Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Yohanes 7:19-42

Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?” Orang banyak itu menjawab: “Engkau kerasukan setan; siapakah yang berusaha membunuh Engkau?” Jawab Yesus kepada mereka: “Hanya satu perbuatan yang Kulakukan dan kamu semua telah heran. Jadi: Musa menetapkan supaya kamu bersunat – sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tetapi dari nenek moyang kita – dan kamu menyunat orang pada hari Sabat! Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepadaKu, karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat. Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”

Pertentangan tentang asal Yesus (Yohanes 7 : 25-36)

Beberapa orang Yerusalem berkata: “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaNya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asalNya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asalKu; namun Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saatNya belum tiba. Tetapi di antara orang banyak itu ada banyak orang yang percaya kepadaNya dan mereka berkata: “Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan mengadakan lebih banyak mujizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia ini?” Orang-orang Farisi mendengar orang banyak membisikkan hal-hal itu mengenai Dia, dan karena itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menyuruh penjaga-penjaga Bait Allah untuk menangkapNya. Maka kata Yesus: “Tinggal sedikit waktu saja Aku ada bersama kamu dan sesudah itu Aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku. Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada.” Orang-orang Yahudi itu berkata seorang kepada yang lain: “Ke manakah Ia akan pergi, sehingga kita tidak dapat bertemu dengan Dia? Adakah maksudNya untuk pergi kepada mereka yang tinggal di perantauan, di antara orang Yunani, untuk mengajar orang Yunani? Apakah maksud perkataan yang diucapkanNya ini: Kamu akan mencari Aku, tetapi kamu tidak akan bertemu dengan Aku, dan: Kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada?”


Air sumber hidup (Yohanes 7 : 37-44)

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum! Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan. Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuhNya.

Yesus dibela oleh Nikodemus (Yohanes 7 : 45-52)

Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawaNya?” Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin
yang percaya kepadaNya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepadaNya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatNya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”

                                 *****

Dalam Injil Yohanes pasal 7 kita melihat proses mental dari orang-orang yang telah membentuk suatu bendungan melalui sistem tertutup terhadap Yesus Kristus sehingga mereka sulit menilai Yesus secara adil. Ini adalah satu hal yang paling sulit diterobos oleh manusia setelah Adam jatuh dalam dosa. Kita memerlukan sistem, suatu program, suatu bendungan dalam pikiran. Konsep itu yang memungkinkan kita untuk mempunyai satu penilaian, selalu membekukan kita dari pada kemungkinan menerima sesuatu hal yang baru dari Tuhan. Akibatnya adalah kita mengurung diri di dalam segala hal yang kita pelajari, miliki, pikirkan, yang telah menjadi kristalisasi di dalam pikiran kita dan menghambat kita untuk menerobos dan mengerti yang lebih indah, yang belum pernah kita alami. Ini merupakan satu hal juga yang kita lihat dalam gejala agama dan kebudayaan. Agama dan kebudayaan itu penting. Agama merupakan satu usaha yang agung dari manusia. Kebudayaan adalah satu tumpukan sistem nilai yang begitu agung dan terhormat di dalam hidup manusia.

Apa sebabnya dalam agama dan kebudayaan yang paling agung, di sana juga ada orang yang melawan Tuhan Yesus dengan keberanian yang luar biasa? Karena sistem-sistem eksklusif ini mengakibatkan manusia mengambil tindakan dan tindakan itu dituarakan dengan cara yang saya sebut sebagai penilaian yang tidak adil. Penilaian yang tidak adil telah sering terjadi dan terulang terus menerus oleh kita, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Setiap hari kita menilai orang, kita menilai diri bahkan kita menilai segala sesuatu yang telah Tuhan berikan dan paparkan di hadapan kita dengan penilaian yang tidak adil.

Dalam bagian ini Yesus Kristus berkata kepada musuh-musuhNya dengan nasehat yang indah, “Jangan menilai seseorang secara lahiriah, tetapi nilailah seseorang dengan adil.” Yang berjiwa agung bisa saja berada dalam wajah yang buruk. Banyak pula orang berjiwa buruk sekali berada pada wajah yang cantik. Jangan kita terjebak pada penglihatan lahiriah. Di Yunani, ada satu pepatah mengatakan, “Sokrates bermuka badut tetapi berjiwa seorang dewa.” Kalimat ini menunjukkan penilaian yang kurang tepat. Sokrates mempunyai muka seperti badut, jelek, dan memiliki hidung yang ukurannya lain dari pada yang lain. Tetapi ia mempunyai jiwa seperti dewa, sangat agung. Kalau jiwa yang agung tersimpan di dalam tubuh yang jelek, lalu apakah kita menolak jiwa yang agung itu? Yang rugi bukan dia, yang rugi adalah kita. Alkitab mengatakan, “Jangan sembarangan menolak tamu, karena mungkin tamu yang berkunjung ke rumahmu adalah malaikat-malaikat yang diutus Tuhan.” Artinya adalah janganlah kita dijerat oleh yang saya sebut sebagai sistem tertutup yaitu memberikan penilaian yang tidak adil.


Paulus berkata dalam II Kor 2, “Kami dahulu pernah menilai Kristus secara lahiriah tetapi sekarang tidak lagi.” Di sini ada satu kemajuan, dulu melihat sesuatu hanya dari luarnya tetapi tidak melihat yang di dalam. Banyak buah yang dijual dari luar ternyata isinya busuk. Orang telah terlatih untuk berpura-pura dan menghias, untuk menjadikan diri mempunyai dua karakter. Di luar indah, di dalam tidak. Karena manusia mempunyai kebiasaan demikian, maka kita sendiri harus hati-hati menilai orang lain.

Dalam Injil Yohanes proses konsep orang Yahudi terhadap Yesus Kristus terbentuk secara perlahan-lahan. Sampai pada satu saat mereka mau atau tidak mau harus membunuh Yesus. Sampai pada satu saat mereka tidak mungkin lagi melihat keindahan Kristus, kelurusan, dan keadilanNya. Karena waktu melihat Yesus yang adil, mereka memakai kacamata tidak adil. Waktu mereka melihat Yesus yang indah, mereka telah dicemari dengan kacamata yang tidak indah. Waktu mereka melihat Kristus yang suci, mereka memandang dengan kacamata yang najis, sehingga tidak mungkin lagi mengenal Yesus. Pada waktu seseorang di dalam penilaian terhadap Yesus Kristus dicemari oleh EXCLUSSIVENESS ini sampai langkah terakhir. WHEN YOU MAKE DECISION TO THROW OUT JESUS, THAT MEANS YOU ARE THROWN AWAY BY JESUS. Pada satu hari saudara mengatakan, “Saya tidak mau Yesus, saya menolak Dia.” Saat itu saudara sedang membuang diri saudara untuk selama-lamanya. Saudara membuang hak saudara, hak istimewa boleh berkenalan dengan Yesus Kristus.

Apakah yang menjadikan kita menilai orang lain secara tidak adil? Karena konsep-konsep a priori yang ada. Dalam filsafat ada suatu istilah, yang satu disebut A PRIORI, yang satu lagi disebut A POSTEORI. A PRIORI itu berasal dari bahasa Latin, yang dalam bahasa Inggris menjadi prior. A PRIORI berarti semacam asumsi atau konsep praanggapan sebelum mengadakan suatu eksperimen atau mempunyai pengalaman apapun. THE PRESUPPOSITION AS AN INSTINCTIVE BELIEVE WITHOUT ANY EXPERIMENT AND ANY EXPERIENCE. Tanpa eksperimen dan tanpa pengalaman hanya mempunyai INSTINCT JUDGMENT, penilaian yang bersifat intuitif, lalu saudara mengatakan, “Ini benar. Itu tidak benar.” Itu disebut a priori. Saya tidak bermaksud mengatakan a priori itu salah, namun saya juga tidak mengatakan a priori itu pasti benar. Tetapi ada orang yang mempunyai intuisi yang kuat sekali. Istilah A POSTEORI berarti suatu pendapat, suatu penilaian atau suatu keputusan yang diambil setelah mengalami suatu eksperimen dan pengalaman. Setelah menyelidiki, mengumpulkan data barulah mengatakan suatu pendapat. Banyak orang yang kurang pengalaman dalam hidup ini selalu memakai intuisi dan subjektivitas untuk menilai segala sesuatu. Begitu banyak hal-hal yang indah dianggap jelek dan hal-hal yang jelek dianggap indah. Hal-hal yang salah dianggap benar. Penilaian terhadap orang lain selalu diganggu oleh subjektivitas.

Jadi kita harus bersandar pada Tuhan di dalam mengenal orang dan mengenal diri, di dalam menanggapi segala sesuatu, karena ini merupakan suatu hal yang sangat berbahaya. Namun bahaya ini belum sebesar bahaya waktu saudara salah menilai Yesus Kristus. Pada waktu saudara bertemu dengan Kristus dan menilai Kristus bukan dalam hal untung rugi kebahagiaan dalam kesementaraan. Tetapi menyangkut hidup kekal atau binasa selama-lamanya. Itu sebab terhadap Kristus, bagaimanakah saudara menilai Dia? Terhadap Kristus patokan apakah yang saudara miliki untuk menilai Dia? Dalam ayat yang kita baca, kita telah melihat beberapa pikiran yang telah terpendam dan telah tertanam dalam pikiran orang Yahudi. Beberapa macam pikiran ini telah menjadi a priori mereka sehingga pada waktu mereka melihat Yesus, mereka mau atau tidak telah dipengaruhi oleh a priori mereka itu. Mereka mempunyai satu pikiran yang tersimpulkan Kristus tidak mungkin diketahui dari mana Dia berasal. Kalau tahu Dia dari mana pasti Dia bukan Kristus. Saya ulangi lagi, mereka mempunyai : Asumsi Pertama, satu a priori bahwa KRISTUS TIDAK MUNGKIN DIKETAHUI DARI MANA ASALNYA. Jika ada seseorang yang bisa diketahui asal usulnya, maka orang itu pasti bukan Kristus. Apakah konsep ini benar? Konsep ini tidak benar, karena dalam pasal ini saja kita melihat timbul perselisihan mengenai konsep ini. Satu orang mengatakan, “Kita tidak tahu dari mana ia datang. Karena kita tidak tahu asal usul Dia maka pasti Dia Kristus. Lalu yang lain mengatakan, “Ya kita tahu Dia dari mana, yaitu Galilea.” Yang lain mengatakan, “Kristus tidak mungkin dari Galilea. Mesias seharusnya bukan dari Galilea tetapi dari Betlehem.” Kalau Yesus dari Betlehem berarti Dia dari keturunan Daud, kalau Yesus keturunan Daud mungkin Dia adalah Mesias tetapi Kristus tidak boleh diketahui asalNya dari mana. Kalau demikian bukankah ada kontradiksi di antara mereka sendiri? Kalau mereka mengatakan, “Kita tahu Dia dari Galilea, karena diketahui, maka Ia bukan Kristus.” Yang lain mengatakan, “Kristus harus dari Betlehem. Berarti satu pihak boleh diketahui, di lain pihak tidak boleh diketahui. Ini merupakan kontradiksi sendiri dalam diri mereka, namun mereka tidak menyadari hal itu. Asumsi yang kedua dari mereka adalah bila Kristus datang, pasti melakukan banyak mujizat. Dari mana kita mengetahui hal ini? Karena dalam pasal ini dikatakan, “Kalau Mesias datang mungkinkah Ia melakukan mujizat yang lebih banyak dari pada Yesus ini? Kalau demikian, Dia pasti Mesias, tidak ada yang lain.” Periode mencari teman hidup adalah periode yang kritis dalam hidup kita. Setelah mendapatkan yang dirasa cocok, masih ada kemungkinan menemukan yang lebih cocok. Sampai tiba pada perbandingan maksimal ini, sesuatu yang kita temukan kita anggap itulah finalnya. Tetapi dimana final itu? Ini merupakan suatu hal yang sangat progresif sehingga kita tidak mungkin mengambil keputusan terakhir. Sulit menetapkan kapan yang sungguh-sungguh menjadi akhir.


Mereka memikirkan kalau Kristus datang, mungkinkah lebih banyak mujizat yang dilakukan kalau dibandingkan dengan Yesus? Kalau tidak berarti inilah akhirnya Kristus yang harus kita terima. Tetapi sikap penilaian yang kedua ini juga bisa menimbulkan bahaya yang besar. kalau kita menerima Kristus, terimalah sebagai yang akhir, yang final, yang mutlak, yang tidak memiliki kemungkinan dilampaui lagi. Ini memang satu konsep yang benar. Tetapi siapakah Dia, siapakah yang final? Dalam apologetika ada satu tema penting, disebut THE FINALITY OF CHRIST berarti dalam diri Kristus ada satu sifat final yang tidak mungkin dilampaui lagi. Dalam Kristus ada satu kemutlakan yang tidak mungkin dilewati lagi. Di dalam diri Kristus ada satu sifat kesempurnaan, tidak ada lagi yang lebih sempurna dari pada Dia. Kalau kita mengenal sifat
kesempurnaan, sifat final dari Kristus, sekarang saya mau tanya, konsep dan ukuran final di dalam dirimu itu dari mana? Saya kira ayat ini sangat baik, berlainan dengan kalimat lain yang diucapkan Yesus Kristus. Pada waktu Ia mengatakan, “Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau datang kepadaKu bukan karena mujizat tetapi karena roti.” Di sini Yesus membedakan orang yang menerima bahagia, keuntungan, dan faedah dari perbuatan mujizat Tuhan Yesus dengan mereka yang datang karena mujizat.

Betapa banyak orang datang hanya karena ingin mendapat keuntungan dari Tuhan Yesus. Tuhan diperalat, kalau telah memperoleh sesuatu, lalu Tuhan yang dibuang. Tetapi ada orang yang tidak demikian. Pekerjaan ini adalah tanda mujizat Allah, karena mujizat ini maka saya beriman kepada Dia. Mementingkan mujizat bukan mementingkan keuntungan dari mujizat. Jikalau Kristus datang mungkinkah melakukan mujizat lebih banyak dari pada Yesus ini?

Asumsi ketiga. Pada hari terakhir di dalam Bait Allah di Yerusalem Yesus berteriak, “Barangsiapa yang percaya kepada Dia dari padanya akan mengalir air hidup.” Ia menggambarkan Roh Kudus akan turun pada mereka. Setelah ada orang mendengar, mereka langsung menjawab, “Nah inilah nabi itu, inilah Kristus.” Berarti mereka mengaitkan Kristus dengan pemberian Roh Kudus. Orang-orang semacam ini mempunyai pengertian tersendiri. Dalam buku Yoel dikatakan, “Pada akhir RohKu akan mengurapi semua anak-anak, RohKu akan memenuhi engkau dan seluruh orang yang bernafas, mereka akan dipenuhi Roh Suci, mereka akan bernubuat, mereka akan mengatakan kalimat-kalimat dari Tuhan.” Kalimat-kalimat semacam ini berarti, pada hari yang akan datang pada masa akhir ada Roh yang diturunkan. Tetapi siapakah yang menurunkan Roh itu? Siapa yang mempunyai kuasa yang begitu besar? Jikalau nabi-nabi mempunyai Roh Kudus di dalam diri mereka sepenuhnya. Tetapi siapakah di antara nabi-nabi yang bisa membagikan RohNya pada orang lain?

Pada hari terakhir, Elia bertanya kepada Elisa sebelum dia diangkat ke sorga, “Sekarang di tengah-tengah perpisahan, engkau boleh minta kepadaku, apa yang kau minta?” Waktu Elisa diberikan kesempatan minta sesuatu, dia langsung minta sesuatu yang tidak mungkin diberikan oleh orang yang memberikan janji itu. “Saya mau Roh yang pernah menggerakkanmu itu dua kali lipat.” Elia kaget, yang itu tidak bisa diberikannya. Kuasa itu dari Tuhan. Elisa minta Roh Kudus, tetapi dapat jubah. Apa artinya Roh Kudus ada dalam jubahnya? Nanti kalau Elisa yang memakai, akan ada Roh Kudus? Tidak. Tetapi dalam hal ini kita melihat di dalam pengertian kenabian, nabi memiliki Roh. Dan di sini, nabi yang memberikan Roh lebih daripada nabi yang memiliki Roh. Nabi memiliki Roh tetapi ada satu Nabi yang memberikan Roh. Dia lebih besar daripada nabi-nabi yang lain. Itu sebab pada waktu Yesus mengatakan, “Kalau engkau menerima Roh Kudus, engkau akan seperti air hidup, tidak habis- habisnya memancar keluar dari hidupmu.” Mereka mengatakan, “Inilah nabi itu, inilah Kristus.” Ini adalah konsep ketiga untuk menilai Kristus. Patokan pertama, darimana Dia. Patokan kedua, Dia melakukan mujizat. Patokan ketiga, Dia memberikan Roh Kudus. Dan patokan keempat, Dia pasti keturunan Daud. Mereka menyelidiki PL, yang mempunyai sistem Theologi Yahudi tersendiri. Mereka menemukan kalau Yesus disebut Mesias, coba ukur Dia apakah Ia dari Betlehem? Kalau Dia dari Betlehem, Dia adalah keturunan Daud. Kalau Dia bukan dari Betlehem, Dia bukan keturunan Daud, tidak perlu diterima. Ada yang menganggap Yesus bukan orang Betlehem, Yesus orang Galilea. Kita orang Kristen tahu Yesus dilahirkan di Betlehem, tetapi mereka tidak tahu dan hanya tahu Dia dari Galilea. Yesus Kristus adalah penduduk Galilea tetapi Yesus lahir di Betlehem. Tetapi mereka langsung mencap Yesus tidak mungkin dari Betlehem, Dia dari Galilea. Berarti tidak mungkin menjadi Mesias. Mesias harus dari Betlehem. Tahu dari mana? Karena kami belajar kitab suci baik-baik. Mereka tidak menyelidiki dengan tuntas, dan terlalu cepat membanggakan sistem eksklusif yang menutup diri sendiri.

Mereka memberikan penilaian yang tidak adil terhadap Yesus Kristus. Maka sesudah penilaian yang tidak adil muncul, kalau mental itu telah terbentuk, terjadi kristalisasi dalam satu sistem tertutup, maka mereka telah mempunyai kacamata yang tidak beres terhadap orang lain. Dan sentimen-sentimen prejudis yang telah terbentuk mengakibatkan mereka tidak mungkin menerima anugerah dari Tuhan Yesus lagi. Bahkan mereka berusaha menyingkirkan Dia. Jikalau engkau menyingkirkan dirimu itu namanya bunuh diri, jikalau menyingkirkan orang lain, itu namanya mengisolir diri dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Jikalau saudara menyingkirkan Kristus, itu adalah semacam ISOLASI KEKEKALAN, berarti saudara hendak memisahkan diri saudara dengan Sumber Hidup yang kekal. Saya boleh berkata betapa banyak orang yang hidup dalam dunia, hidup tanpa Kristus. Menjadi orang Kristen tanpa Kristus karena mengisolir diri dari Kristus, menilai Kristus secara lahir saja. Dalam penilaian yang tidak adil ini, kita hanya merugikan diri sendiri. Kita juga melihat disini banyak tindakan-tindakan yang tidak normal muncul. Mereka sendiri yang tidak normal, tanpa sadar memakai hal yang tidak adil untuk melihat bahwa menurut penilaian mereka Yesus yang tidak normal.

Ayat yang kita baca tadi. “Bukankah Musa telah memberikan Taurat kepada engkau? Tetapi di antara kamu ini tidak ada satu orang yang telah memelihara Taurat.” Kalimat ini terlalu berat, Yesus Tuhan kita adalah Tuhan kejujuran, Tuhan keadilan, Tuhan yang sungguh-sungguh tanpa
kepura-puraan. Tetapi orang yang jujur, yang berani mengatakan kebenaran selalu tidak diterima dengan baik di dalam dunia ini. Bukan maksud saya bahwa semua yang tidak diterima berarti jujur. Tetapi Yesus tidak diterima baik karena Dia mengatakan, “Bukankah Musa telah menurunkan Taurat kepada engkau, tetapi di antara kamu seorangpun tidak melakukan Taurat.” Kalimat ini terlalu keras karena kalimat ini menampar muka pemimpin mereka. “Di antara kamu tidak seorangpun yang melakukan Taurat. Engkau yang mendengar dan belajar Taurat tidak pernah melakukan, bahkan engkau yang mengajar Taurat di mimbar, engkau belum pernah melakukan.” Kalimat ini telah merobek-robek kehormatan mereka. Muka dan kemuliaan mereka telah dihancurkan di muka umum oleh Yesus Kristus. Mereka menjadi lebih keras dan semakin membekukan hati.

Kita melihat dengan jelas, setelah kalimat ini diucapkan Kristus, maka mereka mempunyai satu pikiran untuk membunuh Yesus. Lalu Yesus menyambung dengan kalimat berikutnya, “Engkau tidak pernah melakukan Taurat, mengapa engkau mau membunuh Aku?” Lebih keras lagi, jadi kalau mukanya sudah ditampar sudah malu, maka sekarang hatinya yang dibongkar sekali lagi. Pemimpin-pemimpin orang Yahudi sedang mendengarkan kalimat ini, mereka tidak tahan dan mereka mengatakan satu kalimat yang menyerang Yesus sekaligus memperkenalkan diri. Jangan lupa bahwa pada waktu kita dalam kemarahan, sembarangan menyerang orang dengan sistem ketidakadilan untuk menilai, maka pada waktu itu kita sedang memperkenalkan diri. Kalau hal ini tidak kita pelajari dengan baik, maka seumur hidup kita akan hidup tanpa prinsip dan tidak mempunyai teladan bagi orang lain. Kemarahan adalah satu hal yang netral tetapi kemarahan bisa baik, bisa jelek. Ada tidak kemarahan yang baik? Ada! Kemarahan orang tua kepada anak pada waktu mendisiplin anaknya. Kemarahan yang baik akan mendidik orang dan mengkoreksi orang dari kesalahan. Tetapi kemarahan bisa menjadi satu hal yang jelek. Orang yang membunuh selalu didahului dengan kemarahan. Kemarahan yang tidak beres merusak hidup, kemarahan yang baik membangun hidup. Kemarahan adalah satu hal yang netral, kemarahan adalah satu hal yang berharga sekali.

Sekarang kita akan melihat hal yang sama seperti ini. Pada waktu Yesus Kristus dinilai oleh mereka, mereka marah. Pada waktu mereka marah dengan suatu penilaian yang tidak adil, mereka memperkenalkan diri, sesungguhnya mereka tidak pernah melakukan hukum Taurat. Musa mengajar Taurat, mengajarkan moral pada mereka satu perintah demi satu perintah. Tetapi tetap saja mereka tidak mungkin menjalankan melainkan menjadikan perintah itu menjadi patokan-patokan untuk diri dan menyerang orang lain. Sebenarnya Taurat adalah penghakiman Allah terhadap manusia yang berdosa karena Taurat mencerminkan kesucian, kebajikan, keadilan Kristus. Taurat menyatakan kesucian Allah, Taurat menyatakan kebajikan Allah. Ketika ketiga hal ini dinyatakan Allah kepada manusia dengan sendirinya manusia ditunjukkan oleh Allah sebagai yang berhutang suci kepada Allah, yang berhutang adil kepada Allah, yang berhutang kebajikan kepada Allah. Di hadapan Taurat barulah kita mengetahui bahwa kita kurang suci, kurang adil, kurang baik. Seharusnya Taurat menjadi rontgen, menjadi x-ray yang menunjukkan segala kesalahan kita, yang membawa kita pada pertobatan. Tetapi orang Israel dengan Taurat tidak dihakimi tetapi mereka memakai Taurat untuk menghakimi Yesus Kristus. Tetapi Yesus berkata, “Bukankah Musa telah memberikan Taurat kepadamu tetapi tidak ada satupun di antara kamu yang melakukan Taurat. Bukan saja demikian, mengapa engkau mau membunuh Aku?”

Pada waktu pembongkaran total oleh Kristus, sudah tuntas mereka mencetuskan kalimat yang menyatakan sifat mereka yang sudah diutarakan oleh Yesus Kristus. Apa jawaban mereka? Engkau seorang yang kerasukan setan, siapa yang mau membunuh Engkau? Maksudnya, “Nilaimu sudah begitu rendah sampai hanya setan yang mau Engkau, saya tidak mau Engkau. Engkau seorang yang kerasukan setan, siapa yang ingin membunuh Engkau?” Pertama, mereka tidak mengenal Yesus. Kedua, mereka mengintegrasikan bukan Yesus sebagai Kristus tetapi mereka mengintegrasikan Yesus dengan setan. Agama bisa membawa manusia pada tahap yang demikian menakutkan. Ketiga, mereka menurunkan Kristus ke nilai yang serendah-rendahnya sampai dibunuhpun tidak ada layaknya.


Dalam filsafat Kieerkegard dikatakan, “Bila kita melawan seseorang karena kita mengetahui orang itu terlalu penting sehingga perlu kita lawan.” Ini filsafat, dengar baik-baik. Tidak ada orang melawan hal yang tidak ada nilainya. Anjing menggonggong sebenarnya bukan karena ia berani, tetapi karena merasa terancam dengan kehadiran lawan. Maka ia mengonggong untuk membuat lawan menghindar. Orang tidak akan melawan yang kecil-kecil, rasanya sepele. Orang tidak akan menggubris adanya dia atau tidak. Tidak ada sangkut paut dengan kita, itu adalah kestabilan. Tetapi kalau ada orang yang mengancam kita sampai kita tidak bisa tidur, paling benci dia, paling memikirkan dia. Orang yang kita benci bisa kita pikirkan siang dan malam. Bahasa Tionghoa mengatakan, “Pu Khong Thai Thien.” Artinya tidak rela sama-sama di bawah atap langit. Kalau ada saya tidak ada dia, kalau ada dia tidak ada saya, tetapi lebih baik tidak ada dia daripada tidak ada saya. Mengapa ini terjadi? Karena kesempitan pikiran kita. Mereka menurunkan Yesus ke nilai yang serendah-rendahnya sampai tidak layak untuk dibunuh. Kalau dibunuhpun bukan berarti karena Dia gila. “Engkau yang dirasuk setan tidak patut untuk dibunuh.” Kamipun tidak mau seenaknya menjadikan Engkau seorang martir. Tetapi benarkan orang Yahudi yang mengatakan hal ini tidak mau membunuh Yesus? Salah, karena sebelumnya Yesus mengatakan, “Mengapa engkau berusaha membunuh Aku?” Usaha mereka telah diketahui oleh semua orang, kalau tidak percaya mari kita membaca ayat 20, 25. Orang banyak itu menjawab, “Engkau kerasukan setan, siapakah yang berusaha membunuh Engkau?” Ayat 25, ‘Beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh?” Coba lihat, semua orang di Yerusalem tahu Yesus hendak dibunuh. Karena semua musyawarah yang paling tersembunyi bisa dibongkar. Jangan kira kita hebat dalam menyimpan rahasia.

Tidak ada satupun rahasia yang tidak terbongkar. Orang yang menganggap diri pintar, dia sebetulnya kurang pintar. Karena mereka tidak tahu segala kepintaran mereka telah dimiliki oleh orang lain. Mereka bermusyawarah secara rahasia sekali untuk membunuh Yesus dan mereka mengira Yesus tidak tahu. Waktu Yesus mengatakan hal ini mereka membantah tetapi orang lain mengatakan, “Ini orang yang hendak dibunuh, mengapa masih berkhotbah begitu leluasa di Bait Allah lagi?” Saudara baca baik-baik ayat ini, semua kerusakan agama dipaparkan di sini. Yang hendak membunuh Yesus bukanlah orang-orang biasa. Yang hendak membunuh yesus adalah pemimpin-pemimpin yang melihat ancaman Yesus atas diri mereka; sehingga mereka sekarang tidak lagi bisa hidup dengan tenteram. Mereka gelisah dan berusaha mencari jalan untuk menghabiskan Yesus, untuk memusnahkan Dia supaya mereka bisa tetap berada di dalam kewibawaan yang palsu itu. Dan Yesus mengatakan, “Orang lain tidak tahu tetapi saya tahu, kamu belum pernah menjalankan Taurat.”


Kedua, mereka berusaha menangkap Dia. Kalau telah mempunyai pikiran untuk membunuh Yesus, maka sekarang bertindak sesuai apa yang dikatakan oleh hati dan pikiran, diusahakan dalam tangan dan tindakan. Segala tindakan yang kita lakukan sebenarnya berasal dari pikiran kita sendiri. Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Peliharalah hatimu lebih daripada segala sesuatu, karena akibat seluruh hidupmu berasal dari pada jiwamu, dari pikiranmu. Peliharalah hatimu lebih daripada segala sesuatu.” Banyak orang ketakutan pada maling, kunci pintunya puluhan dan memakai satpam. Bagaimana bisa mempunyai keamanan? Jangan kira tertutup itu aman. Menjaga rumah dan terkunci dengan baik, tidak terlalu penting, yang lebih penting jaga hatimu supaya tidak dimasuki maling hati. Pintar jaga rumah tetapi tidak pintar jaga pikiran, itu adalah bodoh. Peliharalah hatimu lebih dari pada segala sesuatu karena hatimu ada kemungkinan diracuni, diberikan kuman dari setan untuk menjadi rusak dan ragi merusak seluruh hidupmu. Puji Tuhan! Jika seseorang mempunyai pengalaman yang banyak, tetapi hatinya polos seperti anak kecil. Jarang kita menemukan orang yang demikian, biasanya sebelum kita dewasa, hati yang bikin semua siasat yang rusak sudah lebih cepat berkembang dan dewasa. Jadilah orang yang tulus dengan pengalaman yang banyak. Sekompleks mungkin di otak, sepolos mungkin di jantung, sedingin mungkin di otak, sepanas mungkin di hati. Makin banyak pengalaman, makin polos. Makin banyak pengetahuan makin lurus. Tetapi ada orang baru belajar sedikit sudah rasanya hebat sekali, baru tahu sedikit sudah berliku-liku hatinya. Sekarang mereka datang pada Yesus hendak menangkap Dia. Tindakan berasal dari pikiran yang tidak bisa mereka tutup-tutupi. Karena tindakan itu membocorkan pikiran. Bagaimanapun pintarnya kita menyimpan isi hati, kita akan dijual oleh tindakan kita yang tidak beres. Karena tindakan merupakan satu ekspresi dari mental kita. Mereka menyuruh penjaga-penjaga Bait Allah, penjaga gereja, bukan untuk menjaga gereja tetapi untuk menangkap Yesus. Ini semua fungsi yang tidak beres. Apakah fungsi dan posisimu telah cocok? Namanya pendeta, faktanya penderita, namanya pendeta faktanya pendusta. Kalau kita mempunyai nama dan posisi tetapi berbeda dengan apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, maka kita mempermalukan nama Tuhan. Kadang-kadang kita melihat hal ini terjadi dalam pikiran kita masing-masing. Di sini kita melihat mereka menangkap Yesus melalui penjaga.

Ketiga, kita melihat orang-orang ini yang hendak menangkap Yesus, mereka mempunyai satu pengalaman yang luar biasa. Di sini ada satu ayat yang lain dengan tempat yang lain yaitu, “mereka hendak menangkap Dia tetapi waktuNya belum sampai.” Di sini bukan Yesus yang melarikan diri dari mereka melainkan waktuNya belum sampai. Kalau waktuNya telah sampai, Dia tidak menyembunyikan diri. Kita melihat pasal enam, Dia mengundurkan diri sekarang Dia tampil di depan mereka secara terang-terangan di hadapan orang banyak. Ini membuktikan satu kalimat dari mulut Yesus, “Jikalau bukan Aku sendiri yang menyerahkan hidupKu, tidak seorangpun berhak mengambil hidupKu. Jikalau belum waktunya tidak seorangpun dapat merugikan Aku.” Itulah sebab pada waktu Yesus menyembunyikan diri ada waktunya. Juga pada waktu Ia menyatakan diri di hadapan umum ada waktu tertentu. Yesus secara terbuka dan berani di hadapan umum di Yerusalem.

Pada waktu mereka menangkap Dia dengan membawa rantai-rantai dan alat-alat penangkap, di tengah orang-orang yang mendengarkan kotbah, sebelum menangkap terpaksa mendengar dulu kotbahNya. Waktu dengar kotbah, tangan yang hendak menangkap Dia menjadi gemetar. Sering terjadi hal seperti demikian, gereja diawasi oleh seluruh dunia. Gereja diincar-incar oleh orang-orang yang melawan Tuhan. Tetapi hamba Tuhan yang sejati, Gereja yang sejati, Firman yang sejati tidak takut dilihat dan didengar. Melainkan mereka yang mendengar akan merubah pengalaman mereka sendiri.

Satu hari pada waktu seorang datang kepada John Wesley, dengan tangisan berkata, “Aku menceritakan satu hal yang belum pernah aku beritahu padamu.” Satu hari dia naik kuda sesudah berkotbah dari satu kota ke kota yang lain. Di atas kuda dia bernyanyi satu lagu, lagu yang dinyanyikan adalah “Tuhan adalah topi di kepalaku yang melindungi aku dari panah-panah, Tuhan adalah perisaiku yang memelihara aku dari musuh.” Waktu lagu itu dinyanyikan, apa yang terjadi? Orang yang membenci kotbah dari John Wesley sedang membidikan panahnya ke arah John Wesley. Pada waktu panah itu mau ditarik, sudah hampir dilepas orang itu mendengar syair lagu, “Panah-panah musuh aku tidak takut, karena Engkau menjadi perisaiku.” Orang yang hendak memanah John Wesley menjadi terkejut. Akhirnya yang mau memanah itu menjadi gemetar dan panah itu tidak jadi dipanahkan. Ini kebetulan atau Roh Kudus bekerja? Jadi dia yang ragu-ragu, akhirnya tidak berani lagi untuk melakukan niatnya itu dan pulang. Satu kali ia mendapat kesempatan mendengar kotbah John Wesley. Sesudah mendengar kotbah, dia tahu bahwa John Wesley diurapi oleh Roh Kudus, dia minta ampun pada Tuhan dan datang pada John Wesley menceritakan hal ini.

Pada waktu mereka datang hendak menangkap Yesus Kristus, mereka telah membawa rantai dan alat-alat lainnya. Tetapi sebelum menangkap mendengar kotbah dulu. Sementara mendengar, suatu pengalaman baru muncul. Di sini kita membaca bahwa Yesus tidak pernah memakai kalimat yang keras untuk berdebat membela diri. Dia hanya mengatakan kalimat yang lembut. Tetapi kalimat-kalimat yang lembut mempunyai ketajaman yang luar biasa, “Bukankah Musa telah memberikan Taurat kepadamu? Tetapi diantara kamu tidak ada satu orangpun yang menjalankan.” Ini adalah fakta yang 100% benar. CaraNya berkata dan isi perkataanNya mengakibatkan mereka pulang. Waktu mereka pulang, ditanya, “Dimana Dia? Sudah ditangkap? Bukankah aku memberikan uang menyewa engkau untuk menangkap Yesus? Hari ini aku menjanjikan lima juta, tangkap Yesus ke sini, dimana Dia?” “Dia di situ.” “Kenapa tidak dibawa?” “Tidak pernah ada orang mengatakan perkataan seperti apa yang Ia katakan.” Heran sekali saudara-saudara, ini merupakan satu penilaian yang adil.


Dalam bagian Alkitab ini, penilaian yang tidak adil muncul dari pemimpin agama yang tidak mau bertobat. Tetapi dalam bagian in muncul juga beberapa kali penilaian yang adil. Di antaranya adalah orang yang disuruh menangkap Yesus Kristus. Akhirnya mereka lupa uang yang dijanjikan, lupa berapa banyak keuntungan yang mungkin mereka terima. Hanya ingat “Saya belum pernah mendengarkan perkataan-perkataan seperti ini dari mulut manusia, tidak mungkin ada manusia berkata kalimat seperti Dia. Inilah Dia yang tidak bisa saya tangkap.” Mereka takluk kepada Kristus. Lalu jawaban dari pemimpin-pemimpin agama, “Kamu yang tidak mengerti Taurat patutlah dikutuk.” Coba lihat pemimpin-pemimpin agama mempunyai mulut yang begitu jelek. Mengatakan Yesus dirasuk setan, mengatakan orang yang tidak menangkap Yesus patut dikutuk, mulut mereka penuh dengan kejahatan. Mereka tidak sadar bahwa bukan hanya mereka yang belajar Taurat. “Saya ahli theologi, saya mengetahui PL, saya mempunyai penyelidikan lebih daripada engkau, engkau yang belum belajar, belum mengerti, engkau patut terkutuk. Engkau tidak mengerti Kristus, saya yang mengerti dan Kristus bukan Yesus dan Yesus bukan Kristus.

Setelah terjadi semua kejadian ini, timbullah satu bagian terakhir yang indah sekali, menyinggung seorang yang bernama Nikodemus. Pasal tiga muncul Nikodemus, pasal tujuh muncul Nikodemus, dan pasal dua puluh satu muncul lagi Nikodemus. Satu kali lagi muncul tidak di Alkitab tetapi muncul dalam sejarah orang Yahudi. Saya minta saudara perhatikan, seorang pemimpin yang terjepit dalam kesulitan tetapi mempunyai hati nurani yang bersih. Saya kadang-kadang sedih melihat bukan orang Kristen tetapi mempunyai hati yang bersih dan adil, mau menilai dengan baik. Kadang-kadang saya melihat pemimpin Kekristenan yang hatinya tidak bersih. Saya tidak bermaksud mengatakan hati yang bersih pasti diselamatkan. ORANG DISELAMATKAN HARUS MELALUI YESUS KRISTUS, DENGAN DARAH KEMATIAN DAN KEBANGKITANNYA.


Perhatikan Nikodemus, malam-malam datang kepada Yesus, lalu mengatakan dari hatinya yang jujur, “Kami mengetahui mujizat yang Engkau lakukan, kalau bukan disertai oleh Allah, tidak mungkin Engkau melakukan itu.” Yesus tidak menjawab panjang-panjang tetapi hanya berkata, “Engkau harus diperanakkan pula, Manusia tanpa diperanakkan oleh Roh Kudus tidak mungkin masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan ANAK MANUSIA akan ditinggikan seperti Musa meninggikan ular.” Nikodemus mendengar dan selesai.

Semalam itu dia pulang, dia mulai berpikir tentang siapakah Yesus, apa arti perkataanNya. Waktu dia melihat rekan-rekan kerjanya, sama-sama menjadi pemimpin agama tetapi tidak beres, yang membenci Yesus dan mengutuk orang lain, lalu ia berdiri di tengah-tengah mereka berkata, “Apakah Taurat kita menghukum seseorang sebelum mendengar kesaksian orang itu sendiri?” Ini kalimat yang adil sekali. Berapa banyak anak muda yang belajar hukum, celakalah kalau telah belajar hukum tetapi tidak melakukan keadilan. Berbahagialah kita kalau ahli hukum betul-betul menjalankan keadilan Tuhan.

Saya bertemu dengan dua anak perempuan yang mempunyai ayah seorang pendeta dan meninggal karena sakit kanker. Dia betul-betul menjadi pendeta yang baik. Waktu saya tanya kepada dua anak piatu itu, “Mau jadi apa engkau?” Anak yang kecil mengatakan, “Saya mau belajar hukum. Saya mau jadi pengacara.” Saya tanya, “Apa alasanmu? Apa motivasimu belajar hukum?” “Pak Stephen, saya melihat dunia ini banyak hal yang tidak adil. Saya melihat banyak orang miskin ditindas, saya melihat banyak orang tidak mempunyai kesempatan mengeluarkan pendapat dalam jiwa mereka yang tertekan, dan saya melihat banyak orang tidak ditolong dengan seharusnya. Dari ayah yang selalu mengatakan keadilan Allah, saya mengabdikan diri untuk menjalankan keadilan dalam masyarakat.” Saya berkata pada dia, “Engkau sangat berani tetapi jika engkau berada di arus yang berat, di antara mayoritas yang menindas, sanggupkah engkau?” Ia menjawab dengan kalimat yang indah, “Tuhan akan menolong saya, kalau saya harus mati buat Tuhan, saya akan memperjuangkan keadilan masyarakat.” Anak perempuan ini sekarang mungkin telah lulus dan saya berdoa bagi dia. Di tengah-tengah pengacara-pengacara, 90% atau lebih mungkin bekerja untuk kantong mereka. Mungkin di tengah kedokteran, dokter-dokter juga mengerjakan sesuatu demi interest, profesi, uang, dan sebagainya.

Jikalau semua orang melawan Yesus, di sekitarmu, di kantormu, semua melawan Yesus, semua tidak setuju dengan pengajaran dari Yesus, dan saudara berada di tengah-tengah mereka sebagai orang minoritas, saya mau bertanya bagaimana saudara bersaksi? Nikodemus bertemu dengan Yesus secara pribadi, mendapat informasi yang asli dan otoritatif itu, ia kembali lalu bersaksi bagi Kristus dan berdiri, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum mendengarkan kesaksian dia dulu?” Pertanyaannya dijawab oleh mayoritas yang tidak beres, mereka menjawab, “Engkau juga datang dari Galilea. Apakah Nikodemus datang dari Galilea? Kalau engkau datang dari Galilea maka kita kebobolan. Baru kita tahu ada orang Galilea di sini. Sebenarnya orang Galilea tidak boleh masuk dalam kelompok kita karena kita mempunyai kewibawaan tersendiri. Engkau dari Galilea maka engkau membela orang Galilea. Jika engkau selidiki dengan baik-baik maka tidak ada nabi yang berasal dari Galilea, stop tidak usah berbicara lagi.” Saya kira ada orang yang tidak lagi bisa diajak bicara dengan kebenaran, kalau telah ada keeksklusifan, suatu ketertutupan dalam sistem pikiran mereka sendiri, mereka mencetuskan suatu kemarahan. Setiap kali waktu membela diri, mereka menyerang orang lain. Setiap kali menyerang orang lain, mereka memperkenalkan kerusakan mereka sendiri. Mereka mengatakan, “Kami tidak suka engkau membela orang Galilea.” Dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah orang yang belajar Alkitab, tidak ada nabi yang keluar dari Galilea, itu sebab kalau keluar dari Galilea itu bukan nabi.

Tuhan adalah Tuhan yang hidup, Tuhan mengerjakan segala sesuatu yang baru, sehingga mereka tidak lagi bisa melihat dengan jelas. Sesudah pasal ketujuh kita akan melihat Kristus semakin dalam kesulitan, kesulitan dan terakhir, Dia harus dipaku di atas kayu salib. Saya harus
menyimpulkan kotbah ini dengan kata-kata ini: Allah Bapa sudah menetapkan untuk meremukkan ANAK yang tunggal bagi umat manusia. Dan Kristus harus mati, bukan karena suatu kebetulan tetapi karena dosa-dosa kita yang memerlukan seorang Juruselamat yang rela menyerahkan dirinya bagi umat manusia. Sehingga waktu Yesus diberikan bagi dunia, itu sudah merupakan satu pertemuan yang tidak mungkin dihindarkan yang mengakibatkan pengorbanan dari Sang Suci, Sang Kudus itu. Sehingga darahNya boleh dicurahkan bagi kita yang berdosa. Tetapi saya mau tanya, apakah engkau masih meminta Tuhan memberikan hati yang polos, motivasi yang jujur dan pikiran yang rela dibuka oleh Tuhan untuk mengerti Yesus dengan penilaian yang adil? Judul dari pada kotbah ini, Penilaian Yang Adil terhadap Anak Allah Yang Tunggal. Maukah saudara berdoa dan berkata, “Tuhan di sini saya, sucikan hatiku, sucikan pikiranku supaya saya bisa melihat dengan jelas siapa Yesus Kristus itu.” Amin.

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong
Sumber : https://www.fica.org/ficalist/fica/teach/stong2
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube