Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

I Korintus 15

Kita bersyukur pada Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang hidup. Kita melihat dalam I Korintus 15 dengan panjang lebar Paulus memaparkan kebenaran bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang sudah bangkit. Bahkan tak ada satu agama yang besar di dalam dunia mempunyai konsep kebangkitan sebelum Yesus datang ke dalam dunia. Jangankan fakta, konsep pun tidak ada. Kebangkitan bukan dongeng atau mitos yang diketemukan oleh Kekristenan. Kebangkitan merupakan janji Allah kepada manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dan yang sudah diikat oleh kuasa kematian. Puji Tuhan!

Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati. Paulus berkata pada waktu orang-orang Korintus dilanda oleh semacam rasionalisme yang tidak bertanggung jawab. Mereka mengatakan, “Tidak mungkin ada orang yang mati bangkit kembali.” Maka Paulus berkata, “Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit, sia-sialah kepercayaanku. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit percumalah pemberitaan aku.” Di dalam kalimatnya Paulus menegaskan, betapa pentingnya keharusan orang Kristen percaya Yesus Kristus bangkit. Yesus Kristus bangkit bukan suatu kepercayaan yang dipaksakan karena perlu akan hal ini. Yesus Kristus bangkit bukan sesuatu mitos orang kafir yang dialihkan ke dalam Kekristenan. Yesus Kristus bangkit bukan satu kemauan manusia, yang menginginkan suatu penerobosan untuk mengalahkan kuasa kematian. Yesus Kristus bangkit merupakan rencana Allah sebelum dunia diciptakan.

Percaya kepada kebangkitan merupakan suatu sistem iman kepercayaan yang tidak ada di dalam agama yang tidak diwahyukan. Sistem keagamaan dan iman tentang kebangkitan merupakan suatu pewahyuan yang khusus dari Tuhan sendiri. Di luar Kekristenan hanya ada konsep sebagai wahyu yang samar- samar, yang kurang jelas pernah lewat dalam pikiran manusia. Hanya kebudayaan Mesir yang samar-samar mempunyai konsep kebangkitan secara wahyu umum ini. Karena mummi-mummi yang dibikin di Mesir, melambangkan suatu pengharapan bahwa setelah manusia mati tidak berarti habis. KONSEP IMMORTALITAS, THE CONCEPT OF IMMORTALITY IS VERY WELL EXPRESS IN THE MANIFACTURE OF THE MUMMI. Orang-orang Mesir setelah menemukan bahwa orang yang dikasihi itu meninggal, mencari obat-obat untuk mengawetkan tubuh yang sudah mati itu dengan puluhan kilo obat-obat yang berbau wangi yang bisa menghindarkan atau mencegah kerusakan dari tubuh manusia yang telah mengalami kerusakan itu, lalu dibungkus dengan kain yang begitu banyak.

Di tujuh museum yang penting di negara-negara maju terdapat satu atau dua mummi dari orang-orang Mesir. Ada yang sampai sekarang masih ada dan pada waktu diperiksa dengan rontgen maka ada kulit yang masih baik, karena orang Mesir mempunyai konsep bahwa manusia tidak hidup di dalam dunia hanya beberapa puluh tahun saja, setelah mati, mereka masih menantikan pada suatu hari ada kebangkitan. Kebudayaan Mesir merupakan kebudayaan yang agung sekali.

Kebudayaan Mesir telah menangkap sesuatu unsur yang tidak ada pada kebudayaan-kebudayaan lain. Di dalam pembagian jenis kebudayaan, Prof. Dr. Sorokin, seorang sosiolog yang besar, telah memberikan pemisahan dan pengklasifikasian dari kebudayaan. Dan bagi saya sendiri kebudayaan Mesir harus dipisahkan dari kebudayaan-kebudayaan yang lain.
Karena dalam kebudayaan Mesir telah dan saya katakan itu bukan muka Yesus, tetapi hasil imajinasi dari pelukis-pelukis itu saja. Saya kagum dengan motivasi mereka, berusaha mempertemukan sifat ilahi dengan sifat manusia, keadilan, dan kekerasan dengan cinta kasih dan kelembutan. Tidak mungkin Allah dan manusia bisa dipersatukan, tidak mungkin cinta kasih dan kelembutan dipertemukan dengan keadilan dan kekerasan. Tetapi yang tidak mungkin bertemu ini, kekekalan dengan kesementaraan, sejarah dengan supra sejarah, yang terbatas dengan Yang tidak terbatas. Di atas salib Kristus.

Bagi orang Kristen di salibNya terlihat kemuliaan Allah, yang menjadi kebanggaan. Karena orang Kristen mengerti dan melihat dengan iman suatu yang tidak pernah mungkin terjadi di luar Kristus di dalam kesengsaraanNya. Selama 32 tahun sebagai hamba Tuhan saya lebih banyak merenungkan tentang salib sehingga lebih dekat dengan Tuhan dan cinta salib melelehkan saya, mencairkan diri saya sehingga menjadi utusan Injil yang suka memberitakan salib. Saya berkotbah tentang salib pertama kali ketika saya masih berusia 17 tahun dan sampai sekarang tetap mempunyai motivasi yang sama.

Adakah satu tempat di mana tidak ada cinta kasih? “Ada, yaitu salib Kristus.” Adakah tempat dimana tidak ada terang? Dimanakah tempat yang sama sekali tidak ada hidup? Salib. Apa artinya? Di atas salib Kristus kita melihat cinta kasih Allah dan manusia tidak mungkin mencapai Dia. Oleh sebab itu Kristus adalah tempat yang vakum kasih. Di atas salib Kristus kita melihat cinta kasih Allah dan manusia tidak mungkin mencapai Dia. Oleh sebab itu salib Kristus adalah tempat yang vakum kasih. Di atas salib Kristus cinta Allah yang demikian besar kepada AnakNya harus ditahan, sehingga hanya murka yang tiba kepada Dia. Bila cinta tidak mungkin tiba kepada Dia. Bila cinta tidak mungkin tiba kepada Dia, hanya murka saja, sehingga hal yang tidak seharusnya terjadi, yaitu Oknum Pertama meninggalkan Oknum Kedua. Siapa bisa mengerti Oknum Pertama meninggalkan Oknum Kedua? Ini seharusnya tidak terjadi, tetapi ini sungguh-sungguh terjadi. Jika Oknum Pertama tidak pernah meninggalkan Oknum Kedua tidak ada kemungkinan kita diterima oleh Allah kembali. Karena tidak ada cinta Allah Bapa di dalam Allah Putra maka Yesus berteriak, “AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Di situ salib Kristus mengalami vakum kasih, mengalami kehampaan kasih. Satu-satunya tempat di mana cinta Allah tidak sampai, yaitu Salib Kristus. Siapa yang bisa mengerti apa yang ditanggung Kristus? Tuhan terlalu ajaib.

Mengapa kita katakan cinta kasih manusia juga tidak bisa sampai kepada Dia? Bukankah di bawah salib ada Maria, Yohanes, orang yang menangisi Yesus, dan mengasihi Dia? Mengapa cinta manusiapun tidak sampai kepada salib? Karena pada waktu cinta manusia yang simpati kepada Yesus mau datang kepada Yesus, lebih dahulu dosa mereka sudah sampai kepada Yesus, dosa mereka sudah ditimpakan kepada Yesus. Sehingga cinta dan simpati tidak bisa datang. Pada waktu dosa kita berada dalam diri Dia, murka Allah berada dalam diri Dia, di situ salib Kristus menjadi satu-satunya tempat hampa kasih.

Mengapa salib Kristus adalah satu-satunya tempat yang tidak ada terang? Karena pada saat itu segala hukum, politik kebudayaan dan filsafat hanya menyatakan kegelapan saja. Keadilan mau ditegakkan dari setiap jaman dan menegakkan kemakmuran, tetapi itu semua omong kosong. Tidak pernah terjadi keadilan yang mutlak di atas dunia ini. Bukan saja demikian. Keadilan yang diwakili oleh hukum sama sekali sudah menjadi lumpuh pada waktu Tuhan yang adil diadili oleh orang yang tidak adil dengan ketidakadilan. Cahaya kemuliaan manusia sudah lenyap. Cahaya hukum dan politik sudah tidak ada. Komplotan Pilatus dengan Herodes membuktikan politikus-politikus selalu berbicara hal yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Pada Yesus Kristus, kalau tidak pernah terjadi, dilahirkan melalui anak dara Maria, maka Yesus adalah seorang anak yang biasa, keturunan akibat dari persetubuhan antara seorang pria dan wanita. Jika Yesus Kristus sungguh-sungguh belum pernah terjadi mengalahkan pencobaan dari setan dan berdosa seperti saya dan saudara, cuma moral Dia yang lebih tinggi daripada kita. Jikalau Yesus Kristus belum pernah mati menggantikan kita, TO REPAY, TO SUBSTITUTE, maka kematianNya hanya menjadi seorang yang begitu hebat, yang begitu bermoral, yang begitu tinggi nilainya yang akhirnya mengorbankan diriNya agar menjadi contoh bagi engkau dan saya saja. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit dari antara orang mati, maka Yesus Kristus hanya seorang penipu dan belum pernah Dia mempunyai cukup kuasa untuk menyelamatkan engkau dan saya. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit dan naik ke sorga, tidak mungkin ada pengharapan kekal bagi engkau dan saya.

Jangan saudara mempersamakan semua agama, dan jangan mempersamakan agama-agama lain dengan Kekristenan. Di sini terletak perbedaan, di sini terletak kualitas Kekristenan yang tidak ada bandingnya. Kristus dilahirkan di dalam sejarah, Kristus naik ke sorga sebagai fakta sejarah di antara inkarnasi dan kenaikan ke sorga terjadi hal-hal sebagai klimaks dari wahyu Allah kepada manusia. Sekali lagi di tengah-tengah kelahiran Kristus dan kenaikkanNya ke sorga terjadi hal yang menjadi klimaks dimana Allah mewahyukan diri kepada umat manusia. EVERYTHING HAPPEN IN CHRIST LIFE IS CLIMAX OF GOD REVELATION FOR HUMAN BEING. Di dalam diri manusia, di dalam keadaan manusia kita memerlukan pengertian pengharapan yang sejati, pengertian pengharapan yang sejati berdasarkan tindakan Tuhan Allah sendiri. Pada waktu kebaktian Natal saya membandingkan dua hal THE VIRGIN WOMB DAN EMPTY TOMB. VIRGIN WOMB berarti rahim anak dara dan EMPTY TOMB berarti kubur yang kosong. Kedua hal ini mempunyai arti yang penting. Jika Yesus lahir seperti orang biasa dan jika Yesus mati juga seperti orang biasa maka tidak ada Kekristenan yang sejati. Jika Yesus lahir bukan dari seorang anak dara, dan jika Yesus mati dan tidak bangkit dari kematian, sehingga kubur tetap terisi maka kita tidak mempunyai pengharapan menjadi orang Kristen. Roh Kudus yang memungkinkan yang kosong diisi dan Roh Kudus juga yang memungkinkan yang diisi menjadi kosong. Rahim seorang anak dara tidak mungkin diisi tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Jika kuburan yang telah penuh dengan mayat tidak seharusnya menjadi kosong dengan sendirinya, tetapi Roh Kudus telah mengosongkan. Kubur dari pendiri-pendiri agama masih terisi dan pengikut mereka tetap kosong. Tetapi kuburan Yesus sudah kosong dan pengikutNya yang diisi. Pada waktu Yesus Kristus bangkit terjadi gempa bumi yang hebat. Prajurit-prajurit Romawi yang begitu berani terpaksa menjadi takut. Batu penutup kubur yang paling sedikit membutuhkan lima sampai enam orang untuk menggulingkannya sekarang terguling sendiri. Pada waktu itu beberapa orang wanita datang ke kubur Yesus. Ada lukisan yang menggambarkan tiga perempuan yang datang ke kubur Yesus. Pelukisnya menggambarkan kubur itu dari dalam lubang yang melihat keluar. Keadaannya gelap tetapi di pintu kubur ada cahaya yang masuk. Dan karena cahaya dari luar itu terlihat sayap dari malaikat yang sedang berkata-kata. Dua orang perempuan melihat malaikat itu, masuk ke kubur dan menjadi tercengang. Tetapi satu perempuan yang lambat baru tiba di depan kubur itu dengan raut wajah yang sedih sekali. Pelukis ini berusaha untuk melukiskan ekspresi manusia sebelum dan sesudah mengerti kebangkitan Yesus. Yang sudah mengerti mempunyai pengharapan besar.

Waktu mereka datang ke kuburan, mereka tidak menyangka akan bertemu malaikat. Malaikat ini bukan untuk menjaga kuburan dan mayat Yesus, tetapi menunggu orang datang dan mengabarkan berita kebangkitan. “Ia tidak ada di sini. Dia sudah bangkit.” Ini adalah kalimat yang penting di dalam Alkitab yang pernah dikatakan oleh malaikat. Mengapa mencari orang-orang hidup di tengah-tengah orang mati? Manusia yang mencari Tuhan selalu menganggap ada Tuhan di dalam agama mereka. Kong Hu Cu akhirnya meninggal dan Budha juga mati, akhirnya pengikut- pengikutnyapun mati. Pendiri-pendiri agama lain juga adalah manusia yang berdosa yang akan mati, termasuk semua pengikutnya. Tetapi ketika engkau mengikut Yesus dan waktu mengikut Dia sampai ke kuburan engkau menemukan kalimat mengapa engkau mencari orang yang hidup di tengah- tengah orang yang mati. Perkataan ini memberikan pengharapan dengan kualitas yang berbeda, karena di dalam kubur Yesus ada kalimat yang mengatakan Ia tidak di sini. Yesus tidak bisa ditemukan di kuburan. Yang ke kuburan tidak bisa menemukan Yesus, yang ke kuburan bertemu dengan tengkorak; tengkorak Plato, Heraklitos, Herodotus, tengkorak dari orang-orang yang paling besar dalam sejarah. Tulang belulang dari Napoleon, Jenghis Khan, Hanibal, Stalin, dan akhirnya nanti tulang- tulang kita. Semua ada di kuburan, tetapi kita tidak akan menemukan tulang Yesus!

Di Vatikan, ada beberapa paku yang memaku Yesus tetapi tidak terdapat tulang Yesus. Banyak relief-relief di gereja dari tulang belulang orang-orang suci di Sindhikia, seperti Golen, demikian pula tempat-tempat yang lain yang menyatakan peninggalan dari orang-orang lain yang berkenaan dengan kain tipis yang menutupi tubuh Yesus, hanya kain itu yang tersisa di Turino. Lalu orang Amerika, Inggris dengan metode sinar-x dan perhitungan yang lama akhirnya membuktikan bahwa kain itu palsu, itu bukan kain yang menutupi tubuh Yesus. Banyak orang Katholik menyembah kain tersebut karena mereka mengira kain itu membungkus tubuh Yesus dan dari sinar X terlihat ada satu wajah yang seram, matanya tertutup, karena ada suatu cairan dari mayat itu yang membekas dan dari situ orang bisa melihat wajah Yesus, yang berbeda dari wajah yang pernah dilukis. Tetapi itu sudah terbukti palsu.

Iman kita tidak boleh didasarkan pada suatu bekas peninggalan Yesus. Iman kita harus berdasarkan pada kebangkitan Yesus Kristus. Kalau Yesus Kristus tidak bangkit, iman itu sia-sia. Pengabaran Injil sia-sia, kegiatan rasul Paulus sia-sia. Iman kepercayaan, pemberitaan, dan kebangkitan tidak bisa dipisahkan. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi dasar atau fondasi iman, yang menentukan hasil kepercayaan kita dan fungsi pemberitaan kita. Jika Yesus tidak bangkit tidak perlu menjadi orang Kristen. Jika Yesus tidak bangkit, tidak perlu mengabarkan Injil. Sejarah akan terus menerus membuktikan satu hal bahwa gereja yang tidak percaya kebangkitan Yesus Kristus tidak akan mempunyai iman yang sejati dan tidak mempunyai iman yang dapat diberitakan. Gereja yang hanya menganggap Yesus sebagai revolusioner, sebagai moralis yang besar, perombak sistem masyarakat, psikolog dan konselor terbesar, adalah gereja yang lumpuh yang tidak mempunyai kekuatan. Puji Tuhan! Yesus Kristus bangkit dan Paulus berkata, kebangkitan menjadi jaminan iman, jaminan pemberitaan dan jaminan kehidupan Kristen.

Paulus berkata, “Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit maka kita adalah orang-orang yang paling malang.” Mengapa kebangkitan Yesus menjadikan Kekristenan tidak sia-sia? Waktu Paulus menulis surat Korintus ini, sudah banyak orang Kristen dipenjarakan, dianiaya, dan dibunuh. Orang Kristen tidak mempunyai hak apa-apa lagi. Orang Romawi memfitnah orang Kristen dengan alasan yang tidak jujur untuk menghancurkan Kekristenan. Mereka dibuang ke lobang singa, dimakan di tengah-tengah arena yang besar oleh singa yang sengaja dibuat kelaparan. Ada seorang di antara beratus ribu penonton yang kemudian menjadi sejarahwan besar mengatakan, “Saya heran berkali-kali melihat orang dimakan singa dengan berteriak ketakutan dan ada yang jatuh pingsan. Tetapi kali ini saya melihat orang Kristen mempunyai iman yang aneh dan menganggap seseorang yang sudah mati itu bangkit. Orang biasa itu adalah Yesus Kristus yang mereka anggap sebagai Allah. Para pengikut itu dilempar ke dekat mulut singa tetapi tetap bernyanyi memuji Tuhan.” Pemuda ini akhirnya menjadi sejarahwan yang menulis tentang orang Israel khususnya sebelum dan sesudah kematian Yesus Kristus.

Ketika Paulus menulis ayat ini ia tahu apa yang pernah terjadi dan dia tahu akan penganiayaan yang akan datang. Jika Yesus tidak bangkit maka kita adalah orang yang paling malang karena kita mengikut Dia tanpa ada hasilnya. Jika Yesus tidak bangkit, apa yang kita perjuangkan menjadi hampa, keadaan dunia makin lama makin gawat. Karena kalau orang yang sebaik Yesuspun ajalNya begitu menakutkan, apalagi manusia yang lain. Jikalau Yesus tidak bangkit dunia tidak mempunyai jawaban bagi persoalan yang paling sulit dan yang paling lama yaitu mengapa orang benar menderita? Orang fasik menjadi makmur sedang orang jujur harus kelaparan; orang yang berdusta menjadi kaya, orang jahat berumur panjang sedangkan orang baik bermoral tinggi umurnya pendek. Dimanakah keadilan, kuasa, penyertaan, dan berkat Tuhan? Dimanakah keberadaan Tuhan? Bukankah demikian juga pada waktu Yesus dicaci? Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, terlihat gelap menutupi. Yang jahat mengalahkan yang baik, ketidakadilan berkuasa atas keadilan, yang suci dihukum oleh yang tidak suci. Dalam dunia ini seluruhnya terbalik, tidak ada norma/nilai yang beres. Seluruh dunia mempunyai keadilan yang tidak benar. Dunia sudah tidak lagi mengenal kebenaran, kesucian, keadilan, kebajikan. Yesus dengan kedua tanganNya menyembuhkan orang, sekarang tangan itu harus dipaku. Yesus dengan kedua kakiNya pergi memberitakan Injil, sekarang kaki itu ditusuk. Yesus mempunyai hati yang penuh yang penuh cinta, yang merangkul seluruh dunia, sekarang ditusuk sehingga darah dan air yang keluar. Dimanakah keadilan dan kebenaran? Tidak ada jawaban. Jawabannya hanya ada pada kebangkitan Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus bangkit, Paulus berkata, “Pemberitaanku tidak sia-sia.” Karena Yesus bangkit kita bukan orang yang paling malang melainkan orang yang paling berpengharapan di dalam Dia.

Kebangkitan Yesus Kristus adalah jaminan yang paling besar bagi mereka yang berjuang dalam sejarah. Oleh karena itu berjuanglah untuk hidup walau harus mengalami kesulitan dan perlakuan tidak adil. Karena Yesus Kristus sudah bangkit, secara vertikal kita berdamai dengan Tuhan Allah. Dosa kita diampuni, jiwa kita diselamatkan dan mengalami hidup yang baru di dalam Tuhan. Secara horizontal, kita berjuang di dalam dunia menjadi saksi kebangkitan Kristus.

Ringkasan Khotbah : Pdt. DR. Sephen Tong
Sumber : https://www.fica.org/ficalist/fica/teach/stong

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwitterlinkedinrssyoutube