Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ibrani 10:7
Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendakMu, ya AllahKu.”

Lukas 22:42-43
“Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya.


Matius 7:21-23
Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Kisah Para Rasul 13:36
Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.

Ibrani 10:36
Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

Mengerti dan menjalankan kehendak Allah memang bukan hal yang mudah, namun kita perlu mempelajari terus prinsip-prinsip Alkitab mengenai kehendak Allah. Jika kita tidak rela untuk mentaati kehendak Tuhan, Roh Kudus tidak akan memberikan kehendak Allah ke dalam hati kita masing-masing. Untuk mengerti dan menjalankan kehendak Allah, kita akan melihat contoh bagaimana Tuhan Yesus menjalankan kehendak Allah.

1. Seumur hidup jalan di dalam kehendak Allah

Di dalam Ibr. 10:7 Tuhan Yesus menegaskan bahwa korban bakaran dan korban penebus dosa tidak diperkenankan karena itu merupakan hukum tambahan. Korban yang sejati adalah diri Kristus sendiri. Kita melihat betapa Tuhan Yesus datang sudah dengan satu tujuan yang jelas, yaitu: menjalankan kehendak Allah, berkorban bagi penebusan dosa umat Allah. Teladan Kristus ini merupakan contoh bagi kehidupan setiap orang percaya. Jika kita mengatakan di dalam Kristus tetapi tidak meneladani Kristus, itu omong kosong.

2. Memprioritaskan kehendak Allah
Ketika Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya berdoa, hal kehendak Allah menjadi prioritas utama. Setelah doa penyembahan kepada Allah, akan status Allah, maka permohonan yang pertama diajukan adalah “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Ini merupakan keinginan Tuhan yang sedemikian diutamakan oleh Kristus. Kehendak Allah tidak mendapat rintangan di sorga, tetapi di dunia mendapat rintangan dari manusia berdosa. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengajar kita untuk berdoa sedemikian. Ia bukan saja menjalankan kehendak Allah, tetapi juga mengajar kita agar kita mempunyai keinginan supaya kehendak Allah yang terlaksana.


3. Sama sekali tidak mau menjalankan kehendak sendiri
Di dalam seluruh tutur kata, tingkah laku, dan perbuatan, Tuhan Yesus sama sekali tidak mau menjalankan kehendak-Nya sendiri. Di dalam Yoh. 12:48,49 Ia mengatakan: “Aku tidak menuruti kehendak-Ku mengatakan perkataan-perkataan ini.” Semua yang Yesus katakan sesuai dengan apa yang dikehendaki Bapa. Kristus memiliki kemauan total, yaitu menjalankan kehendak Allah. Kristus mengajar orang Kristen berdoa supaya kehendak Allah yang jadi. Dari perkataan-perkataan Kristus, tidak ada satupun yang keluar berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Demikian juga kelakuan- Nya, tidak ada satupun yang dilakukanNya berdasarkan kehendak sendiri. Juga pada saat mengalami kesulitan. Dalam Matius 11 dan Lukas 10:1-24 Tuhan Yesus menyatakan suatu kontras yang luar biasa. Ia mengutus ke-70 murid-Nya untuk pergi mengabarkan Injil, lalu Ia sendiri juga pergi menginjili. Alkitab mencatat mereka sukses, sedangkan Tuhan Yesus tidak. Mereka melaporkan bagaimana demi nama Yesus, setan-setan ditaklukkan. Namun respon Tuhan Yesus stabil sekali: “Jangan bersukacita karena setan-setan takluk, tetapi bersukacitalah karena namamu ada di sorga.” Orang Kristen sering terlalu cepat terjerat di dalam suasana fenomena, dengan apa yang kelihatannya sukses, sehingga dengan mudah dapat kehilangan kestabilannya. Lalu mengkompromikan segala prinsip yang penting dengan kesuksesan yang hanya fenomena saja. Padahal Tuhan menghendaki kita berjalan menurut pimpinan-Nya.

Semua murid-Nya berkhotbah seperti penuh kuasa dan kelihatan sukses, tetapi ketika Tuhan Yesus berkhotbah, tidak ada yang bertobat, sekalipun di kota-kota itu Ia paling banyak melakukan mujizat, sehingga Ia mengecam kota-kota yang tidak bertobat itu. Namun setelah semua itu Ia berkata: “Ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, memang kehendak-Mu demikian.” Sangat mudah bagi kita memuji Tuhan di dalam kelancaran, tetapi sangat tidak mudah memuji Tuhan di hari-hari susah. Pada waktu mengalami kesulitan, biarlah dengan iman yang kuat, sabar dan tekun menerimanya. Seperti Tuhan Yesus: “Karena kehendak-Mu adalah seperti ini, di dalam kesulitan, di dalam tangisan.”
4. Melayani tidak identik dengan menjalankan kehendak Allah Dalam Matius 7:15-23 Tuhan Yesus memberikan peringatan yang besar tentang gap antara gejala-gejala pelayanan dengan hidup yang sejati. Ada kaitan yang erat antara ayat-ayat sebelum ayat 21 dengan ayat-ayat terakhir ini, yang telah dilonggarkan dan dikompromikan di jaman ini. Tuhan Yesus mengatakan: pohon yang baik, mengeluarkan buah yang baik; pohon yang jelek, mengeluarkan buah yang jelek. Apakah buah itu? Buah jangan ditafsirkan dengan cara melayani dan fenomena-fenomena keberhasilan pelayanan. Buah-buah hanya dilihat dengan hidup kesucian, hidup ketaatan kepada Tuhan dan hidup berjalan di dalam pimpinan firman Tuhan. Pelayanan seseorang yang berkuasa, menyembuhkan orang sakit dan membuat mujizat belum tentu menyatakan penyertaan Tuhan di dalamnya. Mungkin pada hari terakhir Tuhan mengatakan kepadanya: “Aku tidak pernah mengenal engkau, hai pembuat kejahatan!” Bukan setiap orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, tetapi hanya mereka YANG MELAKUKAN KEHENDAK BAPA.

5. Kristus sendiri menjadi teladan ketika menghadapi kematian
Tuhan Yesus telah menyimpulkan seluruh hidup-Nya dengan cara doa yang begitu taat kepada Tuhan (Luk. 12:42,43). “Bapa, jika Engkau mau, ambillah cawan-Ku daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Akhirnya cawan ini benar-benar Allah tidak singkirkan. Berarti kadang-kadang doa kita tidak dikabulkan Tuhan. Allah tidak menyingkirkan
cawan itu, tetapi Ia mengirimkan kekuatan untuk Tuhan Yesus meminum cawan itu hingga tetes terakhir, demi menanggung dosa manusia.

Inilah teladan Tuhan kita, Penebus kita. Dari Tuhan Yesus, kita baru mengetahui bagaimana menjadi orang yang hidup menjalankan kehendak Tuhan. Sudahkah kita rela menjadi orang Kristen yang memikul salib, menyangkal diri dan mau menjalankan kehendak Tuhan? Sudahkah kita meluangkan hati kita untuk menyingkirkan segala kemauan sendiri dan kemauan iblis yang selalu mengganggu dan merongrong hidup kita? Maukah kita mengundang Tuhan Yesus masuk ke dalam hati kita untuk meminta-Nya memimpin hidup kita?

Dari Kisah Para Rasul 13:36 kita melihat betapa Daud setelah menjalankan kehendak Tuhan kemudian ia “tidur” di tempat nenek moyangnya. Berarti sampai matinya Daud terus berjuang untuk menjalankan kehendak Tuhan. Ada beberapa orang yang sampai akhir tidak habis-habisnya bergumul, karena terus menerus melawan kehendak Tuhan. Tetapi ada yang mengakhiri hidupnya dengan tenang karena ia sudah menjalankan kehendak Tuhan, sehingga sekarang ia tidur dalam pangkuan Tuhan untuk selama-lamanya menikmati sejahtera Tuhan. Itu sebabnya penulis Ibrani (Ibr. 10:36) meminta agar kita memiliki ketekunan, sehingga setelah melakukan kehendak Tuhan, kita beroleh apa yang Tuhan janjikan kepada kita. Amin.

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr Stephen Tong
Sumber : https://www.fica.org/ficalist/fica/teach/stong3


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube