mengeksploitasinya dengan semena-mena. Manusia mempunyai hak untuk menikmati keadilan di tengah-tengah masyarakat Sifat adil atau sifat hukum terdapat di dalam sifat dasar manusia yaitu kebenaran, loving kindness, dan kekudusan, maka manusia ingin menikmati keadilan. Yesus mengajarkan, segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Artinya, di antara kau dan sesamamu harus terjadi perlakuan yang adil. Ini adalah dasar bermasyarakat, dasar etika, dan juga hak manusia. Setelah kau menikmati perlindungan dari negara, jangan lupa membayar pajak kepada negara. Itu sebabnya, saya pernah mengemukakan, Yohanes Pembatis tidak berkata kepada para prajurit yang menyandang senjata yaitu letakkan pedangmu, jangan menjadi prajurit lagi. Karena prajurit membunuh orang, melanggar hukum keenam dalam sepuluh hukum. Tapi katanya yaitu jangan menggunakan kuasamu dengan semena-mena untuk menelan milik orang lain. Cukuplah dengan apa yang kita miliki. Artinya di dalam masyarakat ini kita mempunyai hak untuk memberi dan menerima, untuk berlaku adil.
Manusia mempunyai hak untuk berbicara dengan bebas dan untuk berbuat seturut hati nuraninya Alkitab mengajarkan, setiap orang harus berbuat, berkata-kata seturut dengan hati nuraninya. Meski Alkitab juga mengajarkan: hati nurani manusia perlu diperbaharui dan dikuduskan, sehingga kita selalu mempunyai hati nurani yang murni baik terhadap Allah maupun terhadap sesama. Artinya kita harus mengucapkan kata-kata yang benar, yang jujur, mengutarakan perasaan yang ada di dalam hati nurani kita. Ini adalah hak dan kewajiban kita. PL secara khusus mengemukakan yaitu jadilah mata bagi orang buta, jadilah telinga bagi orang tuli, bukalah mulut demi orang bisu. Statemen ini adalah dasar yang terpenting dari hak asasi manusia. Ketika kau menyaksikan sebagian orang dianiaya dan tidak berdaya berbicara, karena haknya untuk mengemukakan pendapat sudah dirampas. Sebagai orang Kristen, kau harus menggantikan dia untuk berbicara. Tatkala orang lain mempunyai mata tapi tidak bisa melihat, kau harus menjadi mata bagi orang buta, menggantikan dia untuk melihat. Tatkala orang lain bertelinga tapi tidak dapat mendengar, kau harus menggantikan dia untuk mendengar. Semua ini menyatakan bahwa Allah begitu menghargai manusia. Setelah kita menyaksikan dari Alkitab bahwa Allah begitu menghargai manusia, memberi manusia kebebasan dan hak untuk membangun konsep politik kita, untuk membangun dan mempersiapkan kita menjalani jalan yang harus kita lalui, sehingga kita tidak perlu meniru orang dunia dalam hal menggunakan rasio yang sudah jatuh di dalam dosa itu dengan sembarangan, demi mencapai pelbagai tujuan politik, melainkan menjadikan keadilan, kebenaran, firman Tuhan sebagai terang untuk menuntun kita.
Konklusi
Kita sudah menyinggung akan ketidakkonsistenan Komunisme, saya percaya, bukan hanya Komunisme, tapi penguasa-penguasa dunia sering tidak mempunyai hati yang mantap, tidak memelihara kebenaran secara konsisten. Dunia ini sudah sampai pada tahap, di mana untung rugi menudungi salah benar, menudungi kejahatan, maka untung rugi sering diletakkan di depan salah benar dan kejahatan di mana asal beruntung bagiku, tak perlu berbicara soal baik jahat, soal benar salah. Jadi, untung rugilah yang menetapkan segala sesuatu. Tidak demikian dengan orang Kristen, kita harus mendahulukan tahta Allah, hak yang seharusnya dimiliki oleh manusia, sampai hubungan timbal balik antar manusia dapat berlangsung dengan adil. Itu sebabnya Alkitab mengajarkan, bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai, rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat (Rm. 13:7). Ayat ini penting sekali, menandakan bahwa hak yang seharusnya ada pada diri manusia perlu dihargai, perlu diperlakukan dengan adil.
Bagaimana dengan manusia pada umumnya? Yang seharusnya ditakuti justru tidak ditakuti, yang seharusnya dihormati justru tidak dihormati, yang harus membayar pajak justru berkelit dari kewajibannya. Sungguh amat kasihan! Kadang-kadang saya berpikir, orang Asia sangat pelit dalam menghargai dan memuji orang lain. Khususnya orang-orang yang lebih muda darinya. Untuk apa saya menghargai dia? Tidak memakinya habis-habisan saja sudah bagus. Bila orang lain meraih kesuksesan, dan kau menanyakan bagaimana pendapatnya? Orang asing (Barat) akan berkata, memang dia pantas menerima. Artinya dia menghargai hak orang lain, memberikan apa yang pantas dia dapatkan. Kiranya Tuhan menolong kita, supaya kita takut pada Allah di dalam hal-hal seperti ini, memahami hak yang telah Allah tetapkan bagi manusia, dan menunaikan kewajiban kita dengan baik. Tidak perlu takut air bah atau gelombang dunia ini akan melenyapkan kehendak Allah yang kekal. Itu tidak mungkin terjadi. Khususnya bagi kita yang hidup di akhir abad ke-20 ini, abad yang menjadi tempat praktek bagi ideologi manusia, abad di mana kita beroleh pelajaran yaitu orang-orang yang menyebut diri sebagai orang modern ini ternyata berlaku begitu bodoh, memasukkan dirinya jerat yang salah. Namun tak perlu takut, Allah masih tetap duduk di atas tahta-Nya.
Kalau Polandia membutuhkan sepuluh tahun baru melihat hasilnya meraih hak asasi manusia. Namun kita lihat di Jerman Timur, mungkin tidak memerlukan sepuluh tahun, sepuluh bulan saja sudah cukup. Kalau Allah cukup memakai sepuluh bulan untuk membenahi Jerman Timur, Allah juga bisa mengatakan, sepuluh minggu saja cukup bagi Cekoslovakia. Kalau Ceko cukup dengan sepuluh minggu, Romania mungkin hanya perlu sepuluh hari. Polandia membutuhkan sepuluh tahun, Jerman Timur membutuhkan sepuluh bulan, Cekoslovakia membutuhkan sepuluh minggu, Romania membutuhkan sepuluh hari, mungkin Beijing hanya memerlukan sepuluh jam sudah beres. Baru saja saya mengatakan di Hong Kong, kalian takut melewati tahun 1997? Yang harus takut bukanlah kalian, melainkan Deng Xiao Ping. Saya kira, dia tidak bisa melewati tahun 1997; apakah dia masih bisa hidup tujuh tahun lagi? Hari itu dia berkata, setelah Hong Kong dikembalikan ke RRC, 50 tahun tidak akan berubah. Saya berpikir, beberapa tahun lagi apakah perkataanmu itu masih dapat dipegang? Belum tentu. Dengan apa kau bisa menjamin Hong Kong tidak berubah selama 50 tahun?
Allah kita adalah Allah yang kekal dan hidup. Saya akan menyampaikan sesuatu secara khusus kepada satu orang, yaitu Jimmy Carter. Dia dianggap sebagai seorang Presiden Kristen yang penakut, yang membawa nama Amerika turun sampai begitu rendah, sehingga untuk merebut hak asasi manusiapun tidak berdaya sama sekali. Ketika Carter masih bertugas, sepertinya tidak memberikan sumbangsih atau kesuksesan apa-apa terhadap Amerika: ekonominya merosot. Namun sebenarnya Carter telah meraih satu kesuksesan yang sangat penting di ajang Internasional: hak asasi manusia bukan urusan dalam negeri. Karena hak asasi manusia adalah urusan internasional. Kau boleh menutup pintumu dan memukul anjingmu, namun kau tidak boleh menutup pintumu lalu memukul rakyatmu. Karena rakyat adalah milik bersama, rakyat harus dilindungi dan dihargai bersama di bawah kolong langit ini. Dalam hal ini, Carter telah menyatakan semangat kekristenannya. Puji Tuhan!
Kiranya Tuhan menolong dan mengasihi kita, yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang bergolak, berubah-ubah tak menentu ini tahu apa itu harga diri manusia, sehingga kita bisa menghargai diri sendiri juga menghargai sesama kita.
Pdt. Dr. Stephen Tong
Sumber: Majalah MOMENTUM No. 37 – September 1998
https://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/ham.html
https://www.geocities.com/reformed_movement
https://www.sumberkristen.com/Kotbah/hak_asasi_manusia_pdt.htm
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube