Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Yohanes 6:22-35

Orang banyak mencari Yesus

Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid- muridNya, dan bahwa murid-muridNya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-muridNya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Roti hidup

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepadaNya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya.” Lalu kata mereka kepadaNya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Maka kata mereka kepadaNya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepadaMu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberiNya makan roti dari sorga.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan BapaKu yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepadaNya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.

Dalam bagian ini kita akan melihat bahwa orang yang sudah menerima anugerah Tuhan namun tetap tidak mengerti Tuhan pemberi anugerah. Orang-orang yang sudah mendapat roti dan ikan sekarang berusaha mendapatkan Tuhan Yesus. Mereka tidak perduli mengenai mujizat yang mungkin terjadi. Tujuan mereka adalah mencari Tuhan Yesus. Ini merupakan satu gagasan yang menjadi motivasi dari agama, yaitu aku (manusia) mencari Allah. Tetapi sebenarnya manusia tidak mencari Allah di dalam agama, agama hanya menjadi sarana dari usaha manusia untuk melarikan diri dari murka Tuhan. Agama membuat manusia membius diri dengan kondisi seolah-olah mencari Allah.

Orang-orang ini menyeberang sampai ke Kapernaum dan akhirnya menemukan Tuhan Yesus. “Kami mencari Engkau. Bila orang lain mencari dunia, kami datan mencari Engkau, ya Rabi. Kapankah Engkau datang kepada kami?” Kalimat mereka terlihat begitu sopan dan beretika, namun bila diperhatikan mereka telah melakukan kesalahan yang nyata sekali, yaitu salah memanggil Tuhan Yesus. Setelah menikmati anugerah, makan roti melalui mujizat yang besar, pengenalan mereka kepada Tuhan Yesus hanya sebagai rabi. Konsep mereka belum berubah, masih konsep kedagingan yang belum diperanakkan oleh Roh Kudus (Yohanes 3:6). Tidak peduli bagaimana engkau membius dan menunjukkan kebaikan diri melalui agama, namun dari kalimat yang kau ucapkan akan menunjukkan engkau dekat atau jauh dari Tuhan.

Jika orang-orang ini belum mengenal Tuhan Yesus, lalu mengapa mereka mencari Tuhan Yesus? Apa yang dicari dari Tuhan Yesus? Setelah mendapatkan pertanyaan yang begitu indah, apakah Tuhan Yesus puas? Di tengah dunia yang begitu acuh, ternyata ada sekelompok orang yang begitu menghargaiNya. Namun kita perlu memperhatikan satu prinsip yaitu adanya perbedaan antara orang yang datang kepada Tuhan Yesus dengan orang yang diterima baik oleh Tuhan Yesus. Bukan karena engkau datang kepada Tuhan Yesus lalu Ia langsung mempercayakan diriNya kepadamu. Bandingkan dengan pasal 2 bagian akhir. Banyak orang melihat mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, tetapi Tuhan Yesus tidak mempercayakan diri kepada mereka yang percaya kepadaNya. Dalam dunia banyak orang mengaku bahwa ia adalah pengikut Kristus yang beriman, tetapi hanya Tuhan Yesus yang tahu apa yang ada dalam hati kita masing-masing; Motivasi kita mengikut Dia.

Pertanyaan yang indah dari orang-orang banyak itu dijawab dengan begitu keras oleh Tuhan Yesus. Mengapa kelihatannya Tuhan Yesus begitu tidak berperikemanusiaan dan tidak sopan? Dengan suatu penekanan, “Dengan sesungguhnya, (bahkan dalam bahasa Inggris lebih ditekankan – verily, verily) Aku berkata kepadamu, Engkau datang kepadaKu bukan karena tanda ajaib dan mujizat, tetapi karena engkau sudah makan roti dan sudah kenyang.” Jawaban ini sulit diterima oleh manusia. Namun coba pikir, bila Allah tidak berhak memberikan jawaban seperti ini, lalu siapa lagi yang berhak? Jika Allah tidak berhak menegur dosa manusia, siapa lagi yang berhak melakukannya? Seorang hakim harus memberikan vonis kepada orang yang bersalah, walau banyak orang menangis dan tidak bisa menerima keputusan itu, keputusan itu mutlak dijalankan karena ia mempunyai hak. Jika seorang hakim yang juga orang berdosa mempunyai hak menunjukkan kesalahan seseorang, apakah Tuhan Allah, Pencipta manusia tidak berhak berkata benar menurut hukum yang lebih tinggi dari hukum manusia?

Kalimat Tuhan Yesus sungguh membuat malu orang-orang itu. Perut manusia perlu diisi, setelah itu jangan dirobek. Jika kulit perut perlu dipelihara, apalagi kulit muka yang lebih tipis dan halus. Manusia mau menerima segala keuntungan dan berkat dari Tuhan tetapi tidak mau kulitnya dirobek, tetap ingin kemuliaan. Banyak pembesar dan pegawai yang tidak jujur, melakukan korupsi tetapi tidak mau dibongkar rahasianya. Banyak orang mencari keuntungan dengan jalan tidak jujur tetapi masih mau menjaga kulit muka agar tetap dipermuliakan di hadapan umum. Namun prinsip Kekristenan adalah TANPA PERTOBATAN YANG RELA MEMBONGKAR DIRIMU, TIDAK ADA PENGAMPUNAN DOSA.

Ketika Tuhan datang mencari Adam yang sudah berdosa, ia dalam keadaan terbungkus dedaunan. Tuhan memanggil agar ia keluar dari tempat persembunyiannya. Adam harus memilih antara memakai pakaian yang akan nantinya atau menanggalkan pakaian yang akan layu nantinya atau menanggalkan pakaian itu dan memakai yang disediakan Tuhan. Jika Adam
memilih pakaian dedaunan itu untuk menutup diri maka ia tidak akan mengalami suatu pemberesan yang kekal. Daun itu hijau di atas pohon tetapi tidak akan terus hijau setelah diturunkan. Setebal apapun daun itu yang kau rasa bisa menutupi dirimu, setelah daun ciptaan Tuhan itu akan layu dan kenyataan tentang dirimu akan terlihat orang lain. Jalan satu-satunya adalah hanya dengan menanggalkan daun itu. Engkau akan membantah, jika ditanggalkan itu akan membuat saya tidak sopan, tidak bermoral, tidak beragama, dan saya akan lebih malu. Tuhan berkata, “Tidak ada jalan lain. Engkau harus memakai kulit binatang yang sudah mati menggantikan engkau. Ini suatu lambang keselamatan.” Tanggalkan perbuatan baikmu, kegiatan agamamu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Jalan satu-satunya adalah telanjangi, bongkar sampai tuntas segala kerusakan yang tidak mungkin dapat kita bereskan sendiri. Kristianisasi (memberikan kebudayaan Kristen kepada suatu bangsa) tidak bisa menyelamatkan. Tetapi evangelisasi (penginjilan) yang menyelamatkan. Penginjilan jauh lebih penting daripada Kristianisasi. Kalau kita memberikan uang kepada seseorang dan orang itu berkata, “Saya mau jadi orang Kristen,” itu percuma. Kristianisasi hanya membawa kebudayaan pada manusia untuk menutupi dosa yang belum dibereskan. Tetapi penginjilan membawa manusia ditelanjangi di hadapan Tuhan. Tidak ada cara lain agar manusia bisa diselamatkan kecuali menerima Tuhan Yesus Kristus. Dosa harus ditelanjangi, karena dosa telah begitu rusak. Tuhan Yesus tidak pernah memakai cara yang gampang untuk mendapatkan pengikut- pengikutNya, yang dapat datang tanpa pertobatan, tanpa memikul salib dan tanpa membayar harga untuk mendapatkan berkat.

Orang-orang itu datang bukan karena mujizat, tetapi karena kenyang. Datang karena mujizat berarti melihat bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang membuat tanda ilahi. Tetapi mereka datang karena kenyang berarti belum melihat tanda, hanya melihat manfaatnya untuk diri sendiri. Jelas berbeda antara orang yang datang karena Tuhan Yesus melakukan mujizat dengan mereka yang datang karena mujizat itu berfaedah bagi mereka. Pengertian yang kedua hanya membukakan keegoisan dalam diri yang masih merajalela, di mana si aku masih bertakhta. Tetapi orang yang bisa melihat mujizat itu dan mengerti yang melakukan adalah Allah, mengakui Tuhan Yesus yang bertakhta di dalam hati. Orang yang secara obyektif mengaku Tuhan Yesus di atas takhta tetapi datang kepadaNya hanya untuk mendapatkan manfaat saja berarti sebenarnya dia masih berusaha di takhtanya.

Tuhan Yesus tidak menahan berkat. Orang yang dikenyangkan itu memang karena Tuhan yang memberi roti dan melakukan mujizat. Tuhan itu Rahmani, penuh rahmat dan anugerah, seperti orang tua yang selalu memberi kecukupan kepada anak-anaknya. Tetapi orang tua tidak ingin anaknya datang hanya karena ingin mendapatkan sesuatu. Suatu gambaran juga mengenai relasi Tuhan dengan kita. Seorang anak datang kepada bapanya hanya karena mau sesuatu berarti kurang ajar, walau anak itu datang dengan senyuman. Tuhan sangat mengerti motivasi manusia. Motivasi yang rusak merupakan sesuatu hal. Berarti manusia semakin lari jauh dari Allah, yang merupakan pusat alam semesta dan hidup manusia. Tuhan Yesus yang menjadi penerang menyatakan segala kesalahan manusia, Dia juga akan menyembuhkan segala borok itu. Ia yang memukul adalah juga Tuhan yang membalut. Tuhan yang menyatakan sakit, juga adalah Tuhan yang menyembuhkan sakit. Itulah Tuhan dan cintaNya. Jika cintaNya yang penuh janji itu tidak memberi tahu penyakitmu, itu bukan cinta yang sejati. Cinta yang bisa menyatakan penyakit tanpa memberi obat, itu juga bukan cinta sejati.

Sekarang jika Firman Tuhan sudah dinyatakan, maukah manusia mendengarkan dan menghargainya? Seringkali manusia mencari jawaban yang sebenarnya bukan jawaban yang dimaui, tetapi suatu tunjangan untuk pendapat yang ada dalam hatinya. Jika saudara datang kepada Tuhan, harus ada kesediaan mendengar Firman Tuhan yang keras, menerima jawaban dari Yang Berorotoritas Tertinggi tanpa tawar menawar, melainkan dengan ketaatan.

Setelah menunjukkan kesalahan mereka, Tuhan Yesus berkata, “Bekerjalah bukan untuk mendapat makanan yang bisa binasa, melainkan untuk makanan yang bisa bertahan sampai pada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu, sebab Dialah yang disahkan oleh Allah Bapa dengan meteraiNya. (ayat 27)” Sekarang Tuhan Yesus memberikan yang seharusnya menjadi sasaran. “Hai manusia, Aku tahu engkau bisa sakit dan memerlukan kesembuhan. Bisa lapar dan membutuhkan roti, bisa capai dan memerlukan kekuatan. Tetapi ingat bahwa selain tubuh masih ada jiwa. Selain terus memikirkan aspek jasmani, pikirkan juga kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani tidak pernah terpuaskan karena rohanimu masih lapar. Segala kecukupan makanan tidak bisa kau bawa dalam kekekalan. Karena itu berusahalah bukan hanya untuk makanan yang bersifat sementara tetapi untuk makanan kekal yang akan diberikan oleh Anak Manusia.”

Di sini Tuhan Yesus menyebut dengan “Anak Manusia bukan Anak Allah, dalam bentuk tunggal. Satu-satunya Manusia yang diurapi Allah, yang dimeteraikan Allah, di antara seluruh umat manusia. Dialah yang akan memberikan hidup yang kekal kepadamu.

Jika perut lapar, langsung cepat mencari makan. Tetapi jika rohani yang lapar, semakin didiamkan saja. Suatu ketidakseimbangan yang terjadi setelah kejatuhan manusia. Di sini 2 prinsip yang kita dapatkan setelah kejatuhan adalah (1) Sasaran agama jadi salah (2) Ketidakseimbangan yang muncul.

Manusia yang kaya selalu ingin bertambah kaya. Sudah memiliki mobil bagus, ingin mencari yang lebih. Uang yang banyak, ingin terus bertambah banyak. Namun dalam bidang rohani, orang selalu merasa sudah cukup kaya. Selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih jelek, dan tidak merasa perlu untuk lebih baik. Manusia selalu merasa cukup dalam hal rohani tetapi selalu tidak puas dalam soal jasmani.

Jika engkau menuntut, mengejar, membuang waktu, bakat, intelekmu hanya untuk sesuatu yang akan lewat maka engkau bukan orang yang bijaksana. Jika engkau menuntut sesuatu yang bernilai kekal, yang diingat oleh Tuhan, mendatangkan berkat bagi orang yang jangka waktu yang panjang bahkan sampai hidup yang kekal, maka engkau adalah orang yang bijaksana. Itu bukan berarti meninggalkan semua pekerjaan di kantor dan semua menjadi pendeta. Motivasi Tuhan Yesus di sini adalah untuk mengalihkan perhatian orang itu bahwa makanan dan roti hanya menghidupkan daging tetapi hal rohani yang menghidupkan. Bila engkau mempunyai makanan jasmani tetapi tidak mempunyai makanan rohani, bagaimana bisa hidup di hadapan Allah? Engkau hanya bisa hidup di hadapan manusia hanya beberapa puluh tahun saja. Tetapi setelah itu bagaimana engkau bisa hidup secara rohani dalam kekekalan?

Setelah orang banyak itu mendengar jawaban keras dari Tuhan Yesus mereka mulai mengajak debat mengenai apa itu pekerjaan yang dikehendaki Allah untuk mendapat hidup yang kekal. Inilah konsep agama setelah manusia jatuh dalam dosa, selalu bertanya, apa yang bisa saya lakukan untuk mendapat keselamatan? Di dalam Alkitab tercatat 4 orang yang datang kepada Tuhan Yesus dan menanyakan hal ini. “Apa yang harus saya perbuat untuk mendapat hidup yang kekal?” Konsep manusia adalah untuk mendapat sesuatu maka saya harus membayar. Untuk mendapat anugerah harus berbuat baik, untuk diselamatkan harus beramal. Ini adalah konsep universal yang paling salah di dalam agama. Di dalam Kekristenan menegaskan bukan dengan perbuatan baikmu engkau diselamatkan, tetapi karena Kristus yang sudah mati bagimu. Anugerah Allah lebih besar daripada kewajibanmu berbuat baik. Jangan salah mengerti bahwa ini berarti orang Kristen walau berbuat jahat pasti diselamatkan. Maksud di sini adalah bahwa perbuatan baikmu tidak cukup untuk menggantikan anugerah. Anugerah Tuhanlah yang memberimu kekuatan untuk bisa berbuat baik.

Ketika mereka bertanya, “Perbuatan-perbuatan apa yang harus kami perbuat?” Yang mereka pakai adalah bentuk jamak dari perbuatan, tetapi Tuhan Yesus menjawab dengan bentuk tunggal, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendakalah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (ayat 29). Satu pekerjaan saja yang harus mereka lakukan, yaitu percaya Tuhan Yesus adalah Anak Allah.

Di sini Tuhan Yesus mengoreksi konsep mereka yang salah. Bukan pekerjaan-pekerjaanmu yang menyebabkan engkau diselamatkan, tetapi satu hal: Berhentilah berusahan dan menganggap dirimu cukup tetapi sekarang datang kepada Tuhan Yesus dan percayalah kepadaNya. Berlututlah dan datang dan serahkan diri dengan rendah hati, menerima Tuhan Yesus sebagai Allah di dalam dirimu, itulah yang menyelematkanmu. Berarti iman bukan kelakuan. Kelakuan itu tidak melayakkan kita menerima anugerah. Kelakuan itu hanya kewajiban, tetapi iman adalah kunci untuk mendapatkan anugerah Tuhan.

Kalau iman bukan kelakuan, bukan berarti kelakuan itu tidak penting. Maksud di sini adalah kelakuan yang bagaimanapun baiknya tidak akan cukup tetapi iman itulah yang menjadikan kita diselamatkan. Bukan apa yang saya perbuat sebanyak mungkin membuat Tuhan berkenan untuk menyelamatkan saya. Itu anugerah.

Orang banyak itu melanjutkan usaha mereka dengan pertanyaan yang lebih membukakan siapa mereka itu sebenarnya. “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepadaMu?” Mereka menuntut mujizat untuk memberi keyakinan percaya mereka kepada Tuhan Yesus. Belum lama mereka melihat mujizat tetapi sekarang mereka menuntut suatu mujizat. Mereka sudah lupa menerima mujizat lima roti dan dua ikan dari Tuhan Yesus. Mereka terus menuntut, “Ingat, Musa menyelamatkan banyak orang karena ia menurunkan manna dari sorga, sehingga banyak orang yang mengikut dia. Sekarang jika Engkau ingin mendapatkan banyak pengikut, harus setiap hari mengadakan mujizat.” Konsep mereka mendapat anugerah harus melakukan pekerjaan, untuk percaya harus melihat mujizat. Inilah konsep yang keluar dari orang yang berdosa.

Meskipun mereka sudah menunjukkan kejelekan diri sendiri, konsep yang begitu bodoh dan dangkal, Tuhan Yesus tidak marah dan tetap melayani mereka. Tuhan Yesus terus memberikan pengertian kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan BapaKu yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia” (ayat 32,33). Roti yang sesungguhnya bukan manna melainkan diri Tuhan Yesus Kristus yang berinkarnasi ke dalam dunia, Firman yang menjadi daging.

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong
Sumber : https://www.fica.org/ficalist/fica/teach/stong


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube