Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Nats : Roma 8:11-17

Bagaimanakah seharusnya orang Kristen memperlakukan dan memandang dirinya? Kita mempunyai tubuh yang dicipta dari debu tanah, tetapi tubuh ini boleh mencapai kemuliaan yang terbesar, yakni menjadi tempat kediaman Roh Kudus. Sebab itu, orang Kristen harus mempunyai sikap yang berbeda dengan orang non Kristen dalam hal memperlakukan tubuhnya.


Minggu-minggu yang lalu kita sudah membahas tentang bagaimana kita memandang kedagingan dan tubuh. Kalau tubuh mencapai potensi yang terbesar, tubuh akan menjadi tempat kediaman bagi Roh Kudus, menjadi wadah yang suci, yang dikuduskan dan Roh Kudus berada di dalam diri kita. Roh Kudus yang berada di dalam diri kita membuktikan kita adalah orang Kristen, dan buah Roh Kudus yang terpancar di luar membuktikan kita mempunyai hidup kekristenan.

Paulus berkata, “Janganlah hidup mengikuti tubuh yang berada di luar ini, tetapi hiduplah dengan mengikuti Roh Kudus dan menaklukkan diri ke bawah otoritasNya. ” Sebab itu di ayat 11 Paulus menuliskan, “Jika Roh yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati itu berada di dalam dirimu, maka Dia akan membangkitkan tubuhmu yang akan menuju pada kematian.

Maksudnya ada dua:
1. Membuat tubuhmu mengalami kuasa kebangkitan, sehingga di dalam tubuh ini, kamu hidup sebagai orang yang bangkit dari kematian untuk memuliakan nama Allah.
2. Roh Kudus bekerja sedemikian rupa, sehingga pada suatu hari nanti, kita akan bangkit dari kematian, dan mengalami kuasa kebangkitan yang sama seperti Kristus yang sudah bangkit dari antara orang mati.

Roh Kudus yang sekarang sudah dimeteraikan di dalam diri kita menjadi jaminan kita akan dibangkitkan. Roh Kudus yang sudah dimeteraikan di dalam diri kita menjadi bukti kebangkitan yang dialami oleh Kristus akan dialami oleh setiap kita yang berada di dalam Kristus. Puji Tuhan.


Jika kita membandingkan yang tertulis dibagian ini dengan yang ditulis di dalam Ef 1:13-14, kita menemukan bahwa Roh Kudus menjadi jaminan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus. Waktu Kristus datang kembali, tubuh kita akan berubah secara total, dan kebangkitan akan berlangsung dalam diri kita: yang sudah mati akan dibangkitkan, dan yang hidup akan mengalami perubahan, lalu masuk ke dalam kemuliaan. Inilah yang disabut glorification. Selain orang Kristen dibenarkan melalui iman, dikuduskan melalui proses, diberikan meterai Roh Kudus di dalam dirinya, dia juga dijanjikan untuk memperoleh kebangkitan.

Baca ayat 12, “Kita bukan berhutang kepada daging,” maksudnya disini Paulus berkata, kamu bukan berhutang kepada dagingmu. Sekali lagi, kepada istilah daging dan tubuh, Paulus memberikan definisi yang berlainan. Tubuh adalah wadah yang bersifat materi, yang dicipta oleh Allah dengan desain terbaik dalam alam semesta. Tetapi daging adalah pengaruh dari dosa asal yang sudah mencemari, sehingga tubuh cenderung diperalat sebagai alat untuk berbuat dosa.

Paulus berkata, kita bukan berhutang kepada daging, sehingga kita terus menerus menuruti kemauan daging. Kalau kau merasa berhutang kepada daging, dia akan menjadi seorang pengejar hutang yang tidak memberi ampun atau kelonggaran kepadamu. Jika kau taat kepada tubuh yang sudah dipengaruhi oleh dosa dan kuasanya, kau akan melalui hidup kedagingan, taat
kepada kebutuhan daging yang tidak pernah ada habisnya. Jangan bermain main dengan keinginan kedagingan, karena dia akan menjadi begitu jahat untuk menguasai kita, sehingga kita seperti tak pernah lunas-lunas membayar hutang kepadanya. Sebab itu, Paulus berkata, kita bukan berhutang kepada daging. Kita adalah orang yang berhutang, bukan kepada daging, supaya kita hidup menuruti daging. Sebab jika kamu hidup menuruti daging, kamu akan mati. Daging ini adalah daging yang rusak, yang menuju pada kematian, kalau kau menurutinya, kau akan hidup bagaikan orang yang binasa.

Orang Kristen yang sudah diselamatkan namun masih memusatkan seluruh perhatiannya kepada keadaan seolah-olah berhutang kepada daging, akan dipukul setengah mati oleh Tuhan, yaitu jika Tuhan masih mau dia bertobat dan menjadi saksiNya. Namun bila tidak, Tuhan akan melemparkan tubuhnya yang menuruti kedagingan itu untuk hidup seperti orang binasa. Sebab
itulah, jangan bermain-main dengan Tuhan, jangan mempermainkan Tuhan karena “Tuhan tidak mungkin dipermainkan oleh manusia. Pada waktu seorang mempermainkan Tuhan, dia mengira dirinya pinar, padahal dia sedang mempermainkan nasib dan kekekalan dirinya sendiri.

Disini sebaliknya Paulus berkata, bahwa kita harus menuju kepada ketaatan terhadap Roh Kudus. Sebab oleh Roh kamu mematikan perbuatan perbuatan tubuhmu. Bagaimana caranya? Kemenangan yang terakhir akan tercapai di dalam kitab Roma pasal 12, “Persembahkanlah tubuhmu menjadi korban yang hidup.” Tubuh dijadikan korban, dimatikan bukan di neraka, tapi di atas kayu salib, dipaku bersama dengan Kristus.

Ayat 14 mengatakan, “Semua orang yang dipimpin Roh Kudus adalah anak anak Allah.” Barangsiapa mau membuktikan dan mengalami hidup sepenuhnya sebagai anak Allah, dia harus taat kepada pimpinan Roh Kudus. Semua orang yang sudah ditebus, yang sudah diberi hidup baru, yang sudah diperanakkan di dalam kerajaan Allah, pasti akan dipimpin oleh Roh Kudus. Inilah jaminan bagi setiap orang. Tidak ada satu anak Allah yang tidak dipimpin oleh Roh Kudus. Semua anak Allah dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Allah adalah Roh kebenaran, Roh Kudus, maka Roh itu memimpin kita dengan kebenaran untuk menuju pada kekudusan. Ini adalah hal yang sangat penting.

Roh itu memimpin kita dengan kebenaran untuk menuju pada kekudusan, yaitu hidup yang lebih mirip, lebih bisa memancarkan kesucian dari Tuhan Allah. Dengan apa Dia memimpin? Dengan kebenaran sebagai alat. Roh Kudus tidak memimpin kita dengan filsafat, sosiologi, atau teori-teori psikologi, melainkan dengan firman. Orang yang dipimpin Roh Kudus bukan dipimpin di dalam ketakutan yang tidak tahu mau apa, melainkan dipimpin ke dalam kestabilan dan kesejahteraan yang tahu akan menuju kemana.

Perhatikan, Paulus langsung memberikan bandingan di dalam ayat 15. istilah ya Abba, ya Bapa berasal dari bahasa Aramik. Sebutan yang akrab terhadap ayahnya sendiri. Itu menunjukkan pengakuan darah dan hubungan yang tidak bisa digantikan, diputuskan atau dilepas: kita adalah anak Bapa. PL menyebutkan, “Aku akan menjadikan kamu umatKu, dan Aku adalah Bapamu.” Ini adalah janji yang besar. Yang dapat memanggil Allah sebagai Bapa hanyalah yang berada di dalam Kristus. Karena Kristus adalah Anak Allah, maka semua orang yang berada di dalam Kristus mempunyai hak seperti Kristus, dapat memanggil Allah sebagai Bapa. Pada waktu kita menyebut Allah sebagai Bapa, adalah karena ikut Yesus Kristus, yang berkata, “BapaKu juga adalah Bapamu’ yang berarti “Aku memasukkan kamu ke dalam rumah BapaKu sehingga kamu mempunyai hak yang sama dengan Aku.” Itu adalah hak istimewa: barangsiapa percaya kepadaNya, yaitu menerima namaNya, dia akan diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:9).

Yesus mati bagi mereka, karena tanpa kematian Yesus, mereka tidak bisa menjadi anakNya. Kita dijadikan anak-anak Allah dan diberikan roh anak sekaligus meterai sebagai anak. Dan kedua, kita mempunyai status keberanian di rumahnya, tidak seperti seorang budak. Di dalam semua agama rasa takut kepada Allah adalah karena takut dihukum, takut dibinasakan olehNya. Tapi orang Kristen takut kepada Allah bukan takut binasa, tapi adalah takut tidak memuliakan namaNya, takut mempermalukan namaNya, takut hidup kita yang kurang baik melukai hatiNya. Karena yang diberikan kepada kita bukanlah roh takut, roh budak, melainkan adalah roh anak.

Ayat 15-16 menyebut bahwa Roh itu bersaksi dengan kita, maksudnya, kedua roh yakni Roh Allah dan roh kita yang sudah diselamatkan ini bersama-sama bersaksi, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Barangsiapa mengatakan “saya adalah anak Allah,” namun tidak ada Roh yang dari Tuhan Allah yang membuktikan, itu adalah omong kosong. Sebaliknya, barangsiapa yang memiliki Roh Kudus dan Roh itu bersaksi bahwa dia adalah anak Allah, tapi roh dirinya belum mencapai pengertian itu, dia tidak menikmati status itu dengan sesungguhnya. Bagaimana saya tahu bahwa saya adalah anak Allah? Bagaimana saya tahu bahwa saya sudah diselamatkan? Roh Allah dan roh saya bersaksi bersama bahwa saya adalah anak Allah. Bacalah 1Yoh 3:24. Kiranya
Tuhan memberikan kekuatan kepada kita untuk hidup sebagai anak dan hidup sesuai dengan kemuliaan anak, serta hidup dengan menikmati hak sebagai anak. Amin

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr Stephen Tong, 3 Juli 1994
Sumber : https://www.fica.org/ficalist/fica/teach/tong5



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube